Ditulis Oleh Hanun Al Qisthi (Semburat Jingga)

“Ngomong Mas, ngomong !!!” matanya terendam basah, tak kuasa Meta menahan air mata agar tetap pada tempatnya. Yang diajaknya bicara terus bungkam, tak berniat berubah pikiran untuk memberikan ketenangan pada wanita yang tengah dipunggunginya. Sebenarnya hatinya berdesir mendengar suara yang mengharu biru itu, tapi nalurinya berhasil meyakinkannya untuk tetap diam.

“Mas, tolong… Jangan tinggalin Meta seperti ini. Mas….” isakannya percuma. Tangisnya sia-sia. Hingga dua polisi membimbing lelaki itu masuk mobil patroli, ia tak mau bicara. Ia biarkan wanita berkerudung itu melihatnya pergi dengan tanda tanya yang entah kapan mampu dijawabnya.

Mobil patroli itu berlalu. Air mata Meta belum kering. Yang berkerumun di situ mulai berbisik sinis, menguak harmoni sumbang yang menyesak ke telinga Meta. Tapi perempuan itu tak peduli. Raganya terasa mati. Bagamana tidak ?! Lelaki pendiam yang sangat dicintainya sembilan tahun ini baru saja pergi. Dengan tidak terhormat pula… Dengan borgol yang menyegel mati dua tangannya, lelaki itu sama sekali tak membiarkan Meta tahu mengapa aparat mesti membawanya pergi.

***

Siang itu udara pekat dengan debu dan asap. Ditambah lagi matahari samasekali tak malu unjuk diri di atas sana. Sebuah sedan hitam metalik berplat merah berhenti di halaman parkir toko perhiasan ekslusif. Dua lelaki turun. Yang satu berdasi dan berpakaian rapi dengan mata tak henti memandang lurus bangunan yang ada di hadapannya. Tatapannya kaku, tak bisa dialihkan lagi. Sedang lelaki yang satunya memakai celana jeans dan kaos, menghadap temannya dengan alis naik penuh tanda tanya.

“Mau ngapain sih Pras ? Emang Lu gak ada kerjaan di kantor ?”

Lelaki berdasi yang ditanya hanya tersenyum tipis. Dia melangkah pasti memasuki bangunan itu, ingin diikuti. Yang bertanya makin heran dan terpaksa mengekor temannya itu. Ada-ada aja, desisnya…

“Mau yang ini, Pak ?”, sang pramuniaga bertanya setelah si pembeli yakin dengan pilihannya.

“Ya, yang ini”, jawabnya pasti. “ Tolong dibungkus ”, lelaki berpakaian rapi tersenyum lebar pada temannya yang serasa ingin mati berdiri.

“Wah.. gila Lu Pras!! Lu punya cewe simpenan ??”, ia mengusap dada melihat ulah temannya.

“Pras..Pras.. dua puluh tahun kerja juga gue gak mampu beli deh!”

***

Meta menangis di atas sajadahnya. Matanya kuyu dengan lingkaran hitam di sekitarnya, pertanda wanita itu kurang tidur dan banyak menangis. Dadanya masih terus naik turun, penuh sesak dengan perasaan kecewa dan marah. Sungguh ia tak mengerti Mas Pras, apa yang merasuki hingga imam keluarganya itu tergoda melakukan korupsi. Angkanya pun fantastis, 10 Miliar ! Pengadilan menjatuhkan 7 tahun penjara untuknya. Desahan nafasnya makin keras, rasanya tak cukup lagi tempat di hatinya untuk menampung lara.

Dialihkan pandangannya ke sofa. Seorang gadis mungil delapan tahun terbaring kelelahan di sana. Meta tahu Alfafa pasti sangat tertekan. Di awal penangkapan ayahnya ia harus merasa kehilangan, lalu wartawan yang ditemuinya berjubel di depan rumah tiap ia keluar membuatnya sangat ketakutan. Belum lagi pandangan teman-teman sekolahnya yang mengucilkan dan menjulukinya, ANAK SANG KORUPTOR. Cukup sudah yang dirasakan putri kecilnya.

“Pokoknya aku sudah menggunakan uang itu untuk keperluan yang pantas”

Cuma itu yang dikatakan Mas Pras tiap Meta bertanya dikemanakan uang haram itu. Awalnya Meta tak lelah menanyai suaminya tentang hal itu di hari-hari kunjungannya. Tapi lalu Meta berada pada satu keadaan dimana dirinya tak bisa lagi tahan dengan semua ini. Sikap diam suaminya telah membuat kekecewaan Meta makin menjadi. Lelaki yang hampir sepuluh tahun lalu mengirimkan biodatanya pada Bapak sebagai langkah awal untuk meminta Meta menjadi pendampingnya, lelaki yang mengiyakan janjinya untuk selalu taat pada Allah sebagai syarat farji yang diminta Meta di depan penghulu, lelaki yang membuat Meta menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan hidup yang ditawarkan padanya. Lelaki itu kini berada lurus di depannya dengan rahang kaku. Itu meyakinkan Meta bahwa memang Mas Pras tak bisa lagi menunaikan janji farjinya. Sudah tak bisa. Dan sebuah ucapan keluar dari bibir Meta setelah tahajud panjang di tengah kepayahannya.

“Ceraikan saya Mas”

Lelaki yang biasanya tertunduk tiap Meta datang menjenguknya, mengangkat muka kali ini. Dilihatnya wanita anggun dalam balutan jilbab dan kerudung yang ada di hadapannya. Wanita itu tak lagi terisak. Sorot matanya masih sayu dan penuh kecewa, tapi ia juga menangkap kesungguhan terpancar dari sana. Kesungguhan yang tak mungkin bisa ditolaknya walau ia sangat sangat tidak ingin mengatakannya.

“Meski sudah pisah, apa aku boleh menjenguk Alfafa kalau aku bebas nanti ?”

“Tentu. Alfafa anakmu juga”

Meta menatap tajam pada lelaki itu. Sebenarnya ia berharap lelaki itu mau berubah pikiran dengan mengatakan untuk apa ia gunakan 10 miliar itu. Tapi harapannya seperti menggarami air laut. Meta berdiri, meyakinkan dirinya untuk tak lagi meratap. Apapun yang terjadi, ia hanya tahu itulah yang diisyaratkan Allah usai doanya.

“Saya akan urus ini secepatnya, Mas. Assalammualaikum”

***

Meta merapikan buku-bukunya. Tinggal barang itu yang masih tersisa. Pakaiannya sudah ia kirim ke rumah ibu beberapa hari lalu. Ya apalagi yang bisa ia bawa dari rumah suaminya itu. Tak ada banyak barang di rumah mungil itu selain TV, kulkas, mesin cuci, rice cooker dan perabotan pecah belah. Memang kesederhanaan yang menjadi gaya hidup Mas Pras sejak ia pertama mengenalnya. Dan gaya hidup itu samasekali tak berubah meski di tahun keenam pernikahannya, Mas Pras diangkat menjadi anggota MPR. Mas Pras sangat jujur, Meta tahu betul itu. Ia tahu suaminya tak pernah mengambil selain gaji pokok pegawainya, jika ada uang lebih meskipun itu halal, Mas Pras lebih senang membagikannya kepada anak-anak di bawah kolong jembatan yang dilaluinya sepulang kerja.

Tapi korupsi yang dilakukan suaminya, telah merubah penilaian Meta terhadap lelaki yang dihormatinya itu. Entah untuk apa dan kenapa Mas Pras melakukannya, yang jelas Meta sudah sangat lelah menanyakannya. Tapi ada satu hal yang Meta yakini hingga mengantarkan pernikahannya pada perceraian adalah perbuatan baik apapun yang dilakukan dengan cara haram, tetap haram di mata Allah. Apapun yang dilakukan Mas Pras dengan uang itu, Meta tetap tak akan bisa menerima alasannya.

Meta mendorong dus-dus yang berisi bukunya ke luar pintu. Ia tak mau lagi tinggal di rumah itu, meski sebenarnya ia turut membantu Mas Pras membeli rumah itu dengan penghasilannya sebagai pengusaha jilbab. Meta ingin tinggal di rumah Ibu, meski itu artinya ia harus memulai semuanya dari awal. Tapi pasti itu akan terasa ringan dengan Alfafa di sisinya. Perlahan dikuncinya pintu rumah kenangan itu. Meta menyembunyikan kunci di balik rimbunnya tanaman pot. Mas Angga, sahabat baik mantan suaminya, akan mengantarkan kunci itu pada pemiliknya di penjara sore nanti.

***

Jannatin Alfafa. Sebuah taman rimbun di syurga. Putrinya itu bukan lagi bocah delapan tahun yang masih suka menjerit dan mengelap ingusnya dengan lengan baju. Ia sudah lima belas tahun sekarang. Sudah besar dan jelita. Makin ayu dengan kerudung lebar menutup dada dan jilbab di tiap penampilannya. Sekarang buah hatinya itu tengah terisak di dada seorang lelaki yang selalu dinantinya bisa hadir melihat ia tumbuh dewasa.

“Abi..Alfa kangen banget sama Abi”, ucapnya terisak menahan haru.
Meta tak ingin larut, tapi kristal bening tetap saja turun membasahi kerudungnya. Padahal ia benar-benar tak menginginkannya. Lelaki yang dipeluk Alfafa memandang lurus ke arah Meta. Pipinya tirus, matanya cekung. Tapi hitungan tahun tak bisa melekangkan sorot mata penuh cinta itu. Mas Pras masih sama.

Pras menemui Meta dan putrinya tanpa banyak berkata. Mereka bertiga menikmati hangatnya canda dalam diam. Alfafa dengan senyum lebarnya. Pras dengan sorot penuh kasihnya. Sedang Meta dengan alis berkerut penuh tanya. Ya, Meta masih selalu menyodorkan ekspresi muka itu pada Pras. Seolah menuntut jawaban dari pertanyaan yang belum bisa dijawabnya, Kau kemanakan uang haram itu Mas? Tapi lagi-lagi diam yang menjadi cara komunikasi mereka. Dan akhirnya Meta menyerah tanpa meloloskan pertanyaan itu dari bibirnya.

***

Mas Angga duduk di hadapan Meta dengan bahu lunglai. Sudah setengah jam Meta menanti sosok itu bicara. Sosok yang dulu dikenal Meta sebagai sahabat karib Mas Pras. Entah mengapa lelaki ini tiba-tiba datang ke butik jilbabnya.

“Mas Angga, ada apa ?”, Meta mulai gemas menahan ketidaksabarannya. Dia risih karena hanya duduk berdua dengan lelaki yang bukan mahramnya, tapi laki-laki itu tak bisa membaca kegelisahan Meta.

“Lu tau kan Pras udah bebas sebulan lalu ?”

“Ya, saya tau. Kemarin-kemarin Mas Pras juga datang menjenguk Alfafa.”

“Yang bener ? Pras ngomong apaan ?”, keingintahuan terpancar dari sorot mata lelaki itu, membuat Meta dipenuhi tanda tanya.

“Gak banyak yang kami bicarakan. Tapi Mas Pras lebih sering ngomong sama Alfafa, bukan sama saya.”

“Ohhh…”, bahu lelaki itu lunglai lagi.

“Ada apa sih Mas?”, Meta menegakkan punggungnya.

“Pras gak ngomong soal duit korupsi itu ya Met ?”

Alis Meta terangkat. Ada apa ini ? Sudah ratusan hari Meta tenggelamkan dirinya dalam kesibukan agar ia lupa satu hal yang memang belum terpecahkan itu. Dan pertanyaan Mas Angga barusan menyadarkan Meta bahwa sebenarnya ia belum bisa lupa dengan masalah itu. Masih merasa kecewa dan marah jika mengingat nominal uang haram itu.

“Mas Pras gak ngomong masalah itu. Ah udahlah Mas, mungkin benar kata orang-orang kalo Mas Pras memberikan uang itu untuk wanita lain dalam kehidupan pernikahan kami dulu”, Meta mencoba menghilangkan kecewanya yang membuncah.

“Gak Meta, Pras bukan laki-laki brengsek macam itu. Gue tau bener dia. Sejak dia ngeliat Lu di Islamic Book Fair gak ada wanita lain yang Pras cinta sampai saat ini…”

Sampai saat ini… entah kenapa kata-kata begitu indah mengalun di telinga Meta. Andai ia masih remaja seperti dua puluh tahun lalu, ingin rasanya ia berguling-guling di lantai saat ini juga. Tapi Meta sadar siapa dirinya sekarang, meski tak dipungkirinya kata-kata itu membuat pipinya merona.

“Terus kalo bukan itu, berarti untuk apa lagi ? Sampai sekarang kan gak ada orang yang tau ke mana Mas Pras menghabiskan uang itu”. Meta ingat, bahkan pada polisi yang menginterogasinya saat itupun Mas Pras tetap tidak mau mengatakan kemana uang itu ia belanjakan. Hal itu membuat Meta yakin bahwa tak ada satu orangpun yang tau perihal 10 miliar itu.

“Gue tahu Meta. Gue tahu Pras pake uang itu buat apaan !”

Kata-kata Mas Angga membuat Meta berdiri tiba-tiba. Wanita itu kaget minta ampun. Ternyata jawaban pertanyaan yang tujuh tahun ini menghantuinya tersimpan rapi di balik bibir Mas Angga. Meta tak percaya, mulutnya terbuka beberapa saat lamanya.

“Maaf Meta, bukan elu aja yang gelisah. Tujuh tahun ini gue juga tersiksa. Tapi Pras selalu mohon biar gue gak cerita ke siapapun termasuk ke elu. Dia selalu mohon sambil nangis, jadi gue gak mungkin bisa nolak”, Mas Angga mulai terisak. Tergambar kegelisahan yang disimpan lelaki itu hampir sama seperti kecewa yang juga dipendam Meta, “Maafin gue Met..Tapi sekarang gue gak peduli. Lu harus tau Met.”

“Terus…uang itu dipake Mas Pras untuk apa ?”, terbata Meta bertanya menahan kecemasan yang dirasakannya sampai ke ubun-ubun kepala. Meta bersiap untuk apapun jawaban yang akan dipaparkan Mas Angga.

“Met, Lu tau kan Pras tu orang gak punya, dia sederhana banget. Gue tau dia sejak kecil. Meski dah jadi Master trus kepilih jadi anggota MPR, Pras tetep jadi orang yang jujur en sederhana kan”, ucapannya Mas Angga membuat Meta hampir mati penasaran.

“Iya Mas, saya ngerti. Sekarang Mas kasih tau langsung aja!!”, Meta meremas ujung kerudungnya.

“Makanya gue bilang dulu Met. Pras ngerasa dia gak pernah ngebahagian elu, karena selama nikah dia gak pernah ngasih elu apa-apa.”

Ya, Meta tau itu. Sembilan tahun menikah memang tak ada benda apapun yang diberikan Mas Pras untuknya selain perabotan rumah tangga. Kejujuran lelaki itu membuat pendapatannya tak memungkinkan mereka hidup berfoya-foya. Tapi…

“Kalung itu Met. 10 miliar itu dia pake buat beli kalung itu. Dulu dia minta gue nemenin waktu beli.”

Meta yang sedari tadi berdiri dengan tubuh mengejang, tiba-tiba jatuh terduduk. Lunglai. Sendinya lemah. Matanya banjir. Perlahan diraba lehernya, tempat dimana uang 10 miliar itu bersarang hingga kini. Dulu dikiranya itu hanya kalung perak dengan batu putih indah memenuhi tiap detilnya, hadiah yang Mas Pras beri untuk hari jadinya yang ke-31.

“Itu berlian Kalimantan terbaik Met, mata kalungnya tu intan yang diimpor langsung dari Afrika. Untuk kalung itu dan harapan bisa ngebahagiain elu, Pras rela ngabisin waktunya di penjara.”

Angga melihat Meta dengan mata yang basah, pasti itu menyakitkan tapi Meta harus tahu bahwa Pras begitu mencintainya sampai jalan yang dipilihnya salah. Lamat isakan Angga melemah, berganti dengan jeritan tangis Meta yang pilu dan dalam. Bahka angin pun serasa berhenti sesaat untuk mengusap derita di batinnya…

One response »

  1. Maya says:

    Subhanallah…..

    Hikmah yang begitu besar dapat terpetik dari sini…
    Mencintai bukan untuk kebahagiaan, tetapi untuk mendapat cintaNya jua….
    Bila cinta kita tertulis karena bahagia semata… maka kegelisahan menjadi jembatannya..
    Namun bila cinta terajut karena ingin ridhaNya, sederhana akan menjadi terindah dalam balutan ketulusan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s