Coretan senja: Apuindragiry

Cukup. Cukupan. Berkecukupan.

Kata ’cukup’ memang tergantung dari siapa yang bertutur.

Ada yang cukup dengan memakai angkot  ketika kuliah, kerja ada  yang cukup dengan jalan kaki ada yang cukup dengan motor, tapi ada yang berkata cukup jika menggunakan mobil.

Lagi-lagi, makna dari kata ’cukup’ tergantung dari siapa yang ‘mengatakannya’.

***

Petang.

Surya mulai tenggelam pertanda semburat jingga mulai bertandang.

Di sebuah kios pasar tradisional terjadilah perbincangan mengasyikkan antara dua generasi yang berbeda zaman.

Pak Tua, ”kuliah, Nak?”

Anak muda berpakaian koko itu menjawab, ”Sudah lulus, Pak.”

Pak Tua manggut-manggut. Sembari memandangi anaknya yang sedang bekerja di kios ia bergumam. Sebutlah nama anaknya si A.

”Dulu…” sembari menerawang pak tua memecah kebisuan.”si A rencananya mau aku kuliahkan. Namun karena dia enggan dan lebih memilih menikah, makanya tidak jadi aku kuliahkan.” Seolah ada guratan sesal di raut wajahnya.

Aku pun membalas,”Kuliah bukan jaminan dapat kerja, Pak.”

Pak tua pun membalas.”Betul juga. O, iya. Sudah menikah, Nak?”

Aku menjawab, ”Alhamdulillah sudah Pak.”

Pak tua itu nampak terkejut.

Mungkin dia tidak menyangka aku sudah menikah. Dengan pekerjaan yang belumlah dikatakan mapan. Berkecukupan.

Mestinya, kata dia lagi, menikah itu musti berkecukupan. Mapan. Punya karir bagus. Gak papa menikah di atas usia tigapuluhan, asalkan sudah mapan. Sambung pak tua lagi.

Dengan diplomatis dan adab santun aku menjawab. Memang kata ’cukup’ atau ’mapan’ dalam pandangan orang pastilah berbeda-beda. Bagi orang yang termasuk kaya, ’cukup’ menurut pandangan mereka adalah tercukupinya semua kebutuhan. Beda pandangan dengan orang miskin ketika mengartikan kata ’cukup’. Penguasa yang haus kekuasaan pun dalam mengartikan ’cukup’ mungkin punya persepsi yang berbeda.

Mungkin juga engkau berbeda juga dalam mengartikan kata ’cukup’.

***

Bagi anak muda itu. Cukup menurutnya: mensyukuri apa-apa yang terberi dari anugerah ilahi. Dan pada intinya: manusia tidak akan merasa cukup, jika ia tidak mensyukuri apa-apa yang ada digenggaman tangannya.

Mensyukuri berapa pun nikmat yang Allah azza wa Jalla karuniai saat pagi dan senja.

Bersyukur atas nikmat istri shalihah, anak-anak yang berbakti, bersyukur mempunyai orang tua yang senantiasa mendekap dengan peluksayang, bersyukur atas nikmat sahabat, guru dlsb.

Apa pun itu, semoga ’syukur’ kita itu adalah mengartikan kata ’cukup’. Lantaran cukup itu belumlah dikatakan syukur. Wallaahu a’lam

Petang, saat bertandang

mentari mulai pamit dari bumi,

saat coretan senja

menggerakkan pena

entah apa

Petang, 6 Agustus 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s