sumber: http://dusunkata.blogdetik.com/2011/10/27/antara-korban-dan-kurban/

 

Kalau tak salah melihat almanak, sebentar lagi kita akan merayakan Hari Berbagi atau Lebaran Haji 1432 H. Hari Minggu, 6 November 2011. Mengapa saya menamai hari itu sebagai Hari Berbagi? Jawabannya sederhana, pada hari itu orang-orang yang mampu—baik secara perorangan maupun bersama-sama—rela mengorbankan hartanya berkurban bagi sesama. Orang-orang yang berhak menerima daging kurban akan bergembira. Dan, mereka yang ikhlas mengorbankan hartanya demi berkurban akan berbahagia.

Begitulah, berbagi rezeki itu indah. Membahagiakan, menyenangkan.

Barangkali, tersebab mendekati Hari Berbagi itu, seorang teman bertanya kepada saya ihwal mana kata yang baku: kurban atau korban. Pertanyaan Bung Adi Purwanto itulah yang menggelitik saya untuk merampungkan tulisan ini.

Baiklah, saya akan menjawabnya dengan ringkas. Kurban dan korban merupakan kata yang baku, keduanya tercantum dalam KBBI. Kedua kata itu berasal dari bahasa Arab, yakni qurban yang diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan pengembangan makna, yaitu: (a) persembahan kepada Tuhan—seperti kambing, sapi, atau unta—yang disembelih pada hari Lebaran Haji, atau pemberian untuk menyatakan kesetiaan atau kebaktian; dan (b) orang atau binatang yang menderita atau mati akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya.

Nah, makna qurban yang pertama diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kurban dengan menggunakan fonem “u”. Sedangkan untuk pengertian yang kedua diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi korban dengan menggunakan fonem “o”. Jadi, sapi atau kambing yang disembelih pada hari Lebaran Haji disebut hewan kurban, sementara sapi atau kambing yang mati karena ditabrak mobil disebut hewan korban.

Kalau kita bersandar pada pengembangan makna tersebut, jelaslah bahwa penggunaan kedua kata itu berbeda. Mari kita simak contoh kalimat berikut ini.

(1) Setiap menjelang Lebaran Haji, harga ternak kurban naik.
(2) Setiap menjelang Lebaran Haji, harga ternak korban naik.
(3) Korban yang tewas akibat bencana lumpur itu terus bertambah.
(4) Kurban yang tewas akibat bencana lumpur itu terus bertambah.

Penggunaan kata kurban dan korban yang tepat terdapat pada kalimat (1) dan (3). Sedangkan penggunaan yang keliru dapat kita lihat pada kalimat (2) dan (4). Selain itu, kita juga bisa menguji pemakaian kata itu dalam percakapan. Misalnya, “Demi kamu, saya rela berkorban.” Tentu maknanya akan berbeda bila kalimatnya diubah menjadi, “Demi kamu, saya rela berkurban.”

O, ya, beberapa hari lalu, seorang teman menanyakan penulisan ejaan adzan, shalat, dan maghrib. Kenapa koran dan penerbit menulis kata-kata itu dengan ejaan yang berbeda? Alasan sederhana yang kerap dijadikan jawaban adalah gaya selingkung atau gaya tulis yang berbeda dan hanya digunakan oleh lembaga atau institusi tertentu. Namun, aturan penulisan ejaan kata serapan sudah lama ada. Namanya, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Seperti kata kurban dan korban, kata azan, salat, dan magrib juga diserap dari bahasa Arab. Setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia, ketiga kata itu sudah termasuk dalam rumpun kosakata Indonesia. Dengan demikian, kaidah penulisannya—seyogianya—harus sesuai dengan kaidah penulisan kata serapan.

Perlu kita ketahui, hanya ada empat gabungan huruf yang melambangkan satu konsonan di dalam bahasa Indonesia, yakni “kh”, “ng”, “ny”, dan “sy”. Semisal terdapat pada kata khusus, ngilu, nyeri, dan syarat. Dengan demikian, tidak terdapat tambahan “dz”, “sh”, dan “gh” tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Artinya, dzat diserap menjadi zat, shahabat menjadi sahabat, ghaib menjadi gaib, dan sebagainya. Itu pula sebabnya kata musibah, nasihat, insaf, kisah, atau maksiat tidak ditulis dengan “sh”. Berdasarkan paparan tersebut, jelaslah bahwa penulisan ejaan yang tepat adalah azan, salat, dan magrib.

Namun, perihal berani taat asas, tentulah berpulang kepada diri kita masing-masing, apalagi bila harus berbenturan dengan gaya selingkung di kantor tempat kita mencari nafkah. Nah….

Parung, Oktober 2011
Disarikan dari berbagai sumber.

2 responses »

  1. lala says:

    Makasih ya infonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s