Ditulis oleh : Garis Depan

Sore. Pertengahan Ramadhan, di beranda kos MATAHARI. Ampun ya Allah, seharusnya tidak begini jadinya.

“Pacaran itu jahat. Perempuan bukan boneka Zae, masa dipencet-pencet, dimainin.” ucapku.

“Seharusnya cewe yang ngomong gitu,” Zae menanggapi.

“Memangnya kenapa?”

“Gak papa. Yang jadi “korban,” cewe, laki-laki enjoy menikmati, kenapa lu yang sewot?”  ucapnya tanpa beban.

“Gila lu Zae, lu pikir gue lelaki bejat, sama dengan elu?” aku geram. Berulang kali aku mengingatkan sahabat kentalku itu untuk berhenti pacaran, yang menurutku adalah aktivitas bejat, legalisasi dosa atas nama cinta, tapi tetap saja ucapanku dianggap sampah. Bahkan di bulan suci ini dia tidak merasa berdosa melakukannya.

Zae diam.

“Lu puasa Zae?” aku mengalih tema.

“Lu ragu gue muslim?”

“Percuma lu puasa, kalau zinah tetep lu lakuin. Ingat Zae, ini bulan Istimewa!”

“Hey, lu mulai sok Tuhan rupanya. Ngatur-ngatur hidup gue. Kenapa? Sakit lu?” Zae memanas, seperti juga aku, menahan didihan emosi di ubun-ubun.

Waktu seperti beku. Hingga ada honda jazz biru memecah diam. Zeva, pacar Zae menjemput.

Zae bangkit menuju ke arah Zeva.

“Kemana Zae?”

“Peduli apa lu. Sampah!”

Sorry Zae, bukan maksud gue mengatur hidup lu. Gue sayang sama elu. Gue cuma ingin lu baik. Bathinku. Miris. Ada sakit yang menggigit di sana.

*********

Banjarmasin, 25 Agustus 2010

pesan cerita

–          Jangan mencampur adukan antara kebenaran dan dosa

–          Menegur seorang teman, tidak bisa dengan emosi

–          Bulan puasa, seharusnya mampu menjaga emosi/sabar

–          PACARAN itu HARAM!!!

–          Ingin “menyentuh” kalangan remaja yang berpacaran bahkan tidak jarang di bulan suci ini, sehingga mengotori mulianya Ramadhan.

http://dunia-rahman.blogspot.com/2010/08/cerpen-200-kata.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Dari redaksi: Tiap penulis berhak menuangkan kata-kata. Meski mungkin sebahagian lain tulisannya dianggap sarkasme, keras dlsb.

yg terpenting adalah sampainya ‘pesan’ dari tulisan.

nah, estetika, kelembutan dan penerimaan pembaca atau audiens adalah hak masing-masing.

Dalam dunia tulis menulis, banyak genre tulisan. Semoga tiap bentuk tulisan menambah wawasan berpikir dan menjadi perpus akan ragam bentuk cara penyampaian.

Salam! dari redaksi Sastra Langit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s