Oleh: Langit Biru (Tasikmalaya)

di sudut matamu kulihat cinta
di selendang hatimu aku pautkan rasa
tak ada niatku berdusta
hanya teringat syair para punjangga
“cinta adalah oasis di dunia yang fana”
indah rasanya syair tentang cinta.
tak seprti cinta yang kurasa.

seperti mawar kau tebarkan pesona
namun engkau tusukan pula durimu kepadaku
salahkah aku ingin menggenggamu dengan erat?
apa ini resiko para pecinta yang berani mencinta?
yang akhirnya menangis lirih atas cintanya

andai aku sekuat karang..
ingin aku bertahan atas semua ini
tapi apa daya diriku..
telah berani menghadirkan cinta
yang diiringi lirih yang sama adanya

semoga engkau bahagia disana..
cintaku untukmu akan selalu ada..
di sebuah singgasana yang hadir atas dirimu
walau hati ini tersiksa
walau titian airmata selalu ada

aku disini bersama sepi
mencoba bercumbu dengan kelam

selamat tinggal
bidadari bumi yang mematri hati.

tasikmalaya, 17 januari 2011

+++++++++++

Catatan PINGGIR redaksi

“Jika ada pilihan; apakah aku akan memilih ‘jatuh cinta’ ataukah ‘membangun cinta’?

maka kan kupilih membangun cinta

pondasi yang tegak setelah akad suci pernikahan

yang dibangun dengan ketulusan

saling melengkapi.

namun ‘jatuh cinta’ saat belum waktunya

akan hilang ketika penyebab jatuh cinta itu hilang.

maka, memilih ‘membangun cinta’ adalah lebih harum, lebih halal dan thayyib menurut agama


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s