Tenunan emas; apuindragiry

Hawa sejuk menampar-nampar jaketku. Semilir angin pagi mengembus dan menusuk-nusuk ke pori kulitku. Menembus jaket hitamku yang di belakang punggungnya tertulis SoS, Sastra of Soul, sebuah komunitas sastra yang baru aku bentuk beberapa bulan lalu di Markas Jundullah. Sebagai wadah meretaskan karya-karya jiwa yang bisa menggugah dan membangkitkan peradaban Islam. Komunitas ini murni terbentuk sebagai ajang saling silaturahmi dan kumpul-kumpul dan saling berbagi dalam menggali potensi-potensi diri untuk bergerak maju dan melontarkan ide-ide enerjik dan bergizi lewat tatahan huruf. Sebenarnya aku sudah mendirikan wadah asa kreativitas DPI, Dunia Puisi Islami, Cuma memang itu baru di dunia maya. Setelah didesak berkali-kali oleh teman-teman, terbentuklah SoS.

Motor Rizki berliuk-liuk menembus keramaian lalu lintas kota Bandung yang terkenal dengan kemacetan, karena tumpah-ruahnya angkot-angkot yang saling berebutan penumpang.

Jalan-jalan utama di Kota Kembang memang dijajari pohon-pohon besar di tiap sisi kanan dan kirinya. Bunga-bunga ditanam dan ditaruh di pot-pot besar. Menambah keelokan pesona dan kesejukan Bandung.

Motor pun menderum melesat dengan cepat dan mulai menyusuri ke arah utara Jalan Dago. Sampai di simpang empat kami membelok ke arah kanan melesat menyusuri Jalan Dipati Ukur. Sebelum sampai di Tugu Dipati Ukur yang sangat megah, Rizki lalu membelokkan motornya ke arah kanan jalan.

Kampus Universitas Padjadjaran, ternyata tepat di depan Tugu Dipati Ukur. Hanya sekitar lima puluh meter, motor berhenti di depan Masjid Al Jihad, Kampus Unpad, Dipati Ukur. Masjid ini berada di utara bangunan kampus utama.

Setelah melepas jaket dan helm standarku. Aku dan Rizki menuju ruang sekretariat yang terletak di Barat masjid. Di dalam ruang utama masjid, tampak panita yang sedang sibuk mengecek sound sistem dan LCD. Peserta pun mula berdatangan.

Kami berdua melangkah ke ruang sekretariat, masih satu gedung dengan ruang utama masjid Al Jihad.

Di sana telah menunggu beberapa orang. Menunggu kedatangan kami berdua. Acara baru dimulai sekitar lima belas menit lagi. Masih ada kesempatan untuk saling kenal, dan sejenak rileks.

”Assalamu ’alaikum!” aku beruluk salam.

”Wa ’alaikum salam!” jawab semua yang ada di situ.

”Thariq!” aku mengulurkan jemari dan memeluk tubuh mereka satu persatu.

”Ilham. Dari Samarinda. Tapi orang tua aslinya dari NTB.”

”Salman. Saya aslinya Padang.”

”Lukman. Dari Aceh!”

”Yogi. Dari kota empek-empek, Palembang.”

”Arif. dari Malang.”

Wajah-wajah cerah penuh optimis dihiasi rekahan senyum bersahabat itu memerkenalkan diri dengan pendar riang. Menyambut saudara baru, ikatan batin baru, memerluas jaringan asa persaudaraan sejati, dalam genggaman akidah islamiah.

”Alhamdulillah. Akhirnya saya bisa berkunjung ke Bandung. Ini adalah pijakan langkah pertama saya di kota yang begitu memesona. Apalagi bertemu dengan sahabat-sahabat baru yang luar biasa.”

”Ah. Mas Thariq bisa saja. Menurut aku sih Bandung biasa saja,” Lukman menyahut.

……………….

Di kala bedah novel berlangsung.

[ Di scene Panggung utama …] saat ini…

Lukman, sang pengantar acara lalu mulai membuka acara. Lalu gema-gema kelembutan bacaan Ayat-ayat langit dibacakan. Setelah pembacaan tilawah Al Quran usai. Menyusul beberapa patah kata dari paniti acara.

Salman, sang moderator lalu mulai membuka acara bedah novel.

Dilanjutkan dengan sambutan Mas Rahmat yang mewakili penerbit Quds berbicara memberi sepatah kata.

Pembedah pertama oleh Jamaludin, ketua LDK Universitas Padjadjaran, Dipati Ukur, Bandung. Aku memang dapat kesempatan terakhir.

[ Sementara itu, di scene yang lain.. (maksudnya aku gitu loh!! Pembacaku terhormat) ] sambil nunggu giliran membedah novel pertamaku.

Selintas kulihat barisan ikhwan yang ada di hadapanku kurang lebih ada seratusan. Sedang barisan akhwat di lantai atas lebih banyak lagi.

Aku tersenyum.

Sambil menunggu giliran untuk membedah novel pertamaku ini, kuambil handphone komunikatorku yang sudah ter-silent dari sarung handphone di pinggang kananku. Kukirimkan SMS rindu untuk Habibah.

Assalamu alaikum wr.wb. Bagaimanakah kabarmu, Duhai Cintaku, Kekasih Jiwaku?”

Tak berselang lama kemudian handphoneku bergetar. SMS balasan dari isteriku tercintah,

Wa alaikum salam warahmatullah wa barakatuh. Yayangku tercintah, honey bunny sweety-ku di ujung semesta rinduku. Alhamdulillah, di sini rembulanmu itu tetap berbinar dengan cahayawi indah:)”

Belum sempat aku mengetikkan SMS selanjutnya. Handphone-ku bergetar lagi.

”Yang! Di sini aku diterpa badai hampa.”

”Hampa! Kenapa? Masih ada Abah dan Ummi yang menemani, kan?” balasku.

”Rasa hampa, karena sang sandaran jiwa kini tak bisa kuraih jemarinya.”

Aku tersenyum dibuatnya.

Kelihatannya virus pujangga telah menyebar dan merasuki di benak isteriku. Sungguh, orang yang jatuh cinta tidak mempunyai kegembiraan dan kesenangan kecuali jika bersua dengan orang yang dicintai. Berpisah dengan kekasihjiwa merupakan deraan siksa yang berat untuk ditanggung baginya, pun meski perpisahan itu hanyalah sementara.

”Isteriku, ada yang ingin kutuliskan segumam senandung jiwa terkhusus untukmu. Berkenankah dikau membacanya?”

”Tentu, Sayang! Setiap denting cintamu membuat kuncup bunga di taman cintaku kian memekar. Setiap tatahan kuastintamu mewangikan langit-langit cintaku hinggan kian berwarna biru cerah, secerah kala kutatapi wajah teduhmu. Setiap goresan kuasjiwamu laksana embusan semilir angin yang meniup-niup memadamkan gelora jiwaku yang kian membara. Setiap celupan tintamu membuat kain polos sutera hatiku begitu berwarna indah dengan pendar-pendar lukisan cinta.”

Kuketik SMS dari lagu khas melodi zapin Melayu, ’Engkau Laksana Bulan’

”Engkau laksana bulan

Tinggi di atas kayangan

Hatiku dah kautawan

Hidupku tak karuan….”

Jawaban Habibah meneruskan penggalan lagu, ’Engkau Laksana Bulan’

”Mengapa ku disiksa

Mengapa kita bersua

Bercumbu dan bercinta

Tetapi akhirnya menderita

Kautinggalkan diriku…”

Dengan senyum mesem aku membalas,

”Bersabarlah, Cintah! Di balik keterpisahan sementara ini, ada api cinta yang selalu menyala. Ada letupan rindu di ujung hatiku hanya teruntukmu seorang.”

”Sesungguhnya selaksa rindu itu kini kian menjajahi jiwaku:)” jawab Habibah. Lalu ia pun melanjutkan,

”Dan, dan a-a-aku takut ada cahaya bulan lain yang memikat jiwamu.”

Aha! Kena deh!

Tebersit di pikiranku untuk menggodai degup-degup perasaannya.

”Cinta. Tahu tidak? Di sini ada ratusan bidadari, lho.”

Aku senyum-senyum simpul ketika kuketikkan SMS ini. Sambil kupandangi kembali dengan sekilas barisan para akhwat yang berjubel dan memenuhi di bagian lantai atas masjid Al Jihad.

”Hm, begitu ya!!! Tuh, benar kan??? Baru tak bersua denganku sekejap saja sudah berani mencoba melirik bidadari lain.”

Aku tersenyum geli.

Pancinganku mengena. SMS cemburunya makin membinarkan rasa cintaku untuk Habibah. Cinta dan cemburu adalah bumbu luh kasih sayang yang teracik di antara dua manusia yang sedang dilanda badai asmara. Cinta tanpa penyedap rasa cemburu akan terasa hambar di rasa. Ibarat olahan sayur asem, kurang nendang dan menggigit rasa garam, dan kurang berasa kuah asamnya. Tapi, cemburu berlebihan juga akan menimbulkan petaka.

”Ehem. Ceileee, yang lagi cemburu! Tapi, tahu tidak? hanya ada satu bidadari yang selalu terpahat di takhta hatiku.”

Aku pancing dia untuk mengejar SMS ini.

Benar saja …

”Siapa, Yang?”

”Bidadari itu bernama Habibah, Putrinya Buya Ahmad Baidlawi. Putri Melayu dari Pekanbaru yang selalu merajuk cemburu:)”

SMS Habibah datang lagi

”O. Terima kasih ya, Yang! Hatiku melambung di atas kayangan kini.”

Aku kembali tersenyum.

Pujian akan membuat wanita merasai hidupnya begitu berharga bak intan permata di mata sang kekasihjiwa. Lalu kubalas lagi,

”Sama-sama, Cinta.”

Kembali Habibah memekikkan SMS rindu. Ia kini memetik penggalan sebuah kidung sendu Melayu, Seroja

”Mari menyusun seroja bunga seroja

Hiasan sanggul remaja putri remaja

Rupa nan elok dimanja jangan dimanja

Pujalah ia oh sayang sekejap saja…”

Kadang orang jatuh cinta bisa merubah dunia, bahkan peradaban, dan membuat segalanya di semesta raya ikut bermelodi ria dengan nada-nada indah. Yang tak bisa bersyair pun tiba-tiba menjadi pujangga. Yang gagu bersenandung lagu pun kini menjadi fasih berdendang. Kubalas syair lanjutan lagu Seroja,

”Mengapa kau termenung

Oh adik berhati bingung

Mengapa kau termenung

Oh adik berhati bingung

Marilah kita oh sayang memetik bunga…”

Habibah kembali membalas,

”Bagaimana kutak berhati bingung pabila pelita hidupku tak menyala dalam jiwaku kini. Karena ia sekarang di seberang pulau, menyalakan damar ilmu untuk orang lain:)? Bagaimana aku kan bisa memetik ’bunga cinta’ pabila jemari lembut sang kekasih terpisah sejauh rentangan rindu.”

”Sekarang bukan termenung jangan bermenung. Janganlah engkau percaya dengan godaan selaksa gebu rindu. Karena ia kan datang kembali kepelukanmu dengan ketulusan hati, lalu menuntunmu menuju lembah cinta untuk memetik bunga pahala dan ridha ilahi semata.”

Hening.

Lima detik berlalu.

Hp-komunikator yang kupangku bergetar lagi.

”Yang! Tahu tidak? Apa tulisan yang kucelup dengan tarian jemari rindu di atas sutera putih cintaku kini?”

”Apa?” balasku.

I love and miss you so much.

Kubalas dengan rekahan senyum,

Me too, here.”

Ada tepukan lembut di pundak kananku dari Salman, sebagai kode khusus kalau sekarang adalah giliranku untuk membedah novel.

“Sudah ya! Sekarang giliranku membedah novel. Take care ya, Cinta!”

Balasan dari Habibah,

You too. Semoga acaranya berbarakah dan mencerah jiwa, mengubah dan membangkitkan pemikiran umat. Peluk cium jauh. Cup, cup, mmuahhh…”

”Selenting embusan doamu, semerdu bisikan lembut bidadari:) Nantikan aku di Bumi Lancang Kuning, Pekanbaru dengan semesta rindumu, yak!. Oh ya, jangan lupa! Kala kupulang nanti, aku kepingin sekali menikmati sedapnya lauk ’Ikan Patin’ buatan khususmu. Di Bandung agak susah nyari restoran khusus ikan patin. Wassalamu ’alaikum.”

”Halah! Kambuh lagi. Tentu, tentu aku selalu bersetia menunggumu, Sayang. Tentu, lezatnya ikan patin racikanku akan membuat makanmu berlipat-lipat esok. Karena bumbu khas pedasnya akan kutambahi dengan jemari tulus bakti dan kumasak dengan nada ikhlas selembut cinta. Jangan lupa cenderamata khas Bandungnya, ya! Wa ’alaikum salam.”

♥ ♥ ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s