Tirai Tersembunyi, Di balik Menulis Fiksi apuindragiry

Ini beberapa hal yang biasanya apu’ perhatiin dalam menulis fiksi: tapi tips ini bisa juga digunakan untuk menulis puisi atau artikel (so..fleksibel ajah).

Ini menurut pengalaman apu’, bukan tips yang membaku kok, ditinggalkan juga nggak ’berdosa’ he3.

Mungkin kamu bisa mencari rujukan-rujukan buku tentang kepenulisan yang telah apu’ sebutin di bawah nanti. Kalau nggak beli, ya minimal fotokopi-lah.

Dalam catatan lembar kitab Ta’lim al-Muta’allim yang diwariskan oleh guruku KH. Dimyathi Romli (pengasuh, Ponpes Darul ’Ulum Jombang-Jatim) mewasiatkan ke apu’. Dari Sayyidina Ali ra. Memesankan syarat-syarat seseorang untuk meraih ’ilmu’ :

-Cerdas (dahsyatkan potensi berpikirmu dengan menulis)

-Serakah pada ilmu (latihan nulis plus gila baca)

-Sabar (semua butuh latihan dan proses panjang)

Biaya (beli buku dong!) hehehe

-Petunjuk dari guru (mentor menulis)

A. Step-step sebelum menulis:

1. Pentingnya kelurusan niat.

Niat sangat mempengaruhi bentuk dan isi tulisan. Di sini posisi niat sangat ’urgen’. Abu Hafs (Umar ibnu Khaththab) berkata: dari Rasulullah Saw bersabda:”innamal a’malu binniyat wa innama likullimriin manawa…” Rawahul Bukhari wa Muslim.

Tatkala niatan kita untuk menuliskan sesuatu untuk menyampaikan ide-ide ideologis, Insyaallah kata akan begitu mengalir dan kejernihan pikiran-pikiran kita akan memantul dalam ukiran huruf kita. Niat yang tidak lurus akan membahayakan dan hanya menghasilkan amalan kesiaan.

Saya tak akan memaksa kamu untuk menulis sesuai keinginan saya, tapi menulislah dengan jiwamu.

2. Pesan isi tulisan.

Ada yang ’pesan’ harus disampaikan dalam untaian kata-kata kita.

Ya… tulisan apapun pasti tak akan pernah kosong dari muatan-muatan tujuan dari penulisnya. Alangkah indah jika pesan yang kita sampaikan kepada pembaca bisa ’menggugah’, ’mengubah’ dan ’membangkitkan’ ummah.

Jika tulisanmu indah tapi tak mempunyai pengaruh dan menggizikan jiwa pembacamu, berarti kamu telah gagal dalam menyampaikan tujuan kamu dalam menulis.

3. Kekuatan Dalil atau rujukan.

Tatkala kita mengetikkan kata dan ide, insyaallah kita juga harus merujuk kepada kitab atau buku-buku yang bisa menguatkan opini yang kita sampaikan dan tentunya harus tidak menyimpang dengan Kitabullah dan as-Sunnah (ini yang paling penting).

Kenapa harus pakai maraji’?

Ya kalau kamu udah ngerasa menjadi seorang yang mempunyai ’kelebihan’ atawa kemampuan lebih tinggi dibanding ulama-ulama fiqih nan faqih seperti Imam Malik, Hanafi, Hambali dan Syafi’i maka kita boleh tak merujuk (karena kita memang faqir ilmu). Atawa kamu udah hapal al-qur’an

Atawa ribuan hadits maka kamu memang sudah layak untuk tak menggunakan  maraji’ (karena kamu sudah layak berfatwa). Kalau apu’ pribadi siih…jauuh, jauuuuuh banget dari semua itu. Makanya apu’ pake referensi.

Anyway …itu tergantung kamu kok, mau pake’ referensi atau tidak. Tohh apu’ nggak selayaknya memaksa orang lain untuk ngikutin caranya apu’ dalam menulis.

Kekuatan dalil akan memposisikan tulisan kita itu bukan tulisan yang sembarangan karena ada maraji’ (rujukannya). Atau…bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah (halaah…skripsi bangeeet hehehe), bukan asal nulis. Meski nggak seresmi menulis skripsi atau thesis atawa Tugas Akhir.

4. Sebagai Pilar Pengokoh tulisan.

Sebenarnya ini bukan kewajiban. Tapi sebelum apu’ menulis biasanya berwudlu terlebih dahulu. Agar ada kekuatan ’RUH’ dalam tulisan kita. Kalau tidak salah Imam Malik atau Imam Hanafi sebelum memberikan fatwa–fatwanya beliau berwudlu dan shalat 2 rakaat dulu.

Ohya, ini bukan ritual lho…nanti malah menjadi (bid’ah) akhirnya. Hanya mengusahakan agar ada kejernihan ruh dalam menulis.

5. Bercermin dari Hatimu

Imam al-Ghazali membekali muridnya Muhammad al-Fatih dengan kekuatan dan kejernihan cermin hati yang memutih (tazkiyatun nafs) tak ada niat-niat kotor, debu-debu dosa, kekayaan dunia yang menempel di hati sang syabab satu ini. Hingga kekuatan ruhiyahnya meluarbiasa dan meledakkan potensi dahsyatnya. Maka tak heranlah ketika benteng konstantinnopel bisa di taklukkan oleh Muhammad al-Fatih dalam usia 22 tahun. Muda, belia, bersahaja, tapi termampu menterjagai hati (tazkiyah an-nafs) dari kemilau dunia.

Sudah kah engkau memutihan niatmu dari kokotoran niat yang salah?

Kejernihan hati terperoleh dari pemahaman dan pola sikap dan ideologis jiwa yang benar. Jika pemahamannya salah so pasti hatinyapun terkotori. Jangankan untuk bercermin, untuk melihat wajah asli kita pun cermin itu tak mampu (burem bin butek bgt, hihihi). Maka janganlah heran apabila kamu melihat tingkah polah aktivis Islam Liberal dan para Islam sekuleris sikap dan katanya yang aneh2, karena pemahaman ideologisnya saja memang sudah salah, maka cerminnya pun memantulkan ideologi yang di baca dan dipahaminya. Maka memantullah, pluralisme. Sekulerisme, nasionalisme, demokrasi, kapitalisme dan lain-lain. (lhoo..lhoo kok kayak ceramah sih..afwan banget hehehe).

So…beningkan hatimu. insyaallah tulisanmu akan begitu menyentuhi jiwa, menggugah asa cita pembacanya dan insyaallah memanuskrip nan mengabadi di dalam hati sang penikmat kata.

6. ’Kekuatan Cinta’ menggerakkan Pena

Hihihi…sebenarnya ini adalah judul sebuah bagian draft Puisi-Puisi Cinta (spesial testimoni).

Cinta?….

beribu-ribu bahkan berjuta-juta syair berusaha mengungkapkan maknanya. Bahkan dalam jutaan lagu, penulis lagu dan penyanyi terinspirasi oleh satu kata ini CINTA.

CINTA bisa menggerakkan jiwa sang perindu cinta. Sabda Rasulullah saw.

”Tiga perkara, siapa yang tiga perkara itu ada padanya maka dia mendapatkan manisnya iman, yaitu: Siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya,……” (HR. Bukhari, Muslim,at-Tarmidzi dan an-Nasai)[1]

CINTA?

Kalau dia bicara padamu percayalah padanya. Walau suaranya bisa membuyarka mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.[2]

Menulis dengan CINTA?

Ibarat menenun kain dengan benang yang ditarik dari lubuk hatimu, sebagaimana seakan-akan kekasihmulah yang akan mengenakan kain itu.[3] (kekuatan CINTA akan meluarbiasakan pahatan ukiran kata-katamu)

Yup… Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, itulah yang menggerakkan jiwa dan pena kita. Tatkala kita melihat manusia membuat kezhaliman, menghinakan Hukum2-Nya juga melecehkan sunnah2 Rasul-Nya juga meremehkan Daulah nan memberkah. Maka jiwa kita akan meledak, bergolak, mendidih… meletup-letup. Sungguh tak rela Kekasih kita dihina terlecehkan.

Nahhh …. itulah CINTA sesungguhnya. CINTA, yang tercermin dari keshahihan ideologi yang di pahaminya (mabda Islam-lah tentunya).

Kata Imam Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah, ”manusia itu akan bangkit jika pemikirannya benar”. Antum-antunna setuju?

Sssttt…apakah CINTA-mu sudah menggerakkan jiwa dan penamu, selama ini?

Insyaallah hanya engkau yang tahu sahabat, aku hanya menanyai hatimu kok, jadi jawablah dengan bercermin dari hatimu. Tak usah dijawab dengan lisan, karena kadang lisan tak berkesesuain dengan hati.

Antum-antunna setuju?

B. Beberapa hal dalam Menulis fiksi:

1. Suspens (konflik/ketegangan ceritanya)

Nah di sini pembaca diajak dan dipancing untuk terus mengikuti dari awal sampai akhir cerita. Pembaca juga diaduk-aduk perasaannya. Sedih, melelehkan airmata.

Nah, itulah kunci cerita fiksi: bagaimana mengajak pembaca menselami jiwa dan rasa tokoh utamanya.

Sebenarnya inilah yang paling krusial dalam  membuat cerita. Bagaimana sang tokoh utama (pelakon) bisa mengatasi segala permasalahan yang muncul.

Tentu konflik yang kita bangun dalam cerita akan menarik minat pembaca untuk terus tak berkedip (memalingkan pandangan) untuk membaca untaian-2 dan bait kata yang kita ikat dan rangkai dari awal hingga akhir cerita. Pembaca pasti penasaran dengan tokohnya, bisa mengatasi setiap masalah nggak ya? Ketika kita menyertakan jiwa dan perasaan pembaca kita untuk bisa masuk kedalam asa konflik tokoh cerita (menselami dengan sepenuh hati).

Nahhhh…di situlah karya kita bisa dianggap berhasil. Membuat mereka terbuai dan hanyut akan alur cerita yang kita tawarkan. Apakah mereka akan sedih/gembira,tertawa?  Di situlah letak kekuatan konflik cerita

2. Kaidah Rasional (nyata)

Meskipun kita menulis hanya fiksi (khayal) tapi kaidah-kaidah rasional tetap menjadi acuan utama untuk membangun cerita.

Sebagai contoh: Apu’ pernah baca novel :Birunya Langit Cinta karya Ustz. Azzura Dayana (FLP Palembang). Terbitan Qish-U kelompok Pro-U Media Yogya.

Apu’ akuin cara penceritaan dia bagus banget. Sayang, di bagian novelnya ada yang tidak rasional. Dia bertutur bahwa temen satu tempat duduknya (satu kursi) ehem….ehem ikhwan lagi (padahal khan no khalwat plisss) di Bus Executive antara Bandung-Palembang, itu  boleh merokok. Padahal di dalam bus executive, orang sudah paham bahwa penumpang dilarang ”haram” hukumnya merokok. Mungkin bagi yang belum pernah naik bus executive (maksudnya yang sering naik pesawat atau kapal laut/ atau mobil pribadi) akan melewatkan bagian itu, tapi bagi apu’ yang kalo pulang ke Riau sering naik Bus Patas Executive (Yogya-Jambi), cerita itu telah membohongi apu’ sebagai pembaca. Pasti pembaca lain yang tahu juga akan protes kan!

So…Fiksi boleh, tapi cerita harus tetep rasional.

Sebagai sedikit kritikan tentang isi (tsaqofah) novel Birunya Langit Cinta (BLC):

Ada beberapa hal yang kalau dicermati dalam novel ini, beberapa hal ini sepertinya sangat ’sepele’ namun bisa membuat salah persepsi pembacanya.

Seperti kasus ikhtilat-nya tokoh Dey dan Joe di dalam Bus (satu kursi) Wallahu a’lam apakah ini memang kesengajaan penulisnya atau kekurangfahaman dia dalam memahami sistem pergaulan antara pria dan wanita. Juga ketika mereka berdua ngobrol dengan intim dan bebas di atas kapal penyebrangan antara Lampung-Jakarta. Bagaimanapun dalam kehidupan Islam, muslimah dan muslim itu terpisah (infishal) lihat, Taqiyuddin an- Nabhani, Nizham al-Ijtima’i fii Islam, hal 28.

Juga ada interaksi antara tokoh Dey dan Joe tatkala di RS Pagar Alam (Palembang) dan setelah acara ta’aruf dijalani. Mereka sudah terlalu ’intim’/ sudah terlalu dekat duluan. Padahal dalam Islam ada keterbatasan dan keterpisahan antara pergaulan Pria dan Wanita sebelum akad nikah itu meniba (meski sudah dalam proses ta’aruf sekalipun).

Meski Apu’ tahu tujuan Novel BLC adalah untuk mengungkap dan membuat kita menterjagai hati dari CBSA (Cinta Bersemi Sesama Aktivis) itu apu’ baca dan dapetin di ’kata pengantar sang penulisnya’. Tapi kadang, niat baik saja tidak cukup. Dia harus dibarengi dengan muatan tsaqofah yang tak bertentangan dengan kitabullah dan as-Sunnah.

Afwan…setelah apu’ tabayyun langsung ke penulisnya lewat email memang tak dijawab. Semoga memang beliau sangat sibuk hingga tak sempat membaca dan membalas email apu’, biasanya kalau penulis sudah terkenal itu memang terlalu banyak penggemarnya sieh, jadi gak sempat jawab satu persatu email dan pertanyaan khan! So apu’ maklum saja.

Anyway…jadi kritikus (yang ngeritik) sastra orang lain itu memang lebih mudah lho daripada menuliskan novelnya. Hihihi…

Ini hanya sebagai tambahan ajah agar kita berhati-hati dalam menuliskan untaian kata. Iya kalau pembacanya ’ngeh’ dan sesuai dengan yang dimaui kita, kalau pembacanya salah persepsi, wah..malah bisa berabe. Nahhh …inilah pentingnya maraji’ (buku/kitab rujukan yang tsiqah).

Contohnya dulu Cerpen Bait-Bait Doa Cinta-nya apu’ di kritik sahabat saya, karena memang ada kesalahan ’besar’ di sana. Apu’ telah menyamaratakan antara Jilbab besar dengan definisi Jilbab menyungguhnya. Hihihi …setelah apu’ baca dan kaji kita Nizham Ijtima’i ternyata apu’ yang salah (faqir ilmu). Itulah pentingnya sahabat dan pembaca, ia akan tak segan2 untuk mengoreksi kekurangan kita dengan jujur.

Yups…sebagai catatan, Pembaca itu cerdas loh.

Sekali lagi, novel BLC itu: bagus cara penulisan dan penceritaannya. Cuma memang banyak hal yang saling bertentangan di dalamnya (muatan tsaqofah). Yup, itulah manusia. Tak pernah luput dari silap dan khilaf.

Memang menurut apu’ Novel yang ’nyaris sempurna’ selama ini barulah Ayat-Ayat Cinta. Baik dari sisi penulisan dan tsaqofahnya. Maka tak heranlah ia menjadi fenomenal. Dan kita patut mensyukurinya dengan munculnya AAC dan ide2 yang tertuang dari kang Abik itu.

Contoh: biar cerpen Rembulan di Ujung Rindu terasa logis di terima pembaca, apu’ nanya ke temen2 apuk yang kuliah di kedokteran, bisa nggak sih seumpama kuliah Kedokteran di Bandung (Unpad) trus coa-Ass-nya di RSUD Sardjito (di Yogya). Ternyata mereka bilang boleh, bisa minta mutasi, jadi apu’ terusin ajah ceritanya. Kalo mereka bilang gak bisa, ya gak mungkin akan apu’ tulis tokoh Fahimah setelah wisuda akan co-ass di Yogya (karena mengikuti Hamzah sang suami tinggal di yogya). Mungkin bagi kita yang awam akan istilah kedokteran akan menerima begitu saja cerita itu. Tapi kalo ada anak kedokteran ada yg baca cerpen itu (RDR) dan gak sesuai dengan fakta yang ada, mereka akan tertawa terbahak-bahak melihat keanehan ceritanya.

3. Kejadian Kebetulan dalam fiksi.

dalam fiksi kita jangan terlalu mengumbar ’kebetulan’ apa itu kebetulan? Kebetulan dalam fiksi itu suatu garis cerita (peristiwa) yang tak terduga, meski bagaimanapun, kebetulan itu juga harus realistis.

Kalau ’kebetulan’ yang kita paksakan ke dalam cerita, maka akhir cerita akan terasa hambar (gak berasa bin garing banget)

Sejujurnya, apu’ kadang-kadang masih tergoda untuk sering menggunakan kebetulan2 ini he3.

  1. Tentang Judul

Tentang judul atau untuk menamai karangan kita.

a. Sebaiknya yang mudah diingat pembaca, mayoritas pengarang profesional biasanya tidak lebih mencamtumkan 2 atau 3 suku kata.

Contoh :Laskar Pelangi, Harry Potter, Ayat-Ayat Cinta. Atau kalau apu’ maksimal 4 kata, contoh Bidadari di Langit Hatiku.

Kenapa?….

Biar mudah diingat pembaca. Sebenarnya judul panjang tidak masalah, tapi akibatnya pembaca susah menghapal judul itu.kalo judul bukunya aja susah diingat gimana pembaca mau bercerita ke orang lain bahwa novel, atau buku kita bagus.

b. Judul haruslah menarik dan tidak membosankan.

c. Judul karanganmu adalah jendela masuk ke dalam karyamu.

d.Judul yang bisa melekat di hati pembaca.

e.Judul harus timbul dari ceritamu (ada kesalingjalinan antara isi dan dan judul cerita).

Pernah baca artikel apu di majalah Al-Wa’ie, opini bag. Ke-2 edisi November 2007?

Tulisan boleh formal..tapi judulnya tetap ada nuansa puitis dan citarasa (dzawq) melezat puisi masih terasa di lidah dan hati ’kan?

Di Bawah Naungan Khilafah..Hmm gimana judul itu  menurutmu?

Sebenarnya artikel apu’ itu bisa saja terjuduli dengan:

-Bentuk Negara Ideal

-Negara yang Ideologis de-el-el

Juga bisa, cuma masih ada kekurangannya. Apa itu? Keindahan Judul dan ketertarikan dan minat sang pembaca untuk melongok gimana sih isinya? Kan judulnya bagus jadi menarik pembaca untuk membaca keseluruhan sampai tuntas.

So…buatlah judul semenarik dan seindah mungkin.

  1. Show it don’t tell it.

Ini kaidah dasar penulisan fiksi kontemporer. Yups…apu’ juga masih belajar dalam hal yang satu ini. Ini bagian yg sangat sulit bagi pengarang juga bagi pemula seperti apu’. Kadang apu’ masih sering pake kaedah mengatakan (tell) bukan menunjukkan (show) Contoh: untuk mengatakan malu.

1. Andi malu (kaidah ;Tell/katakan)

2. Kedua pipi Andi bersemu merah (kaidah;SHOW/tunjukkan) Nahhh loh…beda khan!!!

  1. Segment pembaca!.

Kita bukan sesosok Kapitalis yang aji mumpung atau nyari untung. Tapi idealisme kita juga harus sesuai dengan yang di maui oleh penerbit. Yang patut kamu pertimbangkan:

    1. Siapa pembaca cerpen/novel/buku/puisi ini? Remaja, Dewasa, orangtua (umum)
    2. Bahasanya harus sesuai dengan target sasaran. Misal yang kita bidik pangsa remaja, maka bhs yang di tonjolin adalah bahasa remaja. Penerbit akan tidak mempertimbangkan karya kita pabila tak suai dengan yang dibidik meski karya kita bagus. Tentu penerbit akan menolak, jika cerpen kita membidik remaja tapi bahasa yang kita tonjolin terlalu berat untuk ukuran seusia mereka. (segmentasi) itu penting.
    3. Siapa pesaing kita?(pengarang) apakah cerpen/buku  kita tidak ada pesaing? Maksudnya ada nggak pengarang yang sudah berkecimpung di ceruk (bagian)  ini. Penerbit mungkin akan tidak mempertimbangkan karya kita pabila buku kita ada yang sudah menyamain sebelumnya. (differensiasi produk; itu penting).

Misal:kita mau buat buku panduan remaja Islami, Gaul syar’i dan ideologis. Nah di ranah ini kita pasti terbenam oleh nama Ust. Oleh Solihin, kenapa? Imejnya kalo buku gaul ya ust. Oleh Solihin. begittu….loh

Dan penerbit pasti lebih yakin dengan karya beliau yang sudah punya nama (khusus untuk penerbit GIP). Meski itu bukan hal yang mutlak.

Afwan ini dari pandangan apu’ pribadi (setelah baca buku2 marketingnya: Rhenald Kasali, Hermawan Kertajaya, Al-Ries, Jack Welch, Lee Iaocca  (biografi mantan CEO Ford Motor) dan John C. Maxwell (master pengembangan pribadi). Oiya, biar lebih kuat, baca ajah buku-buku mereka yang hebat itu.

Intinya: Kita buat produk (buku/novel) yang beda!

Berani tampil beda? Kuerentzzz…!!

  1. Editing.

Yakin sudah final dengan karya kita? Sebelum karya kita tawarkan ke penerbit sebaiknya kita mengevaluasi apakah karya kita sudah baku (gak akan di otak-atik lagi)? Terus terang banyak pengarang kadang sudah puas dengan goresan tintanya, tanpa memperbaiki kekurangan ato kelebihannya (proses editing). Sebagai gambaran: Cerpen Bait-Bait Doa Cinta itu sudah puluhan mungkin malah ratusan kali edit. Jika apu rasa ada kata yang kurang atau janggal begitu juga buku Puisi-Puisi Cinta apu’ tak segan2 untuk menambal sulam kata. Makanya cerpen Rembulan Diujung Rindu itu coba kamu kritisi, pasti banyak kekurangannya kenapa? Itu baru sentuhan awal, selain karena apu’ memang terkena flu berat 3 hari. Memang apu’ sengaja endapin dulu barang 1 minggu atau lebih. Lalu apu’ ngapain ? ya bikin cerpen, puisi lain. Jadi ketika apu’ sudah fresh maka apu akan membuka file RDR dan menambal sulam kekurangannya atau kelebihannya ya di hapus.

  1. Banyak Jalan Ke Surga. Meski sekarang banyak penerbit menolak untuk memampangkan cerpen jangan putus asa dong. Tulis ajah..tulis..tulis..tulis kata alm. Kuntowijoyo.
  1. Give the Best! ”Berikan yang terbaik, tak cukup hanya memberikan yang baik saja, pabila kita masih mampu memberikan hasil yang terbaik” (Mohammad Fauzil Adhim)
  2. Ahsanu amala bukan aktsaru amala. Karya terbaik…bukan banyaknya karya.

Inilah godaan terbesar penulis yang sudah menelorkan karya (karyanya sudah diterbitkan). Mentang –mentang dia sudah mempunyai nama maka dia menulis sembarangan tak memedulikan lagi kualitas tulisannya. Penulis model ini insyaallah akan sangat mudah dilupakan oleh pembacanya, karena dia lebih mementingkan setoran tulisan kepada penerbit daripada isi buku/novelnya.

  1. Banyak baca.

Salah satu hal yang harus dilakukan oleh penulis adalah kekuatan membaca. Sejauhmana bobot tulisan kita akan berkembang tergantung dengan berapa banyak referensi yang kita baca. Menulis dan membaca adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sesibuk apapun itu membaca adalah menu wajib seorang penulis.

Untuk yang satu ini..apu’ menargetkan dalam satu bulan harus membaca 15 buku/novel/ dan cerpen.

Ssst..tahu nggak? Mbak Asma Nadia (penulis produktif yang adiknya mbak Helvy T. Rosa) itu bisa membaca 5 buku dalam seharinya loh. Huebatt betul ’beliau’…

Membaca itu adalah ibarat memberi makanan kepada ruh kita.

Usahakan tiap hari wajib membaca koran. Syukur2 bisa 1 koran Nasional dan 1 koran lokal.

Untuk yang satu ini apu’ numpang baca koran di temen atau Koran dinding di Masjid.

  1. Jenis buku yang dibaca.

Jenis bacaan yang harus dilahap oleh penulis adalah sesuai dengan jenis tulisan yang akan di tulis. Contoh ; kamu ingin menulis sebuah novel maka apu’ saranin untuk banyak2 membaca novel2 yang sudah beredar di pasaran. Begitu juga apabila ingin menulis puisi, artikel, cerpen dll.

  1. Banyak latihan

Ini penting dan bagian yang paling penting. Latihan…latihan menulis.

Sssttt…. bocoran nich: apu’ biasanya menargetkan latihan menulis 15 menit untuk latihan menulis dalam satu harinya. Caranya di timer, bisa dengan Hp atau jam weker. Terus mengetiklah ketika waktu belum berakhir, jangan lihat hasil, tema, kesalingjalinan teks atau diksi.

Teruuuus menulis saja. Sampai waktunya habis.

Temanya bebas: bisa bunga, pelangi, rumput, langit, bulan bintang, kodok, kadal, lumut, kunang-kunang he3…

Semahir apapun kita, latihan itu tetap wajib. Apalagi untuk pemula, juga apu’.

Pernah lihat Zinedin Yazid ’Zidane’…? dia itu walaupun sudah mahir memainkan dan menggocek bola, tapi dia tetap latihan bola tiap hari kan ??? Sama juga untuk penulis tak ada keterbedaan.

  1. Main ke toko buku

Ini juga menu wajib penulis. Apu’ biasanya minimal satu kali dalam seminggu ke toko buku, entah itu Gramedia, Gunung Agung,Social Agency ataupun Toga Mas. Tak harus beli buku. Hanya melihat jenis buku, buku2 terbaru, tema buku, buku yang paling laris (best seller). Ini juga perpustakaan gratiss loh he3…itu pesan mentor dan motivator menulisnya apu (mas Hernowo)

Masuk toko buku gratooong alias gratiss kan!!!!

  1. Senjata yang harus di bawa

Apa senjatanya penulis?

Pena dan notes kecil. Syukur-syukur kamu punya Hp PDA, Hp Komunikator (ini isteri kedua apu, isteri pertama tetep komputer dunk) atau Laptop (kapan ya kubisa punya?). Ini akan mendukung aktivitas menulismu. Jangan sampai ketika ada ide kita tak punya senjata untuk mengeksekusinya.

’ide’ itu ibarat kapas, jika kamu tak cepat menangkapnya dia akan terbang melayang-layang diterpa angin, lalu ia pun menghilang di balik awan …hihihi kambuh lagi bahasa puisinya, afwan yak…

Oiya, Apu biasanya selalu membawa pena dan notes kecil kemana2, kecuali pas halaqah dan Shalat he3.

5 puisi apu’ di stadion Gelora Bung Karno pas KKI dan di Bandung dulu itu, tertulis di notes kecil.

Juga puisi dan kerangka cerpen Mewangi Bunga Hati yang terpahat pas di kapal penyebrangan antara Lampung ke Jakarta itu melalui kertas yang gak dipakai oleh keponakanku di rumah (kertasnya kucel banget).

  1. Ikuti bedah buku.

Kenapa? Biar bisa melihat bagaimana seorang penulis mengungkapkan ikhtisar atau isi buku yang ditulisnya. Ehmmm…siapa tahu  (dan Insyaallah) setelah karya kita terbit nanti ..insyaallah…kita juga akan merasai bagaimana berbicara di depan orang banyak. Jadi sudah punya gambaran umum bagaimana ’mendedah’ dan membedah buku.

  1. Bergabung dengan Klub menulis

Yup. Agar tulisan kita bisa dibaca dan dikritisi orang lain maka tak ada salahnya kita mengikuti klub menulis profesional, seperti FLP (Forum Lingkar Pena).

Kalau tak salah (khusus akhwat) sudah ada wadah khusus untuk ini yaitu AlPenProSa, insyaallah anggotanya sudah buanyak. Silahkan menghubungi temen2 yang di Malang, Makassar, Kalimantan, Medan. Giman proses menjadi anggotanya.

Afwan…apu’ untuk yang satu ini memang tak menjalaninya. Bukan apa-apa..karena apu’ pernah di tolak jadi anggota FLP Yogya, karena gak lulus ujian seleksinya yang benar2 ketat. Tapi kegagalan di FLP bukan mematikan kreativitas apu’, karena apu’ membentuk klub menulis ’Klub Duo’ dengan sahabat saya mas Nafi’ (keponakannya Ust. Mohammad Fauzil Adhim) anggotanya ya cuma dua orang. Apu’ banyak sharing, diskusi tentang masalah kontemporer, buku, majalah, dll. Banyak manfaatnya deh.

Gagal jadi anggota FLP Yogya, malah membuat berkah. Apu’ jadi terpacu untuk ’membuktikan diri’ bahwa apu’ bisa menulis kok. Meski itu bukan ’misi balas dendam’ ke FLP, tapi api pijar semangat untuk terus berkarya. ”Banyak jalan menjadi penulis” bukan hanya jadi membernya FLP saja.

  1. Diari pribadi

Mungkin bagi sebagian orang hal ini sepele dan remeh. Menulis curahan hati di buku diary atau yang lagi ngetrend sekarang Blog ”Diary Online”.

Inilah wadah hati kita mencurah gagasan, imajinasi, rasa, asa dan cipta. Tak ada yang melarang dan tak ada yang akan memprotesnya, kenapa? Karena ini adalah wilayah pribadi kita. Mo ada yang baca syukur nggak juga gak papa, yang penting kata hati sudah tertuang dalam ranah nyata gak hanya di dalam bayang-bayang imajinasi saja.

Believe it or not alias percaya atau tidak?… puisi-puisi apu’ yang telah di bukukan dalam draft Puisi-Puisi Cinta itu berasal dari Blog di Friendster loh. Itu memang gak sekali jadi, butuh waktu setengah tahun untuk menulis puisi-puisi di blog. Lalu ada ide untuk merangkumnya di dalam satu wadah yaitu Puisi-Puisi Cinta.

Hebat kan blog atau diari pribadi itu?

Coba ajah….dan rasakan bedanya!!!!

  1. Belilah buku

Ini juga penting. Kalau buku kita ingin di beli oleh orang lain maka kita juga harus membeli karya orang lain. Hukum tak tertulis mengatakan. ”Jika ingin karyamu di beli maka engkau juga harus membelik karya orang lain.”

Masak kamu ingin bukumu kelak dibeli orang tapi kamu nggak mau membeli karya orang lain.

Memang akan butuh bujet khusus dan mengetatkan ikat pinggang kita. Tapi bisalah kita mengatur dengan sebijak-bijaknya.

20.Mencari Mentor.

Dalam hal ini mentor adalah yang bisa memberi luh kesemangatan, spirit tatkala ada rasa kemalasan menghantui tiba. Dia bisa menjadi pelecut, pendorong kita dalam meretaskan karya masterpiece.

Apu’ punya mentor…Mas Hernowo. Beliau Chief Executive Editor penerbit Mizan, Bandung beliau juga penulis buku best seller tentang pengembangan diri dan jiwa.

Tatkala apu’ sedih karena di tolak mentelak jadi anggota FLP Yogya, beliau memberi dorongan. Tatkala karya2 apu’ hilang karena komputer terkena virus beliau juga memberi asa kesemangatan. Ketika apu’ bingung memilih nulis fiksi atau non fiksi email beliau memberi saran nan meneduhkan.

Posisi mentor menulis kita itu penting bgt!!! Kita bisa curhat dan sharing apa-apa dengan dia.

Posisinya mentor kita, kalau di halaqah sekelas musyrif/murabbi atau kalau di kampus sekelas dosen Pembimbing atau dosen.

21.Bagaimana cara mendapat ’ilham’ atawa ide?

Penulis itu ibarat (afwan) musang loh. Dia bisa dengan tajam mengendus, membaui, mendengar gemerisik suara Alam.

Seorang penulis punya ’indra keenam’ dia bisa melihat, mendengar, membaui, merasa tak seperti orang awam. Itulah kelebihan penulis. Melihat perilaku orang, peristiwa, kelucuan, kesedihan, kegembiraan, kematian baik itu lewat sms, berita di koran, TV atau sumber2 lain bisa meletikkan ide dalam pikirannya.

So…liat, baca, rasakan, dengarkan gaung-gaung serenada alam, itu  bisa menimbulkan ide untuk dituliskan menjadi Novel, Cerpen, Puisi atawa artikel sekalipun.

Sssttt…kadang apu’ ngobrol dengan intim sama yang namanya pelangi, mentari, rembulan, rerumputan, kupu-kupu, bunga, awan, laut, pasir, dokar, jangkerik de-el-el.

(nahhh, ini khalwat yang diperbolehkan hihihi).

22.Dimana dapat ’ide’ atawa ilham?

Dimana ajah…

Bisa di kampus, masjid (asal pas gak shalat), pasar, bus, pesawat, RS de-el-el.

Bab Akhwat Bercadar Itu… di novel Pelangi-Pelangi Bidadari, apu’ dapetin ketika apu’ turun dari Bus Putra Remaja pas balik dari Riau ke Yogya. Ceritanya pas turun makan di restoran di Merak atau Cilegon (sebelum masuk tol Jakarta) apu melihat sekilas rombongan akhwat bercadar.

So…ide atau ilham itu bisa dimana ajah. Nahhhh…

Lalu gimana kalau kita susah dapat ilham atawa ide?

Kalau kamu benar-2 kesulitan dapat ilham tanya ajah ke orang-orang..

”Pak di mana ’Ilham’?”

insyaallah mereka akan jawab..:

”Ooo si ilham. tadi dia di….”hehehe afwan becanda kok.

Apu’ biasanya dapat ide pas makan malam dan ngopi di warung ”Angkringan”. Biasanya pas dengerin orang atau kita ngobrol ama orang. (ini pengecualian, untuk akhwat loh) just for ikhwan only.

Tapi kalo untuk akhwat kayaknya pas ketemu dan cerita-cerita dengan sahabatnya akan banyak ide-ide yang memuncul. Kalo nggak… ya tanya ke temennya,

”Kamu punya temen yang namanya ’Ilham-iyati’ nggak sieh?” hihihi (becanda lagi).

23. Kapan mulai menulis?…………….

Ya mulai sekarang.

Kamu bukan seorang penulis lho, jika menulis itu hanya sekedar di imajinasimu saja. Karena penulis itu…menulis..menulis..menulis. itulah wujud seorang penulis atawa keinginan yang diwujudkan diranah nyata. Kata Kahlil Gibran ”kerja (menulis) adalah CINTA yang terwujudkan” cielee….

Tapi aku bingung memulainya dari mana?

Tulis aja apa yang ingin hatimu letupkan…misal perasaan ’kehilanganmu’ karena kucing kesayanganmu mati. Kamu kehilangan Hp atau buku/barang kesayanganmu raib tak berbekas. Tuliskan apa yang terletik di lubuk jiwamu.

Nah…kamu udah jadi penulis tuh

(kok mudah ya! Ya memang mudah). Karena perasaan CINTA dan KEHILANGAN itu tema yang mudah kita jumpai di keseharian hidup kita.

Contoh: Buku Puisi-Puisi Cinta apu’. Mungkin kamu nggak akan mendapatinya jika apu’ tak punya keinginan kuat (obsesi) untuk memberi persembahan untuk adiknya sahabatku (almrh. Dyah Miftahurrahmah (UNS Solo). Liku-liku jalan dakwahnya membuatku terpesona, cinta kepada kakaknya begitu meluarbiasa. Hingga ia pun menyempatkan diri untuk menengok saudaranya yang tertimpa mushibah di Yogya (ketika gempa melanda Yogya 29 Mei 2006) juga sekalian mencari kabar berita tentang sang kakak tercinta, karena pas sehabis gempa memang semua saluran Hp nggak bisa dihubungi. Allah berkehendak lain sehabis bertakziyah ke Yogya ‘sang Pelangi Bidadari’ ini dipanggil-Nya…ahh sungguh cerita nan membiru-haru hatiku. Lewat sang kakak dan sahabat2 tercintanya di Solo, aku dengarkan ceritanya dengan saksama juga dengan guliran airmata.

Nahhh….. akhirnya cerpen Bait-Bait Doa Cinta pun terselesaikan dalam waktu kurang lebih 6 bln. Itulah karya perdanaku (adikarya) juga core-guide tulisan-tulisan puisiku yang telah apu rangkum di draft P2C.

Puisi-puisi cintalah yang begitu menginspirasiku untuk menulis novel.

Jadi…. selalu ada inspirator dalam karya kita

Lalu siapa inspirator karyamu?

Lohhh kok jadi curhat sih! hehehe

Gpp kan berbagi pengalaman boleh tho…?

Oiya apu’ baru mulai menulis ya pas meretaskan Bait-Bait Doa Cinta itu jadi belum lama kok. Jadi kalo kamu nanya kapan apu’ mulai nulis? ya kurang lebih setahun yang lalu deh

24. Aku nggak punya waktu untuk menulis…

Ini penyakit seorang penulis baik yang sudah profesional maupun yang masih amatiran kayak apu.

Banyak alasan yang ingin kita kemukakan: jadwal kuliah yang padat, amanah dakwah yang bejibun, tugas kampus yang bikin mumet de-el-el.

Intinya sebenarnya cuma satu :Kamu lagi MALAS nulis hihihi. Makanya alasan tak punya waktu nulis harus kamu hilangkan dari ’Kamus Hatimu’…sebab dia akan menjadi duri yang menyelusup di langit awan cita-citamu untuk menjadi seorang penulis.

Caranya gimana ngilangin penyakit ini?

Ya harus kamu lawan

Dengan apa dunk?

Ya dengan komitmen menulismu yang kuat. CINTA akan menggerakkan pena…masih ingat khan!!!!….

Bagilah waktumu…antara kuliah, dakwah dan menulis. Luangkan waktumu meski hanya untuk menulis selembar puisi, artikel, cerpen ataupun novel.

Ohhh tau tidak…. jika kamu menulis selembar…hanya selembar kuarto entah itu puisi atau novel dalam sebulan kamu udah nulis 30 halaman lho. Bayangin ajah jika udah satu tahun,, berapa halaman tuh?

Itung sendiri yak!!!

Lebih luar-biasa lagi kalo kamu bisa menulis 20 halaman/hari wah…wah bisa2 kamu menyelesaikan novel hanya dalam waktu 2 bulan. Huebat kan!!

25. Tulisan itu Memanuskrip mengabadi

Apa kelebihan tulisan daripada kita berbicara?

Aku ingat dengan perkataanya Gustave Flaubert ”Jika kamu berbicara, gaungnya hanya terdengar di lorong koridor atau di ruangan itu, tapi jika kamu menuliskannya maka dia akan selalu mengema di sepanjang zaman juga memanuskrip mengabadi”

Nahh…tergambarkan dibenakmu sekarang kenapa tulisan lebih menggema daripada pitutur kata. Yang jelas tulisan yang dibukukan lebih punya keunggulan daripada kita capek-capek berbicara. Meskipun berbicara itu juga sarana utama dalam menyampaikan ide-ide kita.

Gimana?…..

Berani menulis sekarang juga? Kenapa harus di tunda.

Yuk menulis yuuuk………

C. Buku-buku Panduan dan Penunjang menulis:

Oh iya. Ini ada beberapa buku penunjang untuk menulis, insyaallah akan mengasah karya kita agar menjadi lebih baik. Meski ini bukan hal yang mutlak, maksudnya setelah membaca ini lalu bisa langsung menjadi penulis, tentu saja tidak. Ini hanya sebagai pedoman atau teman saja dalam menulis.

  1. Jadi Penulis TOP BGT, Arul Khan. Bandung: Dar Mizan, 2006
  2. Buku Sakti Menulis Fiksi, Annida. Jakarta: 2004
  3. Dunia Kata, Mohammad Fauzil Adhim. Bandung: Dar Mizan, 2004
  4. Mengarang itu Gampang, Arswendo Atmowiloto. Jakarta: Gramedia, 2003
  5. Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang, Andrias Harefa. Jakarta: Gramedia, 2002
  6. Proses Kreatif Penulis Hebat, Novia Syahidah, Z. Radar T. Asma Nadia, Salman Iskandar, Izzatul Jannah, Afifah Afra, dll. Bandung: Dar Mizan, 2003
  7. Menulis dengan Emosi, Carmel Bird. Bandung: Kaifa, 2001
  8. Berguru kepada Sastrawan Dunia, buku wajib menulis fiksi, Josip Novakovich. Bandung :Kaifa, 2003
  9. Alirkan Jati dirimu, esai-esai ringan untuk meruntuhkan tembok kemalasan menulis. Natalie Goldberg. Bandung: MLC 2005
  10. Fenomena Ayat2 Cinta.Anif Sirsaeba El Shirazy. Jakarta: Penerbit Republika, 2006
  11. Quantum Learning, Bobbi dePotter. Bandung: Kaifa …tahunnya lupa
  12. Mengikat Makna, Hernowo.Bandung: Kaifa, 2001
  13. Andaikan Buku itu Sepotong Pizza. Hernowo. Bandung:Kaifa, 2003

14.Langkah Mudah Membuat  Buku yang Menggugah. Hernowo. Bandung: MLC, 2004

  1. Quantum Reading, Hernowo. Bandung: Kaifa
  2. dll…. (masih banyak soalnya…) waduuuuhhh jadi bongkar-bongkar rak buku nich!!! Berantakan lagi. Halaaah…. dasaaar sudah berantakan dari sononya he3.

Ω Ω

D. Beberapa kata dari apu’

“Menulis bukanlah bakat lahir, tapi bakat yang diperjuangkan. Dengan keringat, darah, pengorbanan, airmata, dan biaya”

”Kata adalah cermin jiwa. Ada yang harus dipertanggungjawabkan di Yaumil Akhir kelak di hadapan Allah Jalla Jalalah. Agar kata itu tak keluar dengan ngawur.”

”Menulis bukan menunggu waktu luang, tapi meluangkan waktu untuk mengerjakannya.”

”Biarlah kata terserak. Asal itulah kata bathin kita.”

”Jangan peduli hasil. Tapi liatlah perjuangan kita untuk meraihnya (proses menulisnya).”

”Jangan pernah menilai tulisan kita. Biarlah pembaca (orang lain) yang merasakan untaian rasa-cita (dzawq) tulisan kita.”

”Jangan katakan aku nggak bisa. Tapi hilangkanlah satu  kata ini …MALAS.”hi-hi-hi

”Kata memang melembut. Tapi di dalamnya ada kilatan petir, tajamnya sabetan pedang jika kita bisa mengasah dan menggunakannya dengan tepat”

”Tak ada kata terlambat. Tulis saja…”

E. Apa kata sang Maestro?

”Seorang jenius itu tercipta dari 1% inspirasi dan 99% keringat kerja keras.” Thomas Alfa Edison-

”Ambisi adalah jalan menuju sukses. Sementara ketekunan adalah kendaraannya.” Bill Bradlley-

”Visi saja tidaklah cukup. Ia harus digabungkan dengan perjuangan nyata.” Vaclav Havel-

”Tak cukup hanya memandangi tangga, kita harus menapakinya.” Vaclav Havel-

”Untuk memahami hati dan pikiran seseorang, jangan melihat apa yang telah ia raih. Lihatlah apa yang ia lakukan untuk menggapai cita-citanya.” Kahlil Gibran-

”Lamunan adalah dasar dari segala fiksi.” Colin Wilson-

”Kerja (menulis) adalah CINTA yang mewujud” Kahlil

Gibran-

”Manusia itu akan bangkit, jika pemikirannya benar”

Imam Taqiyuddin an-Nabhani-

”Cinta, tak hanya diam. Gerakkanlah bibir penamu”

Dari sahabatku ukhtifillah Lesi P., di IPB Darmaga, Bogor-

Ω Ω

Semoga yang sedikit ini bisa memacu dan memotivasi kamu dalam menulis. Jangan liat apu’ yang sudah bisa sedikit menulis. Anggap dan katakan dengan keras kalo apu’ itu:

”Apu’ juga masih belajar kok. dia bisa… pasti aku juga bisa seperti dia bahkan melebihinya.”

Sungguh apu’ akan berbahagia dan membangga juga ada lantunan-lantunan kesyukuran nan tergetar jika kelak ada penulis-penulis ideologis yang lebih baik dari apu’ baik isi, kemasan, gaya menulisnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Dan tentu saja boleh disebarkan kepada siapa saja. Memang kebanyakan dari pengalaman pribadi apu’ dalam merangkai kata.

Tetap semangat!!!

Insya Allah…Kamu bisaaaa!!!

Alhamdulillah, wa sholatu wassalamu ’ala rasulillah

Tertuntaskan!! Kota Gudeg, 30 November 2007 (22:16)

Terrevisi, 11 Februari Januari 2008 (01:58)

Di antara menuntaskan novel Pelangi-Pelangi Badadari

Sahabatmu Fillah, lillah &Billah-

Apu’ El Indragiry nan Faqir ilmu wa ’amal

Jaazakumullaah bi ahsanil Kirom, untuk ’sahabat-sahabatku fillah’ di Kendari. Terkhusus ’murid menulisku’ di Unhalu Kendari yang berkenan memungut sejumput ilmu menulisnya apu, untuk meretaskan karya perdananya. Yang ’memaksa apu’ untuk menulis tips2 menulis ini.

Saluut untuk semangatnya berkarya, belum ada satu minggu tips-tips menulis ini terkirimkan, sudah ada cerpen perdananya yang terretas. Subhanallah…..

Sebetulnya, apu’ belumlah terlayak untuk menuliskan tips-tips ini. Tapi…berbagi ilmu itu wajib tah? Semoga ilmu kita bisa memanfaat untuk orang lain.

”Ibarat pohon ilmu, dia tak hanya rindang tapi juga berbuah, barakah buah indah ilmu yang bisa diambil dan dikecapi ranumnya manfaat oleh orang lain.”

Barakah…barakah…barakah.. baarakallaahu lakum.

”Khairun an-nas anfa’uhum linnas” sebaik-baik manusia apabila ia bermanfaat untuk orang lain. Sungguh indah …

Wallahu muwaffiq ilaa aqwamu ath-thaariq

Sesungguhnya kata Maha al-haqq hanyalah milik-Mu

4 responses »

  1. Kusnady Ar-Razi says:

    Setelah kubaca tulisan Apu’ di atas, aku langsung meluncur ke toko buku, nyari buku2 yang antum rekomendasikan di atas. Akhirnya kudapatkan sebuah buku yang sangat menggugah, “Mengikat Makna (update)”, karya Hernowo.

    Ada pelajaran berharga yang kudapat. semakin aku melahap lembar demi lembar buku tersebut semakin tinggi gairah untuk menulis.

    Mengikat makna, memadukan dua aktivitas, yaitu membaca dan menulis. “Membaca untuk menulis, menulis untuk membaca”, begitulah pesan yang kuat yang kudapat dari penulisnya.

    Membaca dan menulis yang memberdayakan. Benar-benar luar biasa.

    Terakhir, ada permintaan dariku buat Apu’. Bersediakah Apu’ jadi mentor menulisku? Agar tulisan-tulisanku bisa semakin berkualitas.

    Jazakallah Khayran.

  2. Wakiteru says:

    Thx buad Ilmunya… sekarang giliran pemuda untuk menebar mabda’ Islam melalui tajamnya pena!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s