Tenunan jiwa; Desi Sommalia Gustina

Malam ini sangat melelahkan, sudah tiga cerpen yang berhasil aku rampungkan dalam waktu tidak lebih dari empat jam. Walaupun hasilnya berantakan tapi aku senang. Target dalam minggu ini harus selesai sepuluh cerpen sudah terkejar.

”Ini pilihanku! Aku harus tetap menulis!” Tekadku.

Ya, aku tak mungkin berhenti menulis, yang sudah menjadi bagian dalam hidupku. Walaupun karya yang aku hasilkan tidak membawa keuntungan secara materi, tapi ada kebanggan di hatiku. Itu karena dari awal tujuanku menulis adalah berdakwah dengan pena. Semampuku aku berusaha membuat tulisan uang mencerahkan dan mendidik bagi masyarakat. Aku bercita-cita membuat cerpen lebih dari seratus dalam waktu tiga tahun kedepan. Tercapai atau tidak itu urusan nanti. Dan mulai dari sekaranglah aku mencoba merangkai mimpi-mimpi indahku itu.

Aku tahu Ayah tidak suka anaknya menjadi penulis. Permasalahannya karena  lebih dari empat puluh naskah yang aku kirim semuanya ditolak redaktur. Tidak ada honor. Karena belum satupun yang berhasil dipublikasikan.

”Ayah ingin lihat kamu hidup dengan mapan dan dapat kerja yang layak, itulah sebabnya Ayah menyekolahkan kamu jauh-jauh,” ujar Ayah ketika melihat aku hanya menghabiskan  tinta print atau berjam-jam  di depan komputer.

Aku diam saat itu, jujur, aku bingung mau menjawab apa.

Ayah hanya seorang petani kelapa, selama ini membiayai kuliahku hanya dengan hasil panen kelapa yang diperolehnya setiap tiga bulan.

”Ayah pilihkan kamu kuliah di Fakultas Hukum karena Ayah mau lihat kamu menjadi pengacara, bukan jadi penulis seperti yang kamu lakoni sekarang,” ujarnya lagi.

Aku tak berani menjawab.

Ayah mungkin kecewa padaku. Biaya kuliahku selama ini memang berat, apalagi aku kuliah di perguruan tinggi swasta, uang yang dkeluarkan jauh lebih tinggi. Titelku yang sebagai Sarjana Hukum pun tidak ada gunanya saat ini. Jika menurutkan perasaan, mungkin sudah lama aku berhenti menulis. Godaan untuk tidak menulis semakin besar.

”Buat apa sih kamu bikin cerita fiksi? Pekerjaan yang lebih identik dengan pembohongan,” kata Mira, salah seorang temanku di kampung.

”Tapi yang aku buat kan Islami?”

”Mekipun Islami bagiku tetap saja bohong. Kalau tidak bohong apa ada cerpen itu yang nyata?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering mencecarku. Namun, aku bertekad walaupun aku tinggal di kampung dan tidak pernah lagi bergabung dengan komunitas yang selalu menguatkan seperti di kampus dulu, aku tidak ingin lebur bersama angin. Untuk mengisi hari-hariku, aku terus berlatih untuk mengasah kemampuan menulisku. Karena setiap kali aku ingin terjatuh, aku mencoba mengingat kalimat penyemangat dari seorang ustadz yang bergiat di bidang penulisan, ia mengatakan bahwa bakat adalah kemauan keras dan kerja keras yang diasah terus-menerus.

Aku tidak peduli apakah cerpen yang aku buat diterima atau tidak, yang penting bagiku membuat dan mengirimnya ke redaksi. Karena sejak awal aku sudah meniatkan kegiatanku sebagai ibadah. Apalagi saat ini banyak novel-novel remaja dengan genre teenlit dan chicklit yang jauh dari nilai-nilai Islam.

”Suatu saat aku ingin para remaja-remaja itu berbalik mencintai sastra Islam,” tekadku pada diri sendiri.

Aku tidak hanya mengirim karyaku ke satu majalah. Lebih dari tujuh redaksi kukirimi cerpenku dalam bulan ini. Aku tidak hanya membuatnya untuk remaja, tapi juga membuat cerita pada majalah anak-anak. Usahaku tidak sia-sia, akirnya cerpen pertamaku berhasil menembus redaksi majalah remaja Islam ternama.

”Ririn, berapa honor yang kamu terima dari cerpen pertamamu?”

”Alhamdulillah, lumayan  Yah, sekitar dua ratus ribuan gitu kata teman yang cerpennya udah sering dimuat. Tapi Rin, belum dapat honornya, kan baru terbit semalam.”

”Sampai kapan kamu mau jadi penulis?” tanya Ayah datar.

”Selagi Allah mengizinkan, Rin akan terus menulis.”

”Yah, Rin menulis untuk memperbaiki kualitas diri, dan memberi pencerahan untuk orang lain yang membaca karya Rin,” kataku memberi penjelasan dengan sangat hati-hati.

”Niat kamu bagus, Cuma sampai kapan kamu akan menjalani pekerjaan yang tak pasti seperti ini? Lebih lagi cerpen kamu baru satu yang dimuat. Lebih  baik cari kerja lain.”

”Untuk mencapai segala sesuatu itu butuh proses, Yah. Doakan agar karya-karya Rin lainnya semakin sering dimuat.”

Ayah tak berkata apa-apa menanggapi ucapanku.

”Yah, bulan depan ada test pengacara, Insya Allah Rin ikut,” ucapku untuk membuat Ayah senang.

***

Dua bulan telah berlalu. Pagi ini aku siap-siap untuk berangkat ke kota, pendaftaran test pengacara di buka hari ini.

”Lihat lagi syarat-syarat dan perlengkapan yang harus dibawa, jangan sampai ada yang tertinggal.” Ibu mengingatkanku sebelum berangkat.

Ayah sibuk memasukkan map-map kedalam tas. Ya, Ayah dan Ibu, tampak bersemangat ingin melihatku beracara di pengadilan.

Setelah semua beres, aku pamit kepada Ayah dan Ibu untuk ke kota. Jarak antara kota dengan kampungku sekitar lima jam menggunakan speed boat, sejenis kendaraan laut, yang merupakan satu-satunya sarana transportasi yang ada di kampungku. Aku harus menginap beberapa hari di kota, karena ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Lebih lagi speed boat yang biasa membawa penumpang dari kampung ke kota  itu tidak setiap hari ada, karena speed boat yang menjadi kebanggaan seluruh penduduk kampung itu hanya beroperasi tiga kali seminggu.

Tapi, ketika aku baru pulang sesuatu terjadi diluar dugaanku. Baru saja kau masuk kamar aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Aku tak menjumpai komputer bututku beserta tumpukan cerpen-cerpenku di sudut kamar.

”Ayah yang menjual komputermu, dia tak ingin kamu menulis lagi setelah kamu jadi pengacara nanti.” Ibu menjelaskan sebelum sempat aku bertanya.

”Tumpukan kertas yang berisi cerpen-cerpen Rin, Ayah jual juga?”

”Tidak, tapi sudah habis Ayah bakar,” jawab Ayah tiba-tiba muncul dari kamarku.

Seketika darah terasa naik di ubun-ubunku. Dadaku bergemuruh. Hatiku sakit seperti di tusuk. Jiwaku bergoncang hebat. Tinjuku mengepal. Cepat kulafalkan istighfar kala kemarahanku memuncak.

Tiba-tiba aku tak yakin apakah semangat dakwah pena untuk tetap konsisten melahirkan tulisan-tulisan yang diridhai Allah SWT akan tetap tumbuh di hatiku. Atau semngat itu akan lenyap seperti Ayah melenyapkan karya dan peralatan menulisku. Tapi, kalau semangat itu pudar, apakah aku termasuk orang yang berhenti dan menyerah berjihad di jalan Allah? Gumam batinku giris. []

Pekanbaru, Kamis 15 Nov 2007

Sumber: Majalah Sabili No. 11 TH. XV 13 Desember 2007

2 responses »

  1. zainal arif says:

    jangan pernah berhenti, karena dengan berhenti engkau akan terlindas dan terselimuti kemalasan, teruslah goreskan nuanasa jiwa dan pencerahan pemikiran lewat penamu….

  2. David says:

    Iya! Aku mencium bau cerpen disini. Dari awal paragraf tulisanmu, aku sudah tahu bahwa kau sangat menyukai fiksi.

    Teruslah menulis. Kau memang belum pernah diterima oleh penerbit tapi kau telah menerbitkan tulisanmu di blog ini dan ia bisa dibaca oleh semua orang di seluruh dunia. Sukses untukmu, Rin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s