Tenunan karya: apuindragiry

Langit Pekanbaru terselimuti lukisan membiru polos. Begitu mencerah. Secerah langit hatiku. Angin sepoi pun mengembus dengan semilir firdausi. Pondok Pesantren Babussalam menyambuti kami dengan rekahan barakah. Dedaunan pohon mangga berayun-ayun indah, seolah-olah ikut bergembira dengan hari nan membahagia.

Hari menyejarah itu akan tiba.

………

Aku tertegun dengan pikiranku yang melayang-layang tadi.

Ya Allah… tuliskan kepahaman dalam hatiku. Jagailah tinta ini untuk menari, membela dan berjuang di jalan-Mu. Hindarkan aku dari hal-hal yang membuat-Mu tak ridha. Barakahilah tiap tetesan tintaku yang mengalir ini.

Aku juga selalu teringat dengan untaian taushiyah dan penyemangat-gelora untuk meneteskan tinta di jalan dakwah, dari guruku tercinta KH. Abdullah Chalil Al Jawi. Sayangnya, beliau sekarang sudah pindah dan menetap di Yogyakarta. Karena menjadi dosen tetap di STEI HAMFARA dan mendirikan Ma’had Taqiyuddin An Nabhani. Segenggam taushiyah melalui e-mail-nya sungguh membakar gelorajiwa dan menajamkan pahatan ujung matapenaku.

”Thariq, terus kobarkan letupan-letupan api kreativitas untuk keagungan dan kejayaan dien ini. Cahayai dan kemilaukan pesona Islam lewat melembut dan syahdunya hamburan bait-bait hurufmu. Tapi, berhati-hatilah dengan ujung mata penamu. Jika engkau tersalah menata hati, ujung penamu bisa menenggelamkanmu ke dalam jurang petaka panas nan mengabadi. Dan engkau hanya akan beroleh buah zaqqum. Luruskan niatmu. Jangan engkau cari kepopuleran dan keselebritisan diri. Amalmu tergantung niatan awalmu. Jika niatmu hanya untuk menjadi penulis terkenal! Sungguh tersialah amalanmu itu dan di akhirat kelak, engkau hanya menerima kehampaan amal. Engkau hanya akan berlimpah sanjungan dan ketergelaran dan luapan semesta puja-puji manusia, saat inilah kesempatan setan  untuk menghancurluluhkan hasil jerih-payah kebajikanmu. Memang, namamu akan melambung melangit, tapi semuanya tiada arti di hadapan ilahi. Karena engkau telah tersalah menata hati. Aku kagum dengan warna lukisan kata-katamu. Jagalah… jagalah ia dari ketergeliciran niat. Sungguh sangat disayangkan, apabila kelebihanmu nanti engkau pergunakan untuk hal-hal yang tak beroleh pahala.”

Guru! Aku merinduimu. Rindu setiap perjumpaan denganmu. Rinduku untuk segenggam taushiyah teduhmu.

Setetes kristal bening bergulir dari pelupuk mataku.

Semoga tiap tetes-tetes tintaku, akan mengalirkan amal jariyah kepadamu. Tanpamu apalah arti guratan penaku. Aku menggumamkan doa.

Belum sempat aku menarikan jemariku. Hp-komunikatorku menjeritkan lagu ’Sambutlah’ dari tim nasyid Shoutul Khilafah. Ada SMS yang masuk dari KH. Abdullah Chalil Al Jawi,

Barakallahu laka wabaraka ’alaika wajama’a bainakuma fii khair! Semoga berkah Allah tetap untukmu, dan semoga berkah Allah tetap atasmu dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. Selamat jatuh cinta dan merayakan keindahan pesona cinta. Semoga dengan pernikahanmu ini, kamu semakin bergiat diri untuk mendakwahkan Islam lewat goresan-goresan indah tinta penamu. Abdullah Chalil Al Jawi dan keluarga.”

Aku pun tersenyum.

Guruku yang selalu perhatian. Meski kami sudah terpaut jarak yang merintangi permuajahan. Tapi hatiku dan hati guruku masih selalu terikat oleh simpul temali guru dan murid.

Aku pun mengetikkan SMS balasan untuk guruku,

”Terima kasih Kiai. Masih mengingat santri Mbelingmu ini, juga getaran indah doa-doanya. Semoga Allah Ta’ala selalu mencurahi Kiai dan keluarga dengan naungan dan limpahan berkah. Semoga kelak, Allah memberi kesempatan kepada saya untuk bisa bersilaturrahim ke Yogya. Kami yang tengah berbahagia, Thariq dan Habibah.”

Disusul oleh SMS,

”Jangan lupa, kirimkan karya terbaikmu yang sudah diterbitkan ke Yogya, ya!”

Kubalas dengan rona senang

Insyaallah…”

Terbayang dalam imajinasiku sekelebat wajah putih dan bijak guruku itu. Saat-saat indah ketika menimba ilmu dengan dia di kota Bogor dulu.

Tak berselang lama, datang SMS. Dari Ustadz Nadzif ,

”Semoga Allah membarakahi pernikahan kalian! Sungguh, sebuah melodrama cinta nan meliuk indah. Aku sungguh cemburu!!! Siapa yang menyangka, jika bidadari shalihahmu itu ternyata Habibah. Jangan lupa, cenderanikahnya disisakan satu ke Bogor ya! Kami yang turut mendoa, Muhammad Nadzif dan Ummu Zahra.”

Aku pun membalas,

”Terima kasih Ustadz! Insyaallah, cenderanikah terkhusus disisakan tiga untuk Ustadz dan keluarga. Jazaakallaah bi ahsanil kirom untuk bidadari shalihah-Nya nan terkirimkan ’melalui’ Ustadz dan Ustadzah. Salam takzim.”

Tersusuli dengan deritan sendu SMS dari seorang sahabatku di Universitas Teknologi Malaysia,

”Untuk sahabatku seperjuangan, untuk sang Pujangga Islam dari negeri peretas tulisan indah. Yang karya-karyanya begitu harum aroma dakwahnya, begitu bening untuk bercermin hati, mengkayakan dan juga menggizikan di relung jiwa. Terpetiklah sudah sang bidadari impian. Seuntai doa terpanjatkan, Semoga pernikahannya berbarakah. Dari yang selalu mengagumi ukiran hurufmu, sahabatmu serumpun dari bumi Melayu, Malaysia. Sahabatmufillah, Nurul Izzah.”

Kubalas,

”Islam tak tersekati belahan pulau. Dia melintasi arakan awan. Dia  melawati negeri dan menyelami kedalaman samudera benua. Itulah citarasa persaudaraan hakiki, yang terajut oleh ikatan benang akidah memberkah. Kita telah tersatukan oleh satu genggaman bendera indah yang selalu terpatri di lubuk hati yang imani. Inilah bendera kebanggaan Rasulullah saw. Yang telah terlumuri oleh lelehan darah-darah syuhada Al Haidar, Sayyid asy Syuhada, Hamzah. Ya, hanya satu bendera Laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. Yang kini ’telah raib’ entah ke mana. Terlesap oleh limapuluhan lebih warna-warni bendera yang tak bermakna dan hina. Terima kasih atas bait doa indahnya. Juga atas sokongan letup bara dalam berkarya. Maaf, saya belumlah terlayak disebut sebagai pujangga. Saya hanyalah perangkai katajiwa, sungguh! Semoga kelak kita diperjumpakan di telaga indah Kautsar-Nya nan mewangi kesturi.”

Lalu berpuluh-puluh SMS susul-menyusul tiada henti dan langsung memenuhi ruang inbox handphone komunikatorku. Mereka semua adalah dari anggota Dunia Puisi Islami, komunitas dunia maya yang kudirikan dan kukelola. Ah, indahnya persahabatan nan terjalin karena kalimat Laa ilaha illallah.

Jemariku pun dengan lincah mulai menari-nari. Memahat  bait-bait syair hati. Muncullah judul yang kurasa hangat, romantis, melembut, dan menyahdu. Semoga bidadariku akan merasa senang dan tersanjung kala membaca puisi terkhususku ini.

”Nyanyian Hati untuk Sang Bidadari”

Ada pinta dalam bait kata

Ada senandung jiwa dalam syair hati

Ada kerelaan dalam melangitnya asa-cita

Kala cahaya cinta berpendar di taman hati

Rabb…

“Kuingin dia-lah sang belahan jiwa

Tuk menyempurna agama”

Kala mitsaqan ghaliza t’lah mematri kami

Rabb…

Izinkan kubisikkan kata

“Aku sungguh jatuh cinta padanya”

Kala senyum bahagia kami merekah

Rabb…

Kuharap pinta

“Tumpahkan barakah-Mu atas kami”

Kala ‘kusentuh’ ia dengan melembut

Rabb…

“Semoga kan menjadi taburan pahala”

Kala bahtera kehidupan terlayari

Rabb…

Kutengadah jemari

“Jadikan kami sepasang cinta

di dunia dan akhirat kami”

Kala ’bunga cinta’ kami bersemimekar

Rabb…

“Semoga mereka kan jadi pelita

Semoga mereka kan jadi lentera

Semoga mereka kan menjadi manikam jiwa

Semogalah mereka menjadi cenderacinta indah

Semoga mereka kan jadi senyuman bangga

Abi dan Ummi-nya di Alam nan membaqa”

Rabb…

Izinkan daku jatuh cinta

Kepada nan t’lah layak kuujarkan kata cinta

Rabb…

Izinkan daku jatuh cinta

Tuk seseorang

Nan t’lah teridha-terizini oleh-Mu[1]

Tak terasa airmataku jatuh mengguliri kedua belah pipiku. Kala kubaca dengan resapan-resapan  cinta, setiap bait puisi-puisi cintaku yang tertulisi di layar hp-komunikator.

Kelak, kala nafas telah berhenti terembus, jantung lupa mendenyut, aku kan menghadap-Nya dengan langkah-langkah gagah. Kelak, kala di Yaumil Akhir aku bukan termasuk segolongan pemuda yang dicibir oleh Rasulullah Saw. Ya, aku selalu teringat dengan hadits indah baginda Rasulullah saw. ”Orang meninggal di antara kalian yang berada dalam kehinaan adalah, bujangan.”

Hidupku kini memang telah berubah.

Separuh agama telah tergenapi tuntas! Sekarang, telah ada sesosok bidadari shalihah di rumah cinta mungilku. Ia yang akan setia menungguiku dengan segenap asa rindu, menyambuti kepulanganku dengan salam cinta. Mengecupku dengan keikhlasan bakti. Dan mengusapi kelelahan dan kepenatanku dengan siraman air hangat sehangat cinta.

Terasa ada sentuhan jemari lembut yang menutupi kedua pelupuk mataku.

Pandanganku pun menjadi gelap.

Membuyarkan lautan luh imajinasi dan memecah matasukma nan menari-nari seirama jemari.

Lalu jemari lembut itu terlepas dengan perlahan.

Kutolehkan kepalaku ke belakang.

Ada seulas senyuman termanis mengembang yang kini telah halal kunikmati. Sesosok bidadari duniaku menghampiri. Tanpa kusadari, karena keasyikan menulis membahasakan hati, Habibahku telah memasuki kamar tanpa menimbulkan retihan-retihan suara sama sekali.

”Kok, serius sekali. Sedang menulis apa?” tanyanya dengan kedua tangannya menggelayut manja di pundakku.

Kuhentikan tarian jemariku di atas keypad handphone- komunikatorku,”Lagi memahat puisi untuk Pelangi Bidadariku yang cahayawinya mengaduhai hati!” jawabku sambil menggodanya dengan kata-kata puitis.

”Dasar, Pujangga!” bibirnya memamerkan kerenyahan senyum. Dia lalu melihat tulisan-tulisan di layar handphone-komunikatorku yang barusan kuketik.

”Tapi, kamu suka kan, punya Yayang pujangga!? He-he-he,” godaku.

Mukanya langsung menyemu memerah.

Senyuman manis, halal dan melegit dari lawan jenis yang baru pertama kali kunikmati dengan  pandangan lekat.

Sungguh indah, saat senyumannya hadir dengan canda-canda penuh barakah.

Habibahku mulai menggelitik dan mencubiti perutku dengan lembut. Karena telah aku godai dengan kalimat puitis tadi.

”Ouwghh… ampuuun!” aku berteriak tertahan karena kegelian, sambil kuangkat jemari telunjuk dan tengah ke atas. Pertanda kalau aku melemparkan bendera kekalahan. Menyerah!

Aku memang paling anti digelitik. Karena aku memang ’alergi geli’. Dan itu sudah bukan rahasia umum lagi dan sering menjadi bahan ledekan dan gosip temen-temen di Markas Jundullah juga sahabat-sahabat satu kajianku.

Aku akan memilih bertarung smack-down satu lawan satu dengan George Walker Bush. Tapi,  sepertinya si Bush ini akan berlaku  curang, ia pasti akan menggandeng tangan Tony Blair, John Howard, Angela Merkel, Nicolas Sarkozy, Lee Kuan Yew, dan penguasa-penguasa muslim yang bersekongkol dan berkhianat untuk melawanku. Jika pun aku bisa mengalahkan kambrat-kambratnya Bush itu, sudah menunggu di pinggir ring dengan seringai buas dan licik sosok Condoleezza Rice, Dick Cheney, Paul Wolfowitz dan Donald Rumsfeld yang telah siap untuk menghajar dan mengeroyokku. Bush yang sombong dan maniak-minyak itu memang sudah terkenal akan kelicikan, kelaliman dan sikap kecurangannya (jangan-jangan dia memang terkena penyakit skizofrenia, penyakit gila akut, selain penyakit Islamphobia) jadi, aku sudah maklum kalau dia akan berbuat curang. Dia  yang telah membunuh ribuan kaum muslimin di Irak, Pakistan, dan Afghanistan. Bom-bom curahnya tak pernah memilih apakah korbannya itu wanita atau anak-anak.

Masih ingat dengan pidatonya sang Gembong Negara Teroris[2] ini,  di Kongres AS, 20 September 2001? Bush, sang Koboi dari Texas ini pun mengultimatum,

”Setiap bangsa di semua kawasan kini harus memutuskan: Apakah Anda bersama kami, atau Anda bersama teroris. Sejak hari ini, bangsa manapun yang masih menampung atau mendukung terorisme akan diperlakukan oleh Amerika Serikat sebagai rezim musuh.”[3]

Engkau mengikuti Bush, sang teroris atau mengikuti teroris?

Aku kira engkau tidak mengikuti dua-duanya. Karena dua-duanya sama-sama penebar teror dan penghancur kedamaian di dunia. Dan tentu saja, itu  bukan dari Islam dan bukannya jalan orang Islam untuk menyebarkan Islam dengan wajah kebrutalan dan kekejian seperti yang telah di opinikan oleh media Barat selama ini.

Terkenangkanlah daku dengan sebuah kisah yang mengetuk matasukmaku. Kisah yang termaktub dalam kitab masyhur, Ihya ’Ulumuddin, juz III. Terkisahkan oleh hujjatul Islam, Imam Al Ghazali, sebuah alkisah perbincangan antara Iblis laknatullah alaih dengan Nabi Isa bin Maryam alaihissalam, berkatalah Iblis kepada Nabi Isa:

”Katakanlah ya Isa; Laa Ilaaha Illallah. Lantas menjawablah Nabi Isa a.s.: Itu adalah perkataan haqq, tetapi saya tidak mau mengatakannya tentang apa-apa yang kau katakan, sebab di balik kebaikan-kebaikan itu ada penipuan-penipuan.

Maka, tertariklah sebuah  simpul benang hikmah dari paparan alkisah perbincangan antara Iblis dan Nabi Isa a.s. di atas. Bahwasannya sebagai seorang muslim, kita seharusnyalah menghindari cawan-cawan racun dari tuangan ide-ide kufur yang mereka kemas sebegitu indah yang ditawarkan oleh kaum kafir yang terwakili oleh Barat. Kalau perkataan haqq mereka saja harus dihindari, apalagi hujjah-hujjah semu mereka  tentang keindahan demokrasi, fanatisme nasionalis, keadilan HAM, kesetaraan jender, pluralisme dan liberalisme yang faktanya tidak terjamah oleh imajinasi dan gambaran menyeluruhnya pun hanyalah kesemuan belaka. Itulah tawaran ide-ide kufur yang terbungkusi racun ganas dari bisikan-bisikan iblis dalam wujud manusia, yang selalu mereka propagandakan di negeri-negeri muslim saat ini, sehingga menimbulkan perpecahan dan keterpisahan dalam lima puluh enam serakan lebih negeri-negeri muslim sejak runtuhnya Daulah Khilafah, Utsmaniyah 3 Maret tahun 1924. Idealnya, sesosok  muslim sejati harus dengan gagah berani menolak ide-ide itu. Karena Islam adalah peradaban agung nan terpancar laksana ya’qut dan marjan yang telah sempurna, yang membeda dan mempunyai sistem kehidupan yang khas juga memancarkan aura istimewa di semesta raya. Aku terkesankan dengan wasiat kebajikan oleh Sayyid Quthb dalam tafsir Fii Zhilaalil Qur’an, beliau  menuliskan… ’Bersabarlah, dan janganlah kamu dengar tawaran mereka (kaum kafir) untuk berdamai dan berkompromi di tengah jalan menurut perhitungan akidah. Mereka sungguh tidak akan mengajakmu kepada ketaatan, kebajikan, dan kebaikan, sebab mereka adalah orang yang suka berbuat dosa dan melakukan kekufuran.’

Di balik Barat, entah itu PBB, IMF, Bank Dunia dan organisasi-organisasi buatannya Amerika Serikat itu juga termasuk mazhab kapitalisme, ide HAM nan membuai, demokrasi nan jahili, kesemuan nasionalisme, kemusyrikan pluralisme, fatamorgana feminisme dan ketersesatan sinkretisme agama yang di dakwahkan oleh Amerika di negeri-negeri muslim selama ini ada cengkeraman tangan-tangan Yahudi yang menari-nari. Di balik cakar-cakar Yahudi ada selubung Zionisme Internasional yang berkonspirasi untuk mencaplok Palestina, buminya para Nabi.[4]

Sungguh Mahabenarlah kalam-Mu. Bahwa kaum Yahudi dan juga Nasrani takkan rela, sungguh tak terrela sebelum kaum muslimin mengikuti agama atau ajaran, budaya yang mereka bawa, hingga kaum muslimin terjatuh dan terperosok ke jurang kehinaan.

Aku juga akan memilih bergumul satu lawan satu dengan Ariel Sharon, sang pembunuh berdarah kotor -eh- dingin itu. ’Teroris Yahudi’ satu ini tak pernah menyesali kunjungan provokatifnya ke kompleks masjid al Aqsha pada 28 September 2000 yang memicu terjadinya pembunuhan terhadap lebih 3000 warga Palestina. Sosok yang sama pada tahun 1982 membiarkan terjadinya pembantaian 2000 sampai 3000 jiwa para pengungsi Palestina di kamp Shabra dan Shatila di Lebanon oleh pasukan kristen Phalangis.[5]Sesekali aku ingin menjotosi mukanya John Howard yang suka ’pecicilan’ itu di ring profesional, daripada digelitik orang. Sumpah!

”Kenapa, Yang? Kamu tak suka digelitik ya?”

”Maaf ya, Cinta. Aku memang anti digelitik,” ungkapku dengan rona memerah. Malu juga menunjukkan kelemahanku yang satu ini ke Habibah.

”Oh. Maaf ya Yang. Aku kan tidak tahu, kalau kamu tidak tahan digelitik.”

Habibah pun menghentikan gelitikannya.

“Kenapa tidak memakai laptop Habibah saja? Kan lagi tidak dipakai,” kata dia, sambil menunjuk laptopnya yang ada di hadapanku.

”Aku kan belum minta ijin ke kamu, Cinta,[6]jawabku diplomatis. Sambil kupandangi bulu lentik matanya.

”Kenapa memandangiku begitu sih, Yang?”

”Karena ada lengkungan pelangi di kelopak matamu nan menyinar indah.” Aku pun jadi teringat dengan petuah guruku, bahwa ”inti mahabbah atau cinta itu ada di kedua matanya wanita.”[7]Aku juga teringat perkataan Ibnu Hazm bagaimana pengungkapan cinta melalui isyarat mata. Kata beliau, ”Sungguh, isyarat mata memiliki peran yang sangat penting dalam mengungkapkan cinta. Tak hanya penting, tapi juga menakjubkan. Mata bisa menyatukan. Ia bisa menebar janji  maupun ancaman. Ia mengusir maupun menerima pertemanan. Ia bisa memerintah maupun melarang. Ia bisa menebar tawa maupun derita. Ia bisa memberikan jawaban maupun pertanyaan. Ia bisa menolak maupun memberi.”[8] Ibnu Taimiyah pun menambahkan, ”Dengan memandang, akan memperkuat rasa suka maka terjalinlah hubungan karena hati terikat dengan yang disukainya.” Isyarat mata adalah matasukma cinta.

”Maukah engkau mendengar sebait doaku kala kutatapi bening indahnya  pelangi di matamu?”[9]

”Mau, mau. Dengan senang hati dan sepenuh jiwaku, tentu  aku ingin mendengarkannya,” Habibah dengan raut muka begitu antusias ingin mendengar doa yang akan kupanjatkan.

Aku gemas juga melihat tingkahnya itu. Kusentuh lekuk dagu terbelahnya. Lalu kulantunkanlah senandung jiwaku dengan sepenuh penghayatan diri.

”Ya Allah… saat kutatap matanya yang bermata bening. Satukanlah  cintaku dan cintanya. Temalikanlah jiwa kami dalam simpul suci-Mu. Ya Allah… aku ingin segenap asa cintanya melebur di mataku, mendetak dalam jantungku mengaliri dan menderas di dalam arus darahku. Ya Allah… izinkan aku mengukir namanya dalam prasasti hatiku yang memanuskrip mengabadi. Ya Allah… saat kutatap teduh matanya,   kusenandungkan kidung-kidung cinta di langit hati, sungguh dialah cinta pertama dan dialah cinta tiada akhirku. Ya Allah… yakinkan  ke dalam lubuk jiwaku bahwa dialah belahan jiwaku yang terserak dulu. Ya Allah… inilah manikam jiwa yang dulu tersimpan di balik vas kehormatan dirinya, kini… izinkanlah kuambil manikam itu atas ridhaMu. Ya Allah… sungguh di matanya kulihat pesona bidadari shalihah yang akan menghiasi dunia-akhiratku dengan kerlipan cahayawi indahnya,” aku pun mengakhiri doaku dengan senyum-senyum simpul.

”Amin, amin! Sungguh, ini baru pertama kalinya kudengar kalimat-kalimat doa paling romantis, dan menggetarkan dinding-dinding jiwa juga bertaburan dengan untaian manik-manik mutiara-kata indah. Kamu kok bisa sih merangkai kata-kata yang menyentuh dan membuat aku melambung ke atas awang-awang. Aku jadi semakin sayang dan semakin jatuh cinta sama kamu.”

”Untaian kata-kata cintaku takkan hadir secara tiba-tiba, tapi ia memuncul karena ada pesona bidadari yang menginspirasi,” godaku.

”Ih, kambuh lagi. Dasar perayu maut.”

Keheningan senja menyapa di kamarnya Habibah.

…………. [bersambung]🙂


[1] Mohammad Fatih Indragiry, draf buku Puisi-Puisi Cinta, file. Judul puisi aslinya, Rabbi Izinkan daku Jatuh Cinta! Hal 148

[2] ”We should not forget that the United State itself is a leading terrorist state” Prof. Noam Chomsky, pakar linguistik di Massachussets Institute of Technology

Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hal 211

[3] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hal 214

[4] A. Maheswara, Rahasia Kecerdasan Yahudi, hal 71

[5] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hal 220

[6] Terinspirasi oleh obrolan hangat dengan sahabatku, akhifillah Trinov (Makassar) di kala online di Yahoo Messenger. Jazaakallaahu khairan katsiran! Untuk pesona  inspirasinya

[7] Sisipan lembar catatan pinggir kitab Ta’lim al-Muta’allim, oleh KH. A. Dimyathi Romli, Pengasuh Ponpes Darul ’Ulum Peterongan, Jombang-Jawa Timur. Tertanggali 14 Oktober 1998

[8] Ibnu Hazm El Andalusy, Di Bawah Naungan Cinta, hal 72

[9] Terambil sebuah judul lagu, Pelangi di Matamu, Group Rock, Jamrud

10 responses »

  1. shabrina says:

    Amin….
    Smoga dmudahkan Allah SWT..😀

  2. shabrina says:

    Ya nanti,, kalu bukuny udah d cetak n diterbitkan.. Hehe..😀

  3. shabrina says:

    Siiips… Siiiips…
    brarti nelvi dapat yg gratisan dungs..🙂

  4. shabrina says:

    bukannya acara bedah novel di Bandung itu ada di Bab 42 “Dan Kuncup Cinta pun Memekar” ya?? 🙂

  5. shabrina says:

    Hmmm…
    bang,, isinya koq sama kayak Bab 36 “Kecupan Bidadari Surga” ??🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s