Terrajut dari berlian hati; apuindragiry

“Adakah kautemui

Lentera kan bercahaya

Tanpa sumbu nan menyala?”

T’lah kuterima gubahan gerimis puisimu

Tahukah engkau?

Kala kubaca liris tangis jiwamu

Bulir-bulir saljuku pun meluruh

Ia tumpah tak tertahan

Ia pun menyerap segenap kabut awanku

Lalu jatuh berguguran

Dengan tangisan haruku

Oh, sumbu nyala jiwaku…

Yang selalu ada dalam hatiku

Engkau ada dalam sujud-sujud panjangku

Engkau sesungguhnya ada

Dalam bait-bait pintaku kepadaNya

Engkau kan selalu ada. Sungguh!

Namamu telah kuukir

Dengan pahatan terindah

Di sebuah tempat khusus

Yang hanya kuperuntukkan untukmu

Oh, sumbu nyala jiwaku

Telah kuresapi tiap senandung rindumu

Telah kunikmati lezatnya kata-kata indahmu

Sejujurnya, kukatakan kepadamu

Bahwa pelupuk mataku kini basah

Hatiku jua menggigil

Jiwaku bersenandung resah jua

Oh, sumbu hatiku

Bagaimanakah mungkin

Ku kan meninggalkan dirimu

Bagaimana mungkin

Lentera cintaku kan meredup untukmu…

Karena lentera ini kan selalu menyala untukmu

Ia kan kian berbias cahaya untuk menyertamu

Melintasi jalan-jalan sunyi yang kau tapaki

Oh, sumbu nyala hatiku….

Kala kukabarkan sebuah warta kepadamu

Bahwa…..

(Sepenggal bait ini

memang sengaja apu’ sensor… maaf ya!)

Oh, sumbu nyala hatiku…

Kini tersenyumlah…

Ronakan paras jelitamu

Bahagiakan jiwamu

Ku kan kabarkan kepadamu

Kabar gembira dariku

Bahwasanyalah…

”Pelita itu akan selalu berkelip

untuk mencahayai hatimu

Aku bersumpah janji kepadamu

Sungguh! Demi Allah!!”

Oh, juwita hatiku

Tahukah engkau?

Lentera itu akan siasia

Pabila tiada sumbunya

Oh… apalah artinya diriku

Tanpa arti hadirmu di sisiku

Beroleh sumbu nyala hidup sepertimu

Membuat hidupku serasa berarti

Kutulis dari lubuk jiwaku

Yang kini basah oleh gerimis air mataku

Dengarlah melodi biola jiwaku ini

”Aku sungguh mencintamu sepenuh hatiku

yang karena Allah aku merinduimu

dan bercahaya untukmu

Yang karena Allah jualah engkau mencintaku

Dengan setulus hatimu!”

Terima kasihku untukmu

Duhai sumbu nyala jiwaku

Tetaplah menyala dan pijarkan sumbumu

Agar lenteraku tetap mencahayai dunia

Kapal Penyebrangan Merak-Bakauheni [Banten-Lampung], 17 Juli 2008 10:10

p.s atawa n.b; “Untuk jiwa jiwa yg dilentara dan dinaungi samudra cinta.”

2 responses »

  1. listy says:

    indah skali . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s