“Ajal bisa datang menjemput kapan dan di manapun. Meski kita berlari atau bersembunyi menjauhinya.”

Ungkapan yang sebenarnya sederhana, tapi saya menangkapnya berbeda, bahkan merasa melambung bangga karena pengungkap katanya adalah seorang ananda.

Bukan Pemahaman Biasa

Membincangkan perihal maut, tentunya ungkapan di atas kita sudah mafhum. Namun terkadang ilmu yang didapat bisa dipahami dan dipraktikkan berbeda. Karena semua kembali dan bergantung kepada pemahaman dan keyakinan masing-masing kita.

Ini bukan rekayasa. Tetapi memang kejadian nyata. Bukan cerita khayal yang disampaikan secara sambung menyambung, namun kisah ini memang terjadi di hadapan saya.

Saya ingin berbagi kisah ini, agar kita mengambil ilmu dari mana saja, bahkan dari kisah nyata ini. Karena ilmu bukan hanya didapat dari sekolah, kampus,pengajian, tetapi ilmu bisa kita peroleh dan pelajari dari kisah sederhana ini.

Sebuah Cerita yang Membuat Bangga

Sekolah kami, HSG  (Homeschooling Group) SMU dan SMP Khoiru Ummah Pusat, Bogor memang sudah mengagendakan kegiatan Study Tour ke Kampung Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur. Tentunya segala persiapan sudah terbentang dengan rincian-rincian. Agenda kegiatan, guru yang mendampingi, akomodasi, bahkan booking tempat kursus dan tiket kereta. Dengan catatan, semua persiapan sebelum terjadi erupsi Gunung Kelud terjadi.

Untuk Tur ke Pare Kediri ini memang yang berangkat hanya kelas SMU dan kelas 9 (kelas 3 SMP). Dengan target tujuan masing-masing. Target untuk kelas SMU, agar anak-anak PEDE berbicara dan menggunakan bahasa Inggris untuk persiapan Program Kelas Internasional yang berkerja sama dengan Universitas di Malaysia, sedang target untuk kelas  9 adalah persiapan untuk UN (ujian nasional).

Kehendak dan Kuasa Allah Azza wa Jalla memang tak terduga, Gunung Kelud pun batuk dan menyemburkan banyak material hingga abu dan debu menjangkau wilayah Jawa Tengah bahkan hingga ke Bandung. Bogor pun menerima debu Gunung Kelud.

Semua Berdasar Pilihan

Pendek kata, di sinilah ujian itu bermula.  Persiapan matang untuk berangkat ke Pare Kediri pun menggoda untuk ditunda. Apa pasal, banyak orangtua yang khawatir kondisi di lapangan (Pare, Kediri) tidak kondusif bahkan berbahaya.

Akhirnya, keberangkatan ke Pare, Kediri pun tetap terlaksana sesuai rencana awal. Karena terbersit rasa penasaran saya bertanya kepada ustadz Hari Barkah (PJ Study Tour ke Pare). Apa alasan ananda Ahmad Kamil (asal Sorong, Papua) ikut rombongan study tour, padahal mayoritas rekannya tidak berangkat (kelas 9 hanya 3 anak yang ikut). Jawaban ustadz Hari, adalah seperti jawaban yang saya kutip di tulisan di atas,

“Ajal bisa datang menjemput kapan dan di manapun. Meski kita berlari atau bersembunyi menjauhinya.”

Saya tertegun-tegun mendengar jawaban ananda Kamil ini, lewat Ust. Hari. Bagaimana tidak, ia jelas memadukan beberapa ilmu sebelum mengambil keputusan. Pertama, ia menggunakan pelajaran aqidah (tentang maut) bahwa maut bisa datang kapan saja. Kedua  ia menggunakan pelajaran bahasa Indonesia (untuk membaca fakta bahwa sudah ada informasi awal dari pihak kursus Pare, Kediri bahwa keadaan aman dan kondusif bahkan diperkuat oleh hujjah dari adik Ayahnya seorang anak SMU Khoiru Ummah, bahwa wilayah Pare aman dan situasinya terkendali). Ketiga, ia memanfaatkan pelajaran Geografi untuk memetakan wilayah Pare (tempat Tur) dengan wilayah Gunung Kelud yang sebenarnya letaknya sangat berjauhan (bukan zona bahaya).

Inilah pelajaran dari ananda Kamil yang bisa kita ambil. Mengambil keputusan bukan asal grusa-grusu (tergesa), bukan berdasar emosional tanpa dasar (perasaan) semata.

Yang lebih membuat saya bangga adalah kata yang terujar dari ayahanda Kamil. Beliau menyampaikan seperti ini lewat SMS, “Kami orangtua ananda Kamil, akan ikut dengan keputusan apa pun dari pihak sekolah.”

Ah, ternyata menjadi dewasa itu tak serta merta. Musti pula ada orangtua yang mengawal dan memercayai sang ananda, bahwa mereka memang sudah dewasa. Sudah bisa mengambil keputusan sendiri tanpa intervensi. Dan memang selayaknya mereka dipercaya dan diperlakukan sebagai orang dewasa (baligh).

Tumbuh Kembang

Seiring waktu berlalu,ilmu dan pemahaman menjadi pertaruhan, akankah terejawantah dalam pikiran atau laku perbuatan. Ataukah hanya menjadi seonggok nilai-nilai tertera kemudian menjadi museum bisu yang tak bermakna?

Sungguh ini berbeda, antara hanya menuntut ilmu namun ia sesungguhnya jauh dari harapan pengejar ilmu ataukah memang sejatinya penuntut ilmu. Hakikat menuntut ilmu sebenarnya adalah ketika ilmunya bertambah, maka ia akan kian dekat dan hatinya tunduk kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Ilmu yang sesungguhnya, sebenarnya bisa dilihat dari cara ia berpikir dan mengambil keputusan. Kembali, keputusan yang diambil berdasar ilmu. Bukan ikut-ikutan atau gagah-gagahan.

Ah, tentu ananda ini akan terus tumbuh kembang seiring waktu berjalan. Ya, semoga saja

Epilog

Sekelumit penutup kata dari yang sudah mulai beruban dan menua ini, “Nak, izinkan kami mengambil pelajaran dari ujaran sederhanamu. Izinkan pula kami BELAJAR DEWASA darimu. Toh, belajar darimu bukanlah satu kekerdilan. Tapi kami menganggap belajar itu bisa dari mana dan oleh siapa saja. Betapa hati kami terlilit kesombongan  pabila kami enggan belajar dari kisahmu.”

Ilmu memang mahal. Apatah lagi, jika harga diri yang tak mau berkompromi, hanya mau mengambil ilmu dari siapa, bukan dilihat dan didengar ilmunya, bukan hikmah kisahnya jua. Ah, mudah-mudahan kita semua dijauhi dari kesemua itu.

Seperti pepatah masyhur di pesantren salaf, “Undzur ma qaala, wa la tandzur man qaala” “lihatlah apa yang dikatakan (ilmunya), bukan siapa yang mengatakan (orangnya).

Ruang Perenungan, Bogor, 22 Februari 2014 16:16

Oleh Apu Indragiry

(Penyair, Esais,Novelis, Guru Menulis Kreatif & Bahasa Indonesia di HSG SMP Khoiru Ummah Pusat, Bogor)

 Diperbolehkan untuk mengutip dan menyebarluaskannya, dengan menyebutkan sumbernya.

+++++

Ikuti Catatan Akhir Pekan Rutin Ringan (CAPER) ini tiap minggunya di web ini.

sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s