Mudik yang dirindukan, menggoreskan tulisan, oleh: apuindragiry

Tiga hari lagi ramadhan akan berakhir. Petang pun menyambangi dan memeluk kota Bogor. Aku pun bergegas turun dari angkot 03. Barusan  aku pulang dari agen tiket bus Lorena jurusan Bogor-Jambi di jalan Raya Pajajaran.

Lebaran tahun ini aku memang berencana mudik ke kampung halamanku, Pulau Kijang. Sudah tiga tahun aku tidak mencium hawa pedesaan. Namun, mudik kali ini aku tidak sendiri. Sudah ada istri yang menemani. Emak di SMS yang dikirim lewat HP adekku mewanti-wanti, jangan pulang sebelum membawa teman hidup.

Kebetulan sekali, istriku sangat ingin bertemu dengan emak dan bapak. Ya, sewaktu aku nikah, emak dan bapak tidak bisa hadir dengan alasan terlalu jauh dari kampungku di Riau.

***

Aku memilih mudik dengan bus. Karena memang aku suka melakukan travelling dengan bus. Kalau dihitung-hitung, naik bus lintas sumatera dan naik pesawat biayanya kurang lebih sama. Tapi dengan naik bus lintas, perjalanan bisa dinikmati dengan mata telanjang. Memandangi sepanjang jalan lintas timur yang berkelok dan berlubang, pepohonan karet dan sawit yang membentang di sepanjang bukit barisan, pantai berpasir putih di sepanjang pelabuhan Lampung terkadang meletikkan ide-ide segar untuk membuat novel.

“Bang. Sudah larut. Gak istirahat dulu? Besok kan kita melakukan perjalanan jauh.” Tiba-tiba jemari lentik istriku menyentuh pundakku.

“Iya. Sebentar lagi. Masih memilah novel untuk bacaan di jalan.” Sahutku.

“Ya sudah. Kalau sudah selesai cepetan rehat ya.. aku istirahat dulu.”

“Iya.”

Aku memandangi travel bag yang sudah aku isi dengan tiga novel yang aku taruh di atas pakaian.

Setelah kurasa komplit, baik buku, pakaian ganti dan oleh-oleh yang akan kubawa ke kampung, aku pun sejenak beristirahat.

Tak sabar rasanya pagi menyambangi. Lantaran esok kami akan mudik. Terbayang wajah emak, bapak dan karib kerabat yang sudah lama tak kupandangi parasnya. juga rumah panggung eksotis dimana aku dilahir besarkan.

***

Jam 13.00. Langit Bogor digelayuti mendung tebal. Aku dan istriku bergegas mencegat angkot 03 menuju terminal Baranangsiang.

Di tiket kami, tertera jam keberangkatan bus adalah jam14.00. takut tertinggal, kami berangkat lebih awal, selain menghindari hujan juga menghindari dari kemacetan di kota Bogor.

Tepat jam 13.40 kami sudah ada di deket terminal Baranangsiang, di mana armada bus Lorena ternyata sudah siap dan sedang mengisi bagasi dengan barang-barang penumpang yang akan mudik ke sumatera.

Aku dan istriku mendapat kursi nomer 13 dan 14. tidak terlalu depan dan tidak terlalu di belakang. Karena tidak terbiasa menggunakan bus, istriku langsung tertidur ketika bus Lorena yang kami tumpangi melaju di atas tol Jagorawi.

Di bus, aku asyik membaca buku kumpulan puisi, O Amuk, O Kapak yang ditulis Sutardji Calzoum Bachri. Sedang istriku tetap lelap dalam buain mimpi.

Senja mulai merambat turun. Bus mulai memasuki pelabuhan Merak. Sebentar lagi kami akan menyeberangi selat Sunda dengan kapal Roro.

Usai bus kami masuk kapal dan parkir. Aku membangunkan istriku.

“Yank, bangun.” Aku menggoyang pundak istriku.

Sembari mengucek-ucek matanya, istriku bertanya, “Sudah sampai mana, Bang?”

“Sampai Merak. Yuk, kita naik ke atas. Biasanya sebelum kapal berangkat, banyak anak-anak kecil rebutan uang koin sembari berenang di samping kapal. Trus, kita bisa memandangi mentari yang memandikan laut dengan warna jingganya.”

“Beneran?”

“Hu um.”

Dengan paras bersemangat istriku bangun dari duduknya.

Para penumpang lain juga sudah naik ke geladak. Hanya segelintir orang yang memilih berdiam di dalam bus.

Setelah menaiki beberapa tangga, kami pun menuju geladak kanan. Bergabung dengan penumpang yang banyak berkerumun. Memandang ke bawah banyak bocah dengan tangkas memamerkan keahlian menyelam dan memungut koin lima ratus perak yang dilempar oleh penumpang dari atas geladak.

Aku pun mengulurkan dua koin lima ratusan ke istriku. Dengan reflek istriku melemparkannya ke bawah. Bak lumba-lumba lincah, para bocah pantai yang berkerumun itu dengan sigap menyelam dan memungut uang koin dan menyimpannya dalam mulut.

Istriku nampaknya terhibur juga. Walau raut lelah nampak di wajahnya.

Istriku pun mengabadikan kegesitan bocah-bocah pantai itu di kamera ponsel.

Bosan dengan pemandangan aksi selam menyelam, kami pun mengitari geladak.

Kapal pun sudah melepas sauhnya. Semburat jingga mulai mengitari kaki langit. Kapal pun berangkat menyeberangi selat sunda dengan kecepatan penuh.

Hampir dua jam berada di laut, membuat istriku bosan. Di haluan depan, tampak  gugusan pulau sumatera. Limabelas menit lagi kami akan berlabuh di pulau sumatera. Pulau yang sudah aku tinggalkan kurun tiga tahun.

Aku dan istriku pun turun ke bus. Penumpang lain juga sudah mulai berkerumun ikut turun, lantaran sebentar lagi kapal akan merapat ke dermaga Bakauheuni, Lampung.

Bip, bip bip. Layar Hp-ku menyala.

SMS dari emak.

“Sudah sampai mana? Menantuku mabuk nggak?”

“Sampai Bakauheni, Mak. Alhamdulillah dia nggak mabuk. Cuma di jalan tidur terus.”

“Ya sudah. Kalau sudah sampai Jambi SMS ya..”

“Iya, Mak.”

Bus Lorena yang aku tumpangi berhenti di rumah makan Begadang IV. Aku pun membangunkan istriku.

“Yank, bangun. Sudah sampai rumah makan dan sudah maghrib.”

Kami pun bergegas shalat dan kemudian beranjak ke lantai bawah lantas menikmati menu ikan Patin bakar. Menu kesukaanku.

***

Pagi jam 08.00, bus Lorena yang membawa kami memasuki kawasan terminal Simpang Rimbo, Jambi. Kami pun melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Kuala Tungkal dengan travel L300.

Tampaknya, istriku mulai menikmati perjalanan darat dengan rute terpanjang ini. Apatah lagi ketika kami melintasi jembatan Aurduri Jambi, jembatan yang berada di atas sungai Batanghari ini panjangnya sekitar tiga ratus meter.

Dari balik jendela mobil ia dengan antusias terus memandangi perahu dan kapal yang hilir mudik di bawah jembatan legendari di kota Jambi itu.

Jam 10.00 kami pun sampai di pelabuhan. Sudah menunggu pancong, speedboat yang akan mengantar kami sampai pelabuhan Sanglar.

Sembari menunggu pancong berangkat, aku mengirim SMS ke emak.

“Mak, kami sudah sampai di Kuala Tungkal. Tingga nunggu speedboat berangkat.”

Tak berselang lama SMS balasan dari emak,

“Iya. Hati-hati.”

Istriku agak gamang. Karena selama ini belum pernah menggunakan pancong. Apalagi ombak lumayan tinggi dan menghempas-hempas.

“Bang, aku takut.”

“Biasa saja. Cuma air kok.”

Karena tidak biasa dihentak-hentak gelombang. Istriku pun mabok laut ketika di pancong.

Ah, kasihan istriku. Demi bertemu mertuanya ia rela melakukan perjalanan amat jauh dan melelahkan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

***

Sampai di pelabuhan Sanglar kampung halamanku,

Tiba-tiba………..

Braaak!!

Moncong depan pancong, menabrak tiang jembatan, karena terhempas gelombang.

Ternyata aku terbuai mimpi.

Aku masih berada di Bogor.

“Bang, bangun Bang.”

“Ada apa, Yank?”

“Ulfa teman sekampusku di IPB dulu sedang di rumah sakit, terus ia musti di operasi cesar, karena bayinya nyungsang. Biaya operasinya enam juta. Suaminya Ulfa kini sedang tidak mempunyai tabungan sepeser pun.”

“Enam juta??!!”

“Iya. Pihak rumah sakit tidak akan menangani kalau tidak dilunasi duluan.”

Enam juta? Uangku di ATM Muamalat memang ada tujuh juta, tetapi itu untuk ongkos kami mudik ke Riau.

Mudik memang sudah kurencanakan lama, dan tiket seharga enam ratus ribu pun sudah aku keluarkan kemarin sore. Namun, melihat kesulitan ekonomi temannya istriku. Aku pun memutuskan….

“Yank. Nanti aku ambil uangnya di ATM untuk biaya operasi cesar Ulfa. Tidak mengapa lebaran ini tidak mudik ke Riau, asalkan Ulfa temanmu cepat tertangani dokter.”

“Alhamdulillah. Kita lebaran di Jakarta saja ya Yank.”

Aku pun dengan senyum menjawab,“Iya.”

Aku memandangi koper yang sudah tertata rapi.

Di atas meja, tergeletak dua tiket Lorena jurusan Bogor-Jambi.[]

Tasikmalaya, 10 Agustus 2010 21:34

++++

Saat ‘kembali’ merayakan Lebaran ketiga di perantauan

7 responses »

  1. Subhanalloh, aku berlinang air mata membaca tulisan ini. Heem… sungguh kembali membuka kisah perjalanan hidupku yang kebetulan juga menapiki rute-rute itu. Bedanya, aku di Yogya sementara Bapak dan Emakku di Beram Itam Kanan, Kuala Tungkal. Rute-rute ini merupakan ruta perjuangan hidupku yang bermandikan air mata rindu dan perjuangan. Dan alhamdulillah meski dengan perjalanan yang tertatih-tatih, jatuh bangun, cita-cita membahagiakan orang tua itu kini di dengar Allah. Aku bisa mudik Ramadhan kemarin dengan Istri tercinta dan tiga anak kebangganku.Sungguh Maha Rahiim Allah. Semoga lentingan akhlaq dan nada humanis yang menginspirasi cerita ini menularkan ibadah bakti kita kepada orangtua dan turunnya Ridha Allah. Syukron akhii, semoga mimpi-mimpimu terwujud dan mampu mengharumkan tanah kelahiranmu, Pulau Kijang.

  2. sastralangit says:

    Syukron untuk masukannya.🙂

  3. Si Gun says:

    Enak bacanya. Tapi, hati-hati bermain dengan kronologi. Misalnya perjalanan Bogor-Merak: Jika dari Bogor pukul 14 atau sesudahnya, kalau naik bus bisa-bisa sampai di Merak maghrib (tambah waktu antre sebelum naik kapal) sehingga pas di kapal matahari sudah terbenam dan tak akan ada lagi penyelam memperebutkan koin.

    Contoh lain ialah perjalanan dari Begadang IV (Bandarlampung) – Simpang Rimbo (Jambi). Waktu tempuh ruas itu tak akan kurang dari 15 jam meskipun Lorena suka ngebut. Jadi, kalau dari Begadang IV pukul 21 (dengan asumsi Bogor-Bandarlampung= 7 jam, berangkatnya pukul 14), maka sampai Simpang Rimbo tak mungkin pukul 08, tapi sekitar pukul 12.

    Solusinya, jangan nodai sastra dengan angka-angka jam. Jarang sekali karya terkenal memuat jam dengan tegas, kecuali terkait perang dan detektif yang memerlukan akurasi. Gambarkan saja waktu dengan kecondongan matahari atau bulan dan bintang yang benderang. Hati-hati pula menggunakan purnama ketika Idul Fitri (karena tak mungkin ada purnama di 1 Syawal).

    Ah terlalu panjang rupanya. Apapun, saya suka membaca cerita ini.

  4. ibnu darmowiyoto says:

    Subhanallah….membuat aku meneteskan air mata,mengharukan.

    bang apu smg bs cpat mudik ya…

  5. nm says:

    Subhanallah….ku terbuai dengan ceritanya

    ternyata lamunan sang perindu…..

    semoga bisa mudik secepatnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s