Oleh: Nafiisah FB

Dia adalah perempuan berusia enam puluhan dengan penampilan yang sangat sederhana. Kulitnya legam karena lebih dari separuh usianya dia habiskan bekerja di sawah, di tengah terik tanpa keluh sempat terbetik. Lewat tangan dan jemarinya tiap bulir padi bisa sampai ke perut kita dan manusia lainnya di bumi Indonesia.

Saya mengenalnya sebagai Bude Saryo. Kini dia tidak lagi bekerja di sawah. Dia berjualan jamu keliling. Pukul sembilan pagi dia mulai beroperasi. Tiap pintu dan pagar rumah dihampirinya, tentunya dengan sebuah harapan besar, sang pemilik rumah akan mengatakan iya untuk tawaran yang diberikan. Uang dua ribu untuk tiap gelas jamu yang berhasil dia jual berarti lanjutan detak bagi nafasnya, bagi hidupnya.

Pagi usai, siang datang dan waktunya bagi Bude Saryo untuk pulang. Bukan untuk menikmati kasur yang tidak empuk, tapi dia kembali untuk segera bersibuk. Selesai sholat Zuhur, dia membuat kripik singkong untuk besok pagi dia bisa antarkan ke pemesan.

Kala malam tiba, Bude Saryo kadang tidak bisa melenakan tubuhnya. Dia masih harus memenuhi permintaan urut dari para tetangga atau pelanggan jamu kelilingnya.

Dia sempat berbagi kisahnya dengan saya. Dia bilang ikhlas menjalani semuanya, walau kadang rasa sangat lelah tidak urung dia rasakan. Wajar, mengingat usianya yang sudah kepala enam.

Itulah sepenggal kisah milik Bude Saryo, milik seorang anak manusia yang mencoba bertahan hidup dalam segala keterbatasan. Usia yang sudah menginjak kepala enam tidak menjadi rintangan baginya untuk menuai rejeki halal.

Sepenggal kisah seperti itu besar kemungkinan bukan hanya saya yang mengindera. Puluhan cerita bahkan ribuan cerita serupa bertebaran di negeri ini. Kisah perjuangan melanjutkan hidup. Kisah tentang pertarungan dengan mempertaruhkan keringat, doa, dan airmata.

Mereka bukanlah orang-orang malas yang hanya mau mengais rejeki dengan menadahkan tangan dan menanti belas kasihan. Mereka bekerja sekuat tenaga yang mereka punya, sebanyak peluh yang mereka bisa curahkan. Namun, kemiskinan dan peminggiran tetap mendera. Itu sudah nasib? Nasib malang, nasib buruk, memang bukan area manusia untuk mengutak-atik. Tapi, benarkah kemiskinan dan fenomena orang-orang yang terpinggirkan di negeri ini semata nasib malang mereka? Ataukah sebuah kedzoliman raksasa yang memaksa kemiskinan itu ada?

Si Miskin Makin Miskin, Si Kaya Bertambah Kaya

Tahukah kita bahwa tahun 1999 saja 1/5 orang terkaya di dunia mengkonsumsi 86% semua barang dan jasa, sementara 1/5 orang termiskin di dunia hanya mengkonsumsi kurang dari 1% saja. (The United Nations Human Development Report, 1999)?

Tahukah kita bahwa di tahun 2006 kelompok penduduk berpendapatan terendah (miskin) hanya menikmati porsi pertumbuhan ekonomi 19,2 persen dari 20,92 persen di tahun 2000, dan sebaliknya, 20 persen kelompok penduduk terkaya makin menikmati pertumbuhan ekonomi dari 42,19 persen menjadi 45,72 persen?

Bukankah itu sebuah kesenjangan yang nyata? Mengapa kesenjangan itu semakin lebar dan dalam? Mengapa orang kaya semakin leluasa menambah kekayaannya? Bukankah orang miskin juga manusia yang berhak mendapatkan kehidupan yang layak?

Pernahkah kita membaca data orang terkaya negeri ini?  Majalah Forbes tahun 2007 menyebutkan 10 besar dalam daftar orang kaya dan nilai kekayaannya sebagai berikut:
1. Aburizal Bakrie dan keluarga : 5,4 miliar dolar AS
2. Sukanto Tanoto (perusahaan April dan Asian Agri): 4,7 miliar AS
3. R. Budi Hartono: 3,14 miliar dolar AS
4. Michael Hartono: 3,08 miliar dolar AS (Budi Hartono dan Michael Hartono, dua saudara kandung yang memiliki saham di perusahaan rokok Djarum dan BCA)
5. Eka Tjipta Widjaja dan keluarga (Sinar Mas Group): 2,8 miliar dolar AS
6. Putera Sampoerna dan keluarga (Sampoerna Strategic): 2,2 miliar dolar AS
7. Martua Sitorus (Wilmar International): 2,1 miliar dolar AS
8. Rachman Halim dan keluarga (Gudang Garam): 1,6 miliar dolar AS
9. Peter Sondakh (Rajawali Group): 1,45 miliar dolar AS
10.Eddy William Katuari dan keluarga (Wings Group): 1,39 miliar dolar AS

Wou! Jumlah kekayaan yang begitu fantastis yang hanya dimiliki oleh 10 orang! Sepuluh orang Indonesia bisa menguasai 27,86 milyar dolar AS! Sementara jumlah penduduk per Maret 2007 yang berada di bawah garis kemiskinan ada 37,17 juta penduduk!

Bagaimana bisa sepuluh orang menguasai begitu banyak kekayaan, sedangkan 37,17 juta orang (tahun 2007) berada dalam kemiskinan?  Kita pasti berkata itu tidak adil. Lalu, mengapa ketidakadilan terus berlangsung?

Menurut Prof. Dr. Umar Chapra, alumni Minnesota University, Amerika Serikat yang juga penasehat ekonomi pada Lembaga Moneter Arab Saudi, dalam buku Islam and Economic Challenge, kapitalisme memandang orang miskin dan pengangguran adalah pemalas, enggan bekerja, boros dan tidak giat berusaha. Orang miskin harus dibiarkan memenuhi kebutuhannya sendiri. Sebab, kemiskinan itu disebabkan ulahnya sendiri, bukan ulah kapitalisme atau struktur ekonomi yang zalim.

Padahal kapitalismelah yang mendorong orang untuk bebas sebebas-bebasnya memuaskan nafsu keserakahannya. Dalam sistem kapitalisme individu diijinkan untuk memaksimalkan kekayaannya tanpa batas dan memuaskan keinginan. Ketika manusia dibebaskan untuk menjadi serakah maka yang terjadi adalah hukum rimba, yang kuat boleh memangsa yang lemah. Yang kuat maka akan kaya, dan yang lemah harus mau menjadi miskin dan menderita.

Kapitalisme memberikan kebebasan tanpa batas terhadap kepemilikan individu. Apa yang seharusnya dimiliki masyarakat secara bersama dan dikelola oleh negara demi kesejahteraan rakyat seperti sumber air, sumber energi, tambang emas, dan hutan, malah diberikan kepada individu (pihak swasta) melalui privatisasi. Alih-alih mensejahterakan rakyat, privatisasi ini justru berbahaya bagi rakyat dan negara. Aset-aset penting suatu negara akan berpusat pada segelitir individu atau perusahaan yang memiliki modal besar. Mayoritas masyarakat lainnya akhirnya sulit untuk mendapatkan dan memanfaatkan aset tersebut.

Kapitalisme tidak memiliki konsep nyata mengenai tatacara distribusi kekayaan yang terdapat ditengah masyarakat. Inilah yang mengakibatkan mengapa kesenjangan antara golongan kaya dan miskin terus menerus bertambah. Sebab hanya minoritas dari anggota masyarakat sajalah yang mampu menikmati kekayaan dalam jumlah yang sangat besar.

Itulah jati diri kapitalisme yang sebenarnya. Itu pula yang terjadi di negeri ini dan juga belahan dunia lainnya. Selama kapitalisme yang mengatur hidup manusia, kesenjangan, kezoliman, penindasan,dan ketidakadilan akan terus berlangsung. Sebagai manusia yang masih mampu berpikir waras tentunya kita akan mengatakan, “Keadaan harus diubah dan harus berubah!”

Islam: Solusi Sejati

Islam adalah agama sekaligus ideologi yang mengatur seluruh permasalahan kehidupan. Dalam bidang ekonomi, Islam telah menawarkan mekanisme distribusi yang jelas terhadap harta kekayaan masyarakat. Islam misalnya telah mensyariatkan Zakat yang khusus dibagikan kepada delapan golongan asnaf. Islam juga telah mensyariatkan infaq, sedekah, fai, kharaj, khumus, jizyah dan sebagainya yang didistribusikan berdasarkan ijtihad seorang khalifah.

Islam juga telah menjelaskan kaidah kepemilikan secara mendetail. Islam telah membedakan aset-aset yang dapat dimiliki oleh individu, umum dan Negara. Sehingga harta benda yang merupakan milik individu tidak boleh dinasionalisasi oleh Negara. Begitupun sebaliknya, seluruh asset yang menguasai hajat hidup orang banyak tidak boleh dimiliki oleh individu tertentu atau pihak swasta. Dengan jalan seperti inilah islam akan mewujudkan keadilan yang hakiki terhadap seluruh masyarakat tanpa membedakan golongan, etnis, ras, suku maupun agama.

Sebagai sebuah sistem, keadilan dalam Islam tidak mungkin terealisasi tanpa adanya penerapan yang menyeluruh dalam suatu masyarakat. Disinilah letak urgersi dari penerapan syariat Islam secara kaffah melalui tegaknya daulah khilafah islamiyah. Daulah Khilafah inilah yang akan menerapkan seluruh aturan yang bersumber dari al Qur’an dan as-sunnah. Telah tiba waktunya bagi kaum muslimin bagi kita untuk segera meninggalkan kapitalisme yang telah terbukti menyengsarakan jutaan ummat manusia di seluruh pelosok dunia  dan beralih ke solusi sejati bagi manusia yaitu Islam (faqihsalim.wordpress.com). Wallahu a’lam bish showwab.

ditulis tahun 021208, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s