buah karya: L e l y  N o o r m i n d h a w a t i *)

Sebuah pesan singkat kuterima lagi sore ini. Isinya senada dengan beberapa hari yang lalu, suara-suara lantang bernada ejekan mereka teriakkan lagi. Apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Mereka sama-sama penikmat dan pelayan seks laki-laki.

Gerah sekali rasanya. Pesan tadi sungguh membuat merah telingaku. Gigiku spontan bergemeretak menahan amarah yang hampir saja meledak. Aku tercenung sejenak hampir tidak mengerti mengapa mereka bisa sampai berpikiran tidak waras seperti itu.

Sayup-sayup lantunan adzan maghrib berkumandang di kejauhan mampu sedikit meredam semua itu. Segera kuambil air wudhu, menundukkan segenap emosi sembari bermunajat kehadapan Illahi Rabbi.

Wajahku tengadah menatap semburat langit senja yang masih tertutup mendung. Gumpalan awan berarak menandakan musim hujan belumlah berakhir.

Kubuka kembali file presentasi makalahku yang tersimpan dalam memori laptopku. ’Jebakan gender dalam politik demokrasi’, judul makalah inilah yang telah membuat gusar mereka. Makalah tersebut kupresentasikan seminggu lalu dalam diskusi publik temu aktivis wanita di kampus. Animo peserta sangat luar biasa mengapresiasikannya. Forum terbelah menjadi dua kubu, pro-kontra mewarnai jalannya diskusi.

Bagi sebagian kalangan mungkin tema yang kuangkat tidaklah populer. Dan bahkan cenderung melawan arus. Di saat mereka menyuarakan quota 30% bagi wanita di parlemen, aku justru sebaliknya. Demikian pula ketika mereka dengan semangat mengajak kaum wanita berbondong-bondong ke ranah publik untuk mengais rupiah, aku malah dengan keukeuh mempertahankan fitrah wanita untuk mengoptimalkan perannya di ranah domestik sebagai ummun wa rabbatul  bait (ibu dan manajer rumah tangga) dan juga madrasatul ’ula (pendidik pertama dan utama) bagi buah hati generasi masa depan.

Siapa bilang agama yang dibawa Rasulullah memenjarakan wanita dan menjadikan wanita terdiskriminasi? Dengan gamblang kujelaskan, setiap muslimah adalah politikus intelektual. Mereka bergelut di ranah publik dalam rangka mencerdaskan umat, mendidik umat menjadi hamba Allah yang taat pada hukum-hukum-Nya di segenap aspek kehidupan. Inilah politik sejati nan mulia yang diajarkan Rasulullah!

Ah… sekali lagi aku tak habis pikir. Kenapa mereka terus menerorku. Bukankah ini negeri demokrasi? Bukankah dunia juga telah mengakuinya dengan menyematkan medali demokrasi buat negeri yang katanya zamrud katulistiwa ini? Ah… untuk yang kesekian kalinya aku menghela napas. Di mana bagian dari kebebasan berpendapat yang mereka teriakkan itu?

Masih lekat dalam ingatanku, ketika usai acara mereka menghadiahkan sebuah buku berjudul ’Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual’. Astaghfirullah…aku hanya bisa menghela napas panjang lagi. Inikah  yang terjadi di negeri yang mengaku religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran itu? Ya, mungkin aku harus mengulanginya sekali lagi, karena ini negeri demokrasi!

&&&

Hari masih pagi, rintik-rintik hujan sudah membasahi bumi kembali. Beruntung rumahku masih bebas banjir, mengingat minggu-minggu terakhir ini beberapa wilayah di tanah air telah tenggelam di terjang banjir. Kemacetan panjang akibat banjir pun tak terelakkan lagi. Tidak hanya itu, beberapa fasilitas umum seperti lampu penerangan, air PAM dan saluran telepon di daerahku juga sempat mengalami gangguan akibat banjir.

Di salah satu selasar yang menghubungkan fakultasku dengan fakultas teknik, seorang wanita muda dengan stelan merah hati tampak sedang berdiri di pojok gedung. Pasti itu Anita tebakku. Dia seorang penulis, salah satu peserta yang hadir dalam acara minggu lalu.

”Anita kan?” tanyaku memastikan.

Sebuah senyuman terkulum manis menebarkan aura kecantikannya.

”Masih ingat, ya? Nggak kena macet?” sapanya ramah.

Aku menggeleng. ”Berangkat pagi bareng ayam jago kukuruyuk,” lanjutku. Kami berdua tertawa kecil. Nuansa keakraban mengalir di antara kami padahal kami baru kenal sebentar.

”Ada jam kuliah?” tanyanya mencari kepastian.

”Nanti jam terakhir, kita punya banyak waktu,” jelasku meyakinkan. ”Sudah sarapan?”

Anita kembali tersenyum. ”Sepotong roti pake selai strawberry, nggak sempat yang  lain.”

”Bagaimana kalau sarapannya dilanjutkan di kantin saja sambil ngobrol?” tawarku.

”Boleh.”

&&&

Suasana di kantin tidak seramai biasanya. Mungkin musim hujan dan juga ancaman banjir yang bisa datang sewaktu-waktu membuat sebagian mahasiswa absen kuliah. Akibatnya, kantin pun kena imbasnya.

”Pesan apa?” tanyaku sambil mencari ide menu makan yang mungkin bisa menjadi alternatif pilihanku.

”Em…nasi goreng spesial.”

”Minumnya?”

”Jeruk hangat. Kamu sendiri pesan apa?” tanya Anita sambil menatapku.

”Sama saja deh.”

Setelah menunggu sekitar sepuluh menit pesanan kami akhirnya datang juga.

”Sambil makan, kita lanjutkan ya diskusi kita?” ajak Anita mencoba memulai pembicaraan lebih serius.

”OK.”

”Terus terang aku penasaran dengan semua yang kamu paparkan dalam makalah itu. Sebuah gagasan yang nggak lazim di jaman seperti ini. Sebenarnya siapa sih yang menginspirasi kamu?” tanya Anita dengan tak sabar. Ada sebuah rasa penasaran yang mencuat dari nada bicaranya.

Aku terdiam sesaat. Kulahap habis nasi goreng di hadapanku.

”Rasulullah dan para shahabiyah, maksudku sahabat wanita di jaman Rasul”                                                     jawabku singkat.

Kulihat Anita mengernyitkan dahinya.

”Terdengar aneh?” Aku balik bertanya.

”Bukankah itu sudah terjadi di jaman lampau? Sekarang semua sudah berubah, kita sudah berada dalam dunia modernitas,” tandasnya.

”Apanya yang berubah? Modern yang seperti apa? Kalau teknologi sih iya. Dulu jamannya Rasul nggak ada komputer, nggak ada pesawat, bisanya naik onta. Sekarang semua fasilitas serba komplit. Tapi untuk kejahatan moral dan rusaknya peradaban kan sama?”

”Maksudmu?” tanyanya semakin tidak mengerti.

”Dulu peradaban jahiliyah banyak bayi wanita yang dibunuh, free sex merajalela, pecandu miras banyak, homoseks juga ada. Sama kan dengan sekarang? Bahkan lebih parah lagi. Bayi yang dibunuh tidak sekedar berkelamin wanita tapi juga pria. Aborsi begitu kan?” ungkapku. ”Homoseks pun sekarang mulai mewabah. Padahal hewan saja nggak ada kan yang sampai begitu? Mana ada hewan yang kawin sejenis?” lanjutku menimpali.

”Ya, bisa jadi. Tapi bagaimana dengan diskriminasi itu? Bukankah ini yang memandulkan kreativitas kaum wanita?” kembali Anita melontarkan sederet pertanyaan padaku.

”Apa memaksimalkan peran sebagai ibu, mendidik anak, mengurus rumah tangga dikatakan diskriminasi? Bukankah kaum wanita juga berhak mengecap pendidikan yang setara dengan kaum pria? Kalau kesetaraan yang dimaksud meliputi seluruh aspek dan harus sama persis, it’s impossible. Ada peran masing-masing antara pria dan wanita yang nggak bisa disubstitusikan. Hamil, menyusui, mengasuh dan mendidik anak adalah peran khusus buat wanita. Nggak bisa digantikan oleh pria,” imbuhku.

”Nah, inilah yang menyebabkan wanita tergantung pada pria,” ulas Anita.

”Secara finansial? Ya karena itu sudah kewajiban suami menafkahi istri.”

Nggak semua suami berpemikiran demikian. Coba kamu bayangkan saja jika istri tidak mandiri secara finansial, pasti suami bisa seenaknya. Faktanya demikian kan?”

”Ketika istri dan suami tidak memahami hak dan kewajiban masing-masing wajar itu semua terjadi. Seperti sekarang ini. Banyak suami melepas tanggung jawabnya dan menuntut istrinya juga harus bekerja full time lagi. Jadi jangan salahkan anak kalau akhirnya mereka punya banyak waktu untuk berkenalan dengan dunia narkoba maupun free sex karena mereka telah kehilangan sosok ibu.”

Sejenak aku menghela napas. ”Pernahkah kamu berpikir ada seorang anak SMA merasa pusing jika tidak melakukan free sex? Kalau sudah begini siapa yang disalahkan?”

Sejurus kemudian kami sama-sama terdiam. Seolah sebuah gunung es yang menjulang membentang di depan mata.

Kulihat Anita mereguk air jeruk hangat yang tinggal separuh gelas. Berusaha mencairkan kebekuan yang perlahan hinggap memasung jiwanya.

”Ya, kurasa gagasan itu tidak ideal untuk masa sekarang. Kita nggak bisa tutup mata, banyak masyarakat dengan penghasilan yang nggak memadai. Nggak ada pilihan lain kecuali suami istri memprioritaskan sama-sama bekerja jika ingin tetap hidup.”

”Inilah yang kumaksudkan kita telah terjebak. Kita terperangkap pada orientasi materi peradaban kapitalis. Mengejar kesuksesan duniawi semu dengan mengesampingkan efeknya. Kita mungkin berhasil diapresiasi dunia karena menjadi negara yang paling demokratis tapi semua itu ternyata tidak berkontribusi menyelesaikan krisis multidimensi negeri ini. Lihatlah bukankah angka pengangguran makin meningkat, penduduk miskin makin menjamur, harga BBM makin menjulang, tindakan berbau pornografi-pornoaksi kian menggila, dan segudang permasalahan lain. Lalu apa artinya medali demokrasi itu?”

Kali ini Anita tidak menyanggah lagi. Pandangan kami sama-sama menerawang jauh. Menembus batasan yang tidak bertepi. Mencoba mencari satu titik temu yang terbungkus dalam kebenaran sejati. Setidaknya itulah yang kutangkap dari kejujuran Anita dan mungkin bagi siapa saja yang mau menilai dengan obyektif terhadap apa yang terjadi saat ini.

&&&

Kamu harus tahu dirimu siapa. Perlu belajar banyak. Ingat jam terbangmu belumlah cukup, jadi nggak perlu ngoyo.

Teror itu belum berakhir. Dan bagiku the show must go on! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku punya Allah yang menguasai semua kebenaran dan menjadi pelindung para pembela kebenaran. Sedangkan mereka siapa? Mereka sama sepertiku. Manusia juga. Punya Tuhan. Bedanya, mereka bertuhan dengan memuja lembaran-lembaran dolar. Mengaku membela hak-hak wanita tapi sejatinya malah menjerumuskannya hanya karena iming-iming dolar dari tuannya.

Inilah yang akan terus kusuarakan. Karena para wanita juga berhak tahu kebenaran. Dan tak semua wanita bisa dibeli dengan dolar untuk sebuah propaganda keji.

*) Lely adalah seorang ibu dan seorang penulis aktif yang sudah menelurkan beberapa karya cerpen dan sebuah novelnya yang berjudul “Ijinkan Aku Menjadi Seorang Perempuan” telah diterbitkan. Info lengkapnya bisa klik di sini.

Untuk mengenal Lely lebih dekat bisa klik di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s