“Saya ingin generasi (anak) sesudah saya nantinya lebih baik dari ayah-bundanya.”

Seorang ayahanda, calon siswa baru HSG SMP Khoiru Ummah Pusat, Bogor yang berasal dari kota Depok berujar kepada saya saat sesi lomba MHQ dan Cerdas Tangkas.

 

Membenahi sesuatu

Saya lantas tertegun dan terjeda merenung dibuatnya. Lantas, saya teringat dengan Tri Rismaharini, Walikota Surabaya, bukan mengadopsi soal politiknya, tapi saya hanya meminjam istilah yang beliau pakai.

Bu Risma ke Najwa Shihab, pengasuh acara Mata Najwa di Metro TV, intinya bilang begini: ”Kalau saya harus membenahi sesuatu, melakukan sesuatu, saya harus tahu titik nolnya di mana.”

Kembali ke ujaran ayahanda dari Depok tadi saya menangkap kesan resah dan khawatir yang menggelayut. Kekhawatiran yang menurut saya tidak hanya melanda ayahanda tersebut, tapi mayoritas kalangan orangtua.

Bagaimana tidak, pergaulan remaja yang kian tak terkendali, serupa seks bebas, tawuran antarpelajar seolah sudah dianggap wajar, pemakaian narkoba yang mulai menggejala dlsb.

 

Memulai sesuatu

Sang ayahanda sadar, masa depan ananda dipertaruhkan. Untuk itu ia mencari Titik Nol agar sang ananda bisa menjadi generasi yang diharapkannya. Generasi yang kelak ketika ia telah tiada tetap mengirimkan amalan pahala tiada putus-putusnya.

Ia memulainya dari pendidikan. Bukan sembarang mencari sekolah, karena selama ini beliau tidak puas dengan sekolah SDIT yang tidak mengiringinya dengan pembentengan ruhiyah.

Titik nol pertama yang ia lakukan adalah, memasukkan anaknya di sekolah tahfizhul Quran. Karena beliau tidak puas dengan bacaan al Quran ananda, apatah lagi mengahapal Quran dan tahsin tidak ada pelajaran di sekolah terdahulu.

Jelas terlihat, ayahanda berharap sang ananda bisa lebih baik lagi bacaan Quran-nya, lebih-lebih lagi apabila sang anak bisa menghapal al Quran yang kelak akan mengikut serta ayah-bunda bermukim di surga.

Memupuk dan menjaganya

Tak mudah memang untuk mencari titik nol bagi generasi terwaris. Sungguh begitu kompleks lingkup masalahnya. Namun, apabila sudah tertemu titik nolnya, maka akan sangat mudah untuk melintasinya.

Ya,ya, menjadikan ananda kita sebagai penghapal al Quran adalah titik nol yang musti tak bisa ditunda, apa pun yang terjadi kelak, yang terpenting adalah titik nolnya telah diketahui.

Insya Allah, jika generasi kita selalu dekat, terikat dan terpikat dengan Al Quran lebih mudah untuk mengarahkan, dan meraih impian.

Akhirat yang dicari, tapi dunia pun akan mengikuti.

Epilog

Hari ini saya belajar dari sang ayahanda, betapa kita tidak pernah telat untuk mengubah. Dan tidak malu untuk berubah.

Bahkan, kegagalan pun akan terasa indah jika kita memaknainya sebagai hikmah.

Di sudut peradaban artifisial yang coba kita ubah, menjadi lebih berkah

Minggu 2 Februari 2014

Oleh Apu Indragiry

(Penyair, Esais,Novelis, Guru Menulis Kreatif & Bahasa Indonesia di HSG SMP Khoiru Ummah Pusat, Bogor)

 Diperbolehkan untuk mengutip dan menyebarluaskannya, dengan menyebutkan sumbernya.

+++++

Ikuti Catatan Akhir Pekan Rutin Ringan (CAPER) ini tiap minggunya di web ini. Insya Allah tulisan diupdate tiap hari Minggu.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s