Rajutan benang karya; apuindragiry

Hangatnya cahaya mentari pagi masih mengilat-ngilat dari ufuk timur dengan warna keperakan. Tebaran megapesona gunung Merapi terlihat berdiri dengan anggun dan kukuh di ujung utara Yogya. Tratak acara syukuran pernikahan Ihsan SH, dengan dr. Muthmainnah barusan dibongkar. Rumah mungil di komplek Samirono Baru di depan kampus UNY itu masih serasa lenggang.

Di ruang tamu yang sederhana nampak Ihsan dan Pak Abdurrahman sedang berbincang hangat. Sehangat seduhan secangkir cokelat yang menguap.

”Menurutmu, kenaikan BBM beberapa hari yang lalu melanggar hukum tidak, Nak?”tanya Pak Abdurrahman.

Ihsan, pengacara beken di bawah payung ’Tim Pengacara Muslim’ menjawab,”Saya harus jawab melalui pandangan hukum atau sesuai syariat Islam, Pak?” dengan hati-hati Ihsan balik bertanya.

”Lho, Islam mengatur masalah BBM juga, ya? Menurut Islam sajalah kalau begitu.”

Ihsan pun menganguk.

”Terlalu sempurna Islam itu, Pak. Tak hanya BBM saja, tapi pendidikan, kesehatan, dan keamanan pun Islam pun mengaturnya. Karena memang itulah kewajiban seorang penguasa sebuah negeri untuk melayani hak-hak rakyatnya. Dan penguasa diharamkam untuk memerjualbelikan hutan, minyak, dan air. Itulah mutiara hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.”

Ada seraut wajah terkejut yang nampak di mata Pak Abdurrahman, ketika mendengar penjelasan dari Ihsan, menantunya itu.

”Berarti selama ini pemerintah kita telah menzalimi rakyatnya, ya, Nak?”

”Benar sekali, Pak. Tak hanya zalim, tapi zalim sezalimnya zalim. Alias zalim sekali. Program BLT hanyalah tipuan dari pemerintah agar menutupi borok-borok kebijakan yang tidak populisnya. Kalau Bapak semisal diberi dua pilihan mendapat dana BLT namun BBM harganya melangit, atau tidak dapat BLT tapi BBM tidak naik, Bapak kira-kira memilih yang mana?” Ihsan menjawab dengan senyum.

”Seratus persen dan ini haqq, aku pasti memilih tidak dapat dana BLT tapi harga BBM tetap terjangkau dengan saku rakyat. Lha percuma saja tho, aku dapat duit seratus ribu, lalu semua harga sembako melangit. Karena naiknya harga BBM akan berimbas ke semua harga-harga kebutuhan pokok. Apa pemerintah tidak menimbang ekses dari naiknya harga BBM, ya, Nak?”

”Itulah penguasa yang tidak melayani rakyat, inilah penguasa yang minta dilayani rakyat, inilah penguasa yang mengkhianati amanah rakyat. Kebijakannya pun disetir oleh kaum penjajah ’kafir Barat’ lewat metode penjajahan ekonomi, politik, sosial dan lain-lain. Karena penguasa negeri itu sudah tidak punya kehormatan dan rasa malu di hadapan Allah SWT. Ia sesungguhnyalah telah menjual amanah ummah dengan darah rakyatnya sendiri.” jawab Ihsan.

Perbincangan pagi nampaknya kian menghangat saja. Andai khalifah Umar ibn Khaththab dan cicitnya, khalifah Umar ibn Abdul Aziz hadir di meja tamu itu, tentulah mereka akan senantiasa bahagia mendengar percakapan yang  peduli dengan jeritan ummat ini. Ah, andai saja…

”Oh ya, lalu kenapa BBM bisa melangit itu, Nak? Aku tak habis pikir dengan negeri kaya raya ini, yang begitu tak berdaya. Apa iya, karena imbas kenaikan harga minyak dunia yang melesat naik?”

”Waduh, Pak. Bapak benar sekali. Siapa yang meragukan melimpahnya kekayaan alam Nusantara ini. Bapak lihat sumur minyak di Dumai, Duri, Cepu, Cilacap, dan sumur-sumur minyak di tempat-tempat lain. Harusnya kalau minyak dunia naik, kita kaya-raya kan, Pak? Belum lagi tambang emas yang melimpah ruah di Papua, timah di Bangka Belitung, batu bara di Kutai Kalimantan Timur. Jadi alasan kenaikan harga BBM untuk menyelamatkan dana APBN itu hanyalah kebijakan tak populisnya penguasa. Kalaulah harga minyak dunia meroket, bukannya kita akan semakin kaya negeri kita ini, Pak?!! Karena kita juga memproduksi minyak.kita bukan importir minyak. Dan kita bukan selayak  negara miskin seperti Timor-Timur, bukan? Yang tidak mempunyai kekayaan sumber daya alam sama sekali!”

”O. Iya-ya. Baru kini aku menyadarinya. Sebabnya apa ya, Nak Ihsan? Bapak kok tidak habis pikir.”

dr. Muthmainnah datang dengan nampan berisi secangkir kopi dan  teh juga sepiring pisang goreng yang masih panas. Ia pun ikut nimbrung,

”Ini memang skenario jahat zionis Yahudi, Ayah!” lalu ia duduk di samping Ihsan, suaminya.

”Maksudmu bagaimana sih, Nduk? Aku tambah pening, Je?

”Begini Pak. Karena negeri ini sudah terjerat hutang, maka negeri itu sudah tak mempunyai kebebasan dan kemerdekaan. Bisa bapak bayangkan tiap tahunnya penguasa negeri ini harus menyetor bunga utang luar negeri sebesar 90 triliun, bunga untuk pembayaran hutang ini menyedot 40 % APBN, ini baru bunga hutangnya lho, Pak. Ibarat perahu ia sudah bocor di sana-sini. Tinggal menunggu karamnya saja. Negeri ini sudah layak disebut sebagai failed state-gagal negara/negeri bangkrut-. Dalam sebuah UU Migas tahun 2001, sudah disebutkan pemerintahan ini akan dianggap  melanggar MoU dengan Bank Dunia dan IMF apabila tak menaikkan harga BBM dan masih menyubsidi rakyatnya. Jadi harga 6000 rupiah per liter itu bukan harga mati, harga ini akan melesat naik beberapa saat lagi. Karena patokan harga ini masih melanggar UUD migas tahun 2001. Harga  seharusnya dalam MoU itu adalah 10.000 rupiah. Nah, jika itu sudah berlaku, barulah penguasa negeri ini akan dianggap patuh dengan perjanjian itu. Sebagai perbandingan, di Venezuela harga minyak per liternya hanya 300 rupiah. Di Iran, negeri para mullah itu harga per liternya cuma 1.300 rupiah. Ketika harga minyak dunia melangit, di Iran pemerintahan di sana malah menurunkan harga BBM.”

”Kok bisa? Lalu bagaimana Yahudi bisa jadi tertuduh dalam kasus ini? Kan mereka cuma negeri kecil yang bercokol dan menjajah di Palestina?”

dr. Muthmainnah pun kembali nimbrung.

”Ya bisalah,Yah. Yahudi itu memang sangat cerdik juga terkenal licik. Dalam bukunya yang berjudul Rahasia Kecerdasan Yahudi, A Maheswara menuliskan: ”Freemansory memberikan dukungan penuh pada lembaga supranasional seperti PBB, IMF, World Bank dan lain-lain. Dalam urusan politik, bangsa Yahudi mencetuskan ideologi seperti demokrasi, nasionalisme, komunisme, sosialisme, kapitalisme. Namun, di saat yang sama mereka sendiri (Yahudi) tak memercayai dan ideologi yang mereka tuangkan ke seluruh dunia. Termasuk di negeri-negeri Islam hingga kini. Nah, Indonesia termasuk yang berada dalam cengkeraman penjajah Yahudi, Ayah! Dan di belakang semua ini ada banyak korporat-korporat asing yang bersembunyi dan ingin mencicipi bisnis eceran minyak di SPBU,” terang dr. Muthmainnah.

”O. Jadi kelak yang jualan minyak bukan hanya Pertamina saja, tho? Lalu siapa saja yang ngecer?”

”Iya, Ayah. Jadi nanti selain dari Pertamina, ada Shell, Exxon Mobile, Petronas, PetroCina, Caltex. Mereka akan jualan minyak juga. Bahkan kalau Ayah sekaya Abu Rizal Bakrie, Arifin Paniogoro, Sudono Salim, Ayah juga bisa buka SPBU, lho!” jawab dr. Muthmainnah dengan seloroh canda.

***

dr. Muthmainnah terhenyak.

Baru dirasakannya tiga hari menikmati mahligai suci, baru tiga hari kuncup bunga cintanya memekar ke bumi, kini sang lebah tercinta berada di balik jeruji besi.

Di hadapannya duduk dengan tegar, Ihsan, dengan baju koko putih bercelana hitam. Waktu jenguk tinggal sepuluh menit lagi. Ruang tunggu di Polda Metro Jaya, Jakarta masih ramai dengan kunjungan sanak famili bagi yang didakwa.

”Mas… apa alasan polisi menangkapmu?”

”Entahlah. Mungkin gara-gara aku membongkar kasus NAMRU, membongkar makar penguasa dalam kenaikan BBM dan lain-lain. Kini mereka tidak terima dan menfitnahku dengan menaruh beberapa kilo gram bubuk putauw dan heroin di bagasi mobil. Inilah fitnah yang tidak bisa aku terima. Ketika ada pemeriksaan di jalan Gatot Subroto, aku pun tidak bisa berkutik. Yang menjadi pertanyaanku kini, siapa yang tega memfitnahku. Isteriku, kamu tahu hukuman apa untuk kasusku ini? Aku bisa di hukum mati, karena kesalahan yang tak pernah aku lakukan. Aku baru meyakini kini, betapa lebih keji fitnah daripada pembunuhan terhadap jiwa.”

dr. Muthmainnah menggenggam erat jemari tangan Ihsan.

”Sabar ya, Cinta! Aku memercayaimu. Aku bersama juangmu. Aku bersama tetes keringatmu dan aku senantiasa bersama dalam pesona tapak dakwahmu. Karena aku senantiasa ada teruntuk membersamaimu. Mereka boleh memenjarakan ragamu di balik jeruji, tapi mereka takkan bisa memenjarakan jiwamu, semangatmu, dan perjuanganmu. Ia akan tetap terbang dengan sayap-sayap cintanya ke mayapada.”

Ihsan tersenyum, ”Terima kasih! Atas kemengertianmu, Cinta.”

Dokter Muthmainnah pun menganguk dengan senyum.

”Isteriku. Kamu tidak menyesal, kan menikah denganku?”

”Tentu, Suamiku. Aku sudah tahu kelak bakal ada onak dan badai yang menyerbu mahligai cinta di antara kita.” sahutnya, ”dan aku pun kan selalu bersetia menunggu angin kebebasanmu.”

Ihsan pun menunduk haru. Lalu ia mengangkat muka. Memandangi bidadari salehahnya, bidadari bermata jelita, bidadari di ujung rindunya. Bidadari yang selalu ia pinta dalam sujud panjangnya kala malam menjelma.

“Istriku… kenapa engkau memilihku?”

“Karena engkaulah Pangeran impian jiwaku,” canda dokter Muthmainnah, sambil merebakkan senyuman malu. Memecah susana kelabu di ruang itu.

“Apakah karena parasku?”

“Bukan.”

“Lantas?”

“Karena perjuanganmu untuk menegakkan panji Islam. Dengan ilmu dan keahlian yang engkau miliki, engkau membela segenap kaum muslimin yang tak bersalah tanpa memandang kasta atau apakah mereka punya sesuap nasi untuk membayarmu. Engkau pun membela hak umat yang kini dizalimi, dan membongkar makar kaum kafir penjajah yang bercokol di negeri ini. Dan engkau begitu ikhlas menjalani dan membantu mereka. Karena itulah engkau menjadi mujahid impian hidupku. Jika karena paras, pastilah kan kupilih bintang film yang seganteng Nicholas Saputra, jika kupilih karena kekayaan, pastilah kupilih temanku yang dokter itu atau anaknya Abu Rizal Bakrie, pengusaha terkaya se-Asia Tenggara itu,  jika karena keturunan pastilah aku kan menikah dengan putra Kiai dari Pondok Pesantren Al Munawwir, Krapyak yang lulusan Universitas Al Azhar, Cairo!” goda dr. Muthmainnah.

“O, duhai penghuni bumi… duhai penghuni langit! Dengarlah senandung bidadariku!! Betapa tak salah kupilih engkau, duhai bidadari dunia-akhiratku. Duhai permata jelita nan senantiasa memancarkan kemilau kesalehannya,” sambut Ihsan. Lalu ia melanjutkan, “apakah engkau tahu resiko menjadi istri seorang pengemban dakwah?”

“Apa pun resikonya, aku kan selalu mencintamu sepenuh jiwaku.” dokter Muthmainnah mempererat genggaman tangannya, seolah-olah ia enggan melepaskan lagi  jemari kukuh tangan Ihsan, meskipun hanya sedetik.

“Bagaimana pabila kugugur di jalanNya? Pun bagaimana jika aku tak pernah lagi menatapi pesona rembulan teduhmu, Cintaku?”

Dengan linangmata ikhlas ia memeluk sang suami tercinta,

“Suamiku tercinta… engkau bukanlah milikku sepenuhnya. Engkau hanyalah titipanNya. Engkaulah anugerahNya nan terindah yang Dia peruntukkan khusus untukku. Engkaulah bingkisan terindahNya yang dipersembahkan teruntukku, dan aku pun terela… sungguh aku rela, pabila Allah menjemputmu. Karena kutahu Dia sayang kepadamu, karena Dia begitu mencintamu. Oh, duhai Cintaku, aku teringat dengan puisi jiwanya, Dante Alighieri, penyair masyhur dari Italia dalam Divina Commedia. Berkenankah engkau mendengarkannya sejenak, Kekasihjiwaku, Peneduh segenap asa rinduku?”

“Tentu, Cinta! Dengan sepenuh jiwaku aku akan mendengarkan bait-bait cinta dan selaksa rindu dari lisan mungilmu.”

Tu lascerai ogne cosa diletta piu caramente… artinya ”Engkau akan meninggalkan apa saja yang kamu kagumi…”

“Ah! sungguh puisi yang indah, dari lisan indah bidadari di ujung rinduku. Puisi nan menyimpan sejuta hikmah di balik kata indah!!”

“Yee… Masih ada lanjutannya, Sayang…”

“Oh, ya?!”

Tu proverai si come sa di sale lo pane altrui… maksudnya ”Engkau kan merasakan betapa asin dan pahitnya roti orang.”

”Ah. Ternyata ada juga dokter yang puitik. Jarang-jarang ada dokter ahli kandungan yang merangkap jadi pujangga,” canda Ihsan.

dr. Muthmainnah hanya bisa tersipu malu, karena mendapat pujapuji kata dari sang suami tercinta.

Pak Abdurrahman datang mendekat.

Nduk, KA Argo Lawu Jakarta-Yogya berangkat setengah jam lagi.” ia mengingatkan. Waktu kunjung juga sudah habis.

Jika ada pertemuan pastilah ada perpisahan. Seperti awan yang berarak di cakrawala, lalu ia kan menyelinap hilang di balik kaki langit. Itulah hukum alam yang fana, yang tidak bisa ditolak manusia, tetapi acap kali manusia melupainya. Dan setiap yang fana pastilah akan binasa.

Sang pangeran jiwa pun mengecup kening isteri tersayang. Diiringi degup-degup penantian rindu.

Ketika sang bidadari jelita menghilang dari bayangan mata.

“Duhai Rabbi.. kutitipkan ia kepadaMu. Akankah ia kembali mengisi relung-relung hatiku lagi? Kuserahkan jiwanya untukMu. Pun jika tak kutemui di dunia ku kan menantikannya di Taman AbadiMu!”

Derai-derai gulir airmata iringi pelepasan sang Kekasih jiwa

***

Di sebuah pekuburan di Terban, dekat dengan Mirota Kampus Swalayan, UGM. Di atas gundukan pusara yang masih merah. Pepohonan bunga Kamboja berderak-derak diterpa semilir angin hangat. Dedaunan pun meliuk-liuk meluruh ke bumi. Sesosok muslimah berjilbab krem, berkerudung putih dan dengan masih mengenakan pakaian dinas dokternya yang berwarna putih terang berdiri dengan membawa setanggi bunga.

Semilir doa ia embuskan,

”Duhai jiwa nan dirindui surga…

Duhai mujahid terpuja

Engkau telah kembali kepelukanNya

Engkau telah menunaikan baktimu ke bumi jihad

Aku bangga menjadi bidadari dunia-akhiratmu

Apatah engkau kini menantiku di surga? Ah, semoga…

Sesungguhnya, bidadarimu ini kini

Sedang dirundung badai dendam rindu.”

Tanpa diketahui oleh muslimah itu, sepasang mata licik memandanginya dari balik kaca mobil Toyota Yaris. Dengan lencana bertuliskan CIA yang tergeletak di dasbor mobilnya. Di jok sofa mobilnya bertumpuk-tumpuk buku dari Rand Corporation semisal, Moslem Word After 9/11, Moderat and Radical, US Strategies, Building Moslem Moderat, Civic Democratic Islam. Lalu mobil itu menderum dan melesat pergi dengan seringai kemenangan licik.

***

Malamnya. Sang al Musthafa, Nabi Saw. mendatangi sang bidadari…

“Mujahid terpujamu telah termandikan jemari para malaikat. Ia sedang menunggumu di Taman Awan Kenikmatan Abadi. Kecuplah pesona syahidnya dengan keikhlasan jiwa.”

Sang bidadari lisannya terkatup diam. Hanya mata jelitanya yang berbicara, dengan  menitikkan salju-salju putih.

”Kenapa engkau menangis? Apakah engkau menyesal mempunyai suami yang syahid di jalanNya? Aduhai bidadari dunia, tahukah engkau… bidadari surga kini sedang menatapmu dengan pesona cemburu.”

“Aduhai Al Mustafa, insan pilihan. Aku  menangis karena terpanah busur bahagia. Aku begitu merindui pertemuan dengannya, di taman perjumpaan abadiah rindu kelak.”

Al Mustafa, Nabi Saw. pun berlalu dari hadapannya. Hanya terdengar semilir sabda,

“Berbahagialah keluarga muda, nan beraroma semerbak wangi surga. Barakah! Barakah! Barakah!”

Senja pun mulai merayap turun ke bumi.

Guncangan dan celoteh Zainab, membangunkan dr. Muthmainnah dari jenak lelap. Mushaf Alquran masih terbuka di surah ar-rahman. Sajadah hitamnya masih hangat dan basah oleh guliran airmata.

”Bunda menangis, ya?” celoteh Zainab, ”Bunda ingat Ayah, kah? Ayah ganteng sekali ya, Bun…” lanjutnya sembari memandang foto Ihsan yang sedang tersenyum memeluk dr. Muthmainnah dengan mesra. Foto itu dipajang di dinding kamar. Foto sepenggal kenangan yang masih tersisa, kala mereka menjadi pengantin baru, dulu.

”Maafkan bunda, Sayang! Bunda tadi tertidur sejenak. Ayah kini sudah bahagia di atas sana, Sayang! Ia sedang menanti ’kedatangan’ kita…” butir-butir perak mengilat kembali jatuh dari pelupuk mata dr. Muthmainnah.

”Apa kita akan bertemu Ayah, Bunda?”

dr. Muthmainnah menganguk dengan senyum.

”Tentu.”

Lalu ia mengecup kening Zainab dua kali dengan selembut kasih.

Berjuanglah, Nak! Menjadilah mujahidah! Menjadilah bidadari salehah! Karena engkau adalah titisan seorang pejuang Islam, bisik dr. Muthmainnah.[]

Lakalhamdu… atas terselesaikannya cerpen ini.

Yogya nan menggerimismata, 21 Juni 2008 06.53

==================================

Keterangan

Al Musthafa: insan terpilih

Freemansory: Kelompok bentukan zionis Yahudi ini lebih menegaskan nilai humanis (kemanusiaan) daripada nilai religius (agama). Freemansory tak pernah memandang apa pun agama dari para anggotanya.

Je: (ungkapan khas di Yogya)

NAMRU: Balai kajian penelitian obat, USA di Indonesia. Baru-baru ini terungkap misi gandanya. Badan intelijen USA, berkedok tempat penelitian obat penyakit di Indonesia. Keberadaanya tak tersentuh sedikit pun oleh orang awam selama ini. Dan keberadaanya ditutup-tutupi oleh ’penguasa anteknya’ USA.

Nduk: Nak (bhs. Jawa. panggilan khas untuk anak putri)

Rand Corporation: adalah organisasi independen bergiat di ranah penelitian. Menganalisa, mencari solusi masalah baik masalah sektor umum dan khusus. Ia berafiliasi dengan Angkatan Udara (USA Air Force).

UNY: Universitas Negeri Yogyakarta (dh/IKIP)

10 responses »

  1. ciklien says:

    Subhanallah…

    Saya suka sekali cerita ini,saya mohon izin untuk mengcopy-nya di blog saya ya?Syukron…

  2. Alan says:

    Subhanalloh…sangat menyentuh sarat dg pesan2 moril bagi yg membacanya,,,

  3. suci - Ucrit says:

    sungguh natural….cukup emosional..

  4. Listy says:

    Subhanallah,sungguh indahnya cerpen ni . . .mmbuat siapapun y mmbaca seolah sungguh bs mrasakan stiap kjadian dcrpen ni . .

  5. AT TASIKY says:

    Subhanallah saya sampai meneteskan air mata berkali2 mbaca cerpen ini,sungguh rangkaian kata yang indah dan menyentuh menggambarkan ketulusan sang penulis.aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s