Pintalan karya; apuindragiry

Kota Gudeg masih  dibekap pekatnya kabut kelabu. Rona kemerahan mulai mengintip dari celah langit sebelah timur.

Kumelajukan motor Jupiter-Z berstrip kuning. Jalan Ringroad Utara mulai padat dengan motor. Masih ada waktu dua puluh menit waktuku sebelum mask shift pagi. Di perempatan Monjali aku terhenti terkena lampu merah.

Setelah lampu hijau menyala kuberbelok menuju arah utara masuk ke jalan Palagan Tentara Pelajar.

Tak sampai sepuluh menit aku sudah masuk ke pintu gerbang Hotel Hyatt. Setelah memakirku Jupiterku, aku pun  mengambil kartu absen memasukkannya ke mesin waktu. Di tengah jalan aku ketemu Dina, Manajer Training. Aku pun menganguk hormat,

”Pagi, Bu!”

”Pagi juga!”

Setelah mengambil uniform-seragam- waiter dan towel aku menuju loker. Di loker kuambil sabun dan sikat gigiku. Setelah mandi aku memakai seragam. Aku bersitatap muka dan Mr. Founa Teguh, Assisten manajer Food and Beverages.

”Masuk pagi, ya?”

”Yes, Sir!” jawabku sembari kulempar tersenyum.

”Sampai ketemu di briefing!” katanya singkat

Aku pun menganguk.

***

Setelah briefing. Kami kembali memencar ke posisi masing-masing. Aku ke bagian Kemangi Bistro, bagian non smoking  area.

Peluh-peluh bercucuran dari dahiku. Breakfast time pun usai. Tamu mulai lenggang. Saatnya kini aku mengisi perutku.

Kuambil satu donat dan roti croissant-roti berbentuk bulan sabit- itu roti favoritku kala sarapan. Kuambil fresh orange jus. Mumpung supervisor belum nampak.

Setelah  menyesap jus dan melahap hinga habis donat di pantry belakang restoran, kukembali in charge di tempat jobku dengan perut kenyang.

Masih ada sepasang suami isteri yang sedang sarapan. Mereka melambaikan tangan ke arahku.

Aku pun mendatanginya.

”Morning, Sir! May I help you?” sapa standar servis di Hyatt.

“Morning. Could you pick me two cups of tea?” dengan wajah masam ia meminta.

“Surely, Sir! Anything else?”

“Nope!” jawabnya singkat

Aku pun menagmbil satu pitcher teh lengkap dengan susu.

“Would you like with milk, Sir?” aku menawarkan.

“No, thanks” jawabnya singkat.

Aku pun berdiri sekitar  lima meter dari pasangan itu.

Masih lekang dalam ingatanku pesan dosenku di kampus. Jika kamu menservis, jews-orang Yahudi- bersabarlah… kamu pasti dikerjain habis-habisan, mereka rewel, tak pernah puas dan lain-lain. Aku pun masih ingat pertanyaanku kala masih di kampus dulu, apa ciri-ciri orang Yahudi… supaya aku bisa berjaga-jaga agar tidak terbetik rasa amarah yang membuncah pabila melayaninya. Tidak ada ciri khusus orang Yahudi, itu kata dosenku. Memang  agak sedikit membantu, jika hidungnya mancung agak  berlebihan, kalau minta yang aneh-aneh.

Laki-laki itu melambai lagi.

Aku pun kembali mendekat.

”Could you pick me an omelete?”

Aku pun menganguk dengan lemas. Setelah aku bawakan pesannanya,  berturut-turut ia minta satu omelete lagi untuk isterinya. Lalu memesan lagi satu satu yoghurt, setelah kubawakan satu yoghurt ia kembali memesan stroberi yoghurt untuk isterinya.

Baru kali ini selama tujuh bulan menjadi waiter, aku dikerjai habis-habisan. Padahal seharusnya pasangan ini bisa memesan sekaligus dalam satu orderan saja, jadi aku tidak akan bolak-balik ke dalam Kemangi Bistro. Padahal, yang aku handle tidak hanya mereka berdua. Mungkinkah ini Yahudi? Jerit batinku…. pantesan saja kalau mereka bisa dengan santai membantai kaum muslimin di Palestina. Karena memang hobi mereka sangat suka melihat orang lain menderita. Termasuk mengerjaiku habis-habisan.

***

Lunch time.

Di meja bagianku duduk cewek bule. Kalau aku boleh menebak pasti dari Spanyol. Karena memang ciri parasnya berbeda dengan bule Amerika.

Tanpa basa-basi aku pun menawarkan minuman

”Hello! Madame, would you like Daiquri cocktail or Margarita?” itu memang minuman favorit dari orang-orang Spanyol. Makanya, aku pun tak sungkan menawarkannya.

“Thanks. I don’t drink! I’m a moslemah.”

Glek

Aku pun tersedak. Kena batunya deh. Aku terlalu pede mungkin.

“Oh. I’m quite sorry, Madame. I did’nt know.”

“It’s okay!”

“Could you gimme squash, please?”

“Surely, Madame. Which one do you like, orange or lemon squash?

“Orange squash please!”

“Wait a moment, I will be right back with your order.”

Karena bartender lagi istirahat. Maka aku harus membuat sendiri orderan itu.

Aku pun kembali ke meja cewek Spanyol itu dengan raut muka memerah karena malu.

“Are you moslem?”

“Yes madame.”

”Why are you not fasting?”

Ketahuan. Aku mencicipi minuman yang aku buat tadi. Ruang bar memang berhadapan langsung dengan Kemangi Bistro. Jadi cewek bule tadi pasti memerhatikanku kala membuat pesenannya.

Ketika kutaruh orange squash itu di mejanya dengan sejuta rasa malu.

“Be a good moslem, Guy!”

Singkat tapi langsung menyodok ke ulu hati. Aku pun hanya menganguk lemah.

“Enjoy your drink, Madame. Thank you for reminder!!”

“Oh okay! You’re welcome.”

“Excellence service!” bisiknya sambil tersenyum. Siapa yang meragukan kualitas pelayanan di sini. Hyatt Yogya memang sudah dikenal dengan servis no satunya di antara hotel bintang lima yang ada di Yogya.

“Thank you, hopely you’ll enjoy stay here, Madame.” Aku menyahut dengan senyum lebar.

Ia pun menganguk.

***

“Rizal…!” Mas Salam, musyrifku menegur.

Goyangan di pundakku mengoyak sepenggal kisahku. Aku pun tergeragap bangun dari lelap kantuk. Tadi malam aku memang lagi begadang. Pelanggan roti bakarku lumayan banyak yang datang.

“Maaf, Mas, aku tadi ngantuk sekali.”

“Ya sudah. wudhu saja dulu, supaya segar kembali.”

Aku  pun mengambil air wudu di sayap utara masjid Kampus UGM.

***

”Kapan kamu naik Carnival?” kata Dedi temanku yang sudah dua kali kontrak di Carnival Cruise Lines, hotel terapung atau Kapal Pesiar.

”Aku tidak jadi ke Miami, Ded,” jawabku singkat.

“Kenapa? Aku baru dua kali kontrak sudah bawa tiga ratus juta. Aku sudah punya rumah di Sleman dan satu mobil sedan. Apa kamu mau tetap jualan Roti Bakar terus?” tanyanya.

”Orientasi hidupku  sudah berubah, tidak seperti sewaktu kita kuliah di kampus dulu. Aku ingin menebus semua kesilapan jalanku. Aku hanya ingin mengharap tumpahan ridha Allah semata kini. Tidak apa-apa aku beroleh rejeki kecil asal itu bersumber dari harta halal.”

Dedi pun tertawa ngakak.

”Oke. Aku memang baru sadar. Engkau kini berubah. Mana jenggotmu kian panjang. Pakai celana anti banjir. Aku salut, Boss! Dulu, siapa yang tahu bahwa kamu akan berubah seperti kini!!”

Aku pun menganguk dengan senyum.

”Bumi selalu berputar, Ded. Dan aku mensyukurinya kini. Di kala aku terpesona kemilau duniawi, ada tamuku yang mengentak kesadaran imanku. Semoga kelak engkau pun akan beroleh itu.”

”Aku sulit, Zal… aku sudah tercebur. Makanya mandi sekalian, he-he-he!”

***

Setahun berlalu. Kudengar dari Anton temen satu kampusku kejadian tak sedap yang menimpa Dedi. Dedi-temanku- itu dismissed-dipulangkan- karena mengidap penyakit skizofrenia akut. Anton yang kutemui di rumahnya berceritera,

Dedi dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Setiap kapal berhenti di Port Miami atau San Juan, Kepulauan Karibia, ia kan menghabiskan waktu dan uangnya di Bar dan meja judi, berpetualang dengan gadis-gadis Meksiko yang jelita. Itu ceritera Anton kepadaku. Kala berkunjung ke kontrakanku di daerah Kentungan.

Ah, sungguh kasihan kawanku. Dulu sewaktu masih sama-sama training di hotel Hyatt Regency Yogya. Dialah yang paling alim, tak pernah tinggal salat, rajin puasa Senin-Kamis, tak pernah minum-minum, tapi kini? Ah, semoga Allah masih menyisakan secercah cahayawi fajar iman teruntukmu, Sahabatku. Desahku.

Alhamdulillah! Ya Allah! Engkau masih menyisakan umurku untuk mengabdi untukMu. Mengikis awan kelam hidupku dengan fajar iman. Aduhai embun-embun dosa, menitiklah dari daun dan keping hatiku. Karena cahaya hangat fajar pagi telah menyapa.

Alhamdulillah, usaha roti bakarku di daerah kampus UGM semakin laris. Kalau dulu hanya mangkal dengan gerobak kini sudah memakai tenda. Selain itu aku memodifikasinya dengan menambah menu minuman squash dan sherly temple. Roti bakar plus minuman bercitarasa hotel bintang lima. Itulah tagline roti bakarku.

Yogya, 17 Juni 2008 19.52

15 responses »

  1. adivictoria1924 says:

    :-??

  2. anabel rosetti says:

    *speechless*
    perjuangan saudara2ku, tak terasa ada butiran yg memenuhi rongganya T_T

  3. adi Victoria says:

    alhamdulillah kalo ana sekarang langsung “nyrubut” ke buffet nya =))

  4. tiara says:

    hmmm,,,cerpen ya,,,,cerbernya juga dunks,,, ^_^

  5. tiara says:

    cerpen ya? kenapa ga buat cerbungnya juga? ^_^

  6. adivictoria1924 says:

    menangis karena ana harus berjuang melawan “badai” di tempat kerja.

    plus mau ketawa kalo baca yang ini “Kuambil satu donat dan roti croissant-roti berbentuk bulan sabit- itu roti favoritku kala sarapan. Kuambil fresh orange jus. Mumpung supervisor belum nampak.”

    =))

    sama aja ya ternyata dengan staff ana😀

  7. adivictoria1924 says:

    T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s