Luapan jiwa pujangga; apuindragiry

Sebuah sudut di teluk Jakarta

begitulah awalan kisah ceritera

Pagi itu mentari tetap menyapa bumi

hangat

dengan cahaya keperakan di ujung timur

namun tidak di satu titik

Dua kubu saling berhadapan

Keduanya saling melengkapi dengan persenjataan

Kedua kubu saling bertahan dengan keyakinan

bahwa merekalah yang paling benar

Satu kubu menjalankan perintah atasan

satu kubu demi tanah warisan dan pekuburan

Tak ada tawar menawar

semua hambar

entah siapa yang benar

semua menjadi samar

Perang pun pecah

batu bak hujan dicurahkan

sabetan pedang berkilatan

pentungan bak seringan tangan mencari sasaran

Di sisi lain,

sang pejabat dengan tenang mengamati pertunjukan

tak pernah memikirkan akibat pertikaian

Darah pun tumpah di pelataran

torehan luka menyebar

bahkan nyawa melayang sebagai hukuman

Apakah begini Islam mengajarkan

Mengapakah penguasa diam membungkam

Seolah tragedi sudah menjadi kebiasaan

demi penutupan dan pembungkaman?

Wallaahu ‘alam

Tasikmalaya; 17 april 2010 20:57

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s