Books Aren’t Dead, They’re Just Going Digital. Majalah Newsweek edisi 26 November 2007 dalam sampulnya memunculkan judul menarik tersebut. Dalam laporannya, majalah tersebut menuliskan artikel rencana peluncuran alat pembaca buku digital Amazon Kindle oleh Jeff Bezos, CEO dari Amazon.com, sebuah perusahaan yang mengelola toko buku di jagat maya.

Peluncuran teknologi terbaru yang sangat memudahkan membaca buku secara digital – lebih dikenal dengan istilah e-book (electronic book) – itu kemudian menambah spekulasi akan terjadinya revolusi terhadap budaya cetak oleh budaya digital. E-book atau buku elektronik – selanjutnya disingkat buku-e – adalah buku yang dibuat dalam format elektronik, tidak dicetak di kertas seperti biasanya. Buku jenis ini hanya bisa dibaca di media-media tertentu seperti komputer, PDA, atau perangkat khusus pembaca buku elektronik (buku-e readers/buku-e devices).

Buku-e pertama dibuat tahun 1971 oleh Michael Hart, inisiator Gutenberg Project (proyek Gutenberg) di Universitas Illinois, Amerika Serikat. Gutenberg Project adalah proyek pembangunan perpustakaan digital untuk umum yang lebih berkonsentrasi pada digitalisasi buku-buku karya pengarang-pengarang klasik seperti William Shakespeare, dan Edgar Allan Poe.

Tahun 1981, terbit buku-e komersial pertama di dunia. Penerbit Random House meluncurkan kamus berbentuk buku elektronik yang dijual di pasaran dengan judul The Random House’s Electronic Thesaurus. Meski demikian, booming buku-e baru terasa pada awal 2000-an. Kala itu, pengarang fiksi misteri terkenal Stephen King menerbitkan bukunya yang berjudul Riding The Bullet secara eksklusif di internet melalui penerbit buku elektronik Simon & Schuster.

Di Indonesia, pencinta buku juga sudah mulai menikmati alih teknologi perbukuan dengan adanya buku-e. Diawali ketika Mizan membuka akses gratis di situsnya untuk para pengunjung yang ingin membaca buku berjudul Wasiat Sufi Imam Khomeini kepada Putranya, Ahmad Khomeini (Yamani) dalam bentuk elektronik. Proyek yang dikatakan sebagai proyek percobaan itu berhasil menjaring ribuan peminat yang mengunduh buku-e tersebut.

Sayangnya, keterbatasan buku yang akan dibuat dalam format buku-e menyebabkan Mizan berhenti memproduksi buku-buku digital selanjutnya. Keterbatasan ini disebabkan tidak adanya pengarang yang bersedia bukunya dibuat dalam versi digital yang dapat diunduh secara gratis oleh pembaca. Era teknologi informasi saat ini membuka sebuah celah, dan celah itulah yang menjadi peluang bagi penerbitan buku-e. Meski baru bersifat percobaan, Penerbit Mizan telah mengawali memasuki peluang ini pada awal-awal milenium 2000. Kini, hampir satu dekade kemudian, celah bisnis itu kembali digarap.

“Era digital memang harus kita hadapi, tak bisa dihindari. Oleh sebab itu, tahun ini kami mencoba kembali menggulirkan buku elektronik di pasar buku Indonesia,” kata Putut Widjanarko, Direktur Pelaksana Penerbit Mizan. Saat ini Mizan sudah mempersiapkan sekitar 30 judul buku, fiksi, dan nonfiksi yang akan dibuat dalam bentuk buku-e.Ditanya seputar prospek buku-e ke depan, Putut menjawab, jika hal tersebut belum dapat diperkirakan saat ini. Budaya membaca buku yang dicetak di kertas dengan membaca buku bentuk digital tentu memiliki tingkat keasyikan sendiri-sendiri. Apalagi Indonesia yang minat baca masyarakatnya masih tergolong rendah, buku konvensional pun kurang mendapat tempat. Namun, teknologi buku-e ini tetap harus mulai diperkenalkan, apa pun tanggapan dari masyarakat.

Ceruk pasar buku-e memang cukup menarik. Meski masih diragukan peminatnya, toko buku dunia maya yang mengkhususkan menjual buku-e kini semakin mudah ditemukan. Untuk saat ini, jenis koleksi buku-e yang ditawarkan di toko-toko buku online tersebut kebanyakan buku nonfiksi psikologi maupun buku-buku yang mengulas tips dan trik tertentu (how to books). Khusus untuk buku fiksi, hanya beberapa judul saja yang telah dibuat versi digitalnya. Dan biasanya, buku-e jenis ini lebih banyak beredar di antara komunitas tertentu saja, misalnya, penggemar cerita silat yang pernah membuat versi buku-e cerita silat (cersil) Naga Sasra Sabuk Inten dan Api di Bukit Menoreh, juga cersil-cersil lainnya karya Asmaraman S Kho Ping Hoo. Di sebuah situs toko buku online lokal yang menjual dua versi buku, cetak dan digital, baru dua judul novel yang tersedia versi elektroniknya, yaitu The Kite Runner karya Khaled Hosseini dan The Expected One karangan Kathleen McGowan.

Masih minim permintaan
Akankah nantinya peminat buku di Indonesia beralih ke buku-e untuk membaca buku-buku kegemaran mereka? Menurut Direktur Produksi Penerbit Ufuk Baqar Bilfaqih, hal ini disangsikan akan terjadi. “Kedua jenis buku memiliki pasarnya masing-masing, tergantung cara baca yang lebih disukai orang. Artinya, jenis buku cetak akan tetap diminati dan buku elektronik pun punya penggemarnya sendiri,” kata Baqar.

Ketika awal-awal buku-e mulai dikenal publik pencinta buku di Indonesia, keraguan akan bakal berkembangnya buku digital sangat besar. Bagaimanapun, buku konvensional yang simpel dan praktis karena bisa dibaca di mana-mana masih menjadi alasan utama orang lebih memilih membaca buku cetak daripada di media khusus seperti buku-e.

Meski kemudahan untuk dapat menemukan kata atau kalimat tertentu dalam buku-e tidak ditawarkan buku konvensional, hal itu belum menjadi pertimbangan besar mereka yang ingin membaca buku-e. Bahkan, harga jual yang lebih murah dari buku cetak pun belum membuatnya memiliki pasar yang nyata di negeri ini. Teknologi digital telah memudahkan buku-e tercipta dengan ongkos produksi yang lebih kecil daripada buku yang dihasilkan dengan teknologi cetak.

Kurangnya daya serap pasar terhadap buku-e terlihat dari minimnya permintaan, membuat penerbit berpikir seribu kali untuk membuat versi elektronik buku yang diterbitkan. “Untuk memproduksi jenis buku-e, pada buku-buku yang diterbitkan, terus terang kami belum sampai pada pemikiran itu. Sepertinya pasar belum siap untuk menikmati buku yang hanya bisa dibaca di alat-alat tertentu seperti komputer maupun alat pembaca khusus tersebut,” jelas Amin Bakri, Komisaris Utama Penerbit Menara. “Namun, jika demand-nya cukup kuat, pasti kami akan melangkah ke arah itu juga,” ujar Amin menambahkan.

Hal serupa juga dikatakan Ahmad Zamroni, Kepala Editor Pustaka Azzam, tentang prospek penerbitan buku-e di perusahaannya. “Saat ini kami belum memikirkan akan membuat buku-e. Semua itu nantinya tergantung pasar. Jika menguntungkan, akan kami lakukan,” jelas Ahmad. Namun, Ahmad cukup optimistis buku-e akan memiliki perkembangan yang baik suatu masa nanti. Tampaknya menunggu reaksi pasar adalah pertimbangan utama penerbit-penerbit buku dalam memproduksi buku-e. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan Penerbit Ufuk dan Mizan, yang saat ini telah mulai memproduksi buku-buku elektronik. Bahkan, seluruh buku terbitan Ufuk telah memiliki versi digitalnya masing-masing.

“Kami bekerja sama dengan pihak ketiga, yaitu sebuah situs toko buku online, yang membuatkan versi elektronik dari seluruh buku yang telah diterbitkan. Ufuk hanya menerima royalti dari setiap buku-e yang dibeli dari toko buku online tersebut,” jelas Baqir dari Penerbit Ufuk.

Kenyataannya, teknologi kini memang semakin cepat berkembang. Dan masyarakat Indonesia termasuk yang cukup senang dengan kehadiran teknologi-teknologi baru, khususnya yang mempermudah hidup. Dan inilah yang ditawarkan buku-e, dengan teknologinya yang memudahkan pembaca mencari inti cerita atau tulisan dari kata atau kalimat yang bisa dicari dengan fasilitas yang ada di buku jenis ini. Selain itu, kesempatan pengenalan teknologi baru dalam membaca buku ini memang harus dicoba.

“Buku-e dapat dianggap sebagai kurva pembelajaran bagi masyarakat. Celah ini harus dicoba. Hasilnya bisa menjadi pengalaman belajar baru dalam membaca buku,” kata Putut dari Penerbit Mizan.

Sumber: Palupi Panca Astuti (Litbang Kompas)

link: http://www.dinamikaebooks.com/artikel/26/fenomena-e-book-akankah-menggeser-buku-cetak-.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s