Ditulis Oleh Hanun Al Qisthi (Semburat Jingga)

– Jiwa ini tersayat lebar oleh kerinduan padamu.

Bunda, peluk dan kecupmu akan merinai slalu dalam mimpiku… –

Saat badanku terkulai lemah di atas ranjang usai mencuci pakaian kotor satu minggu –karena baru punya kesempatan dan ‘keinginan’ untuk nyuci ^^ – tiba-tiba sekelebat bayang bunda melintas. Padahal baru tujuh hari lalu aku melihatnya di kampung halaman tercinta, namun entahlah, kini pun aku sudah sangat merindukannya. Sangat.

Banyak tulisan yang menumpuk tentangnya di buku dan laptopku, tapi sekarang aku ingin membagi satu masa dalam hidupnya. Sebuah fase di mana kesabarannya sebagai seorang hamba benar-benar diuji. Jikalaulah tak ada iman, mungkin lain cerita sekarang. Bisa jadi aku tidak di sini sekarang dan merenda tulisan ini. Tapi tidak, bundaku memilih tegar, bukan menyerah ataupun pasrah. Ku begitu mencintai dan menghormatinya…

Bundaku tak pernah mengajari aku dan abang tentang apa itu kebencian, apa itu amarah. Sama seperti ia tak pernah mendidikku untuk membenci dan mudah marah. Maka tiap pahit yang ia tuai dalam hidupnya, tak pernah ia membaginya dengan aku maupun abang –kecuali jika memang kami melihatnya sendiri-. Jika dulu jejak masa lalunya diisi dengan kedengkian dan kejahatan orang-orang terdekat, maka bunda tak mengijinkan kami tahu. Ia tak ingin aku dan abang turut sakit hati dan membenci mereka yang menyakiti. Bunda tetap membiarkan kami tumbuh layaknya kertas putih yang tak patut dinodai dengan tinta dendam dan benci.

Aku ingat, waktu aku masih di bangku sekolah dan mulai mencintai menulis, bunda mengelus pundakku pelan. Dia tertegun lama melihat cerpen dan puisi-puisi yang waktu itu hanya kugoreskan di buku ala kadarnya. Sepertinya ia ingin bicara sesuatu, tapi mendadak bibirnya mengatup setelah sesaat sebelumnya hampir menguak kata. Aku tak tau apa yang hendak bunda ucapkan saat itu.

Lalu saat medio Mei dua tahun lalu aku pulang ke Purwokerto dari Jakarta –waktu itu aku masih semester 4 di Akademi- dengan mengenakan jilbab dan kerudung, samar tapi pasti titik air mata kulihat mengapung di bola mata bunda. Meski pada awalnya bunda menolak pakaianku, namun dengan basmallah dan penjelasan lembut yang kuberikan padanya, akhirnya bunda menerima perubahanku.

Kuhabiskan beberapa hari di rumah waktu itu, dan selama itu pula bunda tak henti menatapku. Pandangan sama yang bunda pancarkan saat ia mengamatiku dulu. Aku berharap bunda tak menutup bibirnya lagi kali ini, dan ya! Bunda memang tak mengatupnya. Ia biarkan sepotong masa lalu menyembul dari sana. Agak ragu, tapi akhirnya mengalir jua.

“Nin, masa sembilan bulan mengandungmu adalah masa berat yang bunda punya. Waktu itu rasanya bunda adalah pusaran samudera yang harus siap menelan semua arus pahit hidup”, bulir hangat mulai terjun menyusuri pipi bunda. Aku mengusapnya seraya diam, kudengarkan bunda melanjutkan apa yang ingin ditumpahkannya.

“Hati bunda sudah ba’al, badan bunda belur, dan telinga ini rasanya sudah tak berfungsi, Nin… Ingin sekali bunda merogoh karung-karung penjelasan yang bunda simpan di dada dan membukanya di depan mereka, tapi bunda tidak sanggup. Kau tahu kan nak, satu kata berarti 10 tamparan”

Aku meringis menahan hatiku yang serasa ditumbuk baja. Aku ingat apa yang dulu kami alami. Bunda memandangku sesaat..

“Waktu itu malam pertama bulan ramadhan, semua orang bersiap menyambut sahur di penghujung bulan suci. Tapi bunda meringis di bawah kolong meja dengan lebam di sekujur tubuh, sambil mengelus perut buncit yang harusnya sudah menyembul bayi dari sana. Bunda sendiri Nak, menahan sakit. Abangmu masih 12 bulan dan ia melengkingkan tangisnya nyaring. Dalam kepayahan itu bunda mengucap doa pada Sang Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi…”, Bunda tersengguk, wajahnya kini basah…

“Ya Rabbana, jadikan anak yang ada dalam kandungan hamba ini menjadi seorang yang berlidah gatal tuk menyampaikan kebenaran, dan jemari yang sama gemas tuk menggoreskan kebenaran. Jadikan ia anak yang bisa dan berani bersuara dengan apa yang dia punya, tidak seperti hamba…”

Tiba-tiba bunda menarikku dalam pelukannya. Di bahunya yang menggugu, kudengar isaknya yang lirih… “Harapan bunda tercapai nak, tangan dan suaramu semoga selalu bisa menyampaikan kebenaran. Tetaplah berkarya dan berdakwah…. BUNDA BANGGA MEMILIKIMU….!“

Tak ada yang bisa kuucap saat itu, hanya tekad membulat tuk menjadi kebanggaannya dan mengantarkannya ke surga dengan amal sholihku….

—————————————————————————————————————-

Teruntuk Bunda yang dahulu duka akrab menyapanya….

Kutorehkan puisi tanda merinduku yang menjadi padamu

Selalu kuucap doa di tiapku mengingatmu

Tak pernah lupa kumengharap sehat dan lapang melingkupimu

Teruntuk Bunda yang badai dan sedih kerap menghampirinya…

Usah engkau toleh masa itu

Karena kau telah dengan gemilang menapakinya

Tanpa meninggalkan dendam dan bencimu di sana…

Teruntuk Bunda yang tak pernah mengucap lelah mengasihiku…

Kata, materi, dan doa memang tak akan pernah sampai membalasnya

Pun senang dan tawa tak akan cukup membalut luka

Kuhanya beringin membawa serpihan bahagia yang belum sempat engkau mengecapnya

Teruntuk Bunda yang sering terjaga di sepertiga malamnya

Dan sering menahan lapar di siang harinya….

Pasti kan kusemai bibit inginku dan inginmu

Tunggulah di sana bunda, jangan lagi kau habiskan tenagamu

Biar kali ini ku yang akan memacu diriku untuk itu…

Teruntuk Bunda yang begitu rapi menyimpan derita…

Kutekan rindu ini jauh dalam di dada

Biar ia kan melecutku tuk lekat mengabdi padamu

Dan mengejar ingin yang aku tau kau melipatnya manis dalam doamu…

Aku di sini, Bunda..

Tak henti merindukan dan menyayangimu…

*Ya Rabbana kutitipkan bundaku di sana padaMu…

Lindungi ia, mudahkan urusannya, lapangkan jalannya…

Bila bundaku tersaruk jatuh, gapai ia untuk berdiri Ya Rabb..

Bila airmatanya harus keluar lagi, usaplah dukanya dengan kasihMu

Jika lelah merayapi batin dan lahirnya, maka berilah kabar gembira padanya

Sayangi dan lindungilah ia sebagaimana ia telah mengasihi dan merawatku sedari aku kecil…

Amiin…*

4 responses »

  1. shabrina says:

    Subhanallah…

    jadi terharu baca tulisannya… T_T

  2. fathimah mar'atun azka says:

    hmmmmm
    kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen!!!!! hrga mati dah!!!

  3. si_fulan says:

    subhanallah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s