Catatan Pinggir Sabtu 5 November 2011

oleh apu indragiri

Jagat sepakbola Inggris dalam dua pekan ke belakang sedang dilanda gonjang-ganjing. Apa pasal? Ini karena ulah sang skipper (kapten) timnas Inggris, John Terry (Chelsea) yang didakwa telah melakukan penghinaan rasial kepada Anton Ferdinand (QPR). Untuk yang belum tahu, atau bukan gibol, Terry berkulit putih, dan Anton Ferdinand berkulit hitam.

Sebenarnya, kasus rasis di sepakbola memang sering terjadi. Yang paling sering terkena imbasnya adalah Samuel Etoo, baik semasa dia di Barcelona maupun saat di Inter Milan. Dia sering diteriaki (maaf) monyet.

Sabtu ini kita akan ngulik tentang rasisme. Kenapa ada dan bagaimana Islam memandang isu ini.

KaribSL, yang budiman, menurut Wikipedia, rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyataka bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.

Beberapa penulis menggunakan istilah rasisme untuk merujuk pada preferensi terhadap kelompok etnis tertentu sendiri (etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan terhadap hubungan antarras (miscegenation), dan generalisasi terhadap suatu kelompok orang tertentu (stereotipe)

Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Politisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara. Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial.

Kalau istilah anak muda sekarang, biasanya disebut narsis. Perasaan cinta terhadap diri sendiri secara berlebih-lebihan.

Lantas bagaimana Islam memandang kasus ini? Dalam tafsir Ibnu Katsir juz I, Rasulullah Saw bersabda:“Aku diutus kepada kulit merah dan hitam.” Menurut Mujahid, makna yang dimaksud ialah umat manusia dan jin.

Ya, ya, ya… agama Islam diturunkan oleh Allah Swt. Untuk semua kalangan, kaum dan tidak memandang warna kulitnya.

Islam tidak pernah memandang warna kulit, tapi yang dilihat adalah tingkat taqwanya.

Menyebut nama Bilal bin Rabah, kita pasti terbayang kisah keteguhan hati seorang Muslim sejati. Betapa tidak. Saat umat Islam masih berjumlah sekian orang serta kekejaman yang diterima kaum Muslim, seorang budak berkulit kelam bertekad bulat dan mengikrarkan diri beriman kepada Allah SWT.

Nama lengkapnya Bilal bin Rabah Al-Habasyi. Ia berasal dari negeri Habasyah, sekarang Ethiopia. Ia biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelari Muadzdzin Ar-Rasul. Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ia berpostur tinggi, kurus, warna kulitnya cokelat, pelipisnya tipis, dan rambutnya lebat.

Ibunya adalah hamba sahaya (budak) milik Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Bilal menjadi budak mereka hingga akhirnya ia mendengar tentang Islam. Lalu, ia menemui Rasulullah SAW dan mengikrarkan diri masuk Islam. Ia merupakan kalangan sahabat Rasulullah yang berasal dari non-Arab.

Setelah merdeka, Bilal mengabdikan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Ke mana pun Rasul SAW pergi, Bilal senantiasa berada di samping Rasulullah. Karena itu pula, para sahabat Nabi SAW sangat menghormati dan memuliakan Bilal, sebagaimana mereka memuliakan dan menghormati Rasulullah SAW.

So, kedatangan risalah Islam otomatis menghapus rasisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s