Buah pena; apuindragiry

Aku ingin menjadi cahaya bidadari seutuhmu, dalam semua keterbatasanku. Menjadilah imam bagiku, menjadi pelita ilmu bagiku. Menjadi peneduh dengan napas-napas dakwahmu. Mandikanlah bunga sakura ini dengan hangatnya cahaya surya kasihmu.

Kuingat ucapan Asma, kala taaruf di lantai empat masjid Al Furqon Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung beberapa hari yang lalu. Hati siapa nan tak tersentuh! Terluluh! Mendengar sebuah kidung pinta sesosok bidadari.

Aku bukanlah nyala terang yang sempurna. Aku hanyalah sebongkah mentari yang dulu sempat retak. Yang kini mencoba untuk merakit kembali serpihannya dari kekelaman dan pekatnya hidup untuk mencahayai bumi kembali dengan cahaya sempurna. Berbagi kebahagian, saling melengkapi adalah misi agungku dalam menyempurna separuh agamaku, itu jawaban singkatku kala itu.

Pagi ini, aku akan menjemput calon istriku itu di Bandara Husein Sastranegara. Ia akan datang bersama Ayah dan Ibunya dari Tokyo. Mereka akan berganti pesawat menuju Bandung setelah mendarat di Jakarta.

Aku melihat jam tanganku.

Jarum jam menampilkan 10.30. Sudah terlambat setengah jam. Padahal di board arrival-terminal kedatangan- pesawat Garuda dari Jakarta seharusnya tiba tepat jam 10.00. Cuaca memang agak memburuk akhir-akhir ini. Anomali cuaca yang tidak bisa diprediksi oleh tangan-tangan ahli manusia sekalipun.

Diam-diam aku melirik Miftah, kerabat Asma. Turut serta pula neneknya nampak tak bisa lagi menutupi raut gelisahnya. Mereka datang dengan mobil keluarga untuk menjemput kerabat, putra dan cucu kesayangannya. Sedang aku, bersama Abah dan Emakku yang baru tiba dari Indragiri Hilir kemarin sore, juga tak menampik dirundung awan kecemasan, degup penantian kedatangan calon menantu dan besannya. Jangan tanya lagi dengan suasana hatiku kini.

***

Bumi di ambang jendela senja. Rona awan kemerahan menghinggapi semesta. Saat ujian pendadaran skripsiku akan tiba jua dua minggu lagi. Aku kini sedang gigih memersiapkan diri. Ini perang hidup dan mati dalam studiku. Kalah di hadapan dosen penguji, alamat bakal mengulang satu semester lagi. Buang-buang waktu dan duit! Apalagi tiap semester biaya kuliah kian melangit.

“Fan, ada yang perlu aku bincangkan,“ Indra, seniorku di KALAM, UPI tiba-tiba saja muncul, lalu duduk di sampingku. Indra memang sahabatku. Ia pula yang menuntunku dalam meraup ilmu Islam dan beroleh jalan cahaya seperti sekarang. Kami memang berasal dari provinsi yang sama, Riau. Ia berasal dari kabupaten Indragiri Hulu, sedang aku dari Indragiri Hilir.

Aku sedang asyik menatap monitor komputer.

“Ya, ada apa? Serius sekali kelihatannya?“ jawabku sambil memandangi parasnya.

“Ada muslimah dari negeri Sakura. Ia ingin menikah dengan orang Indonesia. Ia baru berjilbab. Insya Allah ia salihah. Miftah, kerabat dekatnya yang menawarkan. Dia sedang giat memelajari Islam. Sudah satu bulan ia di Bandung. Kini ia bermukim di Daarut Tauhid.“ Kampus kami memang hanya berjarak dua ratusan meter arah ke utara dari pesantrennya Aa’ Gym di Gegerkalong.

“Kenapa tidak kamu saja?“ timpalku sembari menggodanya.

Indra menjitak kepalaku, “Aku masih belum sesiap dirimu. Banyak tanggungan. Apalagi adikku masih butuh kiriman biaya untuk sekolah. Aku cuma editor lepas di penerbit. Kamu kan sudah punya banyak usaha di sini. Apalagi yang kamu tunggu? Kesempatan tidak datang dua kali, Boy!“

Siapa pun di kampus tahu, sosok Irfan dulu. Irfan si Raja Dugem. Hobinya nongkrong dan foya-foya di kafe dekat pusat perbelanjaan Cihampelas tiap senja. Boy!!… Kami selalu memakai nama kental itu jika bersenda gurau. Itu panggilan khas anak-anak Melayu.

Tak lama paras Indra raib.

Ia datang kembali dengan menenteng selembar map putih.

“Ini biodatanya. Jika kamu tertarik, kita kan proses lebih lanjut. Jika aku jadi dirimu, wah aku pasti tancap gas…“

“Huu… maunya!“ jawabku. Tapi tetap kuterima juga dengan degup-degup hati.

“Selamat berenung dan berikhtiar!“ ia menepuk pundakku, lalu beranjak ke kamarnya.

***

Semilir angin mengembus dari celah-celah ambang dinding masjid. Masjid megah berlantai empat ini memang lumayan dingin. Tanpa dipasang AC pun suasananya sudah menggigit pori kulit. Aku kagumi buah karya sang arsitek  masjid kampus megah ini.

Lantai empat masjid Al Furqon dilanda sunyi. Senyap. Kota Kembang masih diselimuti kabut pagi menutupi bumi.

Duduk di hadapan kami Miftah,  aktivis yang malang melintang di KALAM UPI. Sebenarnya sosok aktivis ini yang kukagumi. Itu yang sering kudengar cerita dari Indra tentang sepak terjangnya. Aku pun membatin, O, ini the miracle of akhwat itu. Tak salah dari lisannya teruntai kalimat-kalimat kebajikan dengan pesona celupan kata-kata indah. Ia telah dikenal sebagai penulis yang cukup disegani di Bandung. Novelnya sudah beredar luas dan menjadi bestseller di seantero Nusantara, bahkan kini merambah ke negeri jiran, Malaysia. Di sebelahnya duduklah Asma, sesosok bidadari jelita dari negeri Sakura yang akan menjadi istriku.

Asma mengenakan jilbab hitam dihiasi dengan kerudung putih melambari hingga ke bawah bagian dadanya. Sungguh anggun! Seanggun dan seindah purnama penuh! Aku pun tak menyangka. Padahal negeri Sakura terkenal dengan hawa kebebasan, bahkan mayoritas penduduknya tidak beragama, alias ateis. Sungguh langka!!! Ada bunga sakura nan ranum jelita terhadir di hadapanku kini.

“Alhamdulillah, hari ini dua jiwa mencoba untuk bersatu dalam sebuah proses menuju ikatan nan agung. Semoga Allah membarakahi niat suci ini, agar mahligai suci yang terbingkai kelak beroleh ridha ilahi.“ Indra membuka pertemuan. Aku juga heran, bagaimana Indra tiba-tiba saja bisa menyusun rima kata yang indah itu. Tapi, orang Melayu memang terkenal dengan kalimat santun dan pintar bersilat lidah.

“Di sini, saya mewakili kerabat saya, Asma. Ia putra Paman saya yang kini bermukim di Jepang. Nama aslinya adalah Narita Ono sebelum beroleh hidayah satu bulan yang lalu. Dia lulusan Universitas Tokyo jurusan Teknik Sipil. Tak sengaja beroleh hidayah setelah berkunjung ke rumah nenek kami yang ada di Lembang. Kini ia ingin tinggal di Indonesia, karena ia ingin lingkungan yang kondusif bagi jiwanya. Ia ingin mengepakkan sayap-sayap dakwahnya di sini.“ Itulah kalimat pembuka dari Miftah, mewakili Asma.

***

Koran pagi Pikiran Rakyat, 13 Maret 2007

“Pesawat Garuda Airlines Tokyo-Jakarta, dengan nomer penerbangan GA-208 tergelincir dan meledak di landasan pacu bandara internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Diperkirakan semua kru dan penumpang tewas.“

***

Di pekuburan keluarga Lembang, Bandung. Sebatang pohon sakura menaungi tiga buah pusara di bawahnya. Aku berjongkok dan mencabuti rerumputan kecil liar yang mulai tumbuh berdesakan. Di salah satu nisan tertoreh ukiran,

Asma binti Khalid

Lahir: Osaka 12 Juni 1987

Wafat: Jakarta, 13 Maret 2007

Dedaunan bunga sakura berjatuhan menerpa wajahku.

Aku tengadah ke atas. O, ternyata bunga sakura pun bisa tumbuh-kembang di Lembang.

Kuambil satu daunnya, memandanginya dengan ketakjuban.

“Mas, sudah senja. Yuk, kita pulang!“

Aku tergeragap.

“Iya. Sebentar lagi ya,“ gumamku sambil menggenggam erat jemari lembut Miftah, istriku.

“Masih terkenang dengan bunga sakura nan jelita, ya?“ goda Miftah.

“Tidak kok. Karena kini sudah ada setanggi bunga yang lebih indah kelopaknya, mewangi aromanya dan mengilap cahaya manikam kesalihannya. Kalaulah tidak karena bunga sakura itu, manalah mungkin kan kudapati bidadari jelitaku ini,“ bisikku sambil tersenyum ke arahnya. Miftah hanya tersipu kala balas kugoda.

Isteriku tercinta, senyum menawanmu laksana cahaya indah bidadari surgawi nan turun ke bumi dengan kepakan sayap cinta suci, gumamku di bilik jiwa.

“Sayang!!! Jangan jauh-jauh, ya!“ pekik Miftah ketika melihat Muhammad Al Fatih mulai memunguti guguran dedaunan putih bunga sakura.

Cenderacinta kami itu berlari dengan terengah-engah mendatangiku dan Miftah.

“Abi… kapan kita pelgi ke Osaka? Tempat bibi Asma tinggal? Kata nenek, di sana banyak bunga sakula… aku pingin liat sakula yang buuanyaaak…“ celotehnya riang dengan gaya cedal.

Aku pun meraih dan mendukung tubuh mungilnya di dadaku.

“Kita tidak akan ke sana, Cenderacintaku..“ jawabku dengan senyum. Kukecup parasnya dengan lembut.

“Kenapa, Abi?“

“Kita hanya akan pergi ke kota Roma.“

“Kenapa ke Loma, Abi? Apa kita akan libulan ke Venezia? Kata Ummi, sungai-sungainya indah lho, Abi. Benal kan, Mi?“

Aku pun menoleh, memandangi istriku.

Miftah hanya merebakkan senyum mendengar celoteh manikam jiwaku itu. Buah cinta kami yang lucu. Permata indah jiwaku.

Aku kembali mengecup keningnya. Lalu kubisikkan, “Kita tidak akan bersenang-senang, Sayang.“

“Lalu.. lalu.. untuk apa kita ke sana, Abi?“

“Karena kita akan menaklukkan takhta Vatikan, Sayang…“

“Ah, aku tak sabal lagi menanti, Abi…“

Miftah, istriku tercinta hanya tersenyum mendengar percakapan kami berdua.

Semoga titisan darah jihad Muhammad Al Fatih, sang penakluk takhta Konstantinopel, kini meletup dan mengalir dalam darahmu. Agar engkau pun bisa menjadi pembela Islam kelak, bisik doaku di telinga intan jiwaku itu.

Satu daun bunga sakura kembali menjatuhi kepalaku, seolah berbisik-bisik mesra,

Musim semi menyapa

Tiupan semilir angin menampar

Gugurkan bunga sakura nan jelita

Ah, mewanginya sang bunga

Kembang Sakura pun kembali berguguran dengan riang kala diterpa semilir angin Lembang. Biarlah ia tetap memekar indah.

Aku menggamit jemari Miftah, dan menggendong Muhammad Al Fatih, lalu kami meninggalkan pekuburan itu.[]

Parijs van Java (Bandung), 9 Mei 2008 20.31

======================================

KALAM: Kajian Islam Mahasiwa UPI, Bandung

Tertuntaskan di Yogyakarta, 11 Juni 2008 11.11

Sebagai cenderamata dan cenderajiwa

Kala kukunjungi Bandung 9 – 11 Mei 2008

Nan  menabur sejuta inspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s