Karya fiksi perdana dan menyejarah; apuindragiry

Dedaunan bersembunyi, ranting pun dengan enggan menampakkan diri dan sang bunga pun bergegas menutupi kuncup dan putiknya nan mewangi, Kala sang mentari memancarkan pesona kilatan dahsyatnya tepat di atas ubun-ubun. Seolah-olah ingin menjilati dan membakari apa saja yang berada di bawah bayangannya.

Jarum jam baru menunjuk ke angka sebelas. Bergegas Latifah menyeret kakinya memasuki perpustakaan pusat, kampus UNS.

Latifah membuka laptop dan berselancar di dunia maya. Ia membuka jurnal kedokteran bulan ini. Sambil lalu, dia juga melihat berita kampung halaman lewat media online. Juga inbox email-nya.

Kemudian dia membuka blog di friendsternya. Menatah huruf demi huruf untuk menumpahkan curahan hati yang mengendap.

“Diary jiwaku…

Aku hari ini bahagia

Hari ini hari miladku.

Tahu tidak? Mbak Dian memberi kado spesial apa?

Dua buah buku. Judulnya Kupinang Engkau Dengan Hamdalah dari Ustadz Mohammad Fauzil Adhim. Padahal bulan lalu dia sudah memberi buku Saatnya Untuk Menikah. Apa ya maksudnya?

Sudah ya diaryku, mau kajian nih… nanti takut telat.“

Klik….

Blust….

Jaringan terputus!

♥♥♥

Kala Taaruf Bersemi Indah, 25 Mei 2006

Latifah menyapu pandangannya ke seluruh ruangan masjid kampus yang terhampar luas dilapisi lembutnya permadani merah Persia. Ia menghirup dan meresapi keteduhan dan kesejukan yang menaungi ‘rumah Allah’ ini.

Di sebelah pojok masjid bagian putri, dia melihat ada beberapa jamaah wanita yang memakai gamis sedang asyik berdiskusi.

Dia melongok jam yang tertera di HP-nya.

Astaghfirullah aku belum sholat Zuhur, nih! Batinnya menyentak.

Bergegas dia beranjak mengambil air wudlu di tempat khusus putri.

Seusai wudlu barulah ia sadar, kalau lupa membawa mukena.

Dia pun merutuk kesilapannya itu. Lalu dia pun celingak-celinguk mencari mukena di sekitar lemari.

Nihil…

Tidak ada satu mukena di sana. Melihat tingkah polahnya yang kebingungan itu, menarik salah seorang dari mereka datang mendekat.

“Lupa membawa mukena, ya Mbak?”

“Iya. Soalnya tadi buru-buru ke kampusnya,” sahut Latifah.

“O, begitu. Ini, pakai dulu punya saya saja,” sembari mengangsurkan mukena dari dalam tas kuliahnya dan diiringi sunggingan senyum manis bersahabat. Latifah pun menyambutnya dengan hangat.

“Terima kasih sudah mau meminjamkan. Maaf sudah merepotkan dan mengganggu waktunya, Mbak,“ tangan Latifah pun menyambut.

”Tidak apa-apa. Oh, iya, silakan salat dulu, waktunya sudah mepet,” wanita lembut itu mempersilakan.

Bergegas Latifah memasuki masjid untuk menunaikan salat Zhuhur. Sedang wanita tadi kembali untuk melanjutkan diskusi.

Usai salat, Latifah mendatangai forum kajian mereka. Wah, sepertinya lagi seru-serunya. Dengan perasaan tidak enak hati Latifah mengembalikan mukena yang dia pinjam tadi.

“Terima kasih ya, Mbak. Maaf telah menganggu!” Dia lantas mengangsurkan mukena pinjaman itu ke wanita tadi.

”Sama-sama. Oh, tidak menggangu kami kok. Eh, iya.. kenalin saya Dian dan ini temen-temen saya. Ini yang tinggi mirip mbak Ratih Sang namanya Fatimah, yang munggil mirip Dea Mirella namanya Nurul dan yang itu yang paling pojok itu namanya Izzah,” sembari jari telunjuknya menunjuk temen yang disebutnya untuk diperkenalkannya satu persatu. Mereka semua melemparkan senyum manis kepada Latifah.

“Oh, iya, nama kamu siapa?” tanya Dian lagi.

“Saya Latifah. Panggil saja Ifah,” Latifah mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan wanita tadi serta teman-temannya.

“Kamu dari fakultas apa?” sambil melipat mukena dan memasukkannya ke tas Dian bertanya lagi.

”Mm, saya dari kedokteran. Kalau, Mbak?”Latifah balik bertanya.

“O, temen-temen saya banyak juga yang dari kedokteran, tapi kebanyakan mereka lagi co-ass di RSUD Moewardi. Nah, kalau saya sendiri dari Psikologi.”

“Kalau hari Kamis bakda Zuhur, ada acara?”

“Kebetulan tidak ada. Memang ada apa, Mbak?” tanya Latifah.

“Mm. Begini, kami punya kajian kecil-kecilan. Kalau tidak ada kuliah atau acara, boleh kok gabung dengan kita. Ini nomer handphone saya,” Dian mengoyak kertas agendanya, lalu coretan-coretan berbentuk angka telah terukir di sana.

“O. Insya Allah, dengan senang hati, Mbak,” sambut Latifah dengan rekahan senyum.

♥♥♥

Temaram senja baru turun dari atap langit. Semburat cahaya dari ufuk barat mulai memancarkan rona kemerahannya.

Latifah menutup diktat Anestesiologi. Lantas, ia beranjak menuju daun jendela. Menguaknya lebih lebar lagi. Ia memandangi hamparan lukisan alam-Nya yang sangat memukau. Perpaduan indah suasana sore itu, apalagi dengan ditemani lantunan nasyid ’Lukisan Alam-nya’, dari grup nasyid Hijazz yang tengah mengalun merdu mengisi ruang kamarnya. Ia terkenang dengan masa kelamnya beberapa tahun nan lewat. Terkadang ia menyesali, kenapa ia tak mengkaji Islam sejak usia dini.

Tiba-tiba…

“Duh, yang lagi asyik melamun!” Sebuah suara lembut memutus dan membuyarkan lamunan panjang Latifah. Paras cantik dan sumringah Dian tiba-tiba sudah muncul di depan pintu kamarnya.

“Kok tidak mengetuk pintu sama mengucapkan salam, sih?” rengut Latifah manja, untuk menyelimuti rasa malu diri karena ketahuan sedikit berkhayal tadi.

Yee, siapa yang tidak mengetuk pintu sama salam. Kamu saja yang keasyikan melamun, jadinya tidak kedengeran,” jawab Dian sembari tersenyum simpul, melihat tingkah polah Latifah.

”Ada apa? Sepertinya serius sekali? Hayo, cerita dong. Siapa tahu aku bisa membantu? Bagaimana mau berbagi? Atau jangan-jangan lagi melamunkan sang pangeran hati yang dirindui, nih?” canda Dian sambil menghindari kejaran kelima jari Latifah yang akan mencubit pipinya. Dan berondongan pertanyaannnya tadi makin memerah-ronakan kedua pipinya Latifah, tanpa memberinya kesempatan untuk berkelit dan menjawab pertanyaan itu satu persatu.

“I-ih, kok tega menuduh begitu sih! Aku cuma lagi terkenang kala awal perjumpaan kita tempo dulu,” kelit Latifah. Mencoba untuk membela diri.

“Ingat yang dulu atau ingat yang lain. Hayoo..!” goda Dian lagi.

“Eits, dibilangin kok tidak percaya!”pura-pura Latifah memasang wajah ngambeknya, barulah Dian berhenti menggodai.

“Iya, iya. Maaf, begitu saja sudah merajuk. Eh, bukunya sudah dibaca belum?”

“Buku yang mana, ya?” Latifah pun pura-pura tidak tahu. Heh! Kena deh kamu Dian. Balas dendam, nih ceritanya, senyum Latifah yang tak terjamah oleh imajinasinya Dian.

Buku Kupinang Engkau Dengan Hamdalah dan Saatnya Untuk Menikah kemarin!” terang Dian lagi. Ah, ada rasa kasihan di hati Latifah melihat ketulusan Dian, tak ingin mencandainya berlebihan.

“Alhamdulillah, sudah. Bukunya bagus sekali. Isinya memprovokasi untuk menikah. Terima kasih, ya!” balas Latifah dengan rekahan pipinya yang manis.

“Sama-sama. Semoga bukunya bermanfaat untukmu dan ‘rumah cinta’ yang akan engkau bangun kelak.”

Dian memang selalu perhatian sejak perkenalannya dengan Latifah dulu hingga sekarang. Setelah itu mereka tidak terpisahkan lagi, dimana ada Dian di situ pasti ada Latifah yang mendampingi. Dian memang sahabat terbaiknya Latifah, teman sejati kala mengurai simpul derita. Dia ada kala Latifah bahagia, dan saat dirundung duka. Kedua pundaknya Dian adalah sandaran empuk kala deraan masalah yang tidak bisa Latifah tanggung sendirian. Senyumnya selalu terekah kala Latifah bahagia. Sungguh, dialah anugerah terindah yang pernah Latifah miliki.

“Mm, kalau ada yang sudah mau serius sama, Ifah mau tidak? Dia aktivis kampus juga kok. Jadi Insya Allah, ilmu keislamannya sudah tidak diragukan lagi, dan dia juga sudah mapan,” tiba-tiba muka Dian berubah serius, memutus canda ria mereka.

“Kamu serius?” jawab Ifah asal menjawab balas menggoda.

“Yee, ini serius lagi,” jawab Dian dengan mimik lebih serius.

Degh…

Hati Latifah berdesir. Jantungnya ikut berdebar bergeletar, dan denyut nadinya mengencang. Kalau Dian sudah pasang tampang seperti begini, berarti dia tidak main-main lagi.

“Memang siapa sih, Mbak? Apa dia tidak salah orang?!” mau tidak mau Latifah pasang mimik serius juga.

“Kamu tahu Ali, kan?” tanya Dian lagi.

”Oo. Iya aku tahu. Itu ’kan yang kalau ke Masjid pakai sepeda balap,” timpal Latifah.

Ada senyuman tersungging yang tidak bisa Latifah pahami di balik rekahan bibirnya Dian, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

”Iya. Seratus untuk kamu. Sebentar ya! aku ambilin proposalnya dulu.” Dian berlalu meninggalkan Latifah yang ternganga dan geletar-geletar hatinya yang tidak beraturan.

Tidak berapa lama, Dian telah kembali dengan sepucuk amplop surat di tangannya.

“Ini proposalnya Ali. Silakan dibaca,” dengan senyum dikulum dia mengangsurkan amplop berwarna putih polos itu.

Dengan gemetar Latifah merobek amplop surat itu dengan pelan. Ada secarik kertas warna biru muda plus pas photo berukuran 3×4 terlampir di sana.

Bumi Allah, 25 Mei 2006

Untuk Latifah

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Semoga Rahmat dan Cinta-Nya selalu menaungi dan mengiringi setiap langkahmu.

Ada seseorang yang kupercaya, mengabarkan akan makna ketulusan dan kegigihanmu di jalan dakwah. Saya memercayai dia seperti saya memercayai kedua orang tuaku.

Ingin kusempurnakan separuh agamaku dengan merajutkan hatiku dengan hatimu dalam naungan nan halal ‘miitsaqan ghaliiza’. Ingin kubangun sebuah keluarga yang dilandasi keimanan dan rasa cinta kepada-Nya dibingkai kokohnya takwa. Bukan atas dasar torehan harta dunia, trah keturunan yang memikat, pangkat jabatan nan membubung dan eloknya paras.

Aku ingin seseorang yang bisa menghilangkan lelah kala penat mendera. Penyala obor cinta kala rindu-mendendam, pencuat hapalan kala terlupa, peredam liarnya pandangan nan tiada halal juga sebagai ibu dan pelindung bagi anak keturunanku kelak.

Sudikah engkau menjadi bidadari di langit hatiku? Juga ustadzah di rumah mungil yang akan kubangun kelak?

Wassalamu ‘Alaikum Wr.Wb

Dariku,

Ali Zainal

Dengan gemetaran Latifah mengambil photo di dalamnya. Seruas wajah gagah muncul dari balik amplop. Hm, sepertinya aku pernah melihat sekilas photo ini, tapi di mana? Batin Latifah menyeruakkan tanya. Belum sempat Latifah menemukan jawabannya, Dian langsung menyela.

“Bagimana? Diterima tidak? Insya Allah dia sudah siap lahir batin,” tambah Dian berpromosi yang membangunkan keterpekuran sesaatnya Latifah.

“Mm, aku sebenarnya tidak masalah. Cuma bisa memberiku waktu untuk memantapkannya lagi dengan salat istikharah? Insya Allah, dalam bilangan tiga hari ini akan kuberi jawaban pastinya,” Latifah menjawab dengan mantap. Setelah tadi hening menyelimuti ruang kamar itu.

“Alhamdulillah!” seru Dian dengan riang dan langsung menubruk dan memeluk tubuh Latifah dengan erat. Latifah pun sebenarnya dibuat bingung oleh tingkah Dian sahabat karibnya itu, tapi ia pun menyambut juga pelukan hangatnya Dian.

”Insya Allah, kamu tidak akan kecewa kok!” satu senyum simpul Dian penuh arti, yang tidak dimengerti maksudnya oleh Latifah.

Entahlah ….

♥♥♥

Dalam Tahajud Cinta, 27 Mei 2006 (01.30)

Di sepertiga malam nan merayap senyap, disapu embusan dinginnya angin dini hari yang menyeruak di jendela kamarnya Latifah. Ia menumpahkan segenap keluh kesah dan kerinduan kepada Allah Azza wa Jalla. Ia tak tak lupa untuk ber-muhasabah diri, memohon ampun atas segala khilaf nan menyergap. Menyungkurkan sujud kesyukuran, atas segala tumpahan nikmat dan rahmat.

Allahu akbar… Allahu akbar..

Hayya ‘ala as-sholah….

Ashalatu khairun min an-naum….

Dari atap menara masjid senandung muazin masjid memanggil dengan pekikan merdu, melantunkan azan untuk menunaikan salat subuh berjamaah.

Latifah menyeka titis-titis guliran airmata yang meleleh di atas sajadah.

Di depan kamarnya telah berdiri Dian dengan mukena yang dikenakannnya, berselempangkan sajadah. Ah, bidadari satu ini memang selalu cantik. Cantik aura paras dan pesona karimahnya secantik dan sekokoh sayyidah Fathimah az-Zahra r.a. sepintar dan sebijak Aisyah r.a. Semangatnya menitisi langkah as-syahidah Sumayyah. Kelembutannya menapaki jalan dakwah Ummul mukminin, Khadijah r.a.

Latifah memang mengaguminya. Kagum akan semangat dakwahnya. Betapa beruntungnya ia yang bisa bersua dan seiring sejalan dengan mujahidah satu ini, dalam mengarungi pesona langit dakwah.

“Lho, kok malah bengong! Ayo berangkat,” ajakan Dian menggagapkan sejenak keterpanaannya Latifah. Dengan senyum simpul Latifah mengayunkan kaki menjejeri langkahnya Dian.

Mereka pun lalu melangkahkan kakinya dengan bergegas, beranjak ke Masjid depan gang kos.

♥♥♥

Kala Gempa Menyapa, 27 Mei 2006

Latifah melantunkan surat ar-Rahman dan al-Waqi’ah untuk menyapa pagi yang memberkahi. Memecahkan kesunyian dan keheningan yang menautkan antara fajar dan mentari yang akan menyapa bumi dengan riang.

Tepat pukul 05.55 belum selesai bacaan tilawah-nya, bumi laksana di goyang dan dihempaskan dengan keras. Tubuh Latifah serasa dibanting ke depan, samping, dan belakang.

Hanya lantunan Asma-Nya keluar dari mulut Latifah tiada henti. Suara yang menderu-deru yang memekakkan telinga di kolong bumi itu membuatnya terlontar terguncang-guncang. Sontak tanpa pikir panjang lagi ia berlari keluar dari kamar menuju ke halaman rumah. Di sana ternyata Dian sama teman-teman yang lain sudah bergerombol sambil terus menyenandungkan Asma-Nya.

Sekitar tigapuluh detik gempa mengguncang. Ketika suara gerungan yang menggidikkan bulu kuduk setiap manusia dan hewan itu mulai lenyap, barulah mereka masuk kembali ke rumah, meski masih diringi rasa was-was.

Dari tayangan televisi tahulah mereka, kalau gempa telah melabrak kota Yogya dan Klaten, sedang kota Solo cuma terkena imbas getarnya saja.

Esoknya di kampus dibuka posko penyaluran bantuan bencana dan juga sedang banyak membutuhkan relawan untuk dikirim ke Yogya juga di Klaten.

Latifah dan Dian menawarkan diri untuk ikut. Mereka berdua diterima sebagai relawan. Latifah bagian medis sedang Dian kena jatah di bagian konseling psikologinya. Dan mulai esok lusa mereka akan ditempatkan di daerah Bantul.

♥♥♥

Sebuah Perjalanan Cinta, 30 Mei 2006

Latifah mengepak beberapa helai baju, jilbab, kerudung, sphygmomanometer dan stetescope, ia memasukkan ke dalam ransel kecilnya. Latifah berangkat duluan siang ini, karena Dian tidak bisa berangkat berbarengan lantaran masih ada ujian mata kuliah Psikometri, jadi siang ini Latifah berangkat ke Yogya sendirian.

Setelah semua persiapannya dirasa lengkap, Latifah ke garasi dan mengeluarkan motor. Nada panggil ‘Teman Sejati’nya Brothers memekik meraung-raung. Ia mengambil handphone di tasnya.

Klik!

“Assalamu alaikum..”

Wa alaikum salam. Jadi berangkat sekarang? Maaf, saya masih ada ujian‘maju’ Psikometri jam dua. Ini saja masih di perpustakaan, Insya Allah, saya menyusul besok pagi saja ya! Oh iya, saya sudah menghubungi Mbak Ulfa yang di Yogya. Dia bilang dengan senang hati akan menyambut kamu,” terdengar suara Dian yang renyah di seberang sana.

”Iya. Eh, surat balasan untuk Ali saya taruh di atas meja belajarmu. Tolong disampaikan, ya!” entah kenapa seperti ada yang menyumbat ditenggorokannya Latifah, ketika kalimat itu meluncur dari bibirnya.

Insya Allah! Kamu tak apa-apa kan? Sepertinya suaramu tidak bersemangat begitu. Hayoo, semangat dong!” Sepertinya Dian bisa menebak nada suaranya Latifah tadi yang agak ganjil. Wajarlah, karena Dian ’kan calon psikolog.

Ah, entahlah, Latifah pun merasa asing dengan suaranya sendiri yang terasa ngilu tadi.

“Oh iya, sebaiknya puasa Daud-nya dibatalin saja dulu, ’kan perjalanan lumayan agak jauh, lagian siang ini terik sekali. Apalagi kamu tadi malam tidak sahur, ’kan!?” sambung Dian lagi. Memang sudah satu bulan ini mereka berdua meng-istiqomahkan amalan sehari puasa sehari buka itu.

Ada keteduhan mengalir dari tiap katanya dalam pori kalbunya Latifah, ada nada kecemasan yang bisa ia resap dan kecap. Memang tadi malam mereka tidak sempat makan sahur karena waktu imsaknya sangat mepet sekali.

“Jangan khawatir, Insya Allah, Ifah kuat kok.”

”Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, Dek! Jangan lupa berdoa,” tambah Dian.

Degh… berdesir juga hati Latifah.

Tumben. Tidak biasa-biasanya dia memanggilnya dengan sebutan adek. Sekelebat bayangan paras cantik Dian melintas.

”Iya deh. Kakakku yang cantik!” sahut Latifah sambil bercanda. Dian memang selalu memerhatikan, sekecil dan seremeh apa pun itu.

“Kalau sudah sampai Yogya, kabari segera, ya! Assalamu ‘alaikum.”

“Insya Allah. Wa ‘alaikum salam. Salam sepenuh cinta! Mmuah”

Klik!

Setelah menutup telepon, Latifah pun menstarter motor Supra-nya, melaju menuju arah Yogya.

Latifah bersitirahat sebentar di dekat terminal Bus Klaten, untuk sekedar menghilangkan kepenatan dan panasnya jok kulit motor selama 1,5 jam tadi.

Setelah pulih tenaganya, ia pun melanjutkan perjalanan.

Gerbang ‘Selamat Datang’ di Kota Yogyakarta untuk menyambut para wisatawan pun sudah ia lewati.

Hm, sebentar lagi ia sudah akan sampai di tujuan. Senyum simpulnya pun mengembang. Tikungan depan Candi Prambanan, perbatasan antara Klaten dan Yogya pun samar-samar sudah terlihat di depan. Tapi,

Tiba-tiba …

Teet.. teeet.. teeetttttttttt …

Suara klakson bus yang memekakkan telinga muncul dari arah belakang membuat goyah dan mengagetkan Latifah. Ia pun tak berkutik ketika samping kiri moncong bus itu dengan cepat mencium belakang motor. Ia juga tak kuasa membanting stang ke samping kiri, karena di depannya ada pengendara sepeda yang sedang membawa dagangan.

Dan ….

Brakkkkkk ….

Hanya itu yang ia dengar ketika motor dan badannya saling berlepasan satu sama lain.

Di saat Latifah melayang di udara, bayangan Ibu, Ayah dan Dian berkelebat laksana kilat di depan matanya. Trotoar keras jalan Solo-Yogya pun dengan suka cita menyambut kepala dan menghentikan gulingan tubuhnya.

“All…alla..hu akbar… laa…laaa… ilaaha illa..llah muh.. muham… muhammad rasulullaaa..h” hanya pekik lirih yang bisa ia lontarkan.

Ia yang ia pijak serasa berputar-putar sejenak. Ia mencoba dengan segenap sisa daya yang ada untuk bangkit berdiri kembali. Tapi, kakinya pun tidak kuasa menyangga. Tubuhnya lalu limbung dan kemudian ambruk tiada daya ke bumi.

Rab…bbi.. inikah akhir sebuah ja..a.. jalan itu?”

Sekali lagi bayangan anggunnya Dian berkelebat kilat di hadapan Latifah.

Meski tercekat serta lidah terasa asin bercampur lelehan darah, ia menguatkan diri untuk membisikkan lontaran kata cinta dengan terbata-bata.

“D..i.an..! te..te..ruskan pe..perjuangan. Demi kemuliaan Islam.

Entahlah …

Saat ini, Latifah hanya ingin memberikan satu senyum saja. Senyuman termanis yang ia punya untuk semua orang.

Terasa ada lelehan cairan yang mengalir menggenang dari ujung kepala membasahi kerudung dan seluruh jilbab birunya. Hanya itu yang bisa ia rasa, lalu ia mendengar riuhan suara banyak orang mendatanginya.

“Panggil ambulan cepat!!!!” teriak salah satu dari mereka.

“Wah, kasihan sekali, ya!” lamat-lamat masih Latifah masih mendengar riuhan suara orang-orang yang mengerumuninya.

Lalu sayup-sayup suara itu mulai hilang dari gendang telinganya. Jauh dan menjauuuhhh.

Hening .

Lalu dunia pun serasa sunyi senyap.

Hitam.

Gelap.

Pekat.

♥♥♥

Bayangan Duka, 31 Mei 2006

Pagi nan memberkahi…

Awan mendung sedang berarak rapi. Melintasi riuhnya kota Solo. Semendung hati Dian kala melepas kepergian Latifah untuk yang terakhir kalinya di Bandara Adisumarno.

Setelah pesawat yang membawa Lathifah mengangkasa menuju ‘taman peristirahatannya’ yang terakhir di kota Dumai. Burung besi itupun mulai mengecil dan semakin kecil hingga menghilang di balik awan. Sehilang asa dan cinta dalam balutan rintihan di dada.

Kini…hanya tinggal birunya langit berbalut gulungan-gulungan awan putih yang tersisa. Menyisakan gumpalan rajutan asa untuk meneruskan perjuangan untuk memekikkan kalimah ‘Laa ilaha illallah muhammad rasulullah’ di semesta raya.

Dian duduk menggelosoh di ruang tunggu bandara. Terasa ada sekeping asa yang hilang dari sisinya. Tak terasa butiran airmata cinta melepas kepergian sang sahabat, diiringi bisikan lirih membentuk rangkaian bait-bait doa yang menggerimiskan kolong-kolong langit hati, berdentam-dentam di sudut sanubarinya.

“Adek. Engkau telah menemui Kekasih Sejatimu nan kau rindu

Terpetiklah sudah apa yang engkau cita

Maafin, aku, ya!

Aku yang tiada di sisimu kala akhir kepergian abadimu

Seharusnya, kita bisa pergi mengarungi jalan cinta itu berdua

Walau berat aku melepas dan menghapus sepotong kenangan indah bersamamu

Namun, ‘setiap perjumpaan pastilah ada perpisahan’.

Itu ‘kan katamu dulu

Seperti awan yang menampakkan diri

lalu menghilang ditelan batas cakrawala

Seperti salam cahaya mentari yang terbit kala pagi

lalu ia berpamit ke bumi kala senja menyapa

Dengan segenap jiwaku,

Aku ridha atas kuas qadha-Nya

Demi Asma-Nya,

Aku sudah rela engkau pergi

Pergi dengan ketulusan hatimu nan putih

Seputih jernih seharum aroma susu Telaga Madu Kautsar

Yang aromanya mewangi kesturi

Semoga jejak perjuangan tak kenal lelahmu

Kala menyusuri jalan kebenaran

Kala tapak kakimu berjuang di jalan dakwah

Kala tetesan keringatmu engkau gulirkan di birunya langit dakwah

Kala embusan nafasmu untuk ummah

Kala desahan jantungmu hanya untuk kemuliaan Islam

Menapakkanmu ke tangga Firdaus-Nya.

Aku kan selalu mengenangmu sebagai sahabat terbaik

Saudari seperjuangan

Dan adek sejatiku yang manis dan imut

Selamat jalan duhai cintaku…

Duhai belahan jiwaku…

Duhai sekeping cintaku….

Duhai ‘mutiara’ peradaban agung…

Semoga samudra cinta dan keampunan-Nya selalu menaungimu

Semoga selimut cinta-Nya menghangatkanmu

Ku ‘kan selalu doakan dirimu

dalam sungkur panjangku pada-Nya

Kala malam senyap menyapa

Agar rinduku padamu bersemayam di dada

Di setiap detik detakan dan tarikan nafas yang masih menyisa

Semoga kelak kita diperjumpakan di Telaga Madu Kautsar-Nya

Yang memantulkan kejernihan, kenikmatam abadi dan terlezati. Amin.

Butiran-butiran airmata Dian berlelehan tidak bisa dibendung meski oleh tembok kokoh sekalipun, diiringi irama sesenggukan lautan kesedihan yang melantunkan dawai-dawai akordion sendu.

Teringat masih ada satu amanah almarhumah yang belum ditunaikannya, Dian lantas menyeka pipinya dengan sehelai tisu, lalu beranjak bangkit bergegas meninggalkan bandara.

♥♥♥

Patahnya Sekeping Hati, Masjid Kampus UNS

Sesosok tubuh tegap memakai baju koko putih nan gagah dengan pandangan sayu menunggu dengan tabah di teras Masjid kampus.

Sesampai di masjid kampus, Dian membuka tas dan diambilnya sepucuk surat yang dititipkan Latifah.

“Ini wasiat terakhir dari almarhumah, Latifah, untukmu.”

Dian mengangsurkan surat itu ke Ali. Dengan pelan dia merobek ujung amplop biru langit itu, secarik kertas mungil yang terisi barisan apik tatahan huruf-huruf yang membentuk rangkaian kata pun menyembul.

Bumi Allah, 27 Mei 2006

Untuk Saudaraku, Ali Zainal nan diberkahi Ilahi,

Di bumi perjuangan nan menaburkan benih hamparan pahala

Assalamu alaikum wr.wb

Bakda tahmid dan salam,

Semoga rahman dan rahim-Nya selalu menaungi terjalnya tapak dakwahmu.

Saudaraku, melihat secarik kertas yang engkau hantarkan, hati ini bergetar berdebar. Dari lubuk hati nan terdalam, ada sejuta raungan tanya yang menyergap, sudah pantaskah diri ini menerima anugerah teragung-Nya saat ini?

Saya sudah membaca visi dan misi-mu untuk menyempurnakan separuh agama seraya pula untuk membingkai sebuah keluarga nan mungil yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Sungguh… luar biasa takjub saya membacanya.

Saya sungguh tersanjung dengan permintaanmu untuk menjadikan saya sebagai Bidadari di Langit Hatimu & ‘ustadzah‘ di rumah mungil yang akan kaubangun kelak.

Namun, saya butuh waktu untuk menguatkannya. Insya Allah, sepulang dari Jogja saya akan memberi jawaban pastinya.

Semoga dengan bergulirnya lembaran yang tiada berharga ini di hadapanmu, tidak mengganggu aktifitasmu.

Insya Allah, apabila Allah mengizinkan, semoga semangat cintamu dan cintaku pada-Nya akan terekat dan terlabuhkan oleh satu ikatan suci ‘miitsaqan ghaliiza’ suatu masa kelak.

Jika pun Allah belum berkenan menautkan hati kita berdua. Semoga engkau mendapat bidadari nan lebih baik serta salehah. Karena hanya Allah Yang Maha Tahu.

Maaf, jika ada kata yang kurang berkenan.

Wassalamu ’alaikum Wr.Wb,

Latifah

Dari balik surat menyembul sebingkai paras manis dibalut ‘jubah langit’ yang anggun berhias senyum manis menyungging.

Tak kuasa Ali memandang potongan photo itu. Tenggorokannya serasa kering kerontang.

Duh, asa yang hampir teraih dan terpatrikan itu kini lepaslah sudah, seuntai doa dari lubuk sanubari terdalam pun terangkai,

“Ya Allah…

Semoga Engkau menempatkan dia di sebaik-baiknya tempat-Mu

Atas segala ikhtiar dan perjuangannya

Untuk menempuhi jalan cinta-Mu

Pergilah dengan cintamu nan tulus

Kepada Sang Pemilik Keabadian cinta

Kutercekat atas ajar putihnya lautan Cinta

Kepada Rabbi Izzati nan kau tebari

Dari-ku.

Yang selalu mengagumi semangat tapak dakwahmu.”

Setitik butiran embun merembes dari kedua sudut kelopak matanya. Mematahkan sekeping ranting pohon hati yang terpatah.

Tak tega Dian memandang kepiluan yang dialami Ali. Didatanginya laki-laki gagah itu.

”Sudahlah, nanti akan bulek coba carikan lagi ‘bidadari’ yang lain. Sekarang ikhlaskanlah kepergiannya!” hiburnya.

Setelah Dian berlalu. Ali menghela nafas panjang. Menuntaskan segala gundah gulana hatinya. Dipandanginya surat terakhir dari Latifah sekali lagi.

Kemudian ia dengan gontai melangkahkan kakinya ke parkiran masjid.

Cuitt.. cuitt…. cuittt

Kunci otomatis Honda Jazz merahnya meraung memekik memecah keheningan sore nan menyayat. []

Yogya, 25 Desember 2006 2.23

Keterangan

Bulek : Bibi (bahasa Jawa)

Co-ass : Co-assistant

Sphygmomanometer : Tensi (alat pengukur tekanan darah)

Stetescope : Steteskop

Psikometri : Mata kuliah Psikologi

Jubah langit : Jilbab (jilbab bukan kerudung, tapi baju

Terusan/gamis atau jubah yang longgar)

Akordion : Alat musik khas Melayu (harmonika tangan).

2 responses »

  1. Miau jadi Klepek-klepek….

    Btw Miau Pertamax…….yng Comment disini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s