Rindu menggoreskan penaku: Apuindragiry

Sudah tiga ramadhan aku tidak pulang. Seutas angin rindu pun mengembus jantungku. Ya, rindu kampung halamanku. Jauh dari hingar bingar, hiruk pikuk kendaraan.

Di kampung halamanku sana, yang ada hanyalah kedamaian. Rumput dan ilalang berebut tumbuh. Simphoni pagi hadir oleh kicau punai. Lenguhan sapi dari kandang sapi bapak terkadang juga menjadi hiburan tersendiri. Apalagi pabila ingat dengan keramahan dan wajah ceria orang sekampung tiba-tiba menyeruak. Rindu!

Merantau. Ya, itu yang kulakukan kini. Semenjak SMP aku telah berani menyeberang samudra. Jauh dari kerabat dan orangtua. Melanjutkan pendidikan adalah alasan utamaku, karena di kampung sangat terbatas fasilitas untuk menuntut ilmu. Tuntutan itulah yang membuatku berani tampil beda dengan kawan-kawanku.

Merantau ke pulau jawa. Demi pendidikan dan lantaran jatuh cinta dengan tanah jawa sehingga terlalu asyik dengan kerja di rantau.

Namun, jika ramadhan tiba apatah lagi hari lebaran hadir. Rindu itu begitu mengusik jiwaku. Hampa serasa.

Ingat sewaktu masa kecilku kala puasa tiba. Emak pasti akan menyediakan makanan-makanan lezat untuk berbuka puasa bersama keluarga. Ada kolak ubi dan pisang sebagai makanan pembuka, sayur asem plus sambel terasi dengan potongan tempe goreng duhai nikmatnya. Sebagai penutup biasanya emak menyediakan es kelapa muda yang aku petik sendiri.

Ngomong-ngomong tentang memetik kelapa, sebagai wong ndeso, kami sudah terbiasa memanjat pohon kelapa setinggi sembilan meter. Ya, sedari kecil kami sudah dibiasakan dengan kegiatan maut, memanjat kelapa, berenang di sungai sepertinya sebuah rutinitas wajib dikuasai semenjak sebelum kami masuk sekolah di SD.

Biasanya pas ramadhan seperti sekarang. Kami para anak lelaki di desa kami membuat senjata gelonggongan. Suaranya bisa seperti meriam. Gelonggongan ini terbuat dari bambu seukuran paha kaki, dilubangi ruasnya, lantas dikasih minyak tanah sedikit dan blaarrrr! Gelonggongan disulut dengan pemantik. Rasanya kegiatan ini amat menarik bagi kami. Kami tidak pernah mengenal PS, Game online, Blackberry, Pesbuk, apalagikah tweeter-an, he he he. Bagi kami itu hanyalah impian di siang bolong. Paling-paling mainan mahal itu hanya dimiliki oleh anak-anak pejabat yang ada di ibukota kecamatan kami di Pulau Kijang.

Yah, yang paling aku rindukan suasana ramadhan di kampung halaman.

Aku memandangi kontur tanah di depan kontrakanku yang menurun bak tebing walau tidak curam-curam amat. Di bawah sana ada kolam pemancingan yang disewakan. Ingat dengan kolam pemancingan, memoriku seperti dibuka kembali dengan kegiatan memancing kami di sungai gading. Banyak ikan gabus yang berkeliaran. Sembari kami tinggal pancingan, kami dulu berenang sampai sore. Puas berenang, kami pulang bak pahlawan dengan jorang pancing plus hasil tangkapan ikan yang kami dapat hari itu.

Hm, senyum kecilku tersungging. Di bawah kontrakanku mengalir sungai yang bergemericik bak alunan simphoni alam indah. Mengingatkanku akan kicau burung di kampung halaman yang bersahut-sahutan dengan gema lantunan alam.

Kolak ubi dan pisang. Makanan kesukaan. Buatan emak tersayang. Kembali menyentak pikiran. Rindu kampung halaman. Tak tertahankan.

***

Tiba-tiba

”Bang, sudah beduk tuh. Kolaknya sudah matang.” berdiri istriku dengan senyum ketulusan dan pengabdian.

Usai berdoa, kucicipi kolak ubi dan pisang buatan istriku.

”Alhamdulillah. Enak banget, Yank,” kataku.

”Alhamdulillah kalau abang suka. Enak lantaran masaknya dibumbui dengan cinta.” sambut istriku sembari mengerdipkan matanya.

Aku pun tersenyum.

Kolak Cinta. Ya sedikit mengurangi rasa rinduku untuk kampung halaman dan suasana ramadhan syahdu di Indragiri Hilir.

Di kampung sana, tepuk kendang bersahutan, usai terawihan. Tetap bertalu.

Senikmat-nikmatnya berada dirantau, lebih nikmat berramadhan di kampung halaman lebih melegakan.

Menguar tanah kampung halaman. Memanggilku di ufuk kerinduan.

Tasikmalaya, 09 Agustus 2010 17:51

Saat rindu kolak emak dan kampung halaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s