Dirajut: Hanun Al Qisthi (Semburat Jingga)

Rinai gelisah menggeliat pasrah

Cemas membungkus asa yang merayap pasti

Duduk tertahan raga yang penat

Menanti inginnya yang dihadang tunda

Titik embun menetes sembunyi di rumput liar

Rintik hujan nan melebat turut hadir membasah tanah

Hati pun menggeliat dan penuh tanya

“Akankah hujan menutup asa sebuah raga pada peraduannya?”

Lamat jemari beradu menuang rasa

Menanti titik air itu berhenti menari di udara

Dengan rangkaian melodi yang mengalun lembut

Kan nyamankan bahu yang menggugu dan mata yang sayu

Yang telah terjaga semalam lalu

Langkah kaki pun seakan mati rasa

Ia memilih meringkuk di bawah meja

“Biar hangat menjalar, karena aku tahu dingin dan basah akan menerpaku di luar sana”

desaunya manja

Bukan bibir yang tak pandai mengucap syukur pada Illahi

Pun bukan hati yang tak terima jalan kehendakNya

Aku hanya berharap hujan kan terhenti sekejap saja

Biar kumiliki kesempatan tuk melaju pada pintu rumahku

Kuberharap mentari segera menggurat di ufuk timur

Dan panasnya kan uapkan hujan itu

Hingga ku bisa lampaui bukit sepi di Gamping ini.

+++++++++

Kantor tercinta, BMKG Jogjakarta

– di tengah senandung harap agar hujan mau berhenti sekejap saja-

4 responses »

  1. Banjir air mata disana dan disini..

    wahai pejabatku yg disana…

    tolong hentikan hujan air mata mereka ..

    tolonglah..

  2. Hujan membawa rahmat…

    banjir gak banjir yang penting bisa makan.. hahaii

  3. aqiilah zahra says:

    jadi ingat kota hujan, Bogor. hampir tiap hari hujan disini.:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s