dikarya oleh Nafiisah FB

Malam sudah pekat menyelimuti bumi. Namun, para manusia tidak sepenuhnya terlelap dan terbuai dalam mimpi. Sebagian masih terbangun, masih bekerja keras demi nafas keesokan hari.
Kayla berjalan melewati sebuah gerobak. Dia tertegun. Seorang ibu bersama seorang bayi tidur dalam gerobak itu. Seorang pria tampak tidur di sisi gerobak, beralas sebuah tikar usang. Mungkin bapaknya, pikir Kayla. Mereka tampak nyenyak.
”Mereka tidur nyenyak. Tapi, bukan berarti mereka layak berada dalam kondisi seperti itu!”
Kayla menghela nafas panjang, menahan panas di kelopak matanya agar tidak menderas membasahi pipinya.

Batin Kayla terus bicara, ”Kalian seharusnya bisa tidur di kasur empuk. Bukan yang mewah. Karena, gua yakin kalian pun enggak akan memaksa, meminta harus ada. Dan, karena kalian bukan mereka yang serakah! Cukup kasur yang sepadan buat seorang manusia.”
Kayla merasakan panas di dua kelopak matanya semakin menyengat. Setitik air jatuh. Dia menahan sekuatnya.
”Dan Papi telah merampasnya!” teriak batin Kayla.
Panas di kelopak mata berubah menjadi banjir airmata seketika. Kayla berlari.

oooOooo

Kayla berlari lalu berhenti. Dia memandangi manusia-manusia di tengah perjuangan. Mereka berkeringat dalam kerja keras. Kayla berkeringat dalam kemarahan yang sangat. Dia lalu kembali berlari.

oooOooo

Kayla berlari. Dia terus berlari melewati para perempuan yang tertawa genit kepada para lelaki hidung belang. Demi uang.
Kayla melewati kerumunan orang. Larinya melambat perlahan. Dia menyeruak. Orang mati! Tubuhnya bersimbah darah tertusuk belati. Karena uang.
“Kasian banget ni orang. Motornya dirampok!” Begitu yang Kayla sempat dengar.
Tubuh Kayla bergetar. Dia menjauhi kerumunan. Suara sirene polisi terdengar mendekat. Dingin yang menjalari tubuh Kayla terasa semakin mencekat.
”Perampok membunuh! Orang itu mati karena motornya!” Suara hati Kayla terus berdentuman. Kayla tersengal.
”Papi perampok! Banyak orang mati dan mereka harus kehilangan sesuatu yang belum sempat mereka nikmati. Karena … Papi telah merampasnya!”
Kayla terus berteriak dalam batinnya. Dia terus menatapi kerumunan itu dalam hujan airmatanya. Dia terus berjalan mundur dalam gamang, dengan risau terdalam, dengan rasa bersalah yang semakin menghujam.
Sebuah mobil melaju. Kayla tetap dalam langkah mundurnya dengan tatapan yang dari awal tertuju. Lalu … BRAK!

oooOooo

Wirya Hadibrata menangis terisak menatapi gundukan tanah merah itu. ‘Kayla Putri Hadibrata’, nama itu jelas tertulis di papan nisan.
”Maafkan Papi, Sayang. Maafkan.”
Tubuh Wirya Hadibrata terguncang-guncang seiring tangis yang terdengar. Penyesalan itu pasti ada. Kesedihan itu pasti ada. Tapi, semua tidak lagi berguna.
Galuh berdiri memandangi makam Kayla, sendu. Airmata menjadi saksi rasa kehilangannya yang sangat. Bu Sri ada di sampingnya, mengenggam tangannya. Seorang petugas tetap dalam posisinya, mengawal Wirya Hadibarata.
”Ya Allah Ya Rabb, tempatkanlah sahabatku di tempat terbaik di sisi-Mu,” doa Galuh sepenuh hati. Isak masih menyertai.
Petugas mengawal Wirya Hadibrata berjalan ke kendaraan kembali, melewati tempat Galuh berdiri. Sesaat Wirya Hadibrata berhenti, memandangi Galuh. Airmata itu Galuh lihat kembali menetes dari ujung dua mata Wirya Hadibrata. Galuh menunduk, tidak sanggup melihat derita. Wirya Hadibarata kembali berjalan.
”Ya Allah Maha Penerima Taubat, terimalah taubat hamba-hamba-Mu yang dengan segala ketundukan ingin kembali menjadi hamba-Mu yang Engkau cintai,” lanjut doa Galuh sambil memandangi langkah kaki Wirya Hadibrata yang semakin mendekat ke kendaraan.
”Ya Allah Yang Maha Penolong, Yang Maha Kuasa, hadirkanlah kemudahan bagi para hamba-Mu yang memperjuangkan kebenaran. Agar hukum-hukum-Mu saja yang menentukan salah dan benar. Agar aturan-Mu saja yang menyertai hidup para insan. Agar keadilan yang sejati bisa hadir di muka bumi ini. Amin.”

oooOooo

”Gua Kayla, anak seorang Hadibrata. Gua enggak bisa melepaskan nama itu dari nama gua,walaupun gua ingin! Gua tahu gua dosa kalau gua bilang gua malu jadi anak Papi! Tapi, gua enggak bisa menghindari! Gua semakin merasa sendiri, merasa Kayla yang kara.”
Galuh mengusap airmatanya, lalu melanjutkan membuka halaman diari Kayla.
”Gua tetap Kayla yang kara. Tapi, hari ini gua bahagia! Karena Galuh tetap bersedia jadi teman gua. Walaupun … jujur, gua tetap sulit percaya kalau sahabat itu ada.”
Galuh menghela nafas. Dia mengusap kembali airmatanya, sebelum membuka halaman diari yang berikutnya.,
“Gua masih Kayla yang kara. Dan, Galuh masih aja mau jadi teman gua. Andai Papi tahu, dia pasti iri. Gua ternyata masih layak ditemani manusia baik hati. Sedangkan Papi … dia menjadi budak uang, harga dirinya mati!”
Lalu, halaman yang berikutnya ….
”Gua berharap gua bisa bilang ke Galuh, kalau gua sangat berterimakasih sampai detik ini dia berusaha selalu ada buat gua. Tapi, gua terlalu angkuh untuk bilang kalau gua memang butuh dia. Gua lebih suka dia tahu gua yang kara. Dia cukup tahu kalau senyum gua ceria. Walau di dalamnya hampa.”
Galuh menutup diari Kayla. Dia tidak meneruskan ke halaman selanjutnya. Dia tidak sanggup meneruskan.
Semua telah terungkap. Galuh mengenali Kayla seutuhnya … akhirnya.
Galuh kembali membuka diari Kayla. Tangannya menuju sebuah lembar yang kosong, lalu menuliskan sesuatu di sana.

”Adalah anugrah aku bisa mengenal kamu, Kayla. Kamu telah menunjukkan sebuah pelajaran berharga. Ramadhan kini pasti tidak akan sama seperti sebelumnya. Tanpa Kayla. Tapi,aku bahagia karena kamu percaya aku adalah temanmu. Semoga Allah melimpahkan ampunan bagimu, dan menyatukan kita dalam Surga-Nya, saat nanti waktunya tiba.”
Galuh selesai menulis. Dia menyimpan kembali diari di sebuah kotak berwarna biru, senada dengan warna diari itu. Dia selamanya akan mengenang semua peristiwa. Sedih. Bahagia. Semua kisah tentang Kayla.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s