dikarya oleh Nafiisah FB


Kamar itu berantakan. Bantal, guling, dan selimut berserakan di atas tempat tidur dan di lantai. Seorang gadis muda duduk terpekur, melandaskan bahunya di sisi pembaringan. Ada bekas airmata di pipinya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai masai.
“Papi … jahat …” lirih suaranya terdengar.
“Aaaah!” teriaknya sambil melempar sebuah figura foto dengan marah yang sangat. Foto dirinya bersama seorang pria setengah baya.
PRANG! Figura foto itu pecah setelah melayang menghantam kaca jendela, menghantam memorinya.

oooOooo

“Hai, Kay!”
”Halo, Kay!”
”Kay, boleh enggak main ke rumah lo?”
“Apa kabar, nih?”
“Makin cantik aja lo.”
“Kay, Si Hans anak XII D IPS mau kenalan tuh!”
”Siang Cantik. Abang boleh dong nganterin hari ini?”
Sapaan-sapaan itu … sapaan-sapaan yang sangat biasa menghampiri dirinya sejak kakinya menjejak di depan gerbang sekolah tiap pagi. Kayla, gadis yang tipikal Rachel Weitz itu biasanya menanggapi dengan senyum sambil menjawab singkat.
”Hai!”
”Halo juga!”
“Boleh. Kebetulan Satpam rumah gua lagi butuh lawan buat main catur.”
“Gua … fine.”
”Gua cantik? Terimakasih.”
“Oh ya? Gua juga senang kok bisa nambah temen.”
”Sori banget. Gua udah dianter supir angkot.”
Setelah itu, ritual Kayla adalah pergi ke perpustakaan lalu mencari tempat di pojok ruangan, untuk kemudian siap membaca bahan untuk tugasnya atau mengetik tugas di laptop merah jambunya.
Kayla yang cantik. Kayla yang sederhana walaupun anak orang kaya. Dia selalu naik kendaraan umum kalau kemana-mana. Kayla yang populer karena cerita bersambung yang dia tulis untuk sebuah majalah remaja.

oooOooo

Jam istirahat tiba. Anak-anak berhamburan keluar kelas , menyerbu kantin untuk mencari pengganjal perut sementara.
“Kay!”
Kayla yang baru saja keluar dari ruang kelas menoleh ke sebuah suara. Suara milik seorang yang dia kenal. Kerudung putihnya melambai-lambai seiring langkah kakinya yang cepat.
“Eh, Luh!” Kayla sumringah menanti Gauh, saat cewek manis itu menghampiri.
“Assalamu’alaikum, Kay,” sapa Galuh setelah tiba di hadapan Kayla.
“Wa’alaikum salam. Tumben elo ke kelas gua di jam istirahat gini. Enggak ada kegiatan di mushola?”
”Hmmm …” Galuh tampak bimbang mengatakan maksudnya.
”Ada apa sih, Luh? Muka lo pucet gitu.”
”Hmm … mendingan kamu ikut aku sekarang!”
”Kemana?!”
”Ikut aja deh ya. Yuk!”
Galuh menggandeng Kayla.

oooOooo

Di sekretariat rohis, sebuah ruangan dua kali tiga meter yang terletak di sebelah mushola, Galuh dan Kayla duduk berhadapan.
”Kay ….”
Galuh memperlihatkan phone TV kepada Kayla.
”Lo punya handphone yang ada TV-nya? Hebat dong! Selamet ya.”
”Bukan punyaku, Kay. Ini punya Yasmin! Coba kamu liat ini.”
Galuh memencet sebuah tombol bertulis play record. Setelah itu tampak di layar ponsel sebuah rekaman acara berita.
Kayla membisu. Wajahnya pias.
”Tadi Tanto juga sempet liat di depan sekolah ada mobil stasiun TV dan beberapa wartawan mondar-mandir. Mereka kemungkinan nyari kamu! Lebih baik kamu menghindar!”
”Tapi gimana caranya?” Kayla kelu.
”Pas bubaran sekolah kamu langsung pakai helm ini.” Kayla memberikan sebuah helm. Kaca helm itu gelap.
”Kamu dianter pulang ke kosan sama Yasmin pake’ motor.”
”Oke,” respon Kayla setelah beberapa detik berpikir.

oooOooo

”… Wirya Hadibrata hari ini memenuhi panggilan KPK terkait dengan kasus penggelapan aliran dana likuidasi ke sejumlah bank. Namun, ketika dimintai keterangan usai pemeriksaan di KPK dari siang hingga sore tadi, Hadibrata enggan memberikan komentar.”
Suara anchorwoman telah menghilang, namun ketegangan di wajah Kayla tidak. Dia terdiam menatap TV.
”Itu bukan Papi, kan, Luh?”
Akhirnya suara Kayla terdengar. Lirih. Sedih.
Galuh menghela nafas sebentar sebelum memberikan jawaban singkat,”Itu bener Om Wirya.”
Seketika Kayla merasakan tubuhnya lemas. Wajahnya pias.
”Tapi, Om ke sana hanya sebagai saksi, Kay,” imbuh Galuh, mencoba menenangkan.
Kayla menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.
”Saat itu akan datang. Gua tahu, Luh. Pasti bakal datang.”
Galuh mengerutkan keningnya. Dia mencoba mencerna maksud perkataan Kayla. Belum tuntas Galuh berusaha, airmata itu segera dilihatnya. Airmata milik Kayla.
”Sebentar lagi Ramadhan dan Papi di penjara.”
Setelah itu hening, hanya isak Kayla yang mengisi udara di sekeliling mereka. Galuh segera memeluknya.

oooOooo

Itu kejadian tiga hari sebelumnya. Dan, kini di kamarnya Kayla masih duduk dikelilingi selimut, bantal, dan guling yang bertebaran, berantakan. Dia lemah, semakin lemah. Bahunya dilandaskan ke sisi pembaringan. Kepalanya rebah.
“Papi … jahat ….” Suara Kayla kembali lirih terdengar.
Kini ingatan itu menuju masa sebulan ke belakang.

oooOooo

”Kamu enggak perlu ikut campur masalah bisnis Papi, Kayla!”
”Kayla harus ikut campur karena Kayla makan dan minum dari hasil bisnis Papi! Kayla enggak mau daging dan darah tubuh ini menjadi busuk, sebusuk uang yang Papi hasilkan!”
PLAK!
Panas. Kayla merasakan panas di pipi kirinya sangat jelas.
Merah. Kayla melihat wajah papinya yang memerah sangat jelas.
Telapak tangan papinya masih terbuka. Tangan itu bergetar, namun Kayla tidak gentar. Tangan itu … tangan yang selama tujuh belas tahun membelainya sayang, kini bergetar setelah keras menampar.
Hati Kayla perih, namun Kayla tidak mundur. Dia telah mengambil keputusan.
”Kayla akan segera menyerahkan kunci mobil yang selama ini Kayla pakai. Kayla akan serahkan tabungan Kayla ke Papi malam ini juga. Kecuali, laptop merah jambu. Itu hasil keringat Kayla sendiri. Setelah itu, dengan atau tanpa ijin Papi, Kayla keluar dari rumah ini!”
Kayla mengucap kata demi kata tanpa tertatih, seiring tatapannya matanya yang tidak sedetikpun beralih dari tatapan mata Wirya Hadibrata.
”Dan, untuk itu semua … Kayla mohon maaf. Beribu-ribu maaf.”
Usai kalimat itu dikatakan, Kayla segera beranjak pergi. Dia meninggalkan Wirya Hadibrata yang masih mematung dalam amarahnya.

(bersambung)

One response »

  1. P2W says:

    Ketika rambut terurai mengukir sepi yang tak bertepi,
    Ku tundukkan seluruh jiwa yang berontak kepada cinta,
    Ketika hanya ada secuil keputusan tanpa nurani,
    Apakah ada cinta yang sesungguhnya untuk kurasa,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s