Oleh; Marhalim Zaini [Sastrawan, tinggal di Riau]

Surprise, atau kejutan.
Sebuah karya yang berhasil, dan menarik untuk dibaca adalah karya yang menghadirkan berbagai surprise. Sebab, setiap pembaca—sebagaimana juga telah menjadi sifat semua orang—memang menyukai kejutan, terutama kejutan yang positif. Di hari ulang tahun adik-adik misalnya, bukankah kerap menunggu berbagai kejutan kado dari teman-teman, juga dari orang tua?

Tetapi perlu diketahui, meskipun dalam kehidupan sehari-hari kita, surprise memang biasanya lebih dipakai dalam hal-hal yang positif, namun tidak demikian dalam karya fiksi.

Karya fiksi/sastra, tidak semata menghadirkan kejutan yang bersifat baik-baik saja.. Surprise bisa berupa peristiwa atau kejadian yang menyimpang, tidak biasanya, tidak normatif, bahkan bisa bertentangan dengan apa yang menjadi harapan si pembaca.

Kisah yang tanpa kita tuliskan pun akan dengan mudah dihafal oleh pembaca, dan dengan begitu, pembaca sudah sejak awal mengetahui apa akhir dari kisah kita itu. Bukankah sesuatu yang diulang-ulang akan membosankan?

Ada banyak cara sebenarnya untuk menghadirkan surprise itu. Terutama bermain pada plot. Meletakkan susunan plot (bolehlah dikatakan alur) yang kreatif, dengan menempatkan informasi substansi cerita pada tempat-tempat yang tepat.

Misalnya, menyembunyikan siapakah tokoh utama dalam cerita kita itu, dengan tidak terburu-buru memberitahu pembaca tentang esensi dari konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan tokoh tersebut.

Bisa pula dengan meniru gaya penulisan cerita detektif. Misteri cerita, betul-betul dipertahankan dengan baik. Pembaca sulit menebak, bahkan terus menduga-duga. Mencari tokoh pembunuh, misalnya, atau pelaku kejahataan di balik berbagai peristiwa, demikian rapi dan kreatif, sehingga sampai akhir cerita pun kita masih diberi misteri.
Kisah yang membuat pembaca berpikir, terus berpikir, terus berimajinasi, mereka-reka kejadian sendiri dalam kepalanya, adalah satu kriteria sebuah karya itu dapat mencerdaskan pembaca.

Cara lain, menghadirkan surprise bisa dengan—apa yang sudah saya singgung di atas—melakukan penyimpangan. Penyimpangan yang bagaimana? Misalnya, jika biasanya orang lebih menokohkan seseorang yang baik hati dalam cerita (atau sering disebut sebagai protagonis), bisa saja kamu justru mengangkat tokoh antagonis. Tentu kamu harus bisa mengambil dari perspektif yang lain, yang berbeda. Tak sekedar melakukan pembelaan terhadap tokoh pelacur, misalnya, atau koruptor, atau perampok, dan lain-lain.

Pernahkah kamu baca cerpen (atau setidaknya pernah mendengar) “Robohnya Surau Kami” karya A.A Navis? Cerpen ini, sempat jadi kontroversi di zamannya. Kenapa? Karena ia menghadirkan kejutan.

Kejutan terutama bagi para penganut agama Islam pada masa itu yang masih berpikir “sempit” dan sulit menerima berbagai imajinasi atau pemikiran-pemikiran kritis dari penganutnya sendiri. Navis, dalam cerpennya ini, menghadirkan seorang tokoh bernama Haji Saleh, yang rajin beribadah tapi justru masuk neraka.

Nah, ada penyimpangan di sana. Penyimpangan itu surprise. Tapi, tentu saja penyimpangan itu tidak asal menyimpang. Harus dengan penguasaan tematik cerita, dengan referensi yang baik. Kalau asal menyimpang, tentu kelak akan bernilai sebagai sensasi saja.

Cerita yang hanya cari sensasi, tak punya esensi, juga kelak akan ditinggalkan pembaca, cepat habis ditelan zaman. Sebab bukankah demikian silih berganti sensasi dalam dunia kita hari ini?

Edisi kali ini, saya sengaja menghadirkan kembali dua puisi sobat kita yang mestinya minggu lalu termuat: Melody dengan puisi “Kaki Pelangi” dan M Razid dengan “Zikir Rindu.” Kesalahan teknis lay-out yang membuat karya mereka tak tampil. Padahal ulasannya ada dalam “bengkel sastra.”

Dua puisi lain, ada “Sahabat Kecil” karya Ni Veren N. Puisi naratif ini, tampil dengan berkisah tentang pertemuan si aku-lirik dengan sahabat kecilnya. Memang ada upaya untuk tetap menghadirkan matafor-metafor.

Di sana ada “ibu suri,” ada “pangeran kecil.” Meskipun, metafor itu masih umum, masih belum kuat. Veren harus terus belajar menyusun diksi (pilihan kata) yang baik, dan hati-hati. Sebab puisi, bagaimana pun sangat terkait dengan diksi, sebab makna tersimpan di sana.

Selanjutnya, ada puisi Wari Rahmawati, berjudul “Maha Karya.” Sebuah puisi yang berkisah tentang proses penciptaan sebuah karya sastra. Proses kekaguman sekaligus ketidaksanggupan menggapai kebesaran karya. Wari mencoba untuk memberi suasana puisi ini dengan menampilkan berbagai deskripsi ruang juga waktu. Meskipun, Wari tentu harus terus menggali lagi makna dari kata demi kata. Lebih selektif, memilih diksi. Serta berupaya untuk lebih konsisten membangun makna itu, dari bait demi bait, hingga puisi tidak rumpang.

Untuk cerpen, Asrul Rahmawati hadir dengan “Antara Aku dan Bintang.” Cerpen ini mengambil tema yang sederhana. Sederhana karena tema ini terasa kerap kita jumpai dalam banyak kisah fiksi remaja.

Tema tentang seorang tokoh yang tak jujur menyampaikan cintanya, hingga kemudian cinta itu terlepas. Meski Asrul telah mencoba membuat surprise di ujung cerita, namun masih belum kuat. Sebab, pembaca telah lebih dulu menebak kejadian itu.

Ada baiknya, mungkin Asrul mengambil kejutan yang lain, yang tak biasa. Misalnya, bisa jadi tokoh Bintang itu, yang muncul di akhir cerita bukan Bintang yang dikenal sejak lama. Tapi hanya namanya yang sama. Bisa jadi ‘kan, justru tokoh Witri jatuh hati dengan pacar temannya, karena sama-sama bernama Bintang…he..he…***

Sumber: http://www.riaupos.com/beritaahad.php?act=full&id=94&

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s