Adikarya: Afra Nadiyah [Kendari]

Langit sore mulai tampak cerah kembali, setelah seharian hujan turun. Kulihat pelangi memancarkan pesonanya dari kejauhan. Anugerah yang luar biasa dari sang Maha Pencipta.

”Ai…jangan di kamar terus dong! kencan sama komputernya di udahin dulu. Apa nggak mau siap-siap buat malam mingguan” sapa Nisa dari balik pintu kamarku yang berhadapan langsung dengan ruang TV.

”Nggak  Nis, aku mau di rumah aja” teriakku dari dalam kamar.

Tak lama kemudian aku pun keluar, memberikan seuntai seyuman pada kedua sahabatku yang sedang asyik menonton.

”Eh…. ternyata neng Ai keluar juga. Gimana tugasnya Non?” goda Olga yang lansung menarik tanganku duduk di sampingnya.

”Alhamdulillah tinggal dikit lagi” balasku sambil tersenyum pada Olga yang menyenggol bahuku dan langsung merangkul pundakku.

Olga adalah sahabatku yang agak tomboy dan paling dekat denganku. Mungkin karena seringnya kita bersama dan berasal dari kota yang sama pula Pasuruan. Kami bertiga sama-sama kuliah di Universitas Airlangga. Aku kuliah di  Kesehatan Masyarakat, Olga kuliah di Sastra  Indonesia sedangkan Nisa yang berasal dari Banyuwangi kuliah di  Ilmu Komunikasi. Kami sekarang semester tiga dan yang satunya lagi mbak Karin pemilik rumah ini. Dia baru saja menggapai gelar sarjananya Ilmu Komunikasi di Fakultas Sosial politik di Universitas yang sama denganku. Yang sekarang bekerja sebagai wartawati di salah satu Tabloid yang ada di Surabaya ini.

”Assalamu’alaikum!” teriak suara yang tak asing dari luar rumah.

”Pasti mbak Karin. Waalai’kum salam.” tebak Nisa yang langsung beranjak ke depan membuka pintu. Disusul Olga dan aku di belakangnya.

Setelah membuka pintu, kami membantu membawakan koper dan beberapa kantong bawaan mbak Karin yang terlihat raut wajah yang letih dan lemes.

”Mbak istirahat dulu! aku masakin air panas buat mandinya yah?” tawarku pada mbak Karin.

”Makasih Ainin. Ohh…iya, itu mbak bawain kue. Di buka gih!” balasnya sambil menunjuk kantong di sebelah Nisa.

Setelah mbak Karin mandi, ia langsung beristirahat di kamarnya. Sedangkan kedua sobatku sedang bersiap-siap pergi bermalam mingguan.

”Ai… gimana pakaianku bagus nggak?” tanya Nisa sambil memutar-mutar tubuhnya di depanku. Aku hanya diam melihat ekspresinya, aku malah sibuk memperhatikan tubuh mungil  Nisa yang di balut gaun malam Pink yang sangat terbuka untuk ukuranku. Maklum sejak Tiga bulan yang lalu aku memutuskan untuk berkerudung1 aku merasa risih berpakaian seperti itu.

“Ni sweater dipake yah! Angin di luar dingin” sambil kusodorkan sweater padanya. Sweater tersebut sengaja kuberikan karena tak tega melihatnya berpakaian seperti itu.

Sedangkan sahabatku Olga sedang sibuk mengotak-atik Handphone mininya yang sedang menunggu jemputan pacar. Olga terlihat manis malam ini. Yah..masih agak mendingan cara berpakaiannya di bandingkan sahabatku yang satu. Walau belum menutup aurat namun lebih tertutup. Tidak lama kemudian mereka berpamitan denganku. Terlihat Nisa di jemput dengan jeep Hitam sedangkan Olga dengan mengendarai motor gede.

“Semoga Allah selalu menjaga mereka “ gerutuku dalam hati.

Setelah meratkan (afwan, yang di depan yang dikurung ini apu gak tahu maksud katanya atau salah ketik. Di betulin sendiri ya!) pintu, aku masuk ke kamarku untuk melanjutkan tugas Dasar-dasar Kesehatan Lingkungan yang tertunda tadi sore, setelah tiga puluh menit akhirnya selesai juga.

Untuk mengisi waktu senggang di malam minggu ini aku memasak. Itulah kebiasaanku di waktu senggang, mencoba-coba meracik masakan baru, walaupuin tidak jarang hasilnya tidak sesuai dengan targetku. Namun walaupun begitu kedua sahabatku dan mbak Karin selalu memuji hasil masakanku.

“Eh.. mbak dah bangun?” tanyaku spontan melihatnya berdiri di pintu.

“Iya” balasnya.

“Mas Dimas kemana mbak? biasanya kalau malam minggu gini suka di jemput” lanjutku sambil memotong daun sub diatas meja makan.

“Dimas lagi ngeliput di  Sidoardjo. Biasa Lapindo. Ai.. Egi kok akhir-akhir ini jarang muncul yah?” Balas mbak Karin bertanya. Wajahku refleks memerah mendengar pertanyaan itu.

“Sibuk mbak” jawabku singkat menyembunyikan kegugupanku.

Sudah dua minggu ini aku menghindari Egi. Enam bulan bukan waktu yang singkat menjalin hubungan denganya. Seorang mahasiswa kedokteran semester lima. Pertemuan kami berawal pada saat aku semester dua lalu. Waktu itu aku sedang menyelesaikan tugas Ekologi Gizi kesehatan Masyarakat yang meninjau anak-anak gizi buruk di Rumah sakit Graha Amerta Surabaya dan Egi pun sedang melakukan survey di tempat tersebut. Karena waktu kami yang bersamaan dan sama-sama berasal dari Universitas Airlangga, kami pun jadi akrab samapi akhirnya menjalin hubungan. Mungkin karena kuliah kami yang sama-sama bersentuhan dengan kesehatan sampai akhir ini kami sosok dan selalu dicap pasangan paling serasi di kampus.

“Iya…. walau sibuk, masak nggak ada waktu buat putri Ainin yang manis ini?” goda mbak Karin padaku. Aku tersipu mendengarnya.

“Seperi ada tamu deh! bentar yah, mbak lihat dulu” buru-buru ia menuju ruang tamu. Aku pun mematikan kompor dan menyiapkan beberapa mangkok di atas meja. Tidak lama kemudia mbak Karin pun muncul dengan wajah yang penuh seri.

“Tebak Ai. Siapa yang datang hayo?” godanya.

“Siapa???” balasku sambil menuangkan sup ke dalam  mangkok .

”Liat aja sendiri!” goda mbak Karin lagi

”Siapa sih mbak?” bujukku dengan rasa penasaran.

”EGI ” jawab mbak Karin yang tertawa lepas.

Aku berhenti sejenak menatap mbak Karin. Jantungku terasa berdetak lebih kencang dan salah tingkah. Langsung aku masuk kamar untuk menganti pakaian. Kukenakan t-shirt warna biru lengan panjang dan rok panjang berwarna putih yang kupadukan dengan krudung biru. Berbeda jauh dengan pakean yang kukenakan pada saat memasak tadi kaos oblong hitam dan celana selutut.

Terlihat Egi sedang memandangi keadaan sekitar.

”Masuk Gi” sapaku mengagetkannya. Dia langsung berbalik arah padaku. Terlihat lesung pipi kanannya pada saat tersenyum padaku, membuatku agak sedikit grogi berhadapan dengannya. Itulah ciri khas yang membuat banyak wanita-wanita di kampus yang mengaguminya ditambah lagi dengan postur tubuh yang tinggi tegak, membuatnya semakin gagah.

”Tuan putri! dua minggu ini kemana aja? Setiap aku cari di kampus nggak ketemu, kutelepon nggak pernah diangkat, di SMS di balas seperlunya aja. Ya.. udah, kuberanikan diri datang ke sini walau kamu larang.” celotehanya berjalan ke  ruang tamu mengikutiku

”Aku sibuk. tugasku numpuk !” balasku singkat.

Kadang-kadang aku tak mengerti kenapa Egi  begitu mengagumi, memberikan perhatian yang lebih dan begitu menyayangiku. Sehingga ada yang kurang rasanya jika tak bertemu denganya. Namun akhir-akhir ini perasaan bergantung padanya mulai aku kurangi. Walau belum lama belajar Islam aku ingin menaati perintah dan larangan yang kupelajari dari kakak senior sekaligus mentorku di kampus kak Aqifa.

Setelah Egi masuk dan duduk, mbak Karin pun ikut mengobrol bersama kami dan tak jarang terus menggoda kami.

”Eh… kita makan dulu yuk! ngobrolnya di udahin dulu. Ai barusan masak sup ayam lhooo… ” promosi mbak Karin pada Egi

”Boleh tuhh, kebetulan aku lapar banget mbak ” balas Egi penuh semangat.

Sepanjang makan malam dia tak henti-hentinya memuji masakanku. Di tambah lagi mbak Karin yang terkesan melebih-lebihkan.

”Biasa aja kok! ini kebetulan aja masak” komentarku

”Ini baru kebetulan. Gimana seriusnya yah? Beruntung deh.. Gi kalau Ai dijadiin istri.” sambung mbak Karin pada Egi.

Aku langsung tersentak mendengar komentarnya.

”Berarti aku beruntung dong mbak! kalau memperistri Ainin.” sambung Egi dengan menebar senyuman pada mbak Karin.

Refleks kakiku menyentak kakinya di bawah meja

”Udah dong Gi. serius maknya (?) jangan gitu terus” protesku dengan wajah memelas.

Setelah makan malam bersama, mbak Karin menyuruhku mengajak Egi ke teras.

”Ai. Kenapa sih akhir-akhir ini tingkah kamu berubah?” Egi duduk di teras sambil memandangiku. aku pun beranjak berdiri memandangi jalanan yang mulai nampak sepi yang langsung membelakanginya.

”Ada beberapa hal yang mesti kita sadari Gi. Selama ini kita terlalu menyepelekan itu ” balasku dengan suara yang lirih

”Apa yang mesti kita sadari dinda??Bukankah kita sudah cocok? kurang apa lagi?” tanyanya antusias dengan ekspresi wajah yang nyaris meruntuhkan tembok hatiku.

Kebiasaannya memanggilku Dinda jika membahas kelanjutan hubungan kami. Malam itu aku berusaha memberi dia pengertian dan mencoba memahamkan bahwa interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam Islam itu sebenarnya terpisah, hanya diperbolehkan dalam hal Muamalah 2, pendidikan dan kedokteran.

”Berati aku boleh. Aku ’kan calon dokter?” godanya karena melihat ekspresiku yang sangat serius. Pembicaraan kami terpotong karena melihat Olga pulang diantar oleh pacarnya tepat di depan pagar rumah. Terlihat David berpamitan pada Olga, dan melambaikan tangan pada aku dan Egi.

”Ohh.. pantesan tadi ngak mau diajak jalan. Ternyata pujaan hati ngapelin yah??” sapa Olga ketawa cekikikan

”Ihh… jangan berjauhan dong?” lanjut Olga dengan menyambar badanku. Akupun refleks hampir menyambar  Egi, sampai-sampai tercium aroma parfum yang dikenakan. Olga pun berlainan masuk ke dalam rumah membuatku sedikit kesal.

”Udah jam 10 Gi!” kataku memecah kesunyian

”Jadi tuan putri ngusir nih??” balasnya dengan memperhatikan wajahku yang cemberut.

Aku tahu dia tersinggung dengan pertanyaanku barusan, apalagi melihat wajahku yang masih kesal dengan tingkah Olga barusan.

”Bukan gitu Gi, nggak bagus buat kesehatan udara malam. Masa calon dokter nggak tahu sih ?”gurauku dengan suara merendah menyembunyikan rasa bersalahku

”Iya.. Dindaku, sekarang pangeranmu akan pulang” selepas senyum di wajahnya, merasa senang seolah diperhatikan olehku. Aku mengantarnya hingga pintu pagar. Dia pulang dengan mengendarai Yamaha Fiz-R biru kepunyaanya, menghilang di gelapnya malam

Aku menghembuskan nafas. Kuharap semua ini bisa berlalu dengan cepat. Tak lama setelah aku menutup pintu pagar, terlihat Nisa pulang. Mobil Jeep berhenti tepat di depanku.

Aku begitu shock melihat Nisa yang mabuk di antar laki-laki yang baru dikenalnya sebulan.

”Kok Nisa bisa mabuk gini?”  bentakku padanya

”Jangan salahin gue dong! Nisa aja yang sok.ngeliat aku minum. Eh… dia juga malah ikutan. Mabuk jadinya” balasnya dengan marah-marah

“Loe jangan ikut campur deh ini urusan gue!” lanjutnya dengan senyum penuh kelicikan

Malam itu aku bertengkar hebat dengannya. entah siapa dia sebenarnya. Namanya pun aku tak tahu. Karena mendengar pertengkaran kami, mbak Karin dan Olga pun keluar rumah dan menghampiriku. Olga yang tak tahan  melihat tingkah laku orang itu pun langsung di usir. Kami langsung membawa Nisa  ke kamarnya. Setelah sampai mbak Karin mengganti  pakaiannya. Kulihat  gurat polos keluguan di wajahnya, Nisa pun sudah mulai tertidur. Nisa belum menyadari kalau pergaulan yang bebas bisa menghancurkan masa depanya. Sebagai seorang sahabat aku begitu menyayanginya.  tapi dia sering tak mengindahkan perkataanku.

Embun pagi nampak jelas menempel di jendela. Kurasakan matahari sudah mulai bersinar. Aku dan Olga sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi. Setelah semunya beres aku mandi dan menyiapkan tugas yang akan kusetor hari ini di kampus.

Tepat jam 8 pagi. Aku, Olga mbak Karin sarapan, tak lama kemudian Nisa pun muncul dan ikut sarapan bersama kami. Terasa sunyi tidak ada celotehan dan perbincangan. Entahlah, mungkin karena peritiwa semalam itu penyebabnya.

”Maafkan aku, sudah merepotkan kalian. Aku terlalu gegabah” sesalnya pada kami yang langsung beranjak dengan wajah tertunduk.

”Aku duluan semua ” pamitnya.

Kami pun menjalani aktifitas kami seperti biasa. setelah kuliah Biokimia Aku menyetor tugas dasar-dasar  kesehatan lingkungan yang kukerjakan seharian kemarin. Untung saja beberapa referensi buku yang aku butuhkan dapat aku peroleh dari seniorku kak Aqifa.

HP ku berbunyi terlihat ” 1 massage received ”

Aswrwb. Ukhti3 Ainin sekarang lagi dimana?

sender :

Kak Aqifa

 

Langsung ku reply SMS tersebut

Wswb. Skrng lagi di jln menuju Mushola kak.

bentar lasi Ai nyampe kok!!

Kak Aqifa adalah seniorku yang sekarang sudah semester lima di Fakultas Kesehatan Masyarakat. Dia mengambil kesehatan lingkungan. Dari kak Aqifalah aku tahu banyak hal tentang Islam. Di tengah-tengah kesibukakanku, aku menyempatkan diri dua kali dalam seminggu untuk sedikit berdiskusi dengannya dan kalau tugas kampusku yang susah, tak jarang kak Aqifa membantunya. Setelah tiba di Mushola kak Aqifa langsung menyalamiku dan mencium kedua pipiku. Itulah kebisaanya ketika bertemu denganku.

”Assalamu’alaikum Ukhti. Gimana kabarnya?” tanya kak Aqifa sambil memegang jemariku.

”Wassalam’alaikum. Alhamdulillah Ai baik kak.” balasku. Kurasakan jemarinya memegang erat tanganku.

Hari ini kami berdiskusi cukup lama. Tak terasa azan berbunyi menandakan waktu zuhut. Setelah sholat zuhur kami pun berkeliling kampus. Kami duduk di salah satu bangku yang ada di pelataran kampus. Aku menyodorkan kue yang kubawa dari rumah

”Oleh-oleh mbak Karin dari luar kota.” kataku sambil menyodorkan tempat kue warna biru.

”Abis dari ngeliput lagi yah?” senyumnya sambil meraih kue yang kusodorkan. Bagiku kak Aqifa adalah sosok yang mengagumkan, parasnya begitu cantik ditambah dengan balutan jubah coklat yang di kenakan yang di kombinasikan dengan kerudung putih membuatnya makin terlihat manis. Aku iri melihat pesonya, rasanya ingin bisa menjadi sepertinya.

Aku pun curhat masalah Egi padanya. Kak Aqifa berusaha menjelaskan aku tentang cinta yang hakiki. Cinta yang tidak berlandaskan hawa nafsu dan ego yang ada dalam diri, tapi semata-mata mengharapkan ridho Allah Sang Pemilik Cinta Sejati.

” Dan janganlah kau mendekati zina. karena sesungguhnya zina adalah suatu perbutan yang keji dan jalan yang buruk bagimu”(QS. Al-Isra: 32 )

Air mataku tak sanggup dibendung lagi tanpa sadar telah membasahi pipiku.

”Udah… Ukhti. Allah Sang Maha Pengampun pasti semuanya ukhti bisa selesaikan ” balasnya sambil merangkul pundak menenangkanku.

Setelah peristiwa tersebut aku mulai menyibukan diri dengan kegiatan-kegiatan yang kampus yang dilaksanakan oleh Lembaga Dakwah Kampus At-tafliir bersama kak Aqifa. Salah satu yang baru kami adakan adalah bedah film ABORSI di kampusku, yang di hadiri juga oleh kedua sahabatku dan mbak Karin. Hari acara itu di gelar aku memutuskan untuk berjilbab4 sesuai dengan Surat Al-Azhab : 59.

Aku tahu perubahan pakaianku membuat orang-orang yang ada di sekitakku menjadi kaget. Seharian di rumah membuatku lebih fresh. Sore hari setelah aku mandi aku sholat ashar dan menyelesaikan tilawahku surat At-taubah

”Assalamu’alaikum!” ketukan pintu. Itu suara Nisa.

”Wassalamu’alaikum.  Masuk Nis. ” kataku.

Terlihat gurat wajah yang sembab oleh air mata. Nisa langsung memelukku dengan isak tangis yang tak tertahankan.

”Ai… aku  hamil! Aku harus kembali ke Banyuwangi secepatnya. Menikah dengan pilihan orang tuaku” isak tangisnya terus bertambah memenuhi ruangan kamarku. Aku berusaha menenangkannya

”Siap yang melakukanya?” tanyaku tak percaya.

”Jimy. Orang yang mengantarku pulang sebulan yang lalu. Aku tak sadar pada saat aku mabuk ternyata?…” air matanya terus berlinang hinggga tak bisa melanjutkan ceritanya.

Aku bisa merasakan suasana hati Nisa yang sedang kalut. Air mataku pun tak sanggup di bendung langsung menetes membasahi kerudung sholatku dang langsung kupeluk Nisa dengan erat.

Kami ikut berempati dengan musibah yang di alami Nisa. Malam minggu yang biasa dijadikan untuk jalan-jalan malam ini tak nampak terlihat, kami di rumah terus menyemangati Nisa untuk bisa tetap tabah. Seminggu kemudian Nisa kembali ke kampung halamannya di Banyuwangi. Sementara mas Dimas dan mbak Karin akan segera menikah bulan depan.

Jam 02:00 malam aku terbangun. Entah kenapa aku terbangun malam itu. Kuambil air wudhu dan sholat malam 2 rakaat. Sesuasai sholat kulirik Hp Sony Ericsonku di atas meja, terlihat  ” 7 missed calls”

”Nomor siapa yah?” gerutuku dalam hati. Langsung ku-sms nomer tersebut. Mungkin semalam ingin menelepon tapi karena aku tertidur pulas, jadi aku tak  mendengar bunyinya.

Aswrwb. Afwan ini siapa yah??

Tidak lama setelah kukirim sms nomer tersebut pun langsung menelepon balik.

”Haloo… Assalamu ’alaikum” sapaku di telepon dua kali.

”Wa’alaikum salam ”balasnya. Kudiam sejenak untuk mengenali suara di balik sana. Suara yang sangat kukenal, Egi!!

”Jangan di tutup dulu Ai.“ sambungnya memohon dengan suara merendah. Kubiarkan dia bicara dan mengeluarkan unek-unek yang ada dalam hati. Aku bisa merasakan perpishanan ini begitu berat. Kuberharap dia bisa memahami alasanku. Tiga puluih menit sudah kami mengobrol di telepon

”Gi… kalau memang kita berjodoh, insya Allah kita akan dipertemukan kembali” jelasku dengan lembut kepadanya.

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula. Dan wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula ” sambungku mengingatkan  Surat An-Nur ayat 26.

”Ai .. minta maaf kalau selama ini pernah buat Egi sakit hati yah!” pintaku

”Nggak Ai. Ai nggak pernah buat salah, apalagi buat aku sakit hati.” balasnya dengan suara makin merendah

“Ai.. jaga diri baik-baik yah! maaf kalau aku selalu buat kesal. Semoga  impian Ai bisa terwujud mendapatkan pendamping Dunia akhirat yang sholeh. “

“Terimah kasih Gi. Assalamu’alaikum.” jawabku menutup telepon dengan suara yang mulai serak karena menahan tangis. Setelah menutup telepon tanpa sadar air mataku jatuh. Kupandangi bintang yang remang-remang di tengah gelapnya malam.

Waktu pun bergulir tanpa henti, tak tersa aku sudah semester lima dan kak Aqifa semester tujuh yang mulai sibuk dengan penelitianya. Sedangkan aku selain sibuk dengan kuliah aku makin aktif di  LDK sebagai koordinator keakhwatan. Kami di sibukan dengan Seminar Kesehatan  yang bekerjasama dengan kesehatan masyarakat dan mahasiswa kedokteran dalam rangka hari AIDS se-Dunia.

Alhamdulillah dengan kerja keras, seminar tersbut dapat terlaksana dengan tema : CERDAS TANGGAPI HIV AIDS DENGAN SOLUSI ALTERNATIF. Aku sangat bahagia melihat antusiasme peserta yang menghadiri acara tersebut. Acara pun di mulai

”Melangkah pada acara selanjutnya. sambutan Ketua panitia seminar kesehatan oleh Akhi Mohammad Egi” baca MC di depan peserta seminar.

Aku tersentak kaget melihat sosok Egi  yang memberi sambutan, dari kejauhan mataku tak berkedip memperhatikanya, hatiku seolah di aduk-aduk tak percaya. Karena kesibukakanku mendekorasi ruangan yang akan di pakai. aku sampai tak tahu kalau ketua panitia acara ini adaah Egi. Tidak ada yang berubah dari wajahnya kecuali lebih dewasa lagi.

Semester 8 akupun mulai merampungkan Tugas Akhirku disamping itu akupun menjalani proses ta’aruf5 yang di tawari oleh Ummu6 Fadil  Marwah yang tidak lain adalah dan suaminya ustadz Hawari.

”Ukhti Ai, sekarang fokus selesaikan tugas akhir dulu.” tutur musyrifahku,7 Ummu Fadil mengingatkan ketika aku berkunjung di rumahnya

”Iya Ummu. Ai juga niatnya gitu, biar pikiran tidak terbagi-bagi.” balasku padanya

”Supaya bisa langsung bertemu dengan kedua orang tua Ai di Pasuruan” lanjut Ummu Fadil mengingatkanku

”Insya Allah Ummu.”

Namanya Mohammad Al-Faridzi, kata ummu Fadil sekarang dia sedang mengikut Co-Ass di Rumah sakit Dr.Soetomo surabaya.

Tiga bulan telah berlalu, aku pun menggapai gelar S.km. Aku pulang ke kampung halamanku di Pasuruan. Rentang tak berapa lama, Ustadz Hawari dan Ustadzah. Marwah  mengabari akan berkunjung di rumahku Pasuruan bersama Al-Faridzi.

Entah kenapa berita kunjungan itu membuatku sedikit gelisah. Kuambil  tafsir kecilku dan kubaca surat Ar-ruum ayat 21

Dan diantara anda-tand kekuaaan Allah dia yang menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu supaya kamu mersa tentram kepadanya dan di jadikanNYA diantara kasih dan sayang” air mataku terasa menetas ku teringat sosok Egi yang memberi sambutan di Seminar Kesehatan setahun yang lalu.

”Yah.. menyempurnakan separuh dien.” kataku dalam hati.

Keluagaku pun sedang bersiap menunggu kedatangan Ummu Fadil, Ust. Hawari dan juga calon suamiku Al-Faridzi. Awan mendung mulai terang kembali, hujan gerimis pun sudah mulai reda Aku duduk di serambi rumahku. Kupandangi pelangi yang memendarkan tujuh pesonanya dari balik Gunung. Seolah kutemukan Sang Hakiki damai dan tenang ’tuk temani hidupku di sepanjang hari-hariku.

Hari mulai gelap. Ustadz Hawari dan istrinya juga Al-Faridzi belum mengabari sudah sampai dimana. Padahal waktu yang ditempuh dari Surabaya ke Pasuruan paling lama memakan waktu tiga jam semenjak kasus lumpur Lapindo terjadi. Setelah Sholat Maghrib, langsung kutelepon Ummu Fadil. Tak ada jawaban sama sekali. Perasaanku mulai tidak enak, aku mulai khawatir. Tiba-tiba ummu Fadil memanggil kembali. Hatiku terobati

”Maaf apa benar ini dengan sanak keluarga pak Hawari ” jelas suara di telepon

”Iya .. ini dengan keluarganya.” suaraku mulai gemetar karena gugup.

Aku tak sanggup berkata-kata lagi mendengar Ustadz Hawari dan rombongan mengalami kecelakaan tertabrak truk pengangkut pasir. Malam itu dengan perasaan campur aduk dan gelisah aku dan keluargaku langsung meluncur ke RS Dr.Soetomo  Surabaya.

Kata Dokter dua orang laki-laki kritis. Satu orang sopir dan satunya lagi adalah Al-Faridzi. Kakiku rasanya lemas. Seolah tulang-tulangku remuk dan air mataku terus mengalir. Kulihat Ummu Fadil dan Ustadz. Hawari terbaring lemah dengan tangan terinfus. Dengan tertatih-tatih kuberanikan diri mengikuti seorang dokter masuk ke ruang sebelahnya. Kudapati sosok yang penuh luka di sekujur tubuh dan lumuran darah. Jantungku seakan berhenti berdetak. Kutahan nafas tubuhku yang semakin melemas. Kakiku tak dapat kulangkahkan lagi untuk maju melihat sosok yang terbaring itu.

Kututupi mulutku dengan dua kepalan tangan. Aku sungguh tak sanggup melihatnya. Kurasakan tanganku semakin dingin. Air mataku terus  berlinangan dan suaraku mulai serak karena terus menangis. Hari itu dunia seolah kiamat. Ternyata sosok Al-Faridzi yang dimaksud adalah Egi. Semenjak aktif di dunia Dakwah Al-Faridzi adalah nama samarannya. Yah… Dialah Mohammad Egi Al-Faridzi yang terbaring di depanku yang sudah tak bernafas lagi. Penglihatanku langsung berkunang, dunia pun terasa gelap hingga kuterjatuh dan tak merasakan apa-apa lagi.

***

Tertuntaskan 25 Desember 2007 (10.07 pagi )

……Afra……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s