oleh: Desi Yunise (Gresik, ditulis 2008)

Setiap orang belajar dari setiap episode kehidupan yang dilaluinya.  Itu benar.  Itulah yang saya alami.   Jika anda bertanya pada saya , “Siapa yang paling berpengaruh dalam hidup anda?”.   Saya akan menjawab tanpa ragu-ragu,  “Salma!”.  Dialah  yang  menjadi guru besar dalam sejarah hidup saya.  Selanjutnya anda mungkin  akan bertanya, “Siapa Salma? Sehebat apa dia? Apa gelar akademisnya?”

Dia masih kecil, tepatnya 7 tahun.  Dia “hebat” meski diciptakan dengan segala  kelemahan dan keterbatasan.  Salma terkena cerebral palsy, gangguan pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan ia tak sanggup berkata-kata dan berjalan, meski ia sudah ‘mahir’ duduk sendiri.  Tapi begitulah Salma, ia banyak mengajari saya, makna sabar, tawakkal, cinta sejati, makna berjuang, makna ambisi, seni berkomunikasi dan banyak lagi yang ia ajarkan pada saya. Benarlah Firman Allah SWT:  “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.  Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka” (QS Ali Imran 191).

Pernah suatu ketika saya mengisi kajian umum di suatu mesjid yang dihadiri ratusan orang.  Seusai acara ada yang menyampaikan keingintahuannya tentang saya dan keluarga pada melalui sahabat saya.  Sampai pada akhirnya ia berkunjung ke rumah saya dikarenakan ia terkesan dengan kemampuan saya dalam mensikapi keadaan anak saya Salma yang nyaris tak berpengaruh dalam kegiatan dakwah saya saat itu.  Bahkan ia sempat menangis di hadapan sahabat saya.  “Mbak! Dia kagum dengan mbak, kok bisa setegar itu!”.  Saya menjawab, “ ia terlalu berlebihan, semuanya karena Allah, alasan apa yang membuat saya tak bisa tegar, ini qadha dan jalan yang ditetapkan Allah, kewajiban kita menjalani sesuai tuntunannya, pasti ada rahasia Ilahi di balik semua ini!”.  Bahkan ada lagi yang menampakkan tangisannya di hadapan saya,  saat saya pun terlibat dalam kegiatan dakwah, saat itu memang saya membawa anak saya, Salma.  Memang begitulah hubungan saya,  Salma dan dakwah,  sangat erat sekali.   Salma banyak berdakwah tanpa kata-kata khususnya tentang ridho terhadap qadho, tawakkal dan sabar pada saya dan orang-orang sekitar.

Sejujurnya, hati saya  senantiasa diliputi dengan harap-harap cemas kepada Yang Kuasa akan keadaannya.  Hampir di setiap tengah malam, Salma lah yang membangunkan tidur saya,   seolah-olah ia berkata “Umi bangunlah! Lakukanlah Sholat malam dan panjatkan doa untukku  !”.   Bahkan, ia lah yang banyak membangunkan tidur saya untuk mempersiapkan materi dakwah yang harus disampaikan keesokan harinya.  Dia telah menjadi ‘malikat’  yang dikirimkan Yang Maha Penyayang untuk saya.  Karena Salma hari-hari Saya selalu dilalui dengar arti.  Saya selalu mencari makna dalam peristiwa, dan meneliti kegiatan saya.  Adakah ini ada artinya bagi Sang pencipta? Bagi umat? Bagi orang lain?   Karena dari Salma saya belajar untuk tidak mau kehilangan waktu.  Seolah olah ia berkata “ Ayo kejarlah!  Kerjakan apa yang umi harus kerjakan, Jangan sampai ketinggalan!”  ,

Saat inilah saya merasakan dahsyatnya pengaruh doa di malam hari.    Setiap selesai  sholat wajib, selalu saja  ada doa khususnya untuk Salma, karena keadaannya menuntut untuk didoakan.   Dengan begitu, saya  pun belajar  mendoakan orang lain tanpa ia minta untuk didoakan, karena masih banyak hal yang senantiasa harus kita perbaiki, adakalanya antar sesama muslim kita masih individualis dan egois.  ,Semoga dalam jamaah juga ada saling membantu, saling pengertian, saling memberi dan menerima, amiin!  Sampai pada akhirnya  persaudaraan pun jadi terasa indahnya  meski saat ini saya begitu indah.  Tak dipungkiri kadang-kadang terjadi benturan antara merawat Salma yang tak bisa digantikan orang lain dengan dakwah.  Setiap terjadi benturan, Saya selalu membayangkan datang mememui baginda Nabi saw dan membuat perkiraan  ucapan apa yang beliau sampaikan untuk saya.  Seolah-olah beliau mengatakan “pulanglah temui anakkmu, bukankah ummu warobbatul bait tanggung jawab utamamu?”  Jiwa saya pun tentram, tapa saya khawatir apa komentar teman-teman , karena saya berbuat dengan tuntunan syara. Semangat dakwah saat-saat ini rasanya memang tak terbendung, meski dalam jamaah tetap saja saya ingin yang menjadi pelakunya.  Salma mengajarkan saya untuk ikhlas.

Kepada Salma saya belajar  memahami orang lain tanpa  harus ada kata-kata, memahami apa yang dibutuhkannya tanpa ia harus meminta.  Bagaimana tidak?  Saya selalu  datang untuk Salma  di saat ia haus dan lapar, tanpa ia harus berkata “ umi, aku haus dan lapar?”.  Di saat haus, pikiran saya  pasti tertuju bahwa Salma  juga sedang haus, begitu seterusnya yang saya alami.   Perhatian adalah kebutuhan pokok baginya.  Sedikit saja kurang dalam kebutuhan ini, mulailah ia  berperilaku sulit, maksudnya sulit diajak kompromi, rewel dan emosinya tidak stabil.  Sungguh  saya telah belajar banyak tentang kebutuhan orang lain termasuk kasih sayang dan perhatian.  Memang cinta murni adalah perhatian tanpa minta imbalan apapun dan memberi kasih sayang tanpa alasan apapun.  Begitulah mestinya kita.

Salma juga telah mengajarkan saya makna sabar.  Saya “wajib” menunggu sampai 4 tahun untuk  melihat Salma bisa duduk sendiri.  Bayangkan! Selama 4 x 365 hari menunggu, itupun harus saya lalui dengan berjuang dan terus berdoa melatihnya setiap hari.  Disinilah indah dan nikmatnya sabar.  Sabar memang menentramkan.  Innallaha ma’ashoobiriin!, Allah senantiasa menyertai orang yang sabar.  Disela-sela melatihnya berdiri, saya selalu ingin bernyanyi lagunya Crisye alm yang syairnya “Aku tahu kau tak kan bisa, menjadi seperti yang aku minta, namun selama nafasmu ada, kau harus mencoba menjadi seperti yang aku minta” .  Ini bait lagu tentang harapan  dan ambisi untuknya, bukankah Allah berfirman Innallaha ‘ala kulli syai’in qadiir?(Sesunggunhnya Allah Maha berkuasa atas tiap tiap sesuatu).   Kadang-kadang yang  menjadi pertanyaan bagi saya,  dapatkah saya menerapkan tekad seperti  ini bagi anak saya yang kedua, Hanif? Tentunya saya jauh lebih bisa karena Hanif sangat jauh lebih cerdas dibandingkan Salma.  Begitu juga anda  terhadap buah hati anda, bukan?

Salma membuat saya sadar bahwa saya harus dapat mengandalkan diri saya sendiri.  menjadi sang penasehat, sang penghibur bagi diri saya sendiri.   Saya tak punya pilihan untuk mencari orang lain di luar diri saya sendiri untuk itu.  Di saat  sedih, saya  mengingat apa yang paling membuat Salma senang?Diperdengarkan ayat-ayat suci! Ternyara  suara Salma  adalah’ bisikan ilahi’ bagi saya, “La hawla walaa quwwata illa billah!”  (Tiada daya dan kekuatan kecuali punya Allah).

Sebagai seorang guru besar, ia pun sangat ‘ mahir’  untuk menilai prestasi saya.  Salah mengatur menu, tak seimbang mengatur waktu,  salah bersikap , secara otomatis saya akan mendapat ‘hukuman’ secara langsung.  Apakah ia menjadi konstipasi, sulit tidur atau respon-respon lain sebagai bentuk hukuman karena nilai saya yang jelek dalam tugas, Saya pun jadi wajib untuk disiplin.    Semoga saya bisa menerapkannya dalam tugas-tugas lain di luar tanggung jawab saya yang satu ini, amin!

Bahkan Saya pun belajar seni berkomunikasi dengan Salma.  Saya memiliki cukup banyak teman di sekitar.  Sapaan dari teman-teman saya bermacam-macam responnya  .  Sapaan yang hanya basa-basi, ia respon dengan cuek.  Sapaan dengan tulus dan kasih sayang, biasanya ia respon dengan tawa senang .  Sapaan dengan sekedarnya, Salma mengernyitkan dahi.  Begitulah Dia bisa menilai ketulusan hati seseorang   Salma mengajari saya ilmu komunikasi dengan bahasa tubuh dan bahasa hati.

Salma bukan saja menjadi guru bagi saya tapi juga bagi   ibu saya, yaitu neneknya.  Sampai pada akhirnya beliau disadarkan bahwa seorang wanita tidak wajib bekerja di luar rumah seperti harapan besarnya terhadap saya.  Keadaan Salma yang butuh perhatian lebih, penuh ketergantungan dengan sendirinya menyadarkan saya dan neneknya bahwa keadaan yang sangat tidak memungkinkan bekerja di luar rumah dengan meninggalkan  cucu kesayangannya, Salma yang wajahnya begitu mirip denan adik saya yan almarhumah..    Bahkan beliaulah yang sering menasehati saya untuk tidak  menyerahkan pengasuhan cucunya pada pembantu.

Saya masih menunggu materi apa lagi yang akan diajarkan oleh anakku- Salma pada saya- ibunya.  Yang jelas Salma benar –benar telah menjadi pancaran cahaya yang mencerdaskan saya dan orang  lainnya, sesuai nama yang saya berikan padanya Salma Nur Azkiya An Nisa.  “Salma kaulah buah hatiku sekaligus guruku, terma kasih Ya Allah!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s