Rajutan puisi pertama, dari trilogi puisi DERMAGA CINTA. nantikan puisi bertajuk; Bidadari Terpilih, dan puisi penutup; Cinderacinta🙂

Bahtera Cinta, di Pusaran Samudra

Berhimpunlah beberapa sahabat di sebuah bandar-pelabuhan diliputi takjub dan keheranan sembari melepas kepergian sang Pujangga. Yang sedang bersiap-siap menarik tambang dan sauh perahunya. Dijelang keberangkatan.

Mereka bertanya kepada sang Pujangga,

”Kapankah biduknya mendekati ’dermaga hati’, bidadari nan dirindui?”

Sembari mengembangkan layar perahunya dengan rona jengah, sang Pujangga menjawab,

”Perahu Cinta sang Pujangga masih berlayar di tengah kemahaluasan samudra. Ia masih kukuh mendayung.  Mengkibaskan kedua tangannya dengan penantian kesabaran. Tetapi, kedua pelupuk matanya menatap awas di kejauhan, adakah seberkas isyarat bahwasannya setitik harapan dermaga hati nampak di batas tepian samudra. Deburan kayuhnya memecah riak-riak gemuruh dan gulung-gemulung ombak dan riuh kecipak buih nan membelah di haluan sampan. Ikut  menembang sonata alam dengan irama keindahan. Seolah resah oleh kertak jiwa nan diembus galau kesunyian hatinya, lantaran kesendirian.

Nahkoda jiwanya senantiasa dibekap sunyi, kala sandaran dermaga hati masih belum jua nampak di pelupuk mata.

Namun, setiap perahu pastilah kembali ke dermaga asal. Begitulah hukum azimah. Dan acapkali  persuaan diiringi jua oleh perpisahan. Adakalanya dengan perpisahan melahirkan sejuta rindu perjumpaan. Jua setiap layar nan terkembang ia ’kan diturunkan kembali dan berlabuh  di tengah kelelahan dermaga peristirahatan.”

Setitik Cahaya Cinta

O, di tengah amukan badai ombak kehidupan nan senantiasa berkesinambungan, tiba-tiba paras mukanya bersemu merah. Setitik putih cahaya mercusuar pertanda dermaga telah terpaut dan nampak di retina matanya.

Itulah isyarat nahkoda telah memerjumpa dermaga idaman sebagai peristirahatan hatinya. Laksana lebah nan menjumpai sekuntum bunga nan sedang mekar-mekarnya.

Lantas dengan binar senyum, ia seraya bertutur,

”Inilah dermaga kasih nan kunantikan dengan lautan kesabaran. Nikmatnya melabuhkan hati di dermaga hati nan telah diberkahi ilahi. Surga kenikmatan dan kelezatan bak menanti saat berbuka, lantas pupuslah dahaga dan menghapus dera lapar nan mendera.

Usailah sudah penantian panjang untuk kesunyianmu. Jerit, suara-suara jiwanya.

Segenap dahaga terlepas. Dan dera lapar tersirna berganti dengan ucapan berkah, Alhamdulillaah!

Ah, begitulah sejatinya lisan mengungkapkan. Usai mencicipi legit kenikmatan

Di Tepian Dermaga Terkasih

Perahu Pujangga kian mendekat dermaga. Kian teranglah sosok bak gemintang. Bidadari dengan jubah dan kerudung bermotif bebungaan nan membalutnya. Ia bercahaya dengan gemulung gelang sederhana. Hanya  paras dan jemari lentiknya nan berkilau bak mercusuar memandu kedatangan perahu sang Pujangga.

Namun, kala perahu tertambatkan… sang bidadari jelita pun menghilang dari pandangan. Meranalah sang Pujangga di tepian kebimbangan.

Ia pun berlarian kesana-kemari tak menentu. Deru jiwanya dibadai gundah gulana. Mengharap perjumpaan nan dirindukan.

Lantas, seorang Alim, datang dengan menggenggam secercah cahaya,

”Datangilah ia dengan persyaratan-persyaratannya. Niscaya ia ’kan menjadi milikmu seutuhnya.”

Sang Pujangga pun menganguk lega.

Bidadari Jelita Sebagai Pelabuhan Jiwa

Melintasi jalan berkelok dan pergantian musim demi musim ia mencari sosok di dermaga hati. Lantas di sebuah pemondokan sederhana terjumpailah ia.

Ditemani sang Pemilik bidadari, ia tersipu, menawarkan syarat-syaratnya,

”Ku ’kan berkenan menjadi pelabuhan hatimu. Asalkan dengan berbagai syarat. Sudikah engkau meluluskannya?”

Sang Pujangga menganguk serta menunduk. Tak kuasa memandang mercusuar nan meluluhkan hatinya itu dengan degup debar.

”Apa pun syarat itu, kubersedia mengabulkan.”

Sang Bidadari jelita kembali bersuara,

”Tulislah novel bertajuk CINDERACINTA dengan pintalan khas pujanggamu. Syarat terakhir, ukirlah namaku dan namamu di sebuah manuskrip hati bertatah emas putih yang ’kan kukenakan seumur hidup di jemari manisku, sebagai ujud sembah baktiku untukmu. Niscaya hatimu bolehlah terlabuhkan untukku dan akulah sandaran yang ’kan menemanimu hingga ujung waktu.”

Sang Pujangga pun tersenyum,

”Aku berkenan dengan segenap permintaan jiwamu dan akulah perahu cinta nan kan membawamu melintasi samudra. Samudra mahaluas nan membentang di hadapan kita.”

Maka, lantas merapat kembalilah perahu sang Pujangga ke dermaga hati. Dan berkatalah para sahabat nan resah menanti kedatangan mereka, seraya bertutur,

”Sang Pujangga kini telah kembali! Bersama sang Belahan Jiwanya. Marilah kita memanjatkan doa, Baarakallaahu Laka!” amin

Tasikmalaya, 5 Februari 2010  03:14

Apu’ sang Pujangga

ps. didedikasi dan disejuta asakan untuk sesosok bidadari terpilihku

Persembahan;

Untuk guruku [K.H. M. Shiddiq Al Jawi, 30 November 2009 jam 12:34]

yang mengukuhkan hati di saat gundah gulanaku;

“Apu, semoga langkahmu selalu mendapat ridho, hidayah, dan inayah-Nya. Amin. Mencari jodoh ibarat mencari rizqi, semoga engkau mendapat rizqi yang “halal” lagi “thayyib”, yakni isteri yang salihah. Nabi SAW bersabda,”Barangsiapa yang diberi rizqi oleh Allah berupa isteri yang salihah, maka sungguh Dia telah menolongnya akan setengah agamanya. Hendaklah dia bertakwa kepada Allah untuk setengah yang sisanya.” (HR Al-Hakim).”

Jazaakallaah khairan katsiran, Guru🙂

13 responses »

  1. Anak Kampoeng says:

    ku bagaikan Punggunk yang merindukan sapaan bulan…
    kau terwujud sebagai langit dan aku merendah Dibumi…

    jadi percuma bila ku biarkan rasa ini tumbuh Terus menerus didalam Taman Hatiku…

    ku bukan pengeran yang kan menjemputmu dengan kereta kencana .,tak pula sepatriot dengan berjuta lencana…ku memang tak sempurna…namun ku masih punya harapan angan tulus tuk bisa bahagiakanmu di hari depan…

  2. richie says:

    siippp….

  3. yusuf says:

    bagus bagus puisinya….ini baru anak bangsa indonesia

  4. zainal arif says:

    alhamdulillah, barakallahu laka, doaku kepada sang pujangga, arungilah bahtera dengan segenggam asa, dimana kan kau labuhkan kembali bahtera itu di dermaga hati/….

  5. zainal arif says:

    azlhamdulillah, barakallahu laka, doaku kepada sang pujangga, arungilah bahtera dengan segenggam asa, dimana kan kau labuhkan kembali bahtera itu di dermaga hati/….

  6. lisa faruki says:

    bagus bgt puisiny…;)

  7. miphz says:

    Akupun ingin menitipkan puisiku di dermaga, hingga puisiku melabuhkan dirinya.

    Tarian Kerinduan

    Aku hanyalah kisah-kisah yang tak punya arti, penggalan mimpi yang tak memiliki saksi. Aku hanyalah waktu-waktu yang tak punya makna, sepotong usia yang tak punya kemudi. Aku hanyalah kenangan-kenangan yang tak punya pesona, ruang kosong yang yang hampir mati.😕

    • nurcayaR says:

      menulis dengan tinta nyata nan tertoreh kisah hati berkelana,,!! telahkah kau temui bidadarimu,,??!! degan memastikan tlah kau penuhi berbagai syarat,,benrkah itu bidadari mercuswarmu,,??!! baiknya tertahan ingin dan asamu,,seblum bener2 bidadari itu adalah fokus hatimu kelak kan bertaut,,pastikan,,bidadarimu tlah kau genggam hingga saatnya kau telah ucap kata suci,,dan sumpah terkeramatkan darimu.

      jangan tautkan tali tambang jiwamu skarang,,jangan turunkan jangkar hatimu

      jangan biarkan hatimu berlabuh dengan arah yg tak kau ketahui,,bidadarimu bisa jadi bukan mercusuarmu,,jauhi dya sbelum waktunya,,kelak,,datangi dya dengan cara lainmu,,betul sungguh dya ada di imajinasimu,,sungguh dya jadi inspirasi di tiap uraian katamu,,di untaian tulisanmu,,

      kelak kau akan sadar bidadari itu milikmukh,,atau yg lain,,!!sabar saja karna kau memang pengelana hati,,kau pujangga terinspirasi

      af1
      ku hanya mencoba tuk pahami isi sebait hati para pujangga

  8. shabrina says:

    Barakallah…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s