Tenunan karya; Nafiisah FB

“Dinda! Ayo, Sayang! Mama telat, nih!”
“Sebentar, Ma!”
“Mbok, tolong lihat Dinda.”
“Iya, Nya.”
Pagi yang biasa seperti pagi-pagi sebelumnya. Pagi ini dan pagi kemarin diisi oleh suara nyaring Ayu memanggil Adinda.
Jarum jam mendekat ke angka 7. Adinda belum datang ke ruang makan.
“Pagi, Mama.”
Adinda akhirnya muncul juga. Gadis imut itu membetulkan sebentar kerudung mini yang menghiasi kepalanya.
Senyum mengembang dari mulut mungilnya. Sumringah! Itu terpancar jelas di wajahnya. Ada hasrat yang ingin diutarakannya, namun tertunda. Ayu sedang sibuk menerima telepon dari seseorang. Hanya rambut terurai dan punggungnya yang bisa dipandangi Adinda.
“Oke. Gini aja, Bram. Kamu temui dulu Bu Liz dan rekan-rekannya. Saya akan ke sana sesegera mungkin. Oke, Bram? … Oke. Thanks.”
“Mama …”
Adinda masih tersenyum. Sumringahnya masih ada di wajahnya, masih berharap ada senyum yang sama di wajah Ayu.
“Hei, Sayang. Sori, ya. Mama harus pergi sekarang. Kamu, sih. Bangunnya telat. Rajin belajar. Baik-baik main sama teman. Kalau Tante Rosa belum jemput jangan keluar kelas. Understood?”
Adinda mengangguk. Dia mengerti wejangan panjang-lebar yang telah dihafalnya di luar kepala.
Ada senyum itu memang di wajah Ayu, tapi bukan bentuk senyum yang diharapkan Adinda. Ada kecupan itu di kening dan pipinya senantiasa, tapi dingin dirasakan Adinda.
Ayu bergegas melebarkan langkah. Kunci mobil yang terletak di atas kulkas cepat disambarnya. Adinda hanya mampu menangkap bayangan tubuhnya.
“Selamat ulang tahun, Mama,” lirih suara Adinda.
Dia menggerakkan sebuah kotak dengan bungkus kado yang tidak rapi ke hadapannya. Sejak tadi dia sembunyikan di balik punggungnya. Ada bening di kelopak matanya.
“Adinda sayang Mama.” Semakin lirih suara Adinda.
Air jatuh dari matanya mengaliri dua pipi chubby-nya. Setelah itu tidak lagi lirih. Adinda diam hingga makan pagi usai ditunaikan.

oooOooo

Anak-anak usia empat dan lima tahun berlarian kesana kemari, dalam riang, dalam canda, dalam senda. Beberapa tertawa atau tersenyum lebar memperlihat bagian depan gusi yang tanpa gigi.
“Dinda, kamu kok duduk aja di sini, sih? Main sama kita, yuk!”
“Iya, Din. Enggak enak kalau main ayunannya enggak baleng kamu. Yuk!”
Dinda menoleh ke dua sosok sebaya di hadapannya. Ratih “The Fatso” dan Ambar “Si Cadel”. Kemudian gelengan lemah diperlihatkannya.
“Yaaaah, kok enggak, sih!” protes Ratih.
“Kamu sakit ya?” Ambar duduk di sisi Adinda dan mengulurkan punggung tangannya ke kening Dinda. Lagaknya persis seorang ibu yang mengecek suhu tubuh anaknya.
“Aku bilang ya sama Bu Farah,” ucap Ratih melembut.
“Jangan!” teriak Adinda.
Ratih dan Ambar sontak.
“Jangan bilang Bu Farah! Aku enggak sakit! Aku enggak sakit!” teriak Adinda lagi. Matanya membelalak. Ada marah tersurat.
“Bu Faraaaaaah!” Spontan Ratih berlari menjauh.
Ambar tetap di sisinya, namun perlahan beringsut menjauh dari Adinda.Takut.
“Dinda….”

oooOooo

“Dinda. Kok, dari tadi diam aja, sih? Tante Rosa masa’ dari tadi dicuekin gitu?”
Rosa tersenyum, mengajak Adinda tersenyum. Rosa, dia adik Ayu, sedang berada di belakang setir. Adinda masih diam, memperhatikan jalan dari kaca jendela mobil.
“Din, kita ke Rice and Noodles, yuk! Kan, udah lama kita enggak makan di sana. Sekalian ke taman bacaan. Gimana? Oh, iya. Sekalian juga kita berdua beli baju muslim. Tante mau beli jilbab, nih. Dinda mau, kan?”
Dinda tetap diam, tetap mengarahkan matanya keluar.
“Din?” panggil Rosa sekali lagi.
“Dinda enggak mau makan. Dinda enggak mau ke taman. Dinda mau Mama. Dinda mau Mama yang beliin Dinda baju muslim,” ucap Dinda pelan, tanpa jeda, tanpa mengalihkan mata dari jendela.
Rosa menghela nafas panjang. Genggamannya menguat di atas kemudi. Ada resah di pikirannya.
Lampu merah terlihat menyala di kejauhan. Rosa menghentikan laju mobil perlahan.
“Lihat Tante!”
Tiba-tiba suara cempreng Adinda menyela. Tangan mungilnya menarik-narik baju panjang Rosa.
Rosa menoleh ke arah telunjuk Adinda. Hanya seorang ibu pengamen yang sedang mengendong seorang bayi, itu saja yang dilihat Rosa.
“Hmmm, maksud Dinda ibu pengamen itu?” Rosa mencoba klarifikasi.
“Bukan!” Adinda menggeleng kuat.
“Terus?”
“Adek bayi itu!” Tunjuk Dinda sekali lagi. Sekilas Rosa melihat binar di mata Adinda. Dia semakin tidak paham.
“Maksud Dinda?”
“Adek itu pasti seneng deh bisa bareng terus sama ibunya. Dinda pengen ah jadi adek itu, Tante!”
Senyum cerah Adinda tampak nyata. Senyum yang dinanti Rosa. Namun, Rosa hambar melihatnya. Tangan Rosa menjadi kaku. Lidahnya kelu.
“Ya, Allah. Maafkan hamba-Mu. Maafin Tante, Din. Tante enggak bisa selalu nemenin kamu,” batin Rosa terus bersuara. Ada resah di pikirannya
Lampu merah berganti hijau. Mobil kembali dilajukan. Si Ibu Pengamen kembali ke pinggir jalan. Dinda berusaha tetap menjaga Si Bayi tetap berada di jangkauan pandangannya. Namun, laju mobil menggagalkannya.

“Kamu itu ngomong apa sih?! Sejak kapan Mbak hanya mementingkan urusan Mbak?! Mbak melakukan ini juga untuk Dinda!”
Rosa mengejar Ayu yang akan keluar dari ruangan kerjanya.
“Basi!” respon Rosa dingin.
Ayu seketika menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badan, menatap Rosa tajam.
“Dia enggak boleh jadi manja! Dan sikap kamu yang seperti ini enggak membantu sama sekali!”
Ayu kembali menghadap pintu. Tangannya sudah mengarah ke gagangnya. Rosa segera berdiri di antara pintu dan Ayu.
“Kita lagi ngomongin anak umur 4 tahun, Mbak! Dinda memang enggak boleh jadi anak manja! Tapi, juga bukan berarti itu bisa jadi alasan untuk enggak merhatiin dia! Nemenin dia! Dinda butuh Mbak Ayu!” Rosa melampiaskan semua unek-uneknya.
“Are you telling me that I don’t care about my own daughter?!”
“Itu kenyataannya, kan!” tegas Rosa.
“Yang paling tahu tentang Dinda adalah aku! Mamanya!”
“Buktiin!” Tantang Rosa.
Ayu menatap Rosa penuh kemarahan dalam diam. Mereka beradu mata, beradu emosi.
“Ros, I’m very busy right now! I have more important things to do. So, please … kamu minggir,” perintah Ayu dengan suara tertahan.
“Jadi, bener, kan? Urusan Dinda emang enggak penting buat Mbak Ayu,” ucap Rosa dengan dingin.
Rosa menatap tajam Ayu. Kemarahannya telah sampai di puncak.
“Enough!” bentak Ayu.
Rosa masih berdiri tegak di antara pintu dan Ayu.
“Minggir! Tolong, Ros!”
Rosa perlahan akhirnya menyeret kakinya, memaksa tubuhnya bergeser menjauhi pintu. Ayu cepat menggerak gagang pintu dan berjalan cepat menjauh darinya. Helaan nafas panjang terdengar. Ada resah yang semakin dalam di pikirannya.

oooOooo

“Dinda! What are you doing?!” pekik Ayu memecah keheningan pagi di Minggu pagi. Dia dengan marah mematikan kompor gas.
“Mbooook! Mbok Ngatmi! Mbooook!”
“Iya, Nyonya! Iya!” Mbok Ngatmi, wanita paruh baya, itu tergopoh-gopoh menghampiri suara Ayu.
Ayu sedang berdiri marah di depan dapur. Pecahan kulit telur berserakan di lantai. Penggorengan berlapis teflon itu dilihatnya berisi telur dadar yang bentuknya tidak beraturan. Warnanya pun gosong.
Adinda berdiri pucat di hadapannya. Tangannya gemetar memegang gagang teflon.
“Dinda ngapain sih di sini?! Bahaya! Lagipula ini masih jam setengah enam! Masih terlalu pagi!”
“Dinda mau bikin telur dadar buat Mama. Mama kan suka telur dadar,” terbata Dinda memberikan penjelasan.
“Biar Mbok yang kerjain! Dinda enggak tahu gimana bikinnya! Dinda lihat?! Malah jadi berantakan! Sekarang Dinda taruh itu dan masuk ke kamar!” perintah Ayu sangat marah.
“Tapi Ma ….”
“Jangan bantah Mama! Masuk!”
Prang! Dinda membanting penggorengan dan segera berlari kencang menuju kamarnya. Telur dadar tidak berbentuk dan gosong itu berhamburan.
“Dinda! Stup …!” Ayu tidak meneruskan umpatannya.
Mbok Ngatmi segera membereskan ceceran telur dadar.
“Mbok!”
“Iya, Nya. Tad-tadi saya rapi-rapi di depan. Saya enggak tahu kalau Non Dinda masuk ke dapur dan masak telur,” jelas Mbok takut-takut.
“Besok-besok jangan pernah membiarkan Dinda melakukan hal bodoh kaya’ gini lagi! Ngerti!”
“Iy-iya, Nya.”
Ayu segera membalikkan badan, hendak meninggalkan dapur. Rosa telah berdiri di sisi berseberangan. Mereka saling lihat sebentar. Hanya desah resah dan gelengan ketidaksepakatan yang bisa Rosa perlihatkan. Setelah itu Rosa pergi.

oooOooo

“Dinda bodoh, ya, Tante? Hu …hu … Dinda enggak bisa bikin telur dadar buat Mama.”
Dinda terisak mengadu dalam pelukan Rosa. Rosa membelainya sayang.
“Siapa bilang Dinda bodoh? Dinda bisa kok bikin telur dadar buat Mama. Yang paaaaling enak! Cuma memang Dinda harus belajar dulu. Kan, Dinda belum pernah bikin.”
Rosa memberikan senyumannya. Tangannya menghapus airmata Dinda.
“Iya, Tante?!” tanya Dinda antusias. Ada semangat lagi yang terlihat.
“Iya.”
Rosa mengangguk memberikan keyakinan. Perlahan senyum Dinda mengembang lalu pelukan sayang dia hamburkan untuk Rosa. Rosa tertawa haru.
Tanpa sepengetahuan mereka, ada sepasang mata yang mengintai mereka sejak tadi. Sepasang mata itu kini basah.
Ayu menggeser tubuhnya dari pintu kamar Adinda. Dia menghapus air mata.
“Maafin Mama, Dinda. Mama yang bodoh.”

oooOooo

Seminggu berlalu.
“Kita kemana, Ma?”
“Kita ke Rice and Noodles. Terus, ke Time Zone. Atau ke Time Zone dulu ya? Enaknya gimana menurut Dinda?”
Ayu menolehkan kepala ke arah Adinda. Tangannya sibuk mengendalikan kemudi.
Adinda terdiam. Dia tampak berpikir.
“Kalau kita ke rumah Ambar aja gimana?”
“Ambar? Siapa?”
“Temen Dinda. Dia baik banget sama Dinda! Tante Rosa kenal, kok!”
Ayu tersenyum, namun dia tidak bisa menampik kalau dia cemburu. Rosa … dia lebih tahu tentang Adinda.
“Oke! Kita ke rumah Ambar sekarang! Dinda tahu arah rumahnya?”
“Tahu, dong! Kan, Ambar temen baik Dinda. Rumahnya Ambar di komplek dekat sekolah.” Adinda menjelaskan dengan semangat. Wajahnya cerah. Wajah cerah yang selama ini tidak dikenali oleh Ayu.

oooOooo

“Neng Ambar dibawa ke rumah sakit, Non Dinda, Bu. Kena demam berdarah. Baru aja tadi Nyonya sama Tuan pergi.” Si Bibi memberikan informasi.
“Bukan Dinda yang sakit, tapi Ambar,” pelan Adinda bersuara. Ayu menoleh ke arahnya, mencoba memperjelas pendengarannya.
“Ada nomor telpon mamanya Ambar, Bi?”
“Oh, ada, Bu. Sebentar.”
Ayu dan Adinda menunggu.

oooOooo

Ayu, Adinda, dan Rosa menunggu. Ambulans itu akhirnya sampai juga di pemakaman.
Papa dan Mama Ambar turun dari ambulans. Mata keduanya sembab. Kesedihan tiada tara sangat terlihat.
Adinda menatap keranda kecil itu lekat. Tidak ada air mata. Tidak ada suara dari mulutnya. Namun, Ayu tahu ada sedih mendalam di hatinya.
Ayu menggenggam tangan mungil Adinda. Adinda menyandarkan tubuhnya di tubuh Ayu. Tangannya memeluk erat pinggang Ayu.
Ayu lalu menggendongnya. Dia membiarkan Adinda merebahkan kepala di bahunya.

oooOooo

Proses pemakaman Ambar telah selesai. Ucapan bela sungkawa masih mengalir dari setiap orang yang hadir. Tangis masih terdengar. Mama Ambar terisak di bahu Papa Ambar.
Ayu dan Rosa menyaksikan dari seberang. Adinda masih dalam gendongan Ayu. Ayu masih membiarkan Adinda merebahkan kepala di bahunya.
“Dinda enggak akan ninggalin Mama. Dinda enggak mau bikin Mama nangis. Dinda masih mau bikin telur dadar buat Mama,” celoteh Dinda yang tanpa jeda terdengar parau. Dia menangis.
“I love you, Mama.”
“Dinda ….”
Ayu menatap Adinda. Air mata segera membuncah dari tempatnya. Ayu mendekap Dinda erat. Pelukan penyesalan. Dekapan harapan. Bahwa dia masih akan melihat Dinda sampai usia tuanya. Bahwa dia masih bisa menikmati hari-harinya bersama Dinda dan telur dadar buatannya.

Tamat

2 responses »

  1. David says:

    Cerita yang bagus kawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s