Catatan Pinggir Sabtu 19 November 2011

oleh apu Indragiri

Awalan Kenangan… Saya mengambil judul Catpir (catatan pinggir) ini dari novel saya dengan judul yang sama, Cinderacinta. Tak istimewa memang bagi pembaca(karena mungkin belum membaca), lantaran novel ini cuma dicetak satu. Novel ini begitu istimewa dan mendapatkan tempat yang tersendiri bagi saya, karena novel inilah mahar nikah saya untuk wanita spesial di hati saya, Nafiisah F.B (istri saya).

 

Di novel itu, saya menulis “Cinderacinta, ia merajut dua hati. Ia memadukan dua kepingan jiwa. Dan… dalam dekapan cinderacinta, ada janji suci sepasang hati yang mengiringinya.” Di halaman persembahan, saya tulis pula begini, “untuk liontin hati. Sebagai peneman hati. Sebuah nama kupahat di manuskrip hati; Nafiisah FB. Binti Isbani. Kala kumulai merenda cinta. 30 Mei 2010. Membungalah wangi cinta, yang diserbuki takwa. Semoga dengannya Allah memperkenan, istana mungil kita nanti, menjadi surga.”

Bunga Cinderacinta… Ya, pekan kemarin, lebih tepatnya 13 November 2011, Alhamdulillah, Allah azza wa jalla karuaniakan titipan dan amanah agung kepada saya dan istri. Putra pertama kami Adiib Amirusy-Syafiq Khairi, menyapa dan memecah keheningan pagi yang masih agak gulita dengan pekik tangisnya. Dia terlahir dengan persalinan normal, dengan bobot tubuh 2,8 kg, dan panjang 50 cm.

 

Dalam Degup Penantian…dulu, saya terkadang begitu kurang memercayai perkataan begini, “Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan,” namun, sabtu 12 November, bakda Ashar hingga detik-detik kelahiran cinderacinta kami itu, terbit fajar minggu 13 november 2011(06.30). waktu serasa melambat. Bahkan tiktok-tiktok suara jarum jam di ruang persalinan itu seakan melafal dan merasai degup debar hati saya. Ya, hampir lima belas jam, sang waktu seolah menertawai saya, yang selalu memandangi jarum waktu, meloncat dari angka satu, ke angka dua dan seterusnya. Ya, hanya lafal dzikir yang saya panjatkan. Di luar ruang persalinan, bidan sana, Ayah dan Ibu mertua saya juga dilanda penantian dalam lafal-lafal doa terpanjatkan. Dan..Ayah dan ibu saya yang di Riau pun galau kepingin segera mendengar kabar kelahiran cucu ketiganya.

 

Penyejuk mata, pengembun hati…Sstt, tadi saat saya tinggalkan ia sebelum saya berangkat ke Bogor, kukecup lembut keningnya seraya berdoa,“ROBBANA HAB LANA MIN AZWAJINA WA DZURRIYATINA QURROTA A’YUN, WAJ’ALNA LILMUTTAQINA IMAMAA.”Wahai Rabb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqon:74)

Nak, semoga engkau menjadi embun-embun yang menyejuki hati ayah dan bundamu, eyang-eyangmu. Dan menjadi pelita ilmu bagi ummat kelak. Amin..

 

Bogor, bakda Ashar, 20-11-11

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s