Sutera puisi: apuindragiry

Akulah sebulir itu

Akulah yang terdingin

Aku luruh bersama semilir angin

Gugurlah aku lantaran sengatan mentari pagi

Aku bersahabat karib dengan pepucuk daun

Aku juga berkarib dengan atap atap

Aku datang di kala petang

Dan aku berlalu di pagikala

Akulah sibulir kecil

Aku ingin berarti

Meski kutak berharap dikenang hati

Biarlah tetesan embunku

Bersama titik titik luruhnya

Biarlah…

Kutak peduli

Tasikmalaya 17012010 16:50

6 responses »

  1. dwi suwarno says:

    sang mentari…
    kini menyinari…
    hilanglah embun pagi…
    hi….hi…

  2. kang fa'at says:

    embun pagi
    hadirkan sanubari
    setetes bingkai menyegarkan naluri
    Allah begitu bijaksana dengan semua ini

    embun pagi
    hantarkan kesejukan ini
    berikan daku setetes inspirasi
    untuk menggapai ridho Ilahi

    hik hik hik hik

  3. embun..
    ketika terasa sejuk menyentuh ragaku
    embun…
    ketika tersa anyep menyerap seluruh energiku
    embun…
    bias kata yang hanya sukmaku kan mampu mengulitinya
    embun…
    saat terukir cinta antara aku dan langitku
    embun…
    saat itulah sang DIA tahu bahwa aku benar-benar membutuhkan-NYA

    salam…

  4. luvrain says:

    …..
    Aku ingin berarti

    Meski kutak berharap dikenang hati
    …..

    wah bagus,,,like this..

  5. shabrina says:

    Sebulir embun yang menambah keindahan di waktu fajar…
    Sebulir embun yg memberi kesejukan disaat gersang…

    Hehe.. Ga tau lgi lanjutannya..
    Blum bisa nyaingin bang Apu’ dlm merajut kata2..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s