oleh: Apu’ Indragiri

Betapa membahagia saat kita meninggalkan dunia fana, pahala masih mengalir masuk ke ‘tabungan’ dan menambahi saldo pahala’ kita.

Sungguh, ini bukan riba pahala. Namun, ini adalah investasi amal yang kelak akan kita panen dengan semburat senyuman di hari kemudian.

Betapa tangan kita begitu ringan membelanjakan harta kita untuk gadget terbaru, mobil berganti tiap tahun, rumah megah seharga miliaran yang pasti kita tinggalkan, saat malaikat Izrail mengetuk pintu nafas kita. Oh, betapa berat dan kikir betul hati kita untuk menginfakkan sebagian –bahkan hanya sebagian– harta kita untuk bekal di alam Barzakh dan hari yang tak ada guna lagi kita sesali.

Sabda baginda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam;

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang saleh” (HR. Muslim no. 1631)

Ah, Islam itu benar-benar mudah dan memudahkan untuk pemeluknya. Pabila kita tidak punya ilmu mumpuni, masih ada jalan lain lagi untuk menikmati indahnya pahala yang mengalir tidak berputus-putusnya, yakni sedekah jariyah.

Anda sisihkan sebagian rejeki yang Allah Azza wa Jalla ‘titipkan’ di tangan Anda untuk membangun sekolah misalnya. Apatah lagi, Anda titipkan harta itu untuk membangun ‘pondasi untuk membangun generasi terbaik dan peradaban terbaik‘. Yang di dalamnya Al Qur’an setiap hari dilantunkan, dihapalkan, dan diamalkan.

Sungguh tak terbayang, berapa bulir-bulir pahala yang mengembangbiak oleh sedakah jariyah Anda.

Firman Allah Ta`ala:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan pemisalan dari Allah SWT tentang keutamaan orang yang berinfak di jalan-Nya dan mengharapkan keridhaan-Nya, dan sesungguhnya satu kebaikan akan dilipatgandakan ganjarannya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, Allah SWT berfirman, ‘Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah.’

Sa`id bin Jubair radhiyallahu `anhu berkata, “Yakni berinfak di jalan ketaatan kepada Allah SWT.”

Imam Makhul rahimahullah berkata, “Yakni berinfak di atas jalan jihad berupa kuda-kuda yang tertambat dan berbagaimacam jenis persenjataan.”

Syabib bin Bisyr berkata, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhu beliau berkata, “Satu dirham yang diinfakkan di atas jalan jihad dan haji akan dilipatgandakan tujuh ratus kali lipat.”

Kemudian Allah SWT berfirman, “Adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini memberikan isyarat kepada orang-orang mukmin bahwa amal shalih akan dipelihara (dikembangbiakkan) oleh Allah SWT untuk pemiliknya, sebagaimana seseorang yang menanam satu bulir benih di tanah yang baik lagi subur. Dan telah sampai kepada kita sunnah yang menjelaskan bahwa satu kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT ganjarannya hingga tujuh ratus kali lipat.”

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menginfakkan satu infak yang baik di jalan Allah SWT (jihad) maka akan dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali lipat. Barangsiapa berinfak untuk menghidupi diri dan keluarganya, atau mengunjungi orang sakit, atau bersabar atas celaan, maka setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang semisal dengannya, shaum adalah sebuah tameng jika ia tidak merusaknya, barangsiapa yang Allah SWT berikan ujian pada anggota tubuhnya, maka baginya pengampunan dosa dari Allah SWT.” (HR. An-Nasa’i)

Ibnu Mas`ud radhiyallahu `anhu menyebutkan bahwa ada seorang laki-laki menginfakkan kepada Rasulullah SAW seekor unta yang (memiliki) tanda pada hidungnya di jalan Allah SWT, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Sungguh akan datang kepadamu tujuh ratus ekor unta yang semisal dengannya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Dari Ibnu Umar –radhiyallahu `anhu- ia berkata, tatkala ayat ini turun (Al-Baqarah: 261) Rasulullah SAW berkata, “Wahai Rabbku tambahkanlah (untuk) umatku.’ Maka turunlah surat Al-Bagarah ayat 245, ‘Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.’ Lalu Rasulullah SAW berkata kembali, ‘Wahai Rabbku tambahkan untukku.’ Maka turunlah surat Az-Zumar ayat 10, ‘Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.’ (QS. Az-Zumar: 10)

Kemudian Allah SWT berfirman, “Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yakni sesuai dengan kadar keikhlasannya dalam beramal.”

Imam Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan, “Yakni Allah SWT akan melipatkangandakan orang yang berinfak di jalan-Nya dari tujuh ratus kali lipat hingga satu juta kali lipat.” (Pendapat Ibnu Abbas dengan sanad yang tidak jelas).

Kemudian Allah SWT berfirman, “Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Ibnu Katsir  rahimahullah berkata, “Yakni karunia Allah SWT sangat luas dan sangat banyak, melebihi jumlah para makhluk-Nya, dan Dia Mahatahu siapa yang berhak untuk mendapatkan karunia-Nya dan siapa yang tidak berhak.”

Ibnu Zaid  rahimahullah berkata, “Yakni Allah Mahaluas untuk menambah siapa saja yang hendak Dia luaskan, dan Mahatahu siapa saja yang hendak Dia tambah.”

Yang lain berkata, “Yakni Allah SWT Mahaluas untuk melipatgandakan ganjaran tersebut, dan Mahatahu siapa saja yang menginfakkan hartanya di atas jalan ketaatan.”

Imam Al-Qurthubi  rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan anjuran Allah SWT untuk berjihad di jalan-Nya, dan siapa saja yang berjihad di jalan-Nya maka ia akan mendapatkan ganjaran yang sangat agung.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s