Sebuah kisah ‘awal mula’ liukan pena; apuindragiry

Kawan, yang kuingat dari badai yang melanda bumi Jogja, kurun tahun 2006 adalah letupan gunung merapi, namun tak hanya Merapi njeblug pun bumi di Jogja pun merekah oleh gempa.

Ya, gempa dan letupan merapi adalah isyarat kenangan. Kumulai belajar menggoreskan karya puisi, lantas menjelajah ke dunia cerpen, usai cerpen pun  tak kuasa memuat ide, merambah lagi ke dunia novelet. Pun itu belum mencukupi untuk menampung aspirasi ide, lantas kucobailah merangkum ide  di ranah novel. Dimulai dengan draf; Pelangi-pelangi Bidadari, Sehangat Pelukan Bidadari, hingga Cinderacinta.

Kawan, menulis memang tak gampang. Namun bukan berarti ia benteng kukuh yang tak bisa dirubuhkan. Asal ada kemauan, tak kenal menyerah, dan motivasi agung (niat bersih) insyallah menulis bukanlah ihwal yang sesulit dibayangkan kebanyakan orang.

Badai yang kembali menerapas gunung Merapi beberapa hari yang lewat, membuat pena ini tak kuasa menari untuk berbagi tutur. Menarikan awal mula kisah bagaimana ia berani meliuk-liuk di atas kanvas karya.

Kawan, apa pun itu, dalam karyamu, niat tulus dan seputih hati iringkan senantiasa dalam tuangan dawatmu. Karena karya yang menyentuh terlahir dari niatan yang suci, ditulis dengan hati, dan dikarya untuk menggugah hati.

Pena yang terukir senja; Bogor 301010 17:28

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s