Tenunan kata; apuindragiry

Untuk mempersiapkan dan membekali diri mengikuti SPMB tahun ini, aku ikut bimbel intensif selama tiga bulan di Lembaga Bimbingan Einstein di jalan Cik Ditiro. Bimbingan Belajar yang terletak di Selatan RS Panti Rapih.

Di antara temen-temen bimbelku itu ada sesosok cewek yang menarik dan terus terang mencuri perhatianku.  Dia memakai jilbab sampai menutupi dada dan memakai pakaian yang menurutku agak aneh, dia memakai jubah; mirip pakaian wanita hamil.

Pertemuan pertama bimbel hari ini adalah perkenalan dengan temen-teman seisi kelas.

“Hamzah.” ketika giliranku berkenalan dengan dia. Dan aku mengulurkan tanganku

“Fahimah.” sambut dia singkat sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Seulas senyum renyah menyungging dari sudut bibirnya.

“Kamu dari mana?”

“Bandung. Kalau Mas dari mana?” balas dia sambil menatap lantai kelas.

“Oh, saya dari pulau seberang,” jawabku singkat memancing dia agar bertanya lagi.

Benar saja, ”Maksudnya?” tanya dia mengejar.

“Aku dari Riau.”

“Oo.” hanya lontaran kecil itu yang keluar. Dan bertepatan  dengan itu pula tentor memasuki ruangan.

Terus terang, materi Tenses, Bahasa Inggris hari ini lewat tanpa bekas. Aku  masih bertanya-tanya kenapa Fahimah menolak jabat tangan dan selalu menunduk ketika kupandangi. Pikiran itu terus berkecamuk sampai aku pulang.

***

Ketika sampai kos. Kuceritakan pengalaman perkenalanku dengan muslimah tadi ke Hanafi yang sudah semester dua, dia kuliah di UGM. Kutanyakan tentang pakaian Fahimah dan tingkah, serta kenapa dia tidak mau bersalamanku.

Hanafi hanya tersenyum, “O. Itu namanya jilbab.”

“Oh begitu. Lho, lalu yang biasa dikenakan cewek-cewek gaul itu apa namanya? ’Kan itu juga jilbab meski pakai pakaian ketat dan menampakkan lekuk tubuh yang seharusnya tidak kelihatan.” debatku. Yah, soalnya aku sering melihat di jalan-jalan dan kala belanja di Mirota Kampus Swalayan, toko ritel dekat dengan pintu gerbang kampus UGM banyak cewek memakai jilbab tapi memakai kaos ketat atau baju gaul. Meski aku tidak tahu motif mereka memakai  itu untuk gaya ataukah untuk ketaatan.

“O, itu lain. Mungkin yang kamu maksud itu kerudung. Jilbab dan kerudung itu berbeda. Kalau jilbab itu jubah yang longgar dan menutupi seluruh tubuh atau baju gamis, kecuali yang biasa ternampak yakni wajah dan telapak tangan. Tapi kalau kerudung, ya seperti yang kamu maksud tadi. Dalam pandangan Islam, Muslimah selain memang diwajibkan mengulurkan kerudung hingga menutupi dadanya mereka juga wajib mengenakan jilbab.” panjang lebar Hanafi menjelaskan tentang jilbab. Aku hanya bisa menganguk-angukkan kepalaku. Sebuah pemahaman baru untukku.

“Begitu, ya! Di kampungku di Kampar kok jarang yang memakai pakaian jubah itu, ya?! Jangankan jilbab, kerudung saja jarang ada yang pakai. Temen-temen SMU-ku cuma pakai kerudung kalau di sekolah. Ketika pulang kerumah, mereka melepasnya. Beneran! Baru kali ini aku ketemu dengan model baju Muslimah serupa begitu.”

Wallahu a’lam kalau di tempatmu seperti itu. Yang jelas menurut kitab-kitab yang aku baca dan telaah, memang seperti itulah seharusnya pakaian yang sesuai syariat untuk kaum Muslimah.”

“Kenapa, ya? Supaya tidak di ganggu preman?” tanyaku dengan  berseloroh.

“Itu hanya salah hikmah kenapa Muslimah menggunakan  jilbab. Selain karena kewajiban yang telah di bebankan oleh Allah Swt. untuk hambanya yang bertakwa, salah satu hikmahnya memang untuk menjaga kehormatan dan kesucian Muslimah itu dari gangguan yang tidak diinginkan.”

”O. Yang jelas, dia memang sesosok rembulan teduh yang kukagumi.” sahutku

“He-he-he. Pesona pandangan pertama memang biasanya begitu menggoda,” goda Hanafi lagi.

“Jujur. Ada geletar aneh manakala kutatap sosoknya. Ada tetesan embun menyejuk kala kupandangi pesona wajahnya, meski ketika kutatap dia selalu menundukkan pandangannya. Dia ibarat setitik oase di gurun Sahara. Dia bak rembulan yang menyinari bumi dengan kemilau indah,” gumamku berpuitis-ria.

“Suit-suit. Pujangga yang sedang merindu sepotong rembulannya yang terbelah nih! Hm, jadi penasaran dengan cewek itu. Boleh tahu siapa namanya?” Tanya Hanafi lagi.

“Namanya Fahimah.”

”Ia berasal dari mana?”

”Dari  Bandung.”

Ada senyum menyungging dari bibir Hanafi, aku pun dibuat penasaran.

“Kok tersenyum? Kenapa ?” tanyaku

“Nggak kok. Tapi aku percaya, kekuatan cinta itu bisa menembus benteng sekokoh apa pun. Cahaya cinta akan membuat yang bakhil menjadi dermawan yang miskin berlagak kaya. Bahkan sang pendosa pun bisa berlagak alim di hadapan sang pujaan.”jawab Hanafi sambil terkekeh.

Sejak saat itu, Hanafi banyak meminjamkan buku-buku keislaman dan majalah-majalah islami. Keinginanku untuk bisa memperdalam dan mengkaji Islam tertanam kuat di dada. Kemudian  aku diajak kajian yang ia asuh di sayap selatan Masjid kampus UGM tiap kamis sore seusai Ashar.

* * *

Alhamdulillah, akhirnya aku diterima di Sastra Inggris UGM. Sejak saat itu aku kehilangan kontak dengan sesosok rembulan teduh itu. Kabar terakhir dari Andre, teman satu bimbel denganku yang lulus di ITB, Fahimah lulus di kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung.

Selain kuliah aku juga aktif di Lembaga Dakwah Kampus UGM. Lumayan, selain menambah sahabat dan mempererat tali ukhuwah, juga mencari lingkungan yang kondusif untuk belajar dan bergaulku. Aku selalu teringat dengan pesan Hanafi. Carilah   teman yang bisa menyejukimu kala terik. Memberimu warna dakwah kala kejahilan menebar. Mengharumimu dengan parfum cerapan persaudaraan sejati kala sistem kebodohan diterapkan banyak insan.

Kucamkan setiap nasehat dari Hanafi. Memang mencari teman sangat gampang. Tapi mencari sahabat sejati seumpama mencari jarum di lautan jerami.

Alhamdulillah, saat semester dua aku ditawari mengajar di Bimbingan Belajar kepunyaan temen satu organisasi dakwah kampus. Sedikit demi sedikit, aku bisa menyisihkant uang untuk melunasi SPP, uang kos dan mencicil motor.

Semester enam aku sudah mempunyai lembaga kursus bahasa Inggris yang aku dirikan bersama temen-temen tepercayaku di kampus. Aku sudah tidak nge-kos lagi, tapi sudah ngontrak rumah di jalan Kaliurang dengan Hanafi. Dan Suzuki Sidekick telah terparkir di garasi rumah.  Sempat aku merasa bimbang, apakah membeli mobil itu termasuk hal yang mubazir? ketika aku tanyain ke Hanafi di suatu senja.

“Bersikap menjauhi kecintaan kepada dunia,  itu memang tuntunan Rasulullah, tapi bukan berarti kita menolak dunia. Khalifah Utsman itu seorang yang zuhud tapi beliau juga memakai unta yang bagus dan kuda yang tangkas. Juga Imam al-Laits, beliau selain termasuk imam fiqih, dia juga sangat luar biasa melimpah kekayaannya. Bahkan kebutuhan hidup imam Malik beliau cukupi, meski beliau berbeda pandangan dalam beberapa hal dengan sahabat dan guru fiqihnya itu. Dan yang sangat luar biasanya lagi, beliau itu mempunyai istana yang megah, kendaraan yang tangkas tapi setiap tahunnya tidak pernah mengeluarkan zakat. Kenapa? Bukan karena beliau pelit, tapi karena hartanya telah habis dia dermakan untuk kaum miskin-papa. Sehingga setiap tahun hartanya tidak sampai satu nishab. Subhanallaah.. luar biasa, kan?! Jadi kalau kamu ingin mempunya mobil, ya silakan. Agama tidak melarang kok.”

Setelah mendengar penjelasan panjang-lebar dari Hanafi, hatiku menjadi plong. Ke mana pun aku pergi, Suzuki Sidekick itu selalu menemani, termasuk mengantar Hanafi mengisi kajian ditempat yang jauh atau saat lagi  nyari buku di Shopping Center, pusatnya buku-buku murah di Yogya.

* * *

Tak terasa Hanafi telah merampungkan skripsi dan bulan Agustus mendatang dia akan di wisuda. Terang saja aku sedih, kutahan agar dia bisa tetep mendampingiku menjadi mentorku dalam mengkaji Islam dan berdakwah. Tapi dengan bahasa diplomatis dia menolak dengan halus.

“Terima kasih, bukan aku menolak untuk tetap tinggal di Jogja dan menolak tawaranmu untuk jadi manajer di lembagamu, tapi aku diamanahi Ayah untuk meneruskan bisnis keluarga di Bandung. Saatnya untuk berbakti kepada mereka,” jawab Hanafi

“Tapi aku yakin, kamu sudah bisa aku lepas untuk menebarkan kebaikan dan menyadarkan ummah di birunya langit dakwah yang memesona. Aku yakin dengan kemampuanmu.” tambah dia lagi sambil menepuk pundakku. Terasa ada kekuatan dorongan semangat yang dahsyat dari tangannya, mengalir merasupi relung-relung jiwaku.

Setelah acara wisuda selesai, Hanafi langsung dijemput ayah dan ibunya. Aku turut membantu mengepak barang-barang Hanafi dan saat yang paling menjengkelkan dalam hidupku harus kualami ‘perpisahan’. Ya, aku paling tidak suka dengan kata itu, pasti ada guliran air bening yang akan mengalir. Tapi memang hanya lewat perpisahanlah seseorang itu akan terasa sangat berarti bagi kita. Ada rasa kehilangan, rindu dan mengharu-biru pasti akan menyatu ketika bayangannya akan berlalu. Seperti ketika kita begitu menginginkan rembulan selalu datang ketika fajar menyapa pagi, dan kita akan merindu mentari kala senja berlalu.

“Ingat! Jadilah engkau seperti petir yang bisa membelah angkasa, yang bisa memantik banyak orang agar terbakar. Jangan mau hanya menjadi kayu bakar, yang hanya menunggu orang untuk membakar dirinya. Menjadi petir atau menjadi kayu bakar itu adalah pilihan. Oke! Engkau sahabatku dan saudaraku di jalan Allah. Semoga hidupmu barakah, semoga tiap derap langkahmu untuk memancarkan pijar sinaran Ilahi di bumi yang di ridhai. Maafkan segala silap dan khilafku selama menjadi saudaramu.”

Lantas Hanafi memelukku erat, tak kuasa aku menahan titik airmata yang meluruh.

“Sama-sama. Terima kasih sudah menjadi teman curhat, guru dan saudara yang selalu mengarahkanku.” sambutku lirih hampir tak terdengar karena kata-kataku serasa tercekat di ujung tenggorokan.

“Ok! aku tunggu undangan wisuda dan pernikahanmu,” kalimat canda yang memutus kesedihanku.

“Jelas dong. Insya Allah, aku kabarin kelak.” Sambutku dengan senyum lebar, memupus suasana langit memendung di antara kami. Kucium tangan kedua orang tua Hanafi dengan takzim. Mobil Nissan Terrano itu pun raib di ujung perumahan, sesosok yang pasti aku rindui kelak.

* * *

Alhamdulillah, akhirnya aku lulus juga setelah berjuang menyelesaikan skripsi selama satu semester. Perjuangan yang cukup melelahkan. Menguras tenaga dan pikiran.

Minggu depan aku akan wisuda. Selain memencet-mencet keypad HP-ku tentang  kabar  gembira ini ke ayah dan emak di Riau, aku juga memberi kabar gembira kepada Hanafi, sahabatku. Kuambil laptop di meja kerjaku dan kubuka email, lantas kukirim kabar kelulusanku ke Hanafi.

To                    : hanif@eramuslim.com

Subject            : Datang ke wisudaku, ya!

From                : hamzah_1924@alquds.com

Date                : 12 Agustus 2007 (11:25 WIB)

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Semoga selimut cinta-Nya selalu menaungi tapak hidupmu.

Bagaimana kabarmu? Bisnismu lancar juga, kan?

Oh, iya, insya Allah aku akan diwisuda minggu depan. Bisa datang, kan! Kalau bisa sama ayah dan ibumu, karena ayah dan emakku juga datang ke Jogja. ’Kan nanti kita bisa kumpul rame-rame, he-he-he.

Ngomong-ngomong, kamu kapan nikah? Bisa nyariin calon istri dari Bandung? He-he-he, becanda!

Aku tunggu kehadiranmu di wisudaku.

Wassalamu alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

Sahabatmu,

Hamzah

Bip-bip-bip. Laporan pesan terkirim muncul di monitor. Aku tinggalkan laptop, setelah panggilan muazin memanggil untuk melaksanakan salat. Laantas aku salat zhuhur berjamaah dengan staf-stafku. Setelah salat sunah seusai Zhuhur aku kembali ke ruangan kerjaku.

Bip-bip. Monitorku menyala, ada email baru yang masuk.

Dari Hanafi.

To                    : hamzah_1924@alquds.com

Subject            : re:Datang ke wisudaku, ya!

From                : hanif@eramuslim.com

Date                : 12 Agustus 2007 (12:25 WIB)

Wa alaikum salam.

Semoga tetesan embun  kasihNya selalu menerpamu, Sahabatku.

Alhamdulillah kabarku sehat dan selalu dalam naunganNya, semoga engkau juga begitu.

Bisnisku lancar. Insya Allah, akan segera kubuka cabang di Jogja, jadi kita bisa sering ketemu nanti.

Insya Allah tahun ini aku nikah.

Cewek Bandung?! Memangnya di Jogja kehabisan? Tapi kalau kamu memang serius, ada lho cewek yang siap nikah di sini. Mau tidak?

Dia mengenalmu, dan kamu juga kenal dia. Jika kamu mau dan siap, nanti kita bicarakan lagi. Oke?!

Wassalamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

Hanafi

Dag-dig-dug. Denyut nadiku bersenandung cepat, setelah kubaca email balasan dari Hanafi. Ada raungan tanya yang menyergap. Siapa sesungguhnya cewek itu? Kata Hanafi dia kenal aku, dan aku kenal dia. Tapi siapa? Seingatku selama di Jogja aku belum pernah berkenalan dengan cewek manapun. Jangan-jangan Hanafi hanya bercanda dan menggodaku saja, ujar batinku.

Saking penasarannya, aku langsung mengirim SMS ke Hanafi

“Bisa online di Yahoo Messenger sekarang? aku mau nanya tentang cewek itu.”

Tak ada balasan dari Hanafi.

Satu jam kemudian. Ada dering SMS dari HP-ku

Maaf, aku lagi ada rapat dengan kolega bisnis di Cimahi.He…he..he penasaran dengan cewek Bandung nih😉

Aku balas lagi

“Bisa online besok jam 09.00?“

Balasan SMS dari Hanafi masuk lagi

“Oke…”

Terus terang untuk saat ini, menanti mentari menyembul kala pagi,  serasa menunggu antrian mengisi BBM di SPBU selama tiga hari.

♥♥♥

Jam 09.00 di kantorku. Setelah buka laptop dan buka Yahoo Messenger-ku.

Cring…. ternyata Hanfi sudah online.

Hanif: Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Hamzah_1924: Wa alaikumsalam wr. wb. Apa kabar?

Hanif: Baik, alhamdulillah. Kamu sendiri bagaimana? Cieee…yang lagi penasaran sama sesosok rembulan. He-he-he

Hamzah_1924 : Sehat dan baik, alhamdulillah bisnis juga lancar. Iya nih aku penasaran dengan cewek yang kamu tawarkan. Tidak bercanda, kan? Sepertinya aku belum pernah ketemu dan berkenalan dengan cewek Bandung selama di Jogja.

Hanif: Aku serius. Begini, dia itu sebenarnya adik kandungku sendiri. Kenapa aku ingin menjodohkan kalian berdua? Yah, karena selain aku sudah paham dengan sepak terjangmu, aku mempercayaimu sebagai saudara seiman juga seperjuangan bahwa engkau bisa dan sangggup menjadi ‘kepala keluarga’ untuk dia. Selain itu aku ingin melekatkan tali kerabat, agar lebih merekat-erat. Tentang siapa dia, nanti akan kami pertemukan kalian berdua satu minggu lagi ketika wisudamu. Untuk sementara engkau boleh salat istikharah dulu.

Adik Hanafi? Lalu dia kenal dengan aku, dan aku juga tahu tentang dia? Kapan kenalnya? Siapa cewek itu? Benar-benar sebuah misteri.

Hamzah_1924: Oke. Aku akan salat istikharah dulu. Nanti aku telepon saja, ya!

Hanif   : Ok. Aku tunggu jawabanmu. Semoga bisnis dan ikhtiarmu lancar. Assalamu ‘alaikum.

Hamzah_1924: Terima kasih, semoga bisnismu juga kian meruah juga berbarakah. Wassalamu ‘alaikum.

Di layar monitor, Hanif has sign-out!

♥♥♥

Besok pagi aku akan diwisuda. Ayah dan emak sudah dari tiga hari kemarin tiba di Jogja. Dan selama itupula aku jadi guide pribadi, mengantar ayah dan emak keliling Jogja mulai dari Malioboro, Tamansari, pantai Parangtritis, Keraton Yogyakarta dan Wisata Kaliurang. Sebelumnya aku juga sudah memberitahu ke ayah dan emak bahwa calon besan dan menantunya sehabis Isya akan datang bersilaturrahim.

Kedua orang tuaku dengan bijak menyerahkan sepenuhnya kepadaku siapa jodoh yang tepat. Aku bersyukur, karena kadang di kampung kami masih memakai  adat yang kolot, kalau memilih jodoh kita kelak harus satu suku, bibit-bebet-bobot harus sesuai dengan standar orang tua.

Hanafi dan keluarga juga adiknya sudah sejak Subuh tadi datang ke Jogja, tapi mereka masih istirahat di hotel Hyatt Regency, sebuah hotel bintang lima yang paling bagus pelayanannya. Hotel yang berlokasi di jalan Palagan Tentara Pelajar. Kami memang sudah membuat janji bahwa acara ta’arufku dengan adiknya Hanafi akan dilaksanakan sehabis  salat Isya.

Jam 17.40 WIB

Bumi yang kupijak serasa tak berputar. berdebar hati, siapa sesungguhnya cewek yang diceritakan Hanafi.

Nissan Terrano ber-plat Bandung terparkir di depan halaman rumahku. Aliran darahku semakin cepat. Degup jantungku tak beraturan. Keringat dingin mengucur deras.

Aku dan kedua orang tuaku dengan hangat menyambut sang tamu istimewa di beranda depan rumah.

Pertama yang keluar dari mobil adalah ayah dan ibunya Hanafi. Kedua  wajah bijak yang masih lekat di ingatanku setahun lalu. Lalu Hanafi keluar dari pintu depan bagian kanan.

Assalamu alaikum,” lontar ayah dan ibunya Hanafi.

Wa alaikum salam,” berbarengan kami menjawab uluk salam

Aku bersalaman dengan ayahnya Hanafi, kedua orang tuaku menyusul saling bersalaman satu sama lain.

“Mari masuk,” ayahku mempersilakan kedua orang tua Hanafi.

Tentu saja aku langsung menyergap dan memeluk erat  Hanafi, sahabatku.

“Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak bersua, ya!“ sapa Hanafi hangat.

Alhamdulillah masih dalam lindungan Allah. Kamu nampak sehat,” jawabku sambil melirik ke arah mobil, karena aku tahu masih ada sesosok yang agaknya malu-malu tidak mau keluar dari sana. Mungkin dia sengaja mempermainkan jiwaku.

“Oh, iya ada sesosok rembulan yang masih tertinggal di mobil, aku panggil dulu, ya!” Seperti mengerti dengan kegelisahan dan kepenasaran hatiku. Hanafi berbalik badan dan melambaikan tangannya ke arah mobil.

Dari balik remang-remang penerang lampu jalan di depan perumahan aku bisa melihat sesosok cewek memakai gamis biru gelap dengan kerudung putih keluar dari pintu mobil samping kiri.

Masih nampak samar. Aku kurang begitu jelas dengan pemandangan yang ada. Barulah berjarak lima meter di bawah naungan cahaya lampu taman, sesosok itu menampilkan cahaya kemilaunya.

Tercekat tenggorokanku. Dia..dia… sesosok bayangan yang pernah aku kagumi. Sosok cahaya yang pernah bersemayam di pikiranku.

“Fa..fa.. Fahimah!!!” terbata aku mengeja sebuah nama yang telah kulupa dari ruang memori dan labirin jiwa.

“Ya. Dia Fahimah. Dia adik kandungku satu-satunya.”

“Bagaimana bisa?!” aku geleng-geleng kepala tak mengerti.

“Dia yang kuliah di kedokteran Unpad. Dia cewek berjilbab yang dulu kamu kagumi sejak tiba di Jogja. Aku sudah banyak cerita ke dia tentang kamu. Juga tentang sang Pemuja yang merindu sesosok rembulan sampai berpuitis-ria, he-he-he. Ketika kutanyakan, apakah dia sudah siap menikah tahun ini kalau ada  yang melamar, dia jawab insya Allah siap. Ya sudah. Terus,  kebetulan kamu mengirim email yang isinya ingin mencari calon bidadari dari Bandung. Klop, kan!” tanpa tedeng aling-aling Hanafi sembari berbisik menjelaskan.

Entahlah, jika ada cermin di hadapanku, mungkin mukaku sudah tidak berbentuk sama-sekali. Wajahku yang merona merah bak buah semangka yang terbelah.

Seulas senyum menghampiri.

Assalamu ‘alaikum.” Desisan suara itu bak siuran denting syair syahdu mengalun menyambar di kedua telingaku.

Wa..wa.. ‘alaikum salam. Silakan masuk,” ucapku sambil kutatap lantai marmer rumahku. Ada geletar syahdu  yang menyelusup di taman langit hatiku. Ada keteduhan yang mengalir dalam darahku. Ada buncahan gembira yang menari di relung sanubari. Ada rasa tak percaya bahwa sang rembulan itu ternyata adalah wanita salehah yang aku kagumi. Ya! Sesosok rembulan teduh yang menautkan hatiku sejak mata kami bertemu pada pandangan pertama. Meski kutahu itu bukan cinta, tapi kekaguman atas kesalehannya.

♥♥♥

Di ruang  tamu, kami berkumpul duduk saling berhadapan. Acara perkenalan sebelum pernikahan itu dipimpin oleh Hanafi.

Bismillah….Atas nama keAgungan-Nya atas nama Kasih-Nya semoga acara perkenalan ini senantiasa di bawah naungan ridha dan barakah-Nya. Semoga semangat menyatukan dua belahan jiwa di bawah langit dakwah ini menghamburkan jutaan kemilau pahala.“

Hening menyapu ruang tamu. Lantas Hanafi melanjutkan.

“Pertemuan ini adalah sarana untuk saling mengenal antara dua insan yang akan mengarungi bahtera rumah tangga. Silakan untuk saudaraku Hamzah terlebih dahulu memperkenalkan diri,” suara Hanafi bak menyengat dari ketergagapanku.

“Saya Hamzah bin Abdurrahman. Asal Kampar, Riau. Sedang menanti wisuda di Sastra Inggris UGM.” aku lalu menoleh ke arah Hanafi. Dia lalu menganguk.

“Sekarang giliranmu, Saudariku.” Dia melirik adiknya yang duduk di sampingnya. Fahimah mengangkat mukanya

“Saya yang Fahimah binti Syaifullah, asal Bandung. Kuliah kedokteran di Unpad. Insya Allah akan diwisuda satu minggu lagi.” Selesai berkata Fahimah memandang ke bawah lagi.

Alhamdulillah, sekarang silakan mengutarakan visi dan misinya masing-masing dalam membangun ‘rumah cinta’ baru, agar tak ada yang tersembunyi di hati. Agar kejelasan memancar dengan benderang.” lanjut Hanafi.

Dia melirikku.

“Sebuah  rumah takkan tegak tanpa pondasi. Visi dan misi saya selain menyempurnakan separuh agama adalah membangun ‘rumah cinta’ yang dilandasi keimanan. Syariat sebagai pilarnya dan ridha Allah dan Rasulku nan kutuju, juga sebagai pengokoh derap dakwah. Aku akan berbagi kebahagiaan dan pahala kebajikan dengan bidadariku kelak. Aku akan menerima apa adanya dia, dengan kelebihan dan kekurangannya. Aku harap kelak dia akan mengingatkan aku bila terpeleset dari syariat. Menjadi ibu dan pelindung anak-anakku. Sebagai pengobat rindu kala rindu mendera, sebagai penyala obor cinta ketika cahaya cinta meredup.” dengan nada bergetar kuucapkan.

Hanafi melirik Fahimah. Dan lagi-lagi Fahimah mendongakkan paras mukanya lantas menjawab.

“Saya ingin sesosok ‘pangeran hati’ yang kurindu itu seorang yang berbaju takwa. Penyayang dan penyabar. Menerima  apa adanya diriku. Dia seseorang yang bahunya bisa untuk bersandar kala aku dalam masalah. Tempat ‘berbagi senyum’ dalam naungan ridha-Nya. Sebagai imam dalam keluarga mungilku kelak.”

Ketika aku memandanginya tak sengaja, ternyata dia juga mencuri pandang ke arahku. Ketika mata kami bertemu, kulihat ada cahaya di kelopak matanya. Mata bening yang mewarisi kecerdasan bunda Aisyah, ada kelembutan yang memancar dari sosok Fathimah az-Zahra.

Ada pancaran lega dari wajah Hanafi, ”Apakah ada yang ingin diutarakan atau ditanyakan sebelum acara perkenalan ini kututup?” hening sejenak menaungi ruang tamu.

Tiba-tiba, Fahimah mengangkat paras dan tangannya.

“Boleh saya menanyakan satu hal kepada kepadanya?” Hanafi memandangku meminta persetujuan. Aku pun menganguk.

“Adakah seseorang yang pernah mengisi di ruang hatimu  sebelum perkenalan ini?” pertanyaan singkat yang menyentakku.

“Apakah pertanyaan ini wajib dijawab?” tanyaku

“Iya!” sahut Fahimah tegas.

Aku menghela nafas dan mengembuskannya perlahan.

“Terus terang, sebelum perkenalana ini saya memang mengagumi pesona seseorang. Dia cantik secantik Fathimah binti Muhammad, dia pemberani sepemberani Asma binti Abu Bakar, syahidah cita melangitnya. Terus terang, sampai saat ini saya masih mengaguminya dan sangat sulit untuk melupakan pesona dirinya.”

Aku melirik Fahimah. Kulihat ada setetes bening di kelopak matanya, lantas bergulir di pipinya yang putih bersih. Ada rasa sesal yang memancar dari dirinya karena telah melontarkan pertanyaan yang jawaban yang begitu tidak disangkanya ternyata telah menoreh dan menyayat jiwa. Meski aku tahu dia berusaha sekuat tenaga untuk membendungnya. Tapi ledakan dari sumur hatinya benar-benar tidak bisa ia tahan lagi.

Ruang tamu kini senyap. Hanya dihiasi senandung detakan jam dinding yang terus bertalu tiada perduli.

“Sejujurnya ‘bidadari’ yang kukagumi itu sekarang ada di dekatku. Dia sudah nyata di hadapanku.” lanjutku memecah keheningan, sambil tersenyum lebar.

“Maksudnya?!” tanya Fahimah sambil mengusap tetesan airmatanya memandangku. Tanda tak mengerti maksud ucapanku.

“Ya. Bidadari itu adalah engkau. Sejak perkenalan kita yang pertama dulu, sungguh sangat membekas dalam relung jiwaku. Dan aku tidak menyangka bahwa Allah Swt. akhirnya menganugerahkan dirimu untuk menjadi ‘Bidadari di langit hatiku’,” jawabku tegas.

Ada rona merah merebak di wajah Fahimah. Ah, rembulan itu benar-benar begitu memesona, begitu sempurna. Ada senyum dan helaan lega dari ayah dan ibuku juga orang tuanya Hanafi. Ada senyuman kecil yang menggoda dari Hanafi untuk Fahimah. Dan tahulah Fahimah sekarang,  kalau dirinya baru saja dikerjai habis-habisan oleh kakaknya.

Ouuuwgh…!!! Pekik Hanafi, ketika jemari Fahimah membentuk tang penjepit dan menyentuh perut Hanafi. Kami semua tersenyum melihat keakraban kakak dan adik itu.

Setelah perkenalan kami putuskan bahwa pinangan dan perayaan nikah akan dilaksanakan  sore setelah Fahimah selesai acara wisuda.

Alhamdulillah, semoga  keluarga mungil kalian barakah kelak. Semoga sinar cinta-Nya menaburi kalian. Semoga acara perkenalan ini menjadi pengokoh dua keluarga besar untuk melekatkan temali persaudaraan.” Hanafi menutup acara. Ayah dan ibuku juga orang tuanya Hanafi merekahkan senyum lebar. Binar-binar bahagia terpancar dari wajah mereka.

Benar kata Hanafi, bahwa ‘cahaya cinta bisa mengubah dunia’ dan seisinya. Hatiku pun bersenandung riang,

Duhai rembulan….

Kerindu sinar kala senja padam

Kurindu peluk syahdu kala selimut malam menyapu

Kurindu teduh lewat senyum takwamu

Betapa bahagia memetikmu atas izin-Nya

Esoknya aku diwisuda di Graha Sabha Pratama, UGM. Turut hadir di acara wisudaku selain kedua orangtuaku hanya Hanafi .

♥♥♥

Aroma harum semerbak menerpa. Semilir angin mengantarkan embusan firdausi. Awan bergerak berbaris di birunya cakrawala membalut suasana Bandung.

Setelah acara  wisudanya Fahimah selesai, sorenya akad nikah pun kami kumandangkan dan ungkapan syukur perayaan nikah secara sederhana  kami gelar di rumah keluarga Hanafi.

Setelah itu Fahimah akan ikut aku ke Jogja dan  co-ass, kuliah praktek di RSUD Dr. Sardjito.

Sejak saat itu senja selalu menyapa bumi dengan rona indah. Karena cahayawi sang rembulan memancarkan kemilau keikhlasan. Membaluti kehormatan dan kesucianku. Menyelimuti dengan keistiqomahan dirinya. Menebarkan  pendar-pendar kemilau Islam. Meramaikan bumi Ilahi dengan kesatria-kesatria Allah dengan polesan kesabaran dan ketakwaan.

Dan satu belahan jiwa takkan sempurna kala sang rembulan belum terengkuh atas seizin-Nya

♥♥♥

Yogya, 26 Juni 2007 16.54

2 responses »

  1. Listy says:

    Sungguh indah. . .
    2insan y sdah Allah takdirkan brsama,pasti kn Allah prtemukn kmbli . .
    Pd wktu y tepat dn Allah kn mmbuat sgalanya menjadi Indah . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s