Sebuah Cerpen oleh: Faiqotul Himmah (Jember)

Begitu aku mengambil remote dan menyalakan televisi…. HHHUUEEEKKKK…. Kamu muntah. Padahal belum 15 menit yang lalu aku meninggalkan kamar dan kamu sedang tidur. Aku tau kamu sedang sangat capek. Seharian di kantor, sampai di rumah, masih sibuk menyiapkan makan malam untukku. Bahkan, setelah itu, kamu masih membungkuk di depan laptop sampai dua jam yang lalu. Jadi, mana mungkin kamu terbangun hanya gara-gara aku keluar kamar dan menyalakan televisi? Apalagi sampai muntah!

“Aku nggak papa…” ucapmu sambil menyalakan kran wastafel. Ku pijiti leher dan bahumu.

“Kamu terlalu capek.”

Ku tempelkan telapak tangan kiriku di keningmu.

“Kamu demam…”

“Aku nggak tau, tiba-tiba aku pusing dan sangat mual…” ucapmu susah payah. Sepertinya menahan rasa mualmu, menghormatiku dengan berusaha agar tak memuntahkan isi perutmu ke arahku. Dan benar… sebentar kemudian… HHHUUUEEKKK….. kamu muntah lagi!

Maka, gagallah malam itu aku menonton pertandingan tim kesayanganku.

***

Beruntung paginya aku libur kantor. Begitu koran datang, perhatianku langsung mengarah ke kolom olahraga.

“Yyeaaah!!!” teriakku gembira. “Tim kesayanganku menang!”

Ternyata kamu terkejut. Masih dengan pisau di tangan dan celemek, kamu menghampiriku di ruang tamu.

“Ada apa?”

“Menaaaaang….!!!” Ku balas penasaranmu dengan teriakan. Sambil mengacungkan tangan ke udara. Dan mendekatimu dengan riang.

“Tim kesayangan kita menang,” kataku sekali lagi.

Kamu diam. Responmu sungguh tak nyaman.

“Kita???”

Entah kenapa sahutmu tak ramah dengan kebahagiaanku.

“Iya. Tim kesayangan kita.”

“Aku sudah nggak gandrung sama bola,” katamu datar. Lalu membalikkan badan, dan pergi ke dapur begitu saja.

Oh, istriku… Aku mematung menatapmu sampai tubuhmu menghilang. Aneh, padahal dulu kamu penggila bola. Lebih aneh lagi, sekarang kamu segar bugar! Tak ada bekas sekaratmu semalam!

***

Malamnya, aku menyimak berita hari ini di ruang tengah. Setelah menyuguhkan teh  hangat –kamu nggak bisa membuat kopi dan aku nggak suka kopi- kamu duduk di sampingku.

Kepuasan atas kemenangan tim kesayangan kita masih memenuhi rongga dadaku. Meski sedikit kecewa karna aku gagal menyaksikan pertandingannya secara langsung. Sibuk membersihkan muntahmu. Aku mengharapkan kamu mengobati kekecewaanku. Dengan memberikan senyum dan gairahmu kembali pada bola dan tim kesayangan kita. Dan itu aku katakan padamu.

“Tim kesayangan kita lolos ke perempat final,” kataku bersemangat. Lebih antusias dari yang tadi pagi aku katakan padamu. “Dan aku yakin terus melaju sampai final.”

Kamu tak menyahut. Aku tak menyerah. Aku sungguh rindu teriakan histeriamu saat pertandingan berlangsung, lalu kita rebutan berkomentar.

“Hei… inget nggak?” sekali lagi kucoba mengacau diammu.  “Dulu kamu nangis histeris waktu tim kesayangan kita gagal memasuki final empat tahun kemaren. Dan aku ngumpat-ngumpat keras ampe rumah kita didatangi tetangga? Mereka pikir kita berantem! Hahaha….”

Kamu menoleh. Ya, cuma menoleh. Dan tersenyum datar.

“Aku nggak tau, kenapa dulu aku menggilai bola. Ternyata mesin uang. Yang menggusur spiritualitas, nurani dan etika,” kalimatmu menukik. Tajam.

Tawaku mengapung. Kamu seperti berubah peran dari istri yang penuh sayang dan menyenangkan menjadi pengabdi sosial kaya wawasan yang sedang berorasi di tengah lingkaran mahasiswa pemikir seperti yang dulu sering kamu lakukan. Oh sayang, ini bukan teater yang dulu sering kita mainkan!

Aku menenangkan diri. Mencoba memahami nuranimu dengan hati. Mungkin karena kemarin kamu habis baca berita. Di bagian lain pesta bola itu ada ketidakadilan. Pengusaha asli Afrika Selatan sangat dirugikan. Mereka tidak bisa menjual produknya yang berlogo dan berkaitan dengan piala dunia. Semua harus seizin FIFA. Dan itu tidak gratis. Atas nama hak cipta. Sampai-sampai sebuah headline media di Afrika Selatan menulis judul besar : “Welcome to the Republic of FIFA”. Resultan dari kemarahan, kekecewaan, kehilangan dan ketakberdayaan warga negara itu karena FIFA terlalu memegang kendali atas apapun yang berkaitan dengan piala dunia.

Juga  mungkin, kamu mencoba berempati. Pada tetangga kita yang kalah taruhan. Rumahnya disita bandar. Sementara anak istrinya meraung-raung dan mungkin kini menggelandang.

Atau mungkin… kamu juga muak. Sepak bola yang dikapitalisasi itu benar-benar menjadi pesta –yang kamu bilang- menggusur spiritualitas, nurani dan etika. Empat puluh ribu pelacur siap ‘memeriahkan’ piala dunia dan karenanya pemerintah Afrika Selatan menyiapkan sejuta kondom. Keuntungan besar bagi korporasi dunia.

“Hhhh…. Ku rasa… kita bisa menikmatinya sebagai olahraga. Itu saja,“  aku bersikeras. Naluriku pada bola tak bisa begitu saja dienyahkan. Aku mengganti channel. Review pertandingan bola sedang diulas salah satu program berita. Baru saja aku terbawa suasana, geram karna gol gagal diciptakan dan mulai menjadi komentator diluar layar….lalu…

HHHUEEEKKK…!!!!

Spontan aku berjingkat dari sofa. Cuma bisa  melihatmu berlari ke kamar mandi. Terpaksa ku matikan televisi dan menyusulmu. Dengan kedongkolan yang menggumpal di tenggorokanku.

***

Untuk pertama kalinya sepanjang pagiku bersamamu, aku begitu tidak bersemangat. Meskipun sejak dini hari kamu sudah bangun dan kamu masakkan sarapan kesukaanku. Juga sudah memberikan senyum terbaikmu. Segar dan penuh energi seperti ratusan pagi kemarin tiap aku akan ke kantor. Tapi justru karena pagi ini kamu begitu segar dan penuh energi, aku jengah.

Aku mulai merasa, muntah-muntahmu itu hanya akting. Hanya untuk mencegahku menonton bola. Bayangkan, tiap kali aku menyalakan televisi untuk menonton bola, tiap itu pula kamu langsung muntah-muntah. Kamu tau, aku takkan tega membiarkanmu kesakitan. Lalu paginya, kamu sudah tampil segar bugar. Dan beraktivitas seharian seperti kesibukanmu biasanya. Dan tidak lelah. Lelah pun, kamu tetap riang menemani dan menyiapkan kebutuhanku. Ah, mengingat sejarah masa lalumu, siapa yang meragukan kemampuan aktingmu! Tapi, sampai menyakiti diri sendiri seperti ini hanya karna kamu sudah tidak menyukai bola? Sungguh, susah ku terima. Tapi ini fakta!

Kamu mengernyitkan dahi. Mimik wajahmu berubah. “Akting??” tanyamu. Wajahmu pias. Wajahmu pias. Hampir tak pernah kulihat kamu begitu. Sejak aku mengenalmu dan menikahimu. Hingga pagi ini.

“Aku mengerti kepekaan dan kepedulianmu yang tinggi. Aku mengerti kamu coba berempati dengan kemelaratan negeri ini karena kuasa-uang. Tapi kita tidak sedang bermain teater.”

Sendok di tanganmu terjatuh ke meja, lalu mental ke lantai. Bintang-gemintang berloncatan di matamu. Kamu menangis! Ya Allah, kamu menangis! Kamu ternyata begitu terluka. Aku mulai galau. Kelirukah? Tapi keanehan ini begitu sulit diterima. Kamu mual dan muntah tiap kali aku menonton bola!

Untuk pertama kalinya dalam pernikahan kita, kamu meninggalkan meja makan sebelum aku menghabiskan sarapan.

***

Sungguh hari ini tak menyenangkan. Aku meninggalkan rumah tanpa senyum dan do’a darimu. Di kantor, aku dapat limpahan tugas karena temanku tak masuk kerja. Istrinya yang lagi hamil minta dibelikan apokat. Kalau tidak, dia nggak bisa makan. Padahal ini bukan musim apokat. Jadilah temanku itu berkelana mencarinya. Dan tugas-tugasnya membebaniku. Sementara otakku sedang sumpek.

Tapi sebentar… sesuatu berlompatan di otakku. Istrinya yang lagi hamil, ngidam. Ya, itu namanya ngidam. Dan aku mulai ingat sesuatu. Bukankah perempuan kalau lagi hamil bawaannya mual? Aku mulai menjelajah internet. Benar. Aha!!!

***

Sore ini aku masuk rumah dengan tergesa. “Aku belikan buah-buahan untukmu,” kataku penuh semangat. Di tanganku ada sekantong apel. Di tanganku yang lain, ada sekantong berisi vitamin dan berbagai makanan suplemen. Aku menyorongkannya padamu. Kamu menerimanya dengan heran.

“Aku nggak sakit. Aku juga nggak tau kenapa akhir-akhir ini aku sering mual dan muntah. Kamu lihat, kan? Aku beraktivitas seperti biasa. Dan aku sehat.” Kamu menjelaskan. Sepertinya kamu menduga kalau aku merasa bersalah telah menuduhmu berakting dan menyadari kalau kamu memang sedang sakit.

“Maafkan… tadi aku khilaf. Tidak seharusnya aku menuduhmu berakting.”

Kamu mencoba tersenyum. Aku tahu kamu masih luka dengan tuduhanku. Bagimu, seorang istri, tentu tuduhan seperti itu menyakitkan.

“Mulai sekarang, kamu nggak boleh terlalu capek.”

“Tapi aku sehat. Aku juga merasa aneh. Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba aku…”

“Ya sudah. Pindahkan saja barang-barang itu ke kulkas. Mulai sekarang, aku yang bertugas bersih-bersih rumah tiap pagi, ok?”

Matamu berbinar. Aku menyuruhmu cepat ke dapur dan tak perlu banyak bertanya. Aku merasa, aku ini sudah begitu bodoh. Sampai tak menyadari kamu hamil. Bahkan menuduhmu berakting. Tapi ternyata, kamu lebih bodoh. Hehe… Tak menyadari kalau dirimu hamil. Padahal kamu perempuan pintar dan berwawasan.  Apa karena kita terlalu lama menunggu bayi dan beberapa kali kecewa sehingga sekarang kita tidak begitu peduli lagi? Ah, tidak juga.

***

Aku terus memperhatikan kamu, tapi kamu tak juga sadar kalau kamu hamil. Kata orang, perempuan yang hamil muda itu memang aneh-aneh. Ada yang muntah-muntah kalau mencium bau badan suaminya sendiri. Nah, kamu muntah-muntahnya kalau aku menonton pertandingan sepak bola.  Hubungannya apa? Aku juga tidak tahu. Aneh.

Aku sangat asyik memperhatikan tingkahmu. Sampai kadang membuat kamu jengkel. Beberapa kali aku riset. Waktu kamu duduk denganku di depan televisi, lagi serius dengan berita ledakan elpiji, aku mengganti channel ke berita olahraga. Dan benar. Kamu yang awalnya sangat sangat sehat langsung mual-mual. Aku ganti lagi channelnya. Mualmu berhenti.

Tengah malam, saat aku yakin kamu sudah tidur nyenyak. Aku bangun dan menyalakan televisi. Padahal volume televisi di ruang tengah sudah ku minimalkan. Sebentar kemudian, telingaku menangkap suaramu yang mual-mual di kamar.

Tidak puas menguji keanehanmu. Aku datang membawa kaos pemain bola idolamu. Sengaja aku membelinya dari sebuah distro dengan harga lumayan mahal. Begitu kaos itu ku tunjukkan, kamu langsung berlari ke kamar mandi dan muntah! Aneh! Tapi biarkan sajalah, setidaknya aku tidak lagi berfikir kalau kamu lagi akting. Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana jadinya kalau kamu tahu aku sengaja menggodamu. Memancingmu untuk muntah. Demi kepuasanku. Karena sekarang, tiap kali kamu muntah karena bola, aku bahagia!

“Kalau aku punya anak, aku akan bentuk dia jadi pemain bola. Biar dia mencicipi merumput di <span>old traffold</span> dan jadi idola.”

Wajahmu langsung pucat. Tanganmu bergerak memegangi perutmu. Satunya lagi menutup mulutmu.

“Hahaha…enggak deh, gak jadi. Dididik jadi ulama’ aja deh.”

Wajah pucatmu langsung berubah cerah. Gila sungguh. Memang seperti akting. Tapi keringat dingin yang muncul tiap kali kamu mual dan wajahmu memucat tentu bukan buatan.

***

Sudah lewat seminggu tapi kamu belum juga sadar. Aku semakin geli dengan kebodohanmu. Kemarin baru saja kamu menunjukkan kejeniusanmu. Dipuji banyak orang karena berhasil mengorganisir event besar. Muda, berkarir, berprestasi dan bersuami. Tapi sebagai perempuan, kamu malah gak peka sama kondisi tubuhmu sendiri.

Maka aku memutuskan memberimu kejutan. Menyadarkanmu dengan cara yang spesial. Dan membuatmu –bersamaku- menertawakan kebodohanmu dan kebodohanku. Aku sudah tidak betah bahagia sendirian. Sudah tidak betah untuk membicarakan dan merancang sambutan dan pendidikan terbaik untuk bayi yang akan kamu lahirkan. Ah!

“Kenapa kita harus ke dokter?”

Aku memasang jaket. Bersiap berangkat. “Ayo,” kataku sambil tersenyum lebar.

Kamu heran. “Aku sehat. Sungguh. Dan aku sama sekali tidak berakting…”

Aku menggamit tanganmu. “Tenang saja. Aku percaya,” ucapku mantap. Aku hanya ingin melihat histeria bahagiamu saat dokter bilang : Selamat, Istri Anda hamil! Batinku.

Perjalanan terasa begitu singkat. Beruntung tak terlalu banyak antri.

“Bagaimana, Dok?”

Dokter tersenyum. Aku pun tersenyum. Kebahagiaan mengapung di udara sekitarku.

“Istri Anda sehat.”

“Maksud dokter?”

“Istri Anda sehat. Tidak ada masalah apa-apa dengannya.”

Dahiku mengkerut. “Dia tidak hamil?”

“Tidak.”

“Tapi dia… sering mual dan…”

“Istri Anda sangat sehat.” Dokter kembali tersenyum. Menegaskan.

Aku terhempas ke kursi.

Kamu menatapku. “Kan?”

Senyumku hilang. Pias datang. *)

***

Jember, 07 Juli 2010

*) penulis yang beralamat di phei_13@yahoo.com

dimuat di Radar Jember, 3 Oktober 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s