36
Kecupan Bidadari Surga

Kanvas karya fenomenal: apuindragiry

Aku pun jadi teringat, kalau belum shalat sunnah dua rakaat setelah Maghrib. Tadi usai shalat berjamaah di masjid Darussalam, aku memang bersicepat pulang ke kediaman Buya Ahmad, karena Abah mau berpamitan pulang ke Dumai.

Aku masuk ke kamar Habibah. Kuambil dan kukenakan sarung berwarna putih dan kopiah yang kubawa dari rumah dari dalam koper.

Setelah melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Kubaca surat Ar Rahman dan surat Al Waqi’ah di Al-Qur’an saku mungilku. Ada tetes-tetes teduh mengalir dan menyusupi dalam kalbu. Ada sejuta kebeningan cahaya menyinari langit sanubariku.

Usai membaca Al-Qur’an, kuraih handphone komunikatorku. Aku memang tak pernah lepas dari benda satu ini. Ke mana pun aku pergi, pastilah ia selalu menemani.

Kutulis sebuah puisi bahagiaku di handphone-komunikator lamaku. Sambil menunggui sang bidadari yang sedang bercengkerama melepas rindu dengan adiknya yang baru tiba siang tadi di ruang keluarga. Afifah, adiknya Habibah yang paling bungsu memang melanjutkan kuliah dia Universitas Al Azhar Kairo, Mesir.

Kuteringat momen bersejarah tatkala akad yang mendebarkan, mengharukan dan membahagiakan tadi. Kulihat lelehan bahagia Habibah dan senyuman mertuaku dan juga Abah-Ummiku. Itulah yang menjadi inspirasi bahasa puisiku ini.

Kata adalah cermin jiwa. Dia akan memantul mengikuti arah pena sang pemahatnya. Dan sesungguhnya ada yang harus dipertanggungjawabkan -kelak di hadapan Allah Azza wa Jalla- dari setiap tarikan napas dan luncuran tetesan tinta katanya. Dan ada nilai-nilai yang harus kita bawa juga kebenaran yang harus kita sampaikan.[1] Itulah taushiyah dari Ustadz Mohammad Fauzil Adhim yang begitu memengaruhi bentuk dan isi tulisan-tulisanku.

Begitu banyak sekarang ini penulis-penulis yang begitu sembarangan memahatkan penanya. Semisal, Soffa Ihsan lulusan UIN di Yogyakarta yang saat ini melanjutkan kuliah di pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dia menulis buku Ritual Celana Dalam dan In the Name of Sex; Santri, Dua Kelamin dan Kitab Kuning. Sungguh sangat tersayangkan. Sangat eman-eman, karena dia itu lulusan pesantren Tebuireng, Jombang dan pesantren yang telah termashyur yaitu Al Munawwir, Krapyak Yogyakarta. Buku yang menghebohkan jagat semesta. Seharusnyalah beliau yang diberi kepahaman ilmu agama yang berlebih, mencerahkan ummat yang sedang terpuruk dan terdegradasi akhlaknya saat ini dengan tulisan-tulisan yang menyejukkan, menggugah kesadaran masyarakat yang tererosi tauhidnya dengan ritus-ritus Latta dan Uzza untuk menjadi lebih baik. Alih-alih, ternyata tulisannya malah menjerumuskan ke jurang kepetakaan yang mengaromakan pijar–pijar api jahannam.

Santri tersesat juga muncul dari Jombang, dia sudah dikenal oleh kalangan eksekutif muda Jakarta lewat bukunya Jakarta Undercover. Bukunya berisi petualangan sang penulisnya ketempat-tempat pelacuran dan hiburan syahwati. Siapa yang tak kenal dengan Moammar Emka yang sungguh begitu istiqamah blusukan dari tempat-tempat maksiat yang satu ketempat maksiat lainnya. Tempat maksiatnya pun hanya untuk kaum kalangan elit tertentu di Jakarta yang tahu. Anehnya, dia dengan bangga memekik dan melabelkan dirinya; aku lulusan Pondok Pesantren Denanyar Jombang, Dab![2]

Bertambah satu lagi perusak Islam. Dia adalah Muhidin M. Dahlan yang juga salah satu mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang membuat buku memoar:Tuhan Izinkan aku Jadi Pelacur dan novel Adam Hawa. Buku dan novel yang kata Ustadz Adian Husaini begitu tak senonoh dan penuh dengan bahasa kepornoan dan tentu saja sesat, dan menyesatkan.[3]

Entahlah, ada apa dengan kampus UIN sekarang ini. Kesesatan berfikir telah menyelimuti tempat penggodokan calon-calon pembimbing umat itu. Kalau ’sebagian’ pembimbing umatnya saja sudah teracuni pemahaman dan pemikirannya, lalu bagaimana dengan masyarakat awam yang tak tahu apa-apa. Quo Vadit[4] ilmu anak-anak UIN? Bisakah antum antunna menjawabkan pertanyaan jiwaku nan membuat penaku melara ini? Sungguh penaku ini tak sanggup lagi melukiskan kedukaannya yang menyangat.

Aku jadi teringat dengan apa yang dikatakan oleh asy Syahid Sayyid Quthb:

”Para penjajajah dewasa ini tidak mengalahkan kita dengan senjata dan kekuatan, tetapi melalui orang-orang kita yang telah terjajah jiwa dan pikirannya. Kita dikalahkan oleh dampak yang ditinggalkan oleh para imperialis pada departemen pendidikan dan pengajaran, juga pers serta buku-buku. Kita kalah oleh pena-pena yang tenggelam dalam tinta kehinaan dan jiwa yang kerdil, sehingga pena-pena itu hanya bangga, jika menulis tentang para pembesar Perancis, Inggris dan Amerika.”[5]

Aku teringat dengan wasiat yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam majmu’ fatawa-nya. Beliau memesankan:

”Siapa yang tidak punya kemampuan membantah syubhat dalam buku ’sesat’. Hendaknya berpaling darinya.”[6]

Syaikh benar.

Aku tersadar. Aku belumlah mempunyai ilmu nan mencukupi dan memumpuni, juga belum dianugerahi keterjagaan hati. Jadi aku hanya mengutip dari buku-buku Ustadz Adian Husaini.[7]Aku sungguh ’belum’ berani membaca karya-karya yang berlumur dosa dan nista itu. Sungguh aku belumlah terlayak! Aku takut terjatuh dari niatan awalku, bukan malah membantah buku ’sesat’ itu, tapi malah terrarus masuk ke dalam ’lingkaran setan’ pikiran sesat mereka. Mereka yang tersesat itu pasti akan tertawa terbahak-bahak apabila melihatku yang niat awalnya mau menghancurkan pemikiran mereka malah terjatuh di jurang kehinaan. Akupun berjanji dalam hati, jangankan membaca buku-buku mereka, menjamah bahkan melirik pun aku tak sudi. Aku sungguh tak sudi. Itulah seuntai janji hatiku. Berkenankah engkau berjanji juga?

Membaca buku-buku sesat pada asalnya haram. Ia hukumnya menjadi boleh jika tujuan membacanya untuk membantah dan membuktikan kesesatan buku tersebut. Dan hal ini boleh dilakukan hanya oleh orang-orang yang pemahaman agamanya sudah kuat.[8]

Aku tertegun dengan pikiranku yang melayang-layang tadi.

Ya Allah… tuliskan kepahaman dalam hatiku. Jagailah tinta ini untuk menari, membela dan berjuang di jalanMu. Hindarkan aku dari ihwal-ihwal yang membuatMu tak ridha. Barakahilah tiap tetesan tintaku yang mengalir ini.

Aku juga selalu teringat dengan untaian nasehat dan penyemangat-gelora untuk meneteskan tinta di jalan dakwah, dari guruku tercinta KH. Abdullah Chalil Al Jawi. Sayangnya, beliau sekarang sudah pindah dan menetap di Yogyakarta. Karena menjadi dosen tetap di STEI HAMFARA dan mendirikan Ma’had Taqiyuddin An Nabhani. Segenggam taushiyah melalui e-mail-nya sungguh membakar gelorajiwa dan menajamkan pahatan ujung matapenaku.

”Thariq, terus kobarkan letupan-letupan api kreativitas untuk keagungan dan kejayaan agamamu. Cahayai dan kemilaukan pesona Islam lewat melembut dan syahdunya hamburan bait-bait hurufmu. Tapi, berhati-hatilah dengan ujung mata penamu. Jika engkau tersalah menata hati, ujung penamu bisa menenggelamkanmu ke dalam jurang petaka panas jahannam nan mengabadi. Dan engkau hanya akan beroleh buah zaqqum. Luruskan niatmu. Jangan engkau cari kepopuleran dan keselebritisan diri. Amalmu tergantung niatan awalmu. Jika niatmu hanya untuk menjadi penulis terkenal! Sungguh tersialah amalanmu itu dan di akhirat kelak, engkau hanya menerima kehampaan amal. Engkau hanya akan berlimpah sanjungan dan ketergelaran dan luapan semesta puja-puji manusia, saat inilah kesempatan setan untuk menghancurluluhkan hasil jerih-payah kebajikanmu. Memang, namamu akan melambung melangit, tapi semuanya tiada arti di hadapan ilahi. Karena engkau telah tersalah menata hati. Aku kagum dengan warna lukisan kata-katamu. Jagalah… jagalah ia dari ketergeliciran niat. Sungguh sangat disayangkan, apabila kelebihanmu nanti engkau pergunakan untuk hal-hal yang tak beroleh pahala.”

Guru! Aku merinduimu. Rindu setiap perjumpaan denganmu. Rinduku untuk segenggam taushiyah teduhmu.

Setetes kristal bening bergulir dari pelupuk mataku.

Semoga tiap tetes-tetes tintaku, akan mengalirkan amal jariyah kepadamu. Tanpamu apalah arti guratan penaku. Aku menggumamkan doa.

Belum sempat aku menarikan jemariku. Hp-komunikatorku menjerit. Ada SMS yang masuk dari KH. Abdullah Chalil Al Jawi,

”Barakallahu laka wabaraka ’alaika wajama’a bainakuma fii khair! Semoga berkah Allah tetap untukmu, dan semoga berkah Allah tetap atasmu dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. Selamat jatuh cinta dan merayakan keindahan pesona cinta. Semoga dengan pernikahanmu ini, kamu semakin bergiat diri untuk mendakwahkan Islam lewat goresan-goresan indah tinta penamu. Abdullah Chalil Al Jawi dan keluarga.”

Aku pun tersenyum.

Guruku yang selalu perhatian. Meski kami sudah terpaut jarak yang merintangi persuaan. Tapi hatiku dan hati guruku masih selalu terikat oleh simpul temali guru dan murid.

Aku pun mengetikkan SMS balasan untuk guruku,

”Terima kasih Kiai. Masih mengingat santri Mbelingmu ini, juga getaran indah doa-doanya. Semoga Allah Ta’ala selalu mencurahimu dan keluarga dengan naungan dan limpahan berkah. Semoga kelak, Allah memberi kesempatan kepada saya untuk bisa bersilaturahmi ke Yogya. Kami yang tengah berbahagia, Thariq dan Habibah.”

Disusul oleh SMS,

”Jangan lupa, kirimkan karya terbaikmu yang sudah diterbitkan ke Yogya, ya!”

Kubalas dengan rona senang

”Insya Allah…”

Terbayang dalam imajinasiku sekelebat wajah putih dan bijak guruku itu. Saat-saat indah ketika menimba ilmu dengan dia di kota Bogor dulu.

Tak berselang lama, datang SMS. Dari Ustadz Nadzif,

”Semoga Allah membarakahi pernikahan kalian! Sungguh, sebuah melodrama cinta nan meliuk indah dan menggetarkan sepenuh semesta. Aku sungguh cemburu! Siapa yang menyangka, jika bidadari shalihahmu itu ternyata Habibah. Jangan lupa, cenderanikahnya disisakan satu ke Bogor, ya! Kami yang turut mendoa, Muhammad Nadzif dan Ummu Zahra.”

Aku pun membalas,

”Terima kasih Ustadz! Insyaallah, cenderanikah terkhusus disisakan tiga untuk Ustadz dan keluarga. Terima kasih untuk bidadari shalihahNya nan terkirimkan ’melalui’ Ustadz dan Ustadzah. Salam takzim.”

Tersusuli dengan deritan sendu SMS dari seorang sahabatku di Universitas Teknologi Malaysia,

”Untuk sahabatku seperjuangan, untuk sang Pujangga Islam dari negeri peretas tulisan indah. Yang karya-karyanya begitu harum aroma dakwahnya, begitu bening untuk bercermin hati, mengkayakan dan juga menggizikan di relung jiwa. Terpetiklah sudah sang bidadari impian. Seuntai doa terpanjatkan, semoga pernikahannya berbarakah. Dari yang selalu mengagumi ukiran hurufmu, sahabatmu serumpun dari bumi Melayu, Malaysia. Sahabatmu fillah, Nurul Izzah.”

Kubalas,

”Islam tak tersekati belahan pulau. Dia melintasi arakan awan. Dia melawati negeri dan menyelami kedalaman samudera benua. Itulah citarasa persaudaraan hakiki, yang terajut oleh ikatan benang akidah memberkah. Kita telah tersatukan oleh satu genggaman bendera indah yang selalu terpatri di lubuk hati yang imani. Inilah bendera kebanggaan Rasulullah saw. Yang telah terlumuri oleh lelehan darah-darah syuhada Al Haidar, Sayyid asy Syuhada, Hamzah. Ya, hanya satu bendera Laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. Yang kini ’telah raib’ entah ke mana. Terlesap oleh limapuluhan lebih warna-warni bendera yang tak bermakna dan hina. Terima kasih atas bait doa indahnya. Juga atas sokongan letup bara dalam berkarya. Maaf, saya belumlah terlayak disebut sebagai pujangga. Saya hanyalah perangkai katajiwa, sungguh! Semoga kelak kita diperjumpakan di telaga indah Kautsar-Nya nan mewangi kesturi.”

Lalu berpuluh-puluh SMS susul-menyusul tiada henti dan langsung memenuhi ruang inbox handphone komunikatorku. Mereka semua adalah dari anggota Dunia Puisi Islami, komunitas dunia maya yang kudirikan dan kukelola. Ah, indahnya persahabatan nan terjalin karena kalimat Laa ilaha illallah.

Jemariku pun dengan lincah mulai menari-nari. Memahat bait-bait syair hati. Muncullah judul yang kurasa hangat, romantis, melembut, dan menyahdu. Semoga bidadariku akan merasa senang dan tersanjung kala membaca puisi terkhususku ini.

”Nyanyian Hati untuk Sang Bidadari”

Ada pinta dalam bait kata

Ada senandung jiwa dalam syair hati

Ada kerelaan dalam melangitnya asa-cita

Kala cahaya cinta berpendar di taman hati

Rabb…

“Kuingin dia-lah sang belahan jiwa

Tuk menyempurna agama.”

Kala mitsaqan ghaliza t’lah mematri kami

Rabb…

Izinkan kubisikkan kata

“Aku sungguh jatuh cinta padanya.”

Kala senyum bahagia kami merekah

Rabb…

Kuharap pinta

“Tumpahkan barakah-Mu atas kami.”

Kala ‘kusentuh’ ia dengan melembut

Rabb…

“Semoga ’kan menjadi taburan pahala.”

Kala bahtera kehidupan terlayari

Rabb…

Kutengadah jemari

“Jadikan kami sepasang cinta

di dunia dan akhirat kami.”

Kala ’bunga cinta’ kami bersemimekar

Rabb…

“Semoga mereka kan jadi pelita

Semoga mereka kan jadi lentera

Semoga mereka kan menjadi manikam jiwa

Semogalah mereka menjadi cenderacinta indah

Semoga mereka kan jadi senyuman bangga

Ayah dan ibunya di Alam nan membaka.”

Rabb…

Izinkan daku jatuh cinta

Kepada nan t’lah layak kuujarkan kata cinta

Rabb…

Izinkan daku jatuh cinta

Tuk seseorang

Nan t’lah teridha-terizini oleh-Mu.[9]

Tak terasa airmataku jatuh mengguliri kedua belah pipiku. Kala kubaca dengan resapan-resapan cinta, setiap bait puisi-puisi cintaku yang tertulisi di layar hp-komunikator.

Kelak, kala napas telah berhenti terembus, jantung lupa mendenyut, aku kan menghadap-Nya dengan langkah-langkah gagah. Kelak, kala di Yaumil Akhir aku bukan termasuk segolongan pemuda yang dicibir oleh Rasulullah Saw. Ya, aku selalu teringat dengan hadits indah baginda Rasulullah saw. ”Orang meninggal di antara kalian yang berada dalam kehinaan adalah, bujangan.”

Hidupku kini memang telah berubah.

Separuh agama telah tergenapi tuntas! Sekarang, telah ada sesosok bidadari shalihah di rumah cinta mungilku. Ia yang akan bersetia menungguiku dengan segenap asa rindu, menyambuti kepulanganku dengan salam cinta. Mengecupku dengan keikhlasan bakti. Dan mengusapi kelelahan dan kepenatanku dengan siraman air hangat sehangat cinta.

Terasa ada sentuhan jemari lembut yang menutupi kedua pelupuk mataku.

Pandanganku pun menjadi gelap.

Membuyarkan lautan luh imajinasi dan memecah matasukma nan menari-nari seirama jemari.

Lalu jemari lembut itu terlepas dengan perlahan.

Kutolehkan kepalaku ke belakang.

Ada seulas senyuman termanis mengembang yang kini telah halal kunikmati. Sesosok bidadari duniaku menghampiri. Tanpa kusadari, karena keasyikan menulis membahasakan hati, Habibahku telah memasuki kamar tanpa menimbulkan retihan-retihan suara sama sekali.

”Kok, serius sekali. Sedang menulis apa?” tanyanya dengan kedua tangannya menggelayut manja di pundakku.

Kuhentikan tarian jemariku di atas keypad handphone- komunikatorku, ”Lagi memahat puisi untuk Pelangi Bidadariku yang cahayawinya mengaduhai hati!” jawabku sambil menggodanya dengan kata-kata puitis.

”Dasar, Pujangga!” bibirnya memamerkan kerenyahan senyum. Dia lalu melihat tulisan-tulisan di layar handphone-komunikatorku yang barusan kuketik.

”Tapi, kamu suka kan, punya suami pujangga!? He-he-he,” godaku.

Mukanya langsung menyemu memerah.

Senyuman manis, halal dan melegit dari lawan jenis yang baru pertama kali kunikmati dengan pandangan lekat.

Sungguh indah, saat senyumannya hadir dengan canda-canda penuh barakah.

Habibahku mulai menggelitik dan mencubiti perutku dengan lembut. Karena telah aku godai dengan kalimat puitis tadi.

”Ouwghh… ampuuun!” aku berteriak tertahan karena kegelian, sambil kuangkat jemari telunjuk dan tengah ke atas. Pertanda kalau aku melemparkan bendera kekalahan. Menyerah!

Aku memang paling anti digelitik. Karena aku memang ’alergi geli’. Dan itu sudah bukan rahasia umum lagi dan sering menjadi bahan ledekan dan gosip temen-temen di Markas Jundullah juga sahabat-sahabat satu kajianku.

Aku akan memilih bertarung smack-down satu lawan satu dengan George Walker Bush. Tapi, sepertinya si Bush ini akan berlaku curang, ia pasti akan menggandeng tangan Tony Blair, John Howard, Angela Merkel, Nicolas Sarkozy, Lee Kuan Yew, dan penguasa-penguasa muslim yang bersekongkol dan berkhianat untuk melawanku. Jika pun aku bisa mengalahkan kambrat-kambratnya Bush itu, sudah menunggu di pinggir ring dengan seringai buas dan licik sosok Condoleezza Rice, Dick Cheney, Paul Wolfowitz dan Donald Rumsfeld yang telah siap untuk menghajar dan mengeroyokku. Bush yang sombong dan maniak-minyak itu memang sudah terkenal akan kelicikan, kelaliman dan sikap kecurangannya (jangan-jangan dia memang terkena penyakit skizofrenia, penyakit gila akut, selain penyakit Islamphobia) jadi, aku sudah maklum kalau dia akan berbuat curang. Dia yang telah membunuh ribuan kaum muslimin di Irak, Pakistan, dan Afghanistan. Bom-bom curahnya tak pernah memilih apakah korbannya itu wanita atau anak-anak.

Masih ingat dengan pidatonya sang Gembong Negara Teroris[10] ini, di Kongres AS, 20 September 2001? Bush, sang Koboi dari Texas ini pun mengultimatum,

”Setiap bangsa di semua kawasan kini harus memutuskan: Apakah Anda bersama kami, atau Anda bersama teroris. Sejak hari ini, bangsa manapun yang masih menampung atau mendukung terorisme akan diperlakukan oleh Amerika Serikat sebagai rezim musuh.”[11]

Engkau mengikuti Bush, sang teroris atau mengikuti teroris?

Aku kira engkau tidak mengikuti dua-duanya. Karena dua-duanya sama-sama penebar teror dan penghancur kedamaian di dunia. Dan tentu saja, itu bukan dari Islam dan bukannya jalan orang Islam untuk menyebarkan Islam dengan wajah kebrutalan dan kekejian seperti yang telah dipropagandakan oleh media Barat selama ini.

Terkenangkanlah daku dengan sebuah kisah yang mengetuk matasukmaku. Kisah yang termaktub dalam kitab masyhur, Ihya ’Ulumuddin, juz III. Terkisahkan oleh hujjatul Islam, Imam Al Ghazali, sebuah alkisah perbincangan antara Iblis dengan Nabi Isa bin Maryam alaihissalam, berkatalah Iblis kepada Nabi Isa:

”Katakanlah ya Isa; Laa Ilaaha Illallah. Lantas menjawablah Nabi Isa a.s.: Itu adalah perkataan haqq, tetapi saya tidak mau mengatakannya tentang apa-apa yang kau katakan, sebab di balik kebaikan-kebaikan itu ada penipuan-penipuan.”

Maka, tertariklah sebuah simpul benang hikmah dari paparan alkisah perbincangan antara Iblis dan Nabi Isa a.s. di atas. Bahwasannya sebagai seorang muslim, kita seharusnyalah menghindari cawan-cawan racun dari tuangan ide-ide kufur yang mereka kemas sebegitu indah yang ditawarkan oleh kaum kafir yang terwakili oleh Barat. Kalau perkataan haqq mereka saja harus dihindari, apalagi hujjah-hujjah semu mereka tentang keindahan demokrasi, fanatisme nasionalis, keadilan HAM, kesetaraan jender, pluralisme dan liberalisme yang faktanya tidak terjamah oleh imajinasi dan gambaran menyeluruhnya pun hanyalah kesemuan belaka. Itulah tawaran ide-ide kufur yang terbungkusi racun ganas dari bisikan-bisikan iblis dalam wujud manusia, yang selalu mereka propagandakan di negeri-negeri muslim saat ini, sehingga menimbulkan perpecahan dan keterpisahan dalam lima puluh enam serakan lebih negeri-negeri muslim sejak runtuhnya Daulah Khilafah, Utsmaniyah 3 Maret tahun 1924. Idealnya, sesosok muslim sejati harus dengan gagah berani menolak ide-ide itu. Karena Islam adalah peradaban agung nan terpancar laksana ya’qut dan marjan yang telah sempurna, yang membeda dan mempunyai sistem kehidupan yang khas juga memancarkan aura istimewa di semesta raya.

Aku terkesankan dengan wasiat kebajikan oleh Sayyid Quthb dalam tafsir Fii Zhilaalil Qur’an, beliau menuliskan… ’Bersabarlah, dan janganlah kamu dengar tawaran mereka (kaum kafir) untuk berdamai dan berkompromi di tengah jalan menurut perhitungan akidah. Mereka sungguh tidak akan mengajakmu kepada ketaatan, kebajikan, dan kebaikan, sebab mereka adalah orang yang suka berbuat dosa dan melakukan kekufuran.’

Di balik Barat, entah itu PBB, IMF, Bank Dunia dan organisasi-organisasi buatannya Amerika Serikat itu juga termasuk mazhab kapitalisme, ide HAM nan membuai, demokrasi nan jahili, kesemuan nasionalisme, kemusyrikan pluralisme, fatamorgana feminisme dan ketersesatan sinkretisme agama yang didakwahkan oleh Amerika di negeri-negeri muslim selama ini ada cengkeraman tangan-tangan Yahudi yang menari-nari. Di balik cakar-cakar Yahudi ada selubung Zionisme Internasional yang berkonspirasi untuk mencaplok Palestina, buminya para Nabi.[12]

Sungguh Mahabenarlah kalam-Mu. Bahwa kaum Yahudi dan juga Nasrani takkan rela, sungguh tak terrela sebelum kaum muslimin mengikuti agama atau ajaran, budaya yang mereka bawa, hingga kaum muslimin terjatuh dan terperosok ke jurang kehinaan.

Aku juga akan memilih bergumul satu lawan satu dengan Ariel Sharon, sang pembunuh berdarah kotor -eh- dingin itu. ’Teroris Yahudi’ satu ini tak pernah menyesali kunjungan provokatifnya ke kompleks masjid al Aqsha pada 28 September 2000 yang memicu terjadinya pembunuhan terhadap lebih 3000 warga Palestina. Sosok yang sama pada tahun 1982 membiarkan terjadinya pembantaian 2000 sampai 3000 jiwa para pengungsi Palestina di kamp Shabra dan Shatila di Lebanon oleh pasukan kristen Phalangis.[13]Sesekali aku ingin menjotosi mukanya John Howard yang suka ’pecicilan’ itu di ring profesional, daripada digelitik orang. Sumpah!

”Kenapa, Yang? Kamu tak suka digelitik, ya?”

”Maaf ya, Cinta. Aku memang anti-gelitik,” ungkapku dengan rona memerah. Malu juga menunjukkan kelemahanku yang satu ini ke Habibah.

”Oh. Maaf ya Yang. Aku kan tidak tahu, kalau kamu tidak tahan digelitik.”

Habibah pun menghentikan gelitikannya.

“Kenapa tidak memakai laptopku saja? Kan lagi tidak dipakai,” kata dia, sambil menunjuk laptopnya yang ada di hadapanku.

”Aku kan belum minta ijin ke kamu, Cinta,” jawabku diplomatis. Sambil kupandangi bulu lentik matanya.

”Kenapa memandangiku begitu sih, Yang?”

”Karena ada lengkungan pelangi di kelopak matamu nan menyinar indah.” Aku pun jadi teringat dengan petuah guruku, bahwa ”inti mahabbah atau cinta itu ada di kedua matanya wanita.”[14]Aku juga teringat perkataan Ibnu Hazm bagaimana pengungkapan cinta melalui isyarat mata. Kata beliau, ”Sungguh, isyarat mata memiliki peran yang sangat penting dalam mengungkapkan cinta. Tak hanya penting, tapi juga menakjubkan. Mata bisa menyatukan. Ia bisa menebar janji maupun ancaman. Ia mengusir maupun menerima pertemanan. Ia bisa memerintah maupun melarang. Ia bisa menebar tawa maupun derita. Ia bisa memberikan jawaban maupun pertanyaan. Ia bisa menolak maupun memberi.”[15] Ibnu Taimiyah pun menambahkan, ”Dengan memandang, akan memperkuat rasa suka maka terjalinlah hubungan karena hati terikat dengan yang disukainya.” Isyarat mata adalah matasukma cinta.

”Maukah engkau mendengar sebait doaku kala kutatapi bening indahnya pelangi di matamu?”

”Mau, mau. Dengan senang hati dan sepenuh jiwaku, tentu aku ingin mendengarkannya,” Habibah dengan raut muka begitu antusias ingin mendengar doa yang akan kupanjatkan.

Aku gemas juga melihat tingkahnya itu. Kusentuh lekuk dagu terbelahnya. Lalu kulantunkanlah senandung jiwaku dengan sepenuh penghayatan diri.

”Ya Allah… saat kutatap matanya yang bermata bening. Satukanlah cintaku dan cintanya. Temalikanlah jiwa kami dalam simpul suci-Mu. Ya Allah… aku ingin segenap asa cintanya melebur di mataku, mendetak dalam jantungku mengaliri dan menderas di dalam arus darahku. Ya Allah… izinkan ku ukir namanya dalam prasasti hatiku yang memanuskrip mengabadi. Ya Allah… saat kutatap teduh matanya, kusenandungkan kidung-kidung cinta di langit hati, sungguh dialah cinta pertama dan dialah cinta tiada akhirku. Ya Allah… yakinkan ke dalam lubuk jiwaku bahwa dialah belahan jiwaku yang terserak dulu. Ya Allah… inilah manikam jiwa yang dulu tersimpan di balik vas kehormatan dirinya, kini… izinkanlah kuambil manikam itu atas ridhaMu. Ya Allah… sungguh di matanya kulihat pesona bidadari shalihah yang akan menghiasi dunia-akhiratku dengan kerlipan cahayawi indahnya,” aku pun mengakhiri doaku dengan senyum-senyum simpul.

”Amin, amin! Sungguh, ini baru pertama kalinya kudengar kalimat-kalimat doa paling romantis, dan menggetarkan dinding-dinding jiwa juga bertaburan dengan untaian manik-manik mutiara-kata indah. Kamu kok bisa sih merangkai kata-kata yang menyentuh dan membuat aku melambung ke atas awang-awang. Aku jadi semakin sayang dan semakin jatuh cinta sama kamu.”

”Untaian kata-kata cintaku takkan terhadir secara tiba-tiba, tapi ia memuncul karena ada pesona bidadari yang menginspirasi. Bukankah takkan ada cahaya pelangi pabila tak ada gerimis yang mengawali, bukan?” godaku.

”Ih, kambuh lagi. Dasar perayu maut.”

Keheningan senja menyapa di kamarnya Habibah.

”Yang…” suara manja Habibah memecah keheningan menyejenak kami.

”Ya. Ada apa?” Aku kembali menatap matanya yang bening. Setelah tadi aku sela untuk men-save puisi yang kutulis di inbox handphone-komunikatorku. Handphone-ku ini memang sering error kalau tidak cepat disimpan dia akan nge-hang dan data-data yang terketik akan hilang. Daripada hilang percuma, lebih baik kusimpan terlebih dulu.

”Aku menyesal,” kata Habibah.

Hahhh … Menyesal!!!

Aku tentu saja melenggak kaget mendengar kata-katanya itu.

”Menyesal menikah denganku karena aku bukan lulusan Universitas Al Azhar, Cairo seperti yang kamu damba? Aku bukan lulusan pesantren? Atau karena aku tak bisa berbahasa Arab? Atau ilmuku tak setara dengan ketinggian ilmumu? Atau…atau jangan-jangan engkau tak rela dengan keterjodohan dan pernikahan kita ini?” tanyaku dengan nada cemburu.

Ah, kenapa aku jadi manusia seperti yang dikatakan oleh Umberto Eco di novel The Name of The Rose-nya itu, bahwa kecemburuan adalah motus in ametum.

“Bukan. Bukan karena itu,” jawab Habibah dengan bermain kata. Membuat hatiku diselimuti selaksa kepenasaran dan degup-degup penantian jiwa.

”Lalu, lantaran apa?” aku dengan rasa tak sabar ingin mendengar alasannya itu.

”Aku menyesal. Aku sungguh menyesal. Kenapa aku tak menikah dengan sang Pujangga ini sedari dulu. Karena di dalam setiap untaian kata-katanya, laksana air sejuk yang selalu menyirami bunga cinta di taman hatiku dengan tetesan-tetesan embun teduhnya. Hingga bungaku pun memekar dengan kelopak-putik cinta. Dan kuncup bunga cintaku pun kini merekah mewangi, lalu ia pun menyapa bumi dengan pesona keindahan cinta. Cinta yang teraromai dan terbumbui oleh racikan melezatnya ridha Ilahi,” akhirnya jawaban polos itu yang keluar dari lisan Habibah.

Kujawil lagi dagu terbelahnya nan menawan. Dasar! sudah membuatku ketar-ketir dan jantungku hampir tak berdetak saja. Pintar sekali istriku memain-mainkan degup kecemasanku.

”Yang! Engkau adalah anugerah terindah dari-Nya yang kumiliki kini,” Habibah menambahkan.

”Engkau juga adalah permata ya’qut dan marjan dunia-akhiratku, duhai Cinta! Kemilau cahayawimu begitu memesona. Laksana cahaya nan menerangi semesta, kala fajar menyingsing nan terbit di Masyriq[16] dan kala senja jingga menyelimuti semesta raya di kala Maghrib.[17] Sungguh, aku terpesona!” aku pun membalas semesta pujinya.

Habibah pun tersenyum kepadaku.

”Bolehkan kalau aku memanggilmu, Yang?” Habibah kembali memelukku erat, yang tadi sempat ia lepaskan.

”Tapi, bukan Eyang ’kan maksudmu? He-he-he” Aku pun langsung berkelit ketika tangannya mencoba mencubit dan menggelitiki perutku lagi.

Setelah aku nampak tak menggodainya lagi, tangan Habibah pun diam.

”Bukan, tapi Sayang. Begitu maksudnya,” terang Habibah dengan agak cemberut. Tapi, tersusuli oleh merekah kuncup senyumnya.

”Tentu saja boleh,” balasku cepat.

”Bolehkah aku mempunyai permintaan?” aku balik bertanya.

”Apa?” Habibah mengernyitkan kedua alisnya. Inilah salah satu yang kusukai dan kukagumi dari pesona Habibah. Alis tipis alaminya hampir bertaut satu sama lain melengkung indah bak lengkungan pelangi yang membidadari. Itulah kelebihannya, selain dua lekukan lesung pipinya yang aduhai menawan hati.

”Sudikah engkau menjadi Pacar dunia-akhiratku?[18] Dan bolehkah aku memanggilmu, Cinta? Dan jika kamu tak berkeberatan, ajari aku bahasa Arabmu nan memfasih itu. Aku ’kan tak bisa berbahasa Arab,” aku membalas dengan kerlingan manja.

”Menjadi pacarmu? Duhai… sepertinya kata itu begitu mewarna indah. Sewarna cahayawi pelangi yang melengkungi bumi di kala rintik-rintik hujan mengemulai pergi usai, dan di kala sang mentari memuncul kembali untuk mulai menyapu bumi dengan cahayawinya. Aduhai indahnya! Tentu saja dengan kerelaan diri dan hati aku berkenan menjadi pacar dunia-akhiratmu,” jawab Habibah dengan senyuman.

Aku pun tersenyum dan menganguk setuju dengan jawaban dan kata-katanya yang berbau puisi itu.

”Kamu juga berbakat menjadi perangkai kata indah.” Pujiku dengan tulus.

”Ah, sungguh?”

”Iya. Sumpah disambar bidadari! Apalagi kalau disambar Diandra Sastrowardoyo.”

”I-ih. Maunya!”

”Sungguh beruntungnya bidadari yang menyambarmu,” Habibah terlihat merajuk cemburu. Cemburu karena ia telah aku perbandingkan dengan sesosok aktris muallaf yang juga sahabatku, sewaktu aku masih belum mengkaji Islam dahulu.

Itulah kecemburuan wanita. Dia akan begitu dihantam badai cemburu, pabila dirinya diperbandingkan dengan wanita lain. Mungkin itulah fitrah manusia yang tak suka dibanding-bandingkan. Aku setuju dengan itu, karena aku juga tak suka dibandingkan dengan orang lain. Aku, ya adalah aku. Pasti punya keterbedaan dengan orang lain. Dan rasa kecemburuan adalah motus in ametum -ketercemburuan- dari asa dan luh persahabatan dan asa cinta yang bisa mengilhami seseorang untuk bergerak melawan semua yang akan menyakiti perasaannya sang kekasih-jiwa. Dia akan membela mati-matian dan berdaya upaya melakukan apa saja, asalkan sang kekasih-jiwa terbebas dari ancaman-ancaman dan marabahaya.[19] Nah, termasuk rasa takut kehilangannya Habibahku ini.

”Karena aku telah tersambar bidadari sekarang,” aku menambahkan lagi.

”Maksudnya?”

”Bidadari itu dirimu, Cinta!”

”Halah. Dasar rayuan gombal.”

”Tapi kamu suka kan, Cinta?” tukasku dengan kedipan menggoda.

Habibah balas mengedipkan kedua matanya penuh arti.

”Oh iya, kenapa kamu ingin memangilku, Cinta. Bukan yang lain?” tanyanya dengan rengutan manja, sambil mengeratkan pelukannya di pundakku. Aroma harum semerbak tubuhnya langsung memenuh lorong hidung dan ceruk hatiku. Aku sungguh tidak tahu kapan Habibah melumuri dirinya dengan parfum mewangi itu. Seingatku, ketika akad nikah tadi tubuhnya tak menebarkan semerbak keharuman sama sekali.

”Untuk kursus bahasa Arabnya masih kupertimbangkan jika biaya kursusnya cocok, barulah akan kukabulkan,” ia melanjutkan dengan derai-derai canda.

”Jangan meledekku yang tak fasih berbahasa Arab. Bukankah ’cinta’ itu seikat makna dari namamu?” Aku menjawab dengan berdeklamasi.

Dia memegang keningnya. Seolah-olah bak ibu Guru yang sedang memikirkan jawaban yang tersebutkan olehku itu apakah salah atau benar.

”Kamu pintar juga,” akhirnya dia mengakuinya juga.

”Mau kuberi bingkisan indah?” tanyanya dengan manja.

”Tentu mau,” tukasku.

”Pejamkan matamu ya! Tapi awas, jangan dibuka dulu sebelum kuperintahkan untuk membuka kembali.”

”Iya, iya!” aku pun menurut. Memejamkan kedua mataku seperti yang diminta Habibah. Menunggu dengan rasa kepenasaran hati, hadiah apa yang akan diberi oleh sang permata hati.

Terasa ada sentuhan kulit halus menyapa pipiku dua kali. Kurasakan juga embusan hangat napas Habibah yang menerpa kedua belah pipiku.

Ternyata, Habibah telah menyentuhkan kedua bibirnya di permukaan kedua belah pipiku dengan lembut,”Ini hadiah termanis untuk murid khusus bahasa Arabku. Jarang-jarang murid dapat hadiah spesial dari gurunya seperti begini,” bisiknya lembut di labirin telinga kananku.

”Nah. Sekarang kamu boleh membuka mata!”

Aku pun pelan-pelan membuka kedua mataku.

”Terima kasih untuk hadiah terindahnya. Sungguh, ini hadiah yang membekasi jiwa dan melumuriku dengan madu-madu cinta. Jujur, ini baru pertama kalinya kuterima kado spesial dari seorang bidadari. Sungguh hadiah indah penuh curahan barakah.”

”Amin, amin!” Habibah menengadahkan tangan dan mendongakkan paras mukanya ke langit.

Hm, Cinta! Kecupanmu selembut kecupan bidadari surga, batinku. Aku pun lalu tersenyum.

”Kok tersenyum? Kenapa?”

”Nggak! Nggak ada apa-apa, kok.”

”Jadi, aku boleh kursus bahasa Arab mulai sekarang?” tanyaku.

”Dengan senang dan sepenuh hatiku untukmu, Yang. Tentu saja aku tak berkeberatan sama sekali. Bukankah kelebihanmukekuranganku. Kekuranganmukelebihanku. Pahalakupahalamu. Dukakudukamu. Sukamusukaku. Milikkumilikmu. Tangiskutangismu. Tawamutawaku. Amboi indahnya pesona taburan pahala untuk insan yang saling menyempurna dalam samudera cinta-Nya.”

Itulah sebait mantra,[20] khazanah khas budaya melayu. Tuah mantra-mantra nan mengokohi rekatan temali cinta di langit jiwa, di antara dua insan nan sedang dimabuk asmara. Cinta nan memuara oleh keridhaan Allah dan mengikuti alunan indah sunnah rasul-Nya.

”Yang! Aku salut dengan kegigihanmu untuk memelajari bahasa Arab. Boleh aku tahu alasan khususmu?”

”Karena yang mengajarinya cantik. He-he-he,” aku kembali menggoda Habibah.

Kala kunikmati raut mukanya mulai cemberut, aku pun menjawab dengan serius.

”Iya, iya. Ini jawaban seriusnya. Kata Roger Bacon, tugas pertama seorang terpelajar adalah mempelajari bahasa. Dan penaklukan intelektual hanya bisa dicapai melalui penguasaan bahasa.[21] Kamu tahu, kan!…Barat maju seperti sekarang ini karena apa? Ternyata tersebabkan karena mereka telah mencuri dan membawa lari kitab-kitab yang dikarang oleh penulis-penulis muslim. Menyimpan dan menyembunyikannya di perpustakaan-perpustakaan gereja mereka. Menyembunyikannya dari orang-orang. Menurut mereka, pemikiran-pemikiran dari intelektual muslim akan membahayakan iman-iman mereka apabila terbaca oleh kalangan awam Kristiani. Inilah salah satu bukti bahwa kemilau Peradaban Islam pernah menguasai dan mencahayai dunia. Seperti Al Hazen yang menulis sebuah risalah, De aspectibus, tentang demonstrasi geometris yang tepat, ia berbicara tentang kekuatan cermin. Ada Al Kuwarizmi, yang membuat risalah Tabule yang berbicara tentang tabel-tabel astronomi. Selain itu ada Isa ibnu Ali, dengan De oculis-nya dan juga Al Kindi dengan risalah, De radiis stellatis.[22]Tentu aku tak mau kalah dengan Barat yang telah mencuri khazanah Peradaban Islam nan agung itu. Aku ingin bisa ikut berkonstribusi untuk mengembalikan kejayaan Islami ’kembali’. Sudah selayaknya aku mengusai bahasa Arab agar bisa membaca literatur kitab-kitab klasik sepertimu. Selain tentu saja kita kaum muslimin wajib dan seharusnya menguasainya. Bagaimana kita bisa menyerap kefahaman isyarat-isyarat petunjuk Ilahiyyah, jika kita tak tahu makna yang dimaksudkan-Nya, yang telah termaktub dalam al-Qur’an yang lafazhnya berbahasa Arab.”

”Oo,” sebentuk bibir indah itu kini membulat.

“Aku sungguh menyesal,” ucapku lirih.

“Kenapa?” sekarang Habibah yang terlonjak karena kaget.

”Aku menyesal kenapa aku lebih menguasai bahasa asing daripada bahasa Al-Qur’an.”

”Cup, cup, cup. Tak usah merasa sedih begitu. Kan masih bisa belajar dengan bidadari!”

”Benar?”

”Iya. Benar.”

”Janji ya?”

”Iya.”

Panggilan Ummu Afifah dari lantai bawah mengumandang, memutus temali kemesraan hati kami berdua.

”Habibah…! Ajak Thariq makan malam. Tadi dia belum sempat makan ketika acara. Nanti keburu shalat Isya’,” seru Ummi.

”Iya, Mi. Sebentar lagi juga mau turun, kok,” jawab Habibah.

Ia lalu melepaskan pelukannya dari pundakku.

”Yuk, turun dulu, Yang. Kamu ’kan belum makan, nanti kamu sakit.”

”Tak apa-apa kalau aku sakit. ’Kan sudah ada dokter cintaku di sini.”

”Hus! Jangan begitu, nanti kalau diaminkan malaikat, bagaimana?”

”Iya, iya. Tapi aku disuapin, ya!” candaku menggodanya.

Habibah pun tak memedulikan candaku tadi, tapi ia tetap menyemburatkan senyuman pahala.

”Yuk, ah. Tak enak, sudah ditunggu keluarga di bawah.”

Akhirnya aku mengalah, membiarkan jemari Habibah menyeret tanganku dengan genggaman erat.

”Nanti sehabis makan dan shalat Isya’ dilanjutkan lagi menulis puisinya. Tentu saja akan ditemani dengan setia oleh sang Bidadari,” dengan kerlingan menggoda. Habibah menggenggam erat jemariku ketika dia memaksaku untuk berdiri dari kursi meja belajarnya.

Aku jadi teringat dengan barisan puisi yang barusan aku pahat,

Kala ‘kusentuh’ ia dengan melembut

Rabb…

“Semoga kan menjadi taburan pahala”

Aku juga jadi teringat dengan sebuah buku yang ditulis oleh Ustadz Salim A. Fillah, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan. Ustadz benar, pacaran setelah terhalalkan itu sungguh menikmat dan melapislegit. Nikmat yang berpahala karena setiap sentuhan adalah luapan keridhaan-Nya.

Betapa banyak orang yang kini mentergesai kenikmatan tanpa jalinan ikatan. Membuat detik-detik di depan terasa hambar. Belajar dari ahli puasa, ada dua kebahagiaan baginya saat berbuka. Dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala. Inilah puasa panjang syahwatku. Kekuatan ada pada menahan. Dan rasa nikmat itu terasa, di waktu berbuka yang penuh dengan kejutan.[23]

Ah, kini aku sedang menikmati pacaran. Pacaran setelah mitsaqan ghaliza menjadi perekat cinta kami. Sungguh indah apabila semua sudah terhalalkan.

Kami pun lalu berjalan saling beriringan memesra dan menuruni tangga menuju ruang makan keluarga.

Aku pun tersenyum.

Adakah bidadari langit yang mencemburui kemesraan kami ini?

……………….

[(Aku bener-benar disuapin Habibah di ruang makan keluarga) tapi setelah Buya Ahmad dan Ummu Afifah juga dua adiknya Habibah kembali ke ruang depan untuk persiapan shalat Isya’ berjama’ah di masjid.

”Ssst, ada yang cemburu dengan kemesraan kita,” ujarku sambil berbisik di telinga Habibah. Setelah Habibah menyuapkan satu potongan semangka di mulutku. Lalu akupun membalas mesra dengan menyuapkan sepotong semangka di mulutnya Habibah.

”Siapa, Yang? Abah dan Ummi, kah?” balas Habibah dengan berbisik-bisik juga. Takut kedengaran Buya Ahmad dan Ummu Afifah.

”Bukan,” tukasku cepat

”Lalu siapa?” tanya Habibah dengan rona penasaran.

”Yang lagi baca novel ini.” He-he-he.

Afwan…ya pembacaku terhormat cuma bercanda kok.

Yang ditulis dalam kurung ini cuma goresan nakalnya apu’ ajah, gak masuk ke novel kok. Maaf ya, ya, ya …. nulis untuk hiburan ajah)]

***

[1] Mohammad Fauzil Adhim, Dunia Kata, hal 12, 26

[2] Majalah Suara Hidayatullah, Edisi 07/XX November 2007 Syawal 1428 hal 44

[3] Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, hal 125-126

[4] Mau dibawa ke mana?

[5] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hal 233

[6] Majalah Suara Hidayatullah, Edisi 07/XX November 2007 Syawal 1428 hal 46

[7] Intelektual Muda muslim, Kandidat doktor/Ph.D bidang Islamic Civilization di Internasional Institute of Islamic Tought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM)

[8] Majalah Suara Hidayatullah, Edisi 07/XX November 2007 Syawal 1428 hal 46

[9] Mohammad Fatih Indragiry, draf buku Puisi-Puisi Cinta, file. Judul puisi aslinya, Rabbi Izinkan daku Jatuh Cinta! Hal 148

[10] ”We should not forget that the United State itself is a leading terrorist state” Prof. Noam Chomsky, pakar linguistik di Massachussets Institute of Technology

Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hal 211

[11] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hal 214

[12] A. Maheswara, Rahasia Kecerdasan Yahudi, hal 71

[13] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hal 220

[14] Sisipan lembar catatan pinggir kitab Ta’lim al-Muta’allim, oleh KH. A. Dimyathi Romli, Pengasuh Ponpes Darul ’Ulum Peterongan, Jombang-Jawa Timur. Tertanggali 14 Oktober 1998

[15] Ibnu Hazm El Andalusy, Di Bawah Naungan Cinta, hal 72

[16] Timur

[17] Barat

[18] Terinspirasi dengan judul puisi “Pacar Dunia Akhirat”

Mohammad Fatih Indragiry, Draf Antologi puisi, Puisi-Puisi Cinta hal 131

[19] Umberto Eco, The Name of the Rose, hal 346

[20] Salah satu jenis sastra lisan dalam kesusasteraan Melayu Riau

[21] Umberto Eco, The Name of The Rose, hal 204, 447

[22] Umberto Eco, The Name of The Rose, hal 211, 212

[23] Salim A. Fillah, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, back cover

10 responses »

  1. khadizah nazwa says:

    tulisan yang indah tentu mencerminkan sang penulisnya.bahagia rasanya mengetahui banyak lagi muslim sejati yang menyalurkannya kedalam kata-kata yang sungguh menggugah hati.jika tulisannya saja bisa menggetarkan jiwa,apalagi jika berbicara mungkin saja bisa menggoncang dunia…
    saluuuuuuut

  2. yuni says:

    ini kisah nyata bukan? terinspirasi dari pengalaman atau imajinasi?

  3. Listy says:

    Betul betul betul :)memang mmbuat iri nih critanya hehe. . .

    • sastralangit says:

      berhikmah; agar ketika saat halal itu penuh baraakah. termulai dari proses, saat akad, dan saat bahtera kehidupan melintasi samudera kehidupan semua bertelekan dengan keimanan.

  4. shabrina says:

    Siiiiipppp…
    Smoga karya2 berikutnya lebih menggugah lagi… ^_^

  5. shabrina says:

    Subhanallah….
    kerenzz bang…
    10 jempol tangan buat abang [minjem jempol orang2 dulu,, buat nambahinnya] …. ^_^

    ditunggu kelanjutan ceritanya… ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s