dikarya oleh Nafiisah FB

“Kay ….”
Sebuah suara lembut memasuki ruang kamarnya, membuyarkan ingatannya tentang masa-masa sebelumnya, mengalihkan kesadarannya ke kejadian semalam.
Wirya Hadibrata resmi menjadi tersangka kasus korupsi dan telah menjadi tahanan titipan di Polda Metro Jaya.
”Kay….”
Kayla menolehkan wajah sayunya.
Galuh telah berdiri di dekat tempat tidurnya. Dia memandangi suasana kamar kos Kayla yang berantakan sebelum dia menghampirinya.
”Makan, yuk,” ajak Galuh setelah duduk di sisi Kayla. Kayla hanya diam.
”Kay, kamu belum makan dari kemarin malam.”
”Gua enggak laper.”
”Kay. …”
”Gua mau semua kebusukan di tubuh ini hilang!”
”Tapi, enggak begini caranya!” argumen Galuh dengan suara tertahan.
Kayla terdiam. Galuh terdiam. Keheningan sesaat menyebar.
“Papi kamu yang salah. Lantas kenapa kamu yang menghukum diri?” tanya Galuh.
”Karena gua pernah ikut nyicipin semua fasilitas yang berasal dari kerja dosa Papi!”
”Kamu kan enggak tahu sebelumnya.”
”Gua seharusnya tahu lebih awal!”
”Tetap itu bukan kesalahan kamu! Dan, kamu tetap harus makan.”
”Gua enggak mau bikin susah lebih banyak orang.”
“Aku enggak merasa susah. Karena, uang untuk beli makanan kamu, aku ambil dari honor kamu nulis. Aku tadi pergi ke redaksi majalah Girly, mintain langsung honor kamu. Jadi, mereka enggak usah transfer dan kamu bisa punya uang cash sekarang. Sori aku lancang. Aku cuma mau bantu. Kamu kan udah empat hari ini enggak bisa kemana-mana.”
Kayla menoleh ke arah Galuh. Galuh melihat lekat wajah Kayla yang pucat.
”Kenapa elo masih mau jadi temen gua, Luh?” tanya Kayla sungguh-sungguh.
”Karena kamu baik.”
”Hm! Baik!” Kayla mendengus sinis.
”Buktinya mereka menjauh dari gua!” teriak Kayla.

”Mereka cuma ingin bersahabat dengan tampilan fisik kamu, dengan kemewahan yang kamu dapat! Tapi, bukan dengan diri kamu yang sebenarnya! Jadi, lupakan mereka! Dan … aku bukan mereka!”
Kayla terdiam. Dia tetap menujukan dua matanya ke dua mata Galuh. Tajam. ”Terimakasih, Luh. Untuk semua yang elo pernah kasih ke gua. Sejak Mami meninggal. Sejak Papi ….”
”Kay, kamu enggak akan pernah sendirian ngadepin ini semua. Ada Alloh. Ada aku.”
Kayla kembali menangis, terisak. Galuh sekali lagi menyediakan bahunya bagi Kayla. Dia membiarkan airmata Kayla membasahi kerudungnya. Namun, tidak lama. Tiba-tiba kepala Kayla lunglai.
Galuh terkesiap. Tidak terdengar lagi isak.
”Kay! Kayla!” panggil Galuh berulang sambil menepuk pipi Kayla pelan. Kayla tetap diam.
”Kaylaaaa!” panggil Galuh dalam kepanikan.
”Bu Sriiii!” teriak Galuh memanggil ibu kos sekuat tenaga.
”Bu Sriii! Toloooong!”

oooOooo

Tubuh Wirya Hadibrata tetap tampak gagah dalam balutan baju oranye. Dia diapit dua petugas, diiringi tiga pengacaranya yang handal. Mereka menuju ruang pengadilan.
Adegan demi adegan begitu jelas tampak di layar kaca. Adegan demi adegan yang membuat beberapa orang di satu tempat berdegup kencang, karena bisa jadi sebentar lagi mereka yang mendapat giliran.
Adegan demi adegan yang memunculkan sedikit kelegaan di sebagian orang yang lain. Sedikit. Karena mereka masih digelayuti kekhawatiran besar. Uang yang seharusnya mereka rasakan manfaatnya tidak akan pernah bisa kembali kepada mereka. Dan, orang-orang besar berhati kerdil itu bisa bebas dari kesalahan lalu kembali melakukan hal keji yang sama.
Adegan demi adegan yang menambah luka di hati Kayla.
“Om butuh kamu, Kay,” ucap Galuh lirih.
“Papi bersama para pengacaranya. Dan, itu sudah cukup bagi dia! Gua enggak perlu hadir di sana!” respon Kayla ketus.
“Om butuh keluarganya, bukan pengacara!” balas Galuh, kini lebih lantang.
Kayla menatapnya tajam. Galuh menatapnya juga, menantang.
”Papi enggak pernah butuh gua, karena Papi enggak pernah nganggep gua ada buat dia!”
Galuh membuka mulutnya, akan kembali bicara. Kayla segera angkat suara.
”Gua pergi! Gua mau sendiri!”
Setelah itu Galuh hanya mampu memandangi langkah Kayla yang bergegas menuju luar. Galuh menghela nafas panjang, menunduk dalam keresahan.

oooOooo

Malam hampir datang. Sebagian manusia tampak bergegas pulang. Mereka ingin segera menghempas kepenatan.
Kayla masih berjalan sambil melihat sekeliling yang mulai temaram. Kayla berjalan menatapi mereka. Anak-anak kecil yang bernyanyi dengan suara apa adanya, dengan peralatan apa adanya. Seseorang dari balik kaca mobil yang diturunkan setengah memberi mereka sebuah logam lima ratusan. Seorang anak perempuan menyambutnya dengan senang. Dia berlari ke arah Kayla. Anak perempuan dan Kayla bertatap mata sesaat. Perih di hati Kayla tergurat.
”Elo seharusnya mendapatkan lebih dari lima ratus rupiah! Elo berhak dapat lebih dari itu!” batin Kayla untuk anak perempuan itu.
Si Anak Perempuan lalu berlari kembali. Kayla masih memandangi.
”Tapi, Papi telah merampasnya … ,” lirih Kayla.

oooOooo

Bu Sri duduk gelisah. Galuh berjalan mondar-mandir, bingung.
”Apa ndak ditelpon aja, Mbak Galuh?”
”Dia enggak bawa hape, Bu! Itu yang bikin saya tambah was-was.”
”Lapor polisi aja.”
”Paling polisi nyuruh kita nunggu. Kan, belum 24 jam.”
”Aduh, terus gimana? Udah jam 9 begini!”
Galuh duduk, semakin gelisah.
”Saya enggak tahu, Bu.”

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s