Sebuah cerpen ditulis oleh: Afra Nadia

“Aduh… Brengsek! Kalau jalan hati-hati dong. Mata ditaroh di mana sih?”

“Sorry yah Jum. Jum cantik deh kalau marah, tapi lebih cantik lagi kalau nggak marah. He.he.he“ senyum Fauzan dengan mata berbinar-binar seolah tidak bersalah

“Makanya Zan… tau diri dong jadi orang. Pasti kamu sengaja kan nabrak aku! Biar buku yang aku bawah jatuh. Iya kan!“ bentak Jumi pada Fauzan dengan wajah cemberut.

Sementara Jum dan Fauzan sedang bertengkar di pintu perpustakaan, Najla keluar dengan menggeleng kepala melihat kedua teman yang sedang bertengkar.

“Lho… kok kalian lagi. Apa nggak bosan bertengkar terus? perasaan kemarin sore kalian ribut abis-abisan. Tau nggak kepala aku tuh jadi pusing dengar kalian bertenggkar terus,“ protes Najla

“Coba deh… tunjukan sikap lemah lembut, saling menyanyangi. Yah, seperti yang ditunjukan Rasul gitu!“ lanjutnya sambil melirik jam tangannya. Sontak Najla menarik Jumi mengisyarakat perkuliahan Thrermodinamika sudah mulai berlangsung.

Najla dan Jumi berlarian menaiki tangga menuju ke ruangan perkuliahan mereka. Setibanya di Ruangan terlihat Najla dan Jumi sampai dengan nafas ngos-ngosan. Di sudut ruangan terlihat Fauzan duduk, tertawa bangga bisa mendahului Jumi . Jumi makin kesal meliha tingkah Fauzan yang makin menjadi-jadi.

Sesampainya  Di Asrama MAFIA, Fauzan dan Jumi masih terlihat saling diam dan tidak saling menegur satu sama lain. Seluruh penghuni ’Asrama Mafia’ adalah Mahasiwa-mahasiswa Fisika, sehingga dinamakan Mafia. Jumi makin menunjukan ekspresi kekesalan sedangkan seperti biasa Fauzan terlihat tidak peduli.

“Jum, denger-denger kamu bertengkar lagi yah dengan Fauzan?” tegur Sidin yang berdiri di depan pintu kamarnya yang berhadapan lansung dengan ruang TV tempat Jumi bersantai.

“Habis dia sih! nggak pernah hidupnya tenang, kalau enggak gangguin aku,“ balas Jumi sampi asyik memindahkan Channel TV.

“Kita kan satu kos-an Jum, lagian Fauzan itu kan sepupu kamu. Ingat nggak kata Dosen agama, kita salah satu perkara yang di cintai Allah adalah tidak cepat marah,“ bujuk Sidin sambil mengingatkan.

Tidak lama setelah Jumi dan Sidin mengobrol di Ruang TV. Fauzan datang dengan membawa sekantong pisang goreng.

“Eh…Jumi. Sidin nih! Jumi sayang, ini aku bawain pisang goreng makanan kesukaan kamu,“ bujuk Fauzan yang langsung meletakkan sekantong pisang goreng yang baru dibelinya dan langsung menarik Sidin masuk ke kamarnya.

“Udah… udah nggak perlu dibujuk juga, dia bakal baikan lagi. Jumi itu kan kalau udah disogok dengan sekantong pisang goreng, pasti ngambeknya hilang,“ ungkap Fauzan meyakinkan sambil tertawa cekikikan yang langsung membenamkan tubuhnya di atas ranjang.

Sidin yang melihat ekspresi Fauzan hanya bisa menngeleng kepala. Sidin yang hanya duduk kebingungan melihat sahabatnya itu, tanpa sengaja matanya langsung tertuju pada sosok di samping lemari. Sontak ia langsung terkaget.

“Lho… kok Richard lemes gitu. Loe apain lagi dia?“ tanya Sidin dengan wajah keheranan sekaligus kasihan

“Abis tu anak kurang ajar banget sih! kamar gue diacak-acak, truss poster kesayangan gue disobek,“ balas Fauzan dengan nada cuek.

“Kalau Najla sampe tahu, bisa berabe loe,“ balas Sidin sambil mendekati Richard yang terbaring lemas di samping lemari. Sidin pun mulai panik dan langsung berdiri. Takut Najla sampai tahu apa yang di perlakukan Fauzan pada Richard.

Sidin teringat peristiwa minggu lalu, gara-gara Fauzan makan makanan yang sudah Najla persiapkan buat Richard. Najla marah seharian sampai-sampai orang seasrama nggak ada yang bisa tidur siang. padahal Najla paling jarang marah

“Bisanyakan kamar loe acak-acakan emang Zan lagian loe kan koleksi cicak.Terang aja si Richard jadi gemes masuk kamar loe.“

“Pokoknya gue nggak terima, emang tuh si Najla nggak pernah ngajar sopan santun ama Richad!” tutur Fauzan melemaskan badannya sambil menguap. Tak sampai beberapa detik dia pun sudah tertidur ngorok.

Sidin yang kebingungan di kamar Fauzan langsung keluar buru-buru mencari perlindungan kalau-kalau Najla ngamuk.

Dia langsung meniggalkan kamar Fauzan yang berantakan, menuju ke asrama Mafia Ceria yang berhadapan langsung dengam asrama Mafia Canda yang ditempati oleh Najla dan Jumi. Asrama tersebut hanya dibatasi oleh bunga yang berjejer dan beberapa pohon palem.

Di asrama Ceria Najla tampak kebingungan mencari-cari sesuatu. Sidin yang tadinya berjalan sambil menunduk langsung terkejut ketika mendengar gerutu Najla, yang jaraknya tak jauh dari tempatnya berdiri.

“ Sidin, lihat Richard nggak? Soalnya dari kemarin dia belum makan.”

“ Apa? Aku nggak tau.”

“ Mungkin dia ta’aruf[1] kali buat cari pendamping hidup, Richard kan udah dewasa ” komentar Sidin menyembunyikan kecemasanya.

“Oh… gitu yah,” balas Najla yang makin bingung mendangar komentar Sidin yang agak konyol yang lansung meninggalkannya.

Setelah beberapa lama, Najla kembali meneruskan pencariannya Hiban dan Faiz keluar bersamaan dari kamar mereka masing-masing menuju teras. Terlihat Sidin duduk dengan wajah tak karuan.

“Kenapa Din kok wajah kamu lemes gitu?” tanya Faiz antusias sambil melihat ekspresi Sidin.

“Biasa, gue stres. Tinggal di asrama Canda namanya aja canda tapi gue nggak pernah bahagia,“ balas Sidin mengerutkan dahinya sambil menghembuskan napas pendek.

“Emangnya kenapa lagi sih kalian?“ tanya Hiban bingung. Sidin pun menceritakan kejailan Fauzan yang semakin menjadi-jadi, suka membuat kekacauan dengan Jumi hingga tidak pernah akur, seolah hidupnya tidak tenang jika tidak mengusik kehidupan orang dan sekarang Richard kucing kesayangan Najla harus jadi sasaran kejailan dia. Richard dibekam di kamarnya.

”Kalian tahu kan! Walau Najla itu pendiam dan nggak banyak tingkah, tapi kalau ada yang semena-mena ama Richard, ngamuk parah juga dia,” cerita Sidin pada Hiban dan Faiz.

“Dari dulu kan udah aku saranin, asrama Canda tuh khusus putri aja terus asrama Ceria ini buat putra, biar nggak suka bertengkar dan nggak sering ikhtilat,”[2] komentar Faiz memberikan solusi yang sudah digaungkan sejak dulu. Sejak dulu Hiban dan Faiz bersikeras agar asrama Canda itu khusus ditempati mahasiswa Fisika putri saja, sedangkan asrama Mafia Ceria yang ditempati mereka sekarang khusus putra. Begitu pula Najla dan Jumi. Tapi karena Fauzan adalah keponakan kesayangan pemilik asrama Mafia. Saran dari mereka semua diindahkan oleh pemilik asrama.

Hiban, Fauzan,dan Sidin mulai mengatur siasat agar Fauzan pindah ke asrama Ceria.

Udara pagi begitu sejuk dengan matahari pagi yang mulai bersinar. Terlihat Najla di luar sedang menjemur beberapa potong kerudung dan jilbab[3] yang biasa dikenakannya ketika ke kampus, sementara di dalam terlihat Fauzan sedang membuat sarapan pagi di dapur umum dengan gembira sambil bernyanyi.

“Zan, kalau nyanyi jangan keras-keras dong gue nggak konsen nih mandinya!“ teriak Jumi dari dalam kamar mandi.

Fauzan yang mendengar komentar Jumi makin mengeraskan suaranya sambil bernyanyi lagu Iwan Fals.

“Sayangku … ho… ho… ho… Dengarkanlah isi hatiku “ nyanyi Fauzan sambil tertawa cekikan.

Najla yang masuk di dapur sehabis menjemur melewati dapur umum mengerutkan dahinya melihat aksi Fauzan. Tidak lama kemudian Jumi pun keluar dengan menutup kedua telinganya.

“Jum kenapa? Telinga kamu sakit?“ tanya Najla keheranan.

“Ada hewan Fauzan nih yang masuk,“ jawab Jumi melesat menuju kamarnya. Najla makin keheranan melihat tingkah laku kedua saudara sepupunya yang makin aneh.

Sehabis Fauzan memasak, Najla pun membuat sarapan pagi setelah selesai, ia mengajak Jumi untuk sarapan bersamanya. Sehabis sarapan Najla masuk kamar untuk mandi dan bersiap ke kampus. Sementara Jumi merapikan meja makan. Tidak lama kemudian terdengar ketukan pintu dari luar rumah.

“Assalamu’alaikum…“

Fauzan yang kamarnya langsung berhadapan dengan ruang tamu bergegas membuka pintu. Terlihat sosok wanita yang mengenakan kerudung putih dengan jilbab biru tua membuat sosok wanita tersebut sangat anggun.

“Wa’alaikum salam.Eh…syifa masuk,“ mempersilahkan syifa masuk

Fauzan langsung berteriak memanggil kedua sepupunya Najla dan Jumi yang sedang berkemas di kamar mereka masing-masing. Sontak Syifa kaget mendengar terikan Fauzan. Di lain pihak jantung Fauzan berdetak lebih kencang dari biasanya. Tidak lama kemudian Najla pun keluar mengenakan kerudung biru muda sepadan dengan jilbab biru bermotif kotak-kotak kecil yang di kenakannya. Sementara Jumi keluar dengan mengenakan celana panjang jeans dan baju seperempat lengan makin memperlihatkan ketomboy-annya.

“Aku bareng ke kampus yah! ama kalian?“ tanya Fauzan malu.

“Nggak boleh. laki-laki dilarang gabung. Lagian kamu kan pengacau Zan!“ respon Jumi dengan suara lantang menarik Najla dan Syifa pergi.

Setelah jam kuliah Gelombang dan Optik selesai, Najla, Jumi dan Syifa terlihat bersama meninggalkan ruang perkuliahan. Sementara Sidin, Hibban dan Faiz menahan Fauzan untuk tidak meninggalkan ruangan. Mereka bertiga meminta Fauzan untuk pindah dan tinggal bersama mereka di Asrama Ceria, Maklumlah sejak tingkah Fauzan menjadi-jadi Sidin pindah asrama ke asrama ceria. Namun Fauzan tetap kekeh pada pendirianya untuk tidak pindah

“Ya… Udah bentar abis sholat jumat kita lanjutin kembali pembicaraan ini. Gimana?“ tanya Hibban

“Iya setuju,“ jawab Faiz dan Sidin bersamaan

“Percuma deh… kalian maksa. Gue nngak bakal mau pindah,“ balas Fauzan menegaskan

Sidin, Faiz dan Hibban pun beranjak meninggalkan ruangan.

Sementara itu Syifa, Jumi dan Najla sudah samapai di asrama canda, mereka sedang mendiskusikan Gelombang dan Optik yang baru diberikan oleh oleh dosen mereka. Najla terlihat melamun menatap buku-buku yang berhamburan di depanya nampak guratan sedih di wajahnya.

“ Napa, Naj?“ tanya Syifa prihatin.

Najla teringat kucingnya yang sudah tiga hari belum ditemukannya juga. Padahal kucing tersebut telah dua tahun dirawat yang di beri nama Richard, jelas hal ini membuat Najla sangat sedih.

Setelah menyelesaikan tugas dari pak dosen, Jumi, Najla dan Syifa melakukan aksi pencarian di sudut-sudut ruangan asrama ceria Hingga Jumi berada di depan kamar Fauzan yang tidak tertutup rapat di dalamnya sangat acak-acakan seolah tak terurus. Sembari mengamati sudut-sudut kamar. Jumi tersentak kaget melihat Richard yang sudah terbaring lemas di sudut lemari.

“Naj! ke sini cepat. Richard ada di kamar Fauzan,“ teriak Jumi yang langsung memasuki kamar Fauzan, menggendong Richard yang terbaring lemas.

Najla yang melihat keadaan kucingnya terlihat berkaca-kaca dan tak bisa berkata-kata seolah menahan amarahnya, apalagi ini dilakukan oleh saudara sepupunya sendiri.

Setelah peristiwa tersebut ada secercah penyesalan di hati Fauzan, tidak menyangka ternyata setelah penyekapan tiga hari di kamarnya membuat Richard pergi untuk selama-lamanya.

Peristiwa ini jelas sangat membuat Najla teriris dan kehilangan kucing manis yang selalu menemani hari-hari. Najla sangat menyesalkan perbuatan Fauzan yang sangat sudah keterlaluan. Tanpa sepengetahuan Najla dan Jumi Fauzan pun akhirnya pindah di asrama ceria menerima tawaran Faiz, Hibban dan Sidin.

“Aku mennyesal,“ suara Fauzan memecah kesunyian.

“Janji mulai sekarang mau tobat,“ ungkapnya pada Sidin, Faiz dan Hibban.

Lima bulan sudah peristiwa tersebut terjadi. Nampak jelas perubahan yang terjadi pada diri Fauzan, yang tidak menunjukan sifat kejailannya lagi dan asrama Mafia pun sudah tak seperti dulu lagi. Asrama mafia canda di khususkan untuk putri dan asrama mafia canda khusus putra.

Tertuntaskan

Kendari, 4 Februari 2008


[1] 1Perkenalan

[2] Campur baur

[3] Sejenis baju kurung yang lapang dan luas (baju gamis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s