Catatan Pinggir: Sabtu 22 Oktober 2011

Oleh: /ApuIndragiri

Mestinya catatan ini dibuat dan dipublikasi pada hari Sabtu kemarin. Lantaran hari Sabtu sampai dengan Minggu saya ada kegiatan Diklat, maka baru hari inilah catatan pinggir untuk pekan ini baru bisa ditulis. Dan ‘Tiran’ adalah catatan pinggir pertama yang saya tulis. Rubrik catatan pinggir (capir) ini akan menyapa Anda semua setiap Sabtu dengan tema-tema aktual yang sedang menjadi ‘trending topics’ di media.

Masih hangat rasanya beritanya, masih tercium bau amis darahnya dan masih kental euforia kemenangannya. Bahkan, embusan angin mengirimkan bara pergolakannya yang masih meletup-letup di atas cakrawala Libya.

Ya. Dalam rentang sepekan ini media-media ramai memublikasikan kematian sang Diktator Libya, Moammar Khadafy pada hari Kamis 20 Oktober 2011. Tubuh dan kepalanya koyak oleh panasnya peluru emas miliknya yang dirampas. Yang lebih mengenaskan, picu pistol ditarik dan diarahkan ke kepalanya oleh rakyatnya sendiri, dan… Dhuarrr!

Tragis, sungguh tragis!

Dulu, konon katanya dalam sejarah. Ken Arok bernafsu untuk menguasai kota Tumapel, selain karena tergiur untuk berkuasa, dia juga tertarik untuk merebut Ken Dedes dari tangan Tunggul Ametung (penguasa Tumapel).

Alkisah, saking ngebetnya, Ken Arok pun memesan sebuah keris sakti mandraguna ke Mpu Gandring. Singkat kata, akhirnya keris itu dipergunakan oleh Ken Arok untuk meng-kudeta Tunggul Ametung. Tunggul Ametung pun tewas di tangan rekayasa, siasat keji dan muslihat kelicikan Ken Arok. Lantas, berdirilah kerajaan Singosari. Akhirnya, tercapai juga cita-cita Ken Arok untuk menguasai Tumapel sekaligus Ken Dedes yang cantik rupawan.

Lalu, apa hubungannya antara kematian Khadafy dan Ken Arok di sini?

Menarik untuk dibahas memang.  Karena dua-duanya sama-sama mengkudeta penguasa sebelumnya. Kalau Khadafy mengkudeta Raja Idris pada tahun 1969, maka Ken Arok pun menikam Tunggul Ametung untuk merebut daerah dan istrinya.

Dalam memerintah, Khadafy dan Ken Arok sama-sama berkuasa dengan tirani, namun yang lebih tragis adalah bagaimana mereka berdua menjemput ajal.

Jika Ken Arok tewas mengenaskan di tangan Anusapati (anak tirinya) dengan senjata Mpu Gandring pula, tak begitu beda dengan Moammar Khadafy yang tewas tertembak oleh pistol emasnya sendiri dan oleh rakyatnya sendiri.

Satu catatan yang hampir terlupa, ada kata-kata terakhir dari Khadafy yang masih terngiang-ngiang di telinga, “Jangan bunuh, jangan bunuh!” Begitu Khadafy mengiba, sembari merengek-rengek seperti anak kecil. Ya, dia tidak membayangkan, bahkan terlintas sejenak pun bahwa dia sang Tiran yang biasanya menindas saat itu menjadi manusia tertindas.

Ya, mungkin dia lupa, betapa beringasnya dia saat menggantung puluhan aktivis pada era 80-an, yang mengingatkan dia akan kejahilan pemikirannya, dia seolah lupa bagaimana rasanya menghilangkan ribuan nyawa rakyatnya sendiri saat demo menurunkan dirinya.

Di kala kritis, dia mencoba memohon agar tak dibunuh. Bahkan, bisa jadi kalau boleh… dia akan menukar nyawanya dengan harta yang dia punya, tapi siapa yang bisa menahan dendam kesumat yang sudah diubun-ubun rakyatnya?

Sesungguhnya, ini bisa menjadi pelajaran untuk semua pemimpin di dunia Islam, bahwa setiran apa pun dia, sebesar apa pun kekuasaannya pasti suatu saat ia akan tumbang jua.

Pembaca budiman, semoga kisah tragis Khadafy (orang yang ingkar Sunnah) ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Jika Allah subhanahu wata’ala telah berkehendak, maka tak seorang pun yang akan bisa melawan kekuatanNya, bahkan jika itu seorang tiran yang keji dan buas seperti Khadafy sekalipun.

Tentang cerita Ken Arok yang saya kutip, Anda boleh percaya atau tidak🙂 karena cerita itu pernah saya baca sewaktu SD. Hanya untuk komparasi saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s