goresan pena:  Aqiilah Zahra


Malam penuh kecamuk asa

Bukan sekedar keriuhan

Tapi juga berdarah-darah

Memekikkan telinga dunia

Oh malam…

Telah hilang keanggunanmu di Palestina

Itu manusia-manusia meludahimu

Dengan peluru membabi buta

Mavi Marmara telah menjadi saksi

Kebiadaban israel yang kesekian kali

Bulan pun menutup mata lagi

Laut Tengah telah menjadi lautan darah

Hening namun penuh tanya kepada kaum muslimin

Laut, malam, dan bulan saling melempar pertanyaan

Laut  bertanya “Lantas apakah yang dilakukan kaum muslimin?”

“Bukankah kaum muslimin di Baitul Maqdis telah meminta pertolongan beribu kali?”

Malam pun bertanya “Apakah yang mereka nantikan lagi atas apa yang dilakukan kaum kafir?”

“Apakah mereka menanti sampai kaum kafir melakukan sesuatu yang lebih buruk dari ini?”

Hingga bulan tak sabar bertanya “Islam apakah yang mereka serukan?!”

“Dan Al-Qur’an apa yang mereka imani?!”

Malam di Palestina dan pertanyaannya

Keseratus kali

Keseribu kali

Kesekian puluh, ratus, ribu berdarah-darah

Yang tak kunjung terjawab

Malam ini, telah bertanya juga seorang anak Palestina kepada ibunya

“Ummi, dimanakah tentara kaum muslimin?

Mengapa pertolongan tentara PBB yang diminta?

Dimana tentara Mesir?

tentara Syiria?

tentara Yaman?

tentara Algeria?

tentara Malaysia?

tentara Yordania?

tentara Indonesia?

tentara Pakistan?

Bukankah tentara-tentara itu dipersiapkan untuk kita?”

sang ibu menjawab “Hanya Khilafah yang mampu menjawab.”

4 responses »

  1. subhanallah….

    keren puisinya…

    palagi endingnya…

    saya suka…

    salam kenal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s